
Sehabis sholat Subuh aku berniat menghubungi Eva. Nggak mungkin kalau dia belum bangun. Aku kirim pesan lewat WhatsApp.
[ Hai bestie, udah bangun belum ]
Dia belum membaca. Lima menit kemudian pesanku sudah centang biru. Dia pun membalas pesanku.
[ Ngapain kamu WA pagi-pagi begini. Kurang kerjaan aja 🙄 😇 ]
[ Ha ha .. masih untung aku WA pagi, daripada tadi malam malah ganggu kamu tidur 😄✌ ]
[ Memang ada apa sampai harus buru-buru WA aku, kamu nggak akan menikah kan 🤣🤣 ]
[ Enak aja, siapa yang mau nikah 🙄 ada gosip penting tahu nggak ?? ]
[ Wah bener-bener nih anak, masih pagi udah ngajak ngegosip 🤦♀️ ]
[ Bodo ah ! itu si Niko katanya bikin pacarnya bunting 🤫 ]
[ Haaah 😱 tahu dari mana kamu ? nggak nyangka banget. padahal Niko anaknya baik, rajin, sopan, bener2 nggak nyangka. parah banget ]
[ Sama aku juga nggak nyangka. pasti ceweknya yang keg*t** an ]
[ Belum tentu juga. namanya cowok di mana-mana sama. Ya udah deh.. aku mau mandi ada kuliah pagi soalnya. sorry ya 🙏 kamu jangan sedih di tinggal kawin si Niko 😄 ]
[ Iih sorry ya .udah move on gue 😁😜 Oke aku juga mau mandi . byee 😘 ]
Kutaruh HP di atas meja kemudian keluar kamar untuk mandi keramas biar segar, biar otakku nggak mikirin Niko lagi. Masa bodoh dengan yang terjadi sama dia. Semua itu ada sebab dan akibat.
Sampai di warung kulakukan tugasku seperti biasa. Saat akan belanja tanpa sengaja aku bertemu Arya. Dia keluar dari toko Buku dan Fotocopy yang letaknya tak jauh dari kantornya. Mungkin dia sedang memfotocopy atau membeli alat tulis.
" Hai ! apa kabar? " sapanya padaku. Ia melempar senyum manisnya.
" Hai juga, kabarnya seperti yang kamu lihat," jawabku datar. Jangan sampai aku meleleh melihat senyumnya.
" Kok ngga pernah main ke rumahku sih, sudah punya cowok ya? " tanya dia sambil mengedipkan mata. Tuh kan !
" Nggak, lagi sibuk aja.Sorri ya aku duluan." Aku berucap sambil terus melangkah. Ia mengikutiku.
" Aira, tunggu ! buru-buru amat sih." Arya mensejajarkan posisinya di sebelahku,kami berjalan beriringan. Ketika sampai di depan kantornya dia menahanku.
" Duduk dulu yuk ! sudah lama kita nggak ngobrol berdua." Ia mengajakku duduk di teras kantornya.
Ibu, Mbak Nia, maafkan aku ! Aku nggak bisa membenci Arya, belum bisa melupakannya. Aku berkata dalam hati.
Beberapa orang yang berjualan di sekitar tempat ini nampak memperhatikan kami. Mereka sudah tahu kalau aku dan Arya sering mengobrol berdua. Entah apa yang ada di benak mereka. Apakah aku dikira pacarnya Arya atau hanya teman biasa.
" Sudah siang, aku belum belanja. Maaf ya," ucapku lalu berdiri dan segera berlalu. Arya tidak mencegahku lagi.
Sepulang belanja mbak Sri menyodorkan sebuah kertas undangan berwarna pink.
" Undangan dari siapa, Mbak? " tanyaku ketika menerimanya.
" Dari mbak Emmy, tadi ibunya yang menitipkan ke sini. Sepertinya undangan pernikahan."
Kubuka kertas undangannya, ternyata memang undangan pernikahan Emmy, temanku yang berjualan di pasar. Dia berjualan buah buahan, sedangkan ibunya berjualan sayuran. Aku memang punya beberapa kenalan yang usianya sebaya denganku. Ada yang membantu orang tua berjualan, ada yang jadi karyawan toko, bahkan ada yang berjualan sendiri seperti Emmy.
" Iya nih, undangannya buat hari Minggu," sahutku. Aku berpikir sesaat kemudian berkata lagi, " Tapi aku malah bingung, rumah Emmy itu di desa dan aku belum pernah ke sana.Terus aku berangkat sama siapa dong ? " Aku minta pendapat mbak Sri.
Meskipun masih beberapa hari aku harus mencari teman buat kuajak kondangan.
__ADS_1
" Mbak Aira tanya saja sama teman-teman di pasar, mereka diundang apa enggak. Siapa tahu bisa diajak bareng," saran mbak Sri.
" Besok aku tanya deh, pas sekalian belanja." Akhirnya aku pun menyetujui sarannya. Mudah-mudahan ada temanku yang juga diundang sama Emmy.
Keesokan harinya saat aku belanja aku sempatkan menemui teman-temanku di kios mereka.
" Mbak, kamu dapat undangan pernikahan dari mbak Emmy nggak ? " tanyaku pada mereka.
" Emmy siapa, aku ngga kenal tuh ! " jawab mbak Mona.
" Nggak diundang, aku tahu Emmy tapi nggak kenal. " Yang ini jawaban mbak Siti.
" Yang diundang ibuku, karena ibunya Emmy temannya ibuku. Kalau aku yang mewakili kondangan aku nggak kenal sama tuan rumahnya." Jawaban Norma lain lagi.
Aku capek kalau harus menanyai satu persatu. Bagaimana kalau kuajak mbak Nia saja, aku juga sering menemaninya kondangan kok. Apalagi ia juga kenal sama Emmy.
Pulang dari warung aku menemui mbak Nia di kamarnya. Ia sudah nggak boleh ke toko sama mas Joni karena kandungannya sudah 7 bln lebih.
" Mbak, aku dapat undangan nikah dari Emmy anaknya Bu Mur. Resepsinya hari Minggu masih seminggu lagi. Temani aku kondangan, yuk ! " ajakku.
Mbak Nia yang tengah tiduran pun beranjak duduk.
" Yang benar saja kamu, masa aku kondangan sambil membawa perut gede begini. Ke toko saja aku nggak boleh sama mas Joni." Mbak Nia menjawab setengah kesal.
" Ya kalau ke toko kan jualan mondar mandir pasti nggak boleh lah. Ini kan cuma kondangan, tinggal salaman, duduk, makan terus pulang." Aku mencoba membujuknya.
" Tapi desanya Emmy itu di pegunungan. Dari jalan utama saat berhentinya angkot sampai ke desanya itu masih jauh dan belum diaspal. Masih harus naik ojek terus jalannya juga bergerunjal. Kalau nanti aku brojol di sana kamu mau tanggung jawab ? "
Mbak Nia melotot padaku.
" Ya sudah lah besok aku ajak temanku saja," ucapku seraya keluar dari kamarnya.
Hari Sabtu aku menemui Arya di rumahnya karena ia libur kerja. Ia baru selesai mandi ketika membukakan pintu untukku.
" Nah gitu dong, masih mau main ke sini," ucapnya berkelakar.
Aku langsung duduk begitu juga dia. Kami duduk berhadapan.
" Sebenarnya aku ke sini mau minta tolong sih. Mau nggak besok kamu temani aku kondangan ke desa BR ? Aku nggak ada teman soalnya."
" Waduuh, maaf aku nggak bisa. Besok aku ada acara sama Saiful." Arya langsung menolak ajakanku.
Seketika aku merasa kecewa. Ternyata dia memang nggak bisa diharapkan. Sikapnya memang baik tapi dia nggak mau berhubungan dekat denganku Pantas saja kemarin dia menggodaku sudah punya cowok baru. Mungkin karena ia merasa nggak ada hubungan lagi sama aku.
" Ya sudah, kalau gitu aku pamit ya ! " tukasku.
Aku berdiri hendak keluar tapi Arya mendekatiku.
Tiba -tiba ia memelukku sesaat kemudian melepas lagi. Ia mengusap kepalaku. Aku segera membuka pintu dan keluar.
________
Akhirnya selesai juga membungkus kadonya. Undangannya nanti jam 11.00 , jadi aku akan ke warung dulu. Aku membawa pakaian ganti juga sendal highheels karena nanti aku berangkat dari sana. Kadonya juga sekalian aku bawa.
Sampai di warung kutaruh kado dan pakaian ganti di kamar tempat sholat.
" Nanti jadi kondangan, Mbak? sama siapa ? " tanya mbak Sri saat ia melihat kado yang kubawa.
" Sama kang ojek. Mau mengajak mbak Nia tapi perutnya sudah besar. Kemarin juga sudah menanyai teman tapi ngga ada yang diundang."
__ADS_1
" Masa sih, nggak ada yang diundang satu pun. Mbak Emmy dan ibunya kan sudah lama berjualan pasti kenalannya banyak."
" Tapi masa aku harus menanyai satu persatu, capek deeeh ! mending naik ojek beres."
Aku belanja lebih awal supaya bisa bersiap-siap. Pukul 10.30 aku mulai berganti baju dengan long dress yang kubawa tadi pagi. Kerudung juga kuganti dengan warna senada,tak lupa membenahi make up. Lalu kuganti sendal jepitku dengan highheels agar lebih modis.
Jam 10.50 aku keluar dan mencari ojek yang ada di ujung jalan. Setelah menyebut nama desanya ternyata abang ojeknya sudah paham dan kami pun segera meluncur.
" Kok sendirian Mbak, kondangannya ?" tanya abang ojek selama perjalanan.
" Iya, Mas. Sebenarnya sama kakak tapi dia lagi hamil besar takutnya nanti perutnya sakit," jawabku.
Saat sampai di gapura desa jalanan aspal sudah berganti dengan susunan batu kecil. Untuk sampai ke desa masih sekitar 1 km lagi. Di tengah perjalanan yang bergeronjal kado yang kubawa terjatuh.
Bruuk ! Aduuuh, gimana kalau isinya pecah ?Abang ojek menghentikan motornya.
" Kenapa, Mbak ?" tanya dia.
" Kadonya jatuh, Mas ! "jawabku agak panik.
Beruntung ada bapak-bapak yang sedang berjalan kaki, ia mengambilkan kadoku yang jatuh.
" Terima kasih, Pak." ucapku. Ia pun mengangguk.
Sampai di tempat hajatan aku terlambat, acara sudah mulai. Saat sedang mengisi buku tamu ada yang memanggilku. " Aira ! " Aku menoleh ke arah sumber suara.
Nampak di depan stand minuman ada 3 orang yang menatap ke arahku. Dua di antaranya melambaikan tangan, satu cowok dan satu cewek. Aku mendekati mereka, ternyata Moko dan Astuti, teman SD ku. Yang satunya cewek tapi aku nggak kenal. Aku menyalami mereka.
" Kok kamu sendiri ? tahu gitu tadi kita berangkat bareng." Astuti menanyaiku.
Sebenarnya dia juga sering ke pasar membantu ibunya, tapi kita jarang ketemu.
" Aku nggak tahu kalau kamu juga diundang, tadi aku naik ojek," sahutku seraya mengambil minuman di meja.
" Oh iya, Moko apa kabar ? kok bisa bareng Astuti." Aku menyapa Moko yang sudah sekian tahun nggak berjumpa. Begitu pula dengan teman cewek yang satunya.
" Kabarku baik. Kita nggak janjian kok., tadi juga nggak sengaja ketemu di sini." Ia pun menjelaskan. Awalnya tadi aku mengira ia pacarnya Astuti.
Kita berempat menikmati hidangan sambil mengobrol. Ternyata Moko datang sendiri, ia teman SMA nya Emmy. Sedang Astuti datang bersama temannya yang bernama Yuni.
Ketika hendak pulang, Moko menawari kami bertiga tumpangan sampai gapura. Astuti serta merta setuju daripada harus berjalan kaki.
" Aira , nanti kamu kuantar pulang sekalian. Astuti dan Yuni biar naik angkot." Moko menawarkan diri mengantarku.
" Tapi aku pulang ke warung ibuku depan pasar, bukan ke rumah. Kamu nggak keberatan ? " tanyaku padanya.
" Alah santai aja nggak pa pa. Lama nggak ketemu ini." Ternyata dia dengan senang hati mau mengantar sampai ke depan warung.
Satu persatu Moko membonceng Yuni lalu Astuti sampai di gapura desa. Terakhir dia membonceng ku. Di tengah perjalanan kami mengobrol tentang masa kecil dulu.
Aku meminta Moko mengambil arah memutar melewati rumah Arya, biar Arya melihat aku dibonceng cowok. Entah nanti dia akan berpikir apa tentang kami. Moko hanya menuruti karena ia nggak tahu maksudku.
Namun saat melewati depan rumah Arya ternyata pintunya tertutup. Keadaan rumah juga sepi. Yaah , gagal deh mau bikin panas Arya.
*******************
Masih ada kelanjutannya lho gaees... ikuti terus ya ceritanya.
Tapi kasih vote, like dan komen dong biar author lebih semangat lagi. okee !
__ADS_1