
Tumben Raka seharian ini belum menghubungiku. Apa karena ini malam Minggu lantas dia berencana menemuiku. Meskipun kita sepakat untuk tak bertemu, tapi itu kan permintaanku. Sepertinya waktu itu dia ragu menyetujuinya.
" Raka nggak ke sini Ra ? " tanya mbak Nia usai makan di teras tadi. Ia meminta Arkana dari gendongan ayah karena sebentar lagi azan Magrib.
" Entah lah, dia juga belum menghubungiku sejak tadi. Mungkin ada kuliah tambahan atau tugas lain." Aku mencoba berpikir positif.
Mbak Nia masuk ke kamarnya. Aku beranjak ke kamar mandi. Setelah membersihkan diri dan memakai baju aku mematut diri di cermin. Kupoles bedak dan sedikit lipstik. Entah mengapa perasaanku seakan-akan Raka mau datang kemari.
" Airaaa , sudah azan ayo berbuka ! " Ibu memanggilku dari meja makan. Aku bergegas keluar dan bergabung bersama mereka.
" Mas Joni berbuka di toko ya Mbak ? " tanyaku pada mbak Nia yang masih di dalam kamarnya.
" Iya, nggak perlu khawatir di sana banyak yang jualan," sahutnya santai.
Aku hanya minum kolak dan makan jajanan takjil yang tadi kubeli di mbak Yah. Lantas aku mengambil perlengkapan sholatku dan keluar hendak ke masjid. Begitu pun ayah. Bedanya ayah sudah selesai makan.
" Aku baru mau memanggil kamu udah keluar," celetuk Eva yang tengah berdiri di teras rumahnya.
" Aku nggak mau ada tarzan di depan rumahku, jadi aku langsung keluar." Aku meledeknya " Tadi sudah wudhu sekalian saat mandi," lanjutku.
" Sembarangan, cantik begini dibilang tarzan. " Eva pun menggerutu sambil memonyongkan bibirnya. Kubiarkan saja lalu aku terus berjalan menuju masjid yang hanya beberapa langkah dari rumah kami.
" Ke rumahku dulu yuk, sambil nunggu waktu tarawih," ajak Eva saat sudah selesai sholat Magrib.
" Aku mau makan dulu, tadi baru makan takjil belum kenyang. " Aku memberi alasan. Bukannya aku mau menolak tapi perasaanku lagi galau. Aku masih memikirkan Raka, berharap dia akan datang malam ini. Baru seminggu saja aku sudah kangen, mungkin karena sudah terbiasa setiap malam Minggu kita bertemu.
Tapi nyatanya Raka memang nggak datang. Aku berniat menghubunginya.
" Aira ayo cepetan ! " Belum sempat kubuka HP Eva sudah berteriak memanggilku. Kutaruh lagi lalu kuambil perlengkapan sholat dan keluar menemui Eva. Kita pun berjalan ke masjid.
"' Raka nggak kemari kan ? " tanya Eva di tengah perjalanan. "' Bagus lah, kan waktunya tarawih." Ia melanjutkan ucapannya tanpa menunggu jawabanku. Aku diam saja, malas menanggapinya.
Sampai di masjid banyak anak-anak kecil yang menyapa kami.
Usai sholat tarawih aku mengajak Eva pulang. "Nanti aku dimarahi papa kalau nggak ikut tadarus," ungkapnya.
" Ya sudah aku pulang duluan ya, udah ngantuk banget nih." Aku memberi alasan yang sekiranya Eva percaya. Ia pun mengangguk, karena masih ada anak-anak perempuan lainnya yang berada di masjid.
" Kok nggak ikut tadarus ? " tanya ayah yang sudah lebih dulu pulang. " Capek Yah," sahutku seraya masuk ke kamar.
Kubaringkan tubuh di ranjang sambil membuka HP, bermaksud mengirim pesan ke Raka. Ternyata dia juga sedang online.
__ADS_1
[ Hai Raka ! Kok seharian nggak menghubungiku sih 😔 ]
[ Duh maaf ya Cantik, ada tugas kelompok yang harus segera dikumpulkan jadi aku kerjakan dulu bersama teman-teman. Baru sore tadi aku pulang lalu ketiduran karena capek. 🙏 ]
[ Oh gitu. Tapi btw, kapan dong kamu ke sini 🤭 ]
[ Hei, yang benar saja. Bukannya kamu yang punya ide supaya kita nggak usah ketemu dulu ]
[ Iya sih, tapi aku kangen. Nggak bisa lama-lama nggak ketemu 🙈 ]
[ Ya sudah besok kita ketemu. Tapi aku jualan, kan sudah mulai ramai orang mencari baju buat lebaran. Kalau kamu aja yang main ke kios pamanku gimana ]
[ Oke deh, besok kalau lagi belanja aku mampir ke situ . Bye ]
[ Bye see you 😘 ]
Kutaruh handphoneku. Aku merasa lega. Biarlah aku menahan malu sama Raka. Aku sendiri yang membuat janji tapi kulanggar sendiri.
________________
" Bu, aku mau belanja tapi sekalian mampir ke kiosnya Raka ya. Siapa tahu bisa bantu-bantu, menjelang lebaran biasanya sudah mulai ramai." Aku minta ijin pada ibu.
Kali ini aku tak perlu ngumpet-ngumpet seperti dulu waktu ke rumah Arya. Apalagi minggu pertama bulan puasa warung masih sepi, jadi aku bisa leluasa keluar.
" Oke siap Bu," sahutku penuh semangat. Kuambil uang di laci lalu bergegas keluar menuju kios mbak Sumi dulu.
" Titip dulu ya Mbak, kutinggal dulu nanti kuambil seperti biasa," ucapku seraya menyerahkan kertas catatan belanja padanya.
" Mau ke mana hayo ? lagi puasa nggak boleh pacaran loh ! " celetuk mbak Sumi
" Aah Mbak Sumi bisa aja, emang aku pacarannya ngapain, " sahutku sembari berbalik hendak pergi.
" Kenalin dong cowoknya ke sini, " celetuk mbak Sumi lagi. Aku cuma tertawa lalu bergegas meninggalkan kiosnya.
Sampai di kios pamannya Raka, nampak mereka tengah melayani pembeli. Aku hanya berdiri di depan karena tak ingin mengganggu. Raka menoleh tak sengaja ke arahku.
" Hai," sapaku seraya melempar senyum. " Eeh Aira, sini masuk ! " ajak Raka. Ia menggamit tanganku dan menyuruh duduk di dalam.
" Oh ada dik Aira, tumben main ke sini ! " sapa mas Adi pamannya Raka. Aku tahu namanya karena dulu dia pernah beberapa kali mampir di warung bersama bu Harti. Aku baru tahu ternyata yang ditungguin Raka waktu itu adalah kiosnya dan sekarang mereka berjualan bareng.
" Iya Mas, kebetulan lagi pingin mampir," jawabku seraya melepaskan genggaman tangan Raka. Ia melanjutkan melayani pembeli.
__ADS_1
Setelah membungkus dan pembeli pergi Raka duduk di depanku " Kenapa, kangen ya ? " tanya dia langsung. Aku tersipu, kutempelkan jari telunjuk di bibirku memberi kode padanya. Aku malu kalau didengar mas Adi. Untung dia masih di luar.
" Kamu kenapa nggak ke rumah," ucapku dengan cemberut. Kucubit lengan Raka. " Hei, kok ngambek gini sih ?" Ia mengusap lengannya.
" Kemarin siapa yang bilang, nggak usah ketemu dulu ya., biar konsentrasi beribadah. Hayo ngaku, siapa ? " tanya dia pelan tapi penuh penekanan.
" Memang aku yang ngomong gitu, tapi nyatanya aku galau. Tadi malam aku nungguin kamu tapi nggak datang-datang." Aku merajuk manja.
Meskipun usianya di bawahku tapi Raka selalu bersikap dewasa di depanku Aku seperti menemukan sosok Widi di dalam dirinya. Sabar menghadapiku yang kekanakan.
" Mana aku berani ke rumah, kan kamu bilang nggak boleh. Terus kalau kangen kenapa nggak kirim WA atau telfon dulu pas siangnya. Malah habis tarawih baru menghubungiku." Ia melanjutkan perkataannya.
" Lupa, kupikir kamu akan datang seperti biasanya," ucapku pelan. Raka tertawa kecil sambil mengacak kepalaku yang tertutup jilbab.
" Kamu ini aneh, kamu sendiri yang melarang aku datang tapi kamu menungguku. Hadeewh ! " Ia pun menggeleng-gelengkan kepala.
Obrolan kamu berlanjut dan tanpa terasa sudah setengah jam lebih aku di sini. Aku nggak enak sama mas Adi yang sedari tadi duduk di luar, mungkin sungkan juga jika mau masuk
" Aku balik ke warung dulu ya, tadi udah diwanti-wanti sama ibu ngga boleh lama-lama." Aku pamit lalu beranjak berdiri.
" Terus malam Minggu besok maunya gimana ? " tanya Raka kemudian.
" Kamu ke rumah dong, tapi nggak usah keluar. Kita ngobrol saja di rumah," pintaku. Ia pun mengangguk.
" Tapi kamu tiap hari hubungi aku lho ya," ucapku mengingatkannya. " Iya Cantik, bawel ! " serunya sambil tertawa.
Aku menjulurkan lidahku lalu keluar dari kiosnya. Tak lupa aku berpamitan sama mas Adi.
Bergegas aku ke tempat mbak Sumi untuk mengambil belanjaan. Dia tengah sibuk melayani pembeli, jadi aku membayar lewat mbak yang membantunya. Kalau tidak pasti mbak Sumi sudah menggodaku.
Sampai di warung ibu tengah berbincang dengan mbak Wiwit. Dia lagi berhalangan jadi nggak puasa, pasti habis sarapan. Aku langsung ke dapur dan membongkar belanjaan. Mbak Sri sudah menunggu dari tadi katanya.
" Kok lama sih Mbak Aira, dari tadi aku bengong karena nggak ada yang mau diolah." Ia memasang muka manyun.
" Soriii, tadi ada urusan dalam negeri," kataku sembari mengedipkan sebelah mata.
" Dalam negeri kayangan, urusan sayang-sayangan," celetuk mbak Sri meledekku.
" Mbak Sri kayak nggak pernah muda saja," cetusku. Dalam hatiku benar-benar bahagia setelah bertemu Raka. Seharian kemarin sampai tadi malam rasanya dadaku sesak seperti ada yang mengganjal. Tetapi sekarang ganjalannya sudah hilang. Nafasku sudah plong, lega.
Inikah yang namanya cinta ?
__ADS_1
*************************
Bersambung.. Penulis mohon maaf dengan sangat karena akhir-akhir ini telat up date. Tolong beri komentar ya,, biar penulis bisa memperbaiki.