Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 54 Kado Cantik


__ADS_3

Jumat malam, kado buat Raka telah siap rapi dan kutaruh di atas meja. Tadi sore Eva sudah gusar memaksa ingin segera membungkusnya.


" Sini aku bantuin biar jadi bagus ! " Tanpa kuminta dia mengambil kantong plastik berisi cokelat dll yang tadi malam kubeli di Bah Hong Liem. Kurang dari satu jam selesai sudah.


Dua batang cokelat mede dibalut plastik kado transparan bergambar hati lalu diikat pita berwarna merah. Dikemas cantik oleh tangan Eva yang terampil. Di dalamnya kuselipkan secarik kartu yang bertuliskan ,


dear Raka,


' meskipun terlambat, terimalah kado ini yg tak seberapa. Jangan lihat wujudnya tapi resapi maknanya. Aku memberikan dengan hati. Semoga bertambahnya usia menjadikanmu semakin dewasa dalam berpikir dan bertindak. '


love Aira.


Biarlah kubuang jauh gengsiku. Sengaja kutulis 'love' untuk mengingatkannya kalau aku sudah menganggapnya teman special. Setelah kuperiksa lagi dan kurasa nggak ada yang kurang, aku beranjak tidur.


Keesokan hari di warung, mbak Sri langsung bertanya ketika aku tengah sarapan..


" Gimana kadonya, sudah jadi belum ? " Ia bertanya sembari mencuci piring, rutinitas kita di dapur.


" Sudah beres," sahutku pelan takut tersedak. Kebiasaan mbak Sri jika aku sedang makan selalu diajak mengobrol.


" Mana, kok nggak dibawa ? " tanyanya lagi. Ia menatap ke arah bilik tempatku menyimpan tas dan handphone.


" Ya di rumah, ngapain dibawa kemari. Nanti malah kusut dan jelek," ucapku sesaat setelah menghabiskan sarapan.


" Ciee sebegitu khawatirnya, aku kan juga pingin lihat kadonya seperti apa." Mbak Sri berujar lagi.


" Nanti aku kasih lihat fotonya di HP, " bujukku. Mbak Sri pun tak melanjutkan pertanyaannya lagi.


Selesai mencuci piring ia menagihku, " Mana coba, kasih liat fotonya ." Ia mendekatiku yang mau pergi belanja.


" Hadewh...mbak Sri, nggak sabaran amat. Ini juga baru mau belanja, tanggung nanti aja." Aku sengaja menggodanya dengan mengulur-ulur waktu. Hehe..


" Ya deh sabaaar, cuma mau lihat foto aja nanti- nanti." mbak Sri cemberut. Aku menahan tawaku.


Sehabis belanja akhirnya kuambil handphoneku yang kutaruh di dalam bilik pesholatan. Mbak Sri mendekat saat kunyalakan layar HP.


" Wow bagus banget, sederhana tapi nampak lucu dan unik ! " serunya. Hpku direbutnya lalu fotoku dizoom biar tampak besar.


" Pasti mas Raka suka, kadonya cantik gini. Terus nanti makan cokelatnya barengan suap-suapan, hahaha. " Mbak Sri berkelakar.


" Mulai ngaco nih, sini HP ku ! " Kuambil handphone dari tangannya. Kutaruh lagi di dalam bilik. Kami pun sibuk dengan tugas masing-masing.

__ADS_1


Menjelang sore saat sedang membersihkan ruangan depan Raka muncul. " Eh nak Raka, sudah pulang kuliah ? " sapa ibu begitu dia masuk.


" Iya Bu," sahut Raka seraya mengulurkan tangannya menyalami ibu. Ia menolehku yang sedang mrnyapu lantai.


" Sini aku bantu ! " Ia hendak meminta sapu yang kupegang. " Nggak usah ini udah hampir selesai kok, kamu duduk aja."


Aku segera menyelesaikan pekerjaanku lalu mengambilkan minum buat Raka. "Aku mau sholat dulu ya ! " cetusku. Raka menganggukkan kepala. Setengah jam kemudian semua pekerjaan selesai.


" Saya pulang dulu ya, Buk." Mbak Sri pamit pada ibu. " Hati-hati ! " pesan ibu seraya mengunci pintu warung. Mbak Sri juga pamit sama aku dan Raka.


" Mbak Wiwit, mari pulang !" Ibu menyapa mbak Wiwit yang juga hendak menutup tokonya. Raka ikut menoleh ke mbak Wiwit, lalu tersenyum dan menganggukkan kepala.


" Ya Bu, ini juga lagi bersiap-siap " Mbak Wiwit menyahut sembari memandangi Raka. " Ini putranya bu Harti kan ? " tiba-tiba ia bertanya.


" Iya Mbak," Raka menjawab lalu mengulurkan tangannya. Mereka berjabat tangan.


" Nak Raka ini sering kemari kok. Sering main ke rumah juga." Ibu pun menjelaskan sama mbak Wiwit.


" Ooh ternyata kamu pacarnya Aira? Kalau begitu aku dukung deh, kalian pas, cocok ! " Mbak Sri malah memuji kami.


" Mbak Wiwit apaan sih ! " Aku jadi tersipu dia bicara seperti itu. Malu sama Raka, pasti dia berpikir kalau aku sering membicarakannya.


" Yuk Mbak kita duluan ! " ucapku pada mbak Wiwit. " Ya, mari-mari ! " Ia pun beringsut membereskan dagangan yang masih ada di luar.


Ibu sudah berjalan di depan kami. Raka berjalan di sebelahku. Tanpa kuduga ia merangkul bahuku dengan tangan kirinya, tangan kanannya membawa keranjang. Alamak ! Sesaat aku kaget, kemudian menghela nafas untuk menghilangkan rasa dag dig dug.


" Kamu nggak bawa motor ? " tanyaku berbasa basi biar nggak ketahuan salah tingkah. " Enggak, kan niatku buat jemput kamu dari warung biar bisa jalan sambil mengobrol berdua ," jelasnya.


Sampai di rumah seperti biasa Eva tengah duduk di teras bersama mbak Nia. Begitu melihat kami datang ia pun berdiri.


" Mbak Nia aku pulang dulu ya, takut mengganggu nih ! " celetuknya. Ia berlagak menyindirku sambil tertawa cekikikan. Aku melotot padanya, belum sempat aku berucap Raka sudah mendahuluiku.


" Kok pulang sih, Mbak. Di sini aja nggak mengganggu kok." Ia berkata seraya mengulurkan tangan pada Eva. " Kenalkan saya Raka, temannya Aira," ucapnya kemudian.


Eva pun menerima uluran tangan Raka dan mereka bersalaman. " Saya Eva bestienya Aira sedari kecil," ujarnya menerangkan.


" Yuk masuk ! " Aku mengajak Raka ke dalam. Ia menowel pipi dede Arkana sesaat lalu masuk. Sampai di ruang tengah ditaruhnya keranjang yang dibawanya.


Eva berjalan keluar. " Aira aku pulang ya, tuh bude memanggilku, " ucapnya dengan mengedipkan matanya sebelah. Aku tahu dia bohong, ia hanya nggak nyaman saja karena ada Raka.


Setelah Eva pulang mbak Nia juga masuk ke dalam. Aku menghampiri Raka yang sudah duduk di ruang tamu. " Mau minum apa ? " tanyaku menawarinya.

__ADS_1


" Nanti saja, tadi juga sudah minum di warung." Ia menolak halus.


" Kalau gitu aku mandi dulu ya." Aku hendak beranjak dari tempat duduk tapi Raka menahanku. " Duduk dulu sini, buru-buru amat mandi memang mau ke mana." Ia menyuruhku kembali duduk.


" Lho bukannya kita mau keluar seperti biasa. Nanti kemalaman kalau aku nggak segera mandi," kataku mengingatkannya.


" Aku lagi nggak ingin keluar, kita mengobrol saja di rumah. Gimana, setuju nggak ? " pintanya.


" Terserah kamu deh, aku nurut saja," jawabku menyetujuinya. " Tapi aku gerah kalau nggak segera mandi, " kataku merajuk.


" Iya sana mandi, yang bersih ya biar wangi." Raka menggodaku. Aku menjulurkan lidahku meledek nya.


Selesai membersihkan diri ku ambil kado yang telah kusiapkan buat Raka. Aku keluar sambil menyembunyikan kadonya di balik punggung.


" Ada apa sih, kok senyum-senyum. Itu yang di belakang bawa apa hayo ? " Raka curiga dengan kelakuanku.


Aku duduk di sampingnya ,kita berhadapan. Lalu dengan cepat ku sodorkan kado kecil tadi di depannya. " Selamat ulang tahun, maaf ya hadiahnya terlambat." ucapku seraya meraih tangannya dan meletakkan kado di atasnya.


" Apa ini, kamu kok sempat-sempatnya menyiapkan kado buatku. Belum pernah lho aku dapat kado ultah dari seseorang. Makasih banget ya ! " ucapnya dengan penuh haru.


" Iya dong, sekali-sekali ngasih kado buat teman spesial. Tapi maaf ya kadonya cuma sederhana soalnya dadakan." Aku merendahkan diriku.


" Ah, ini juga sudah istimewa. Jarang-jarang aku dikasih cokelat sama keluarga atau teman. Kamu yang pertama dan ini cukup membuatku terharu." ungkap Raka sambil menyunggingkan senyum.


" Boleh aku buka sekarang ? " pintanya. kemudian. Aku mengangguk. Raka langsung membukanya pelan-pelan.


Diambilnya secarik kertas yang ada di dalamnya. Setelah membaca sesaat ia menyimpan kertas itu di saku bajunya.


" Kita makan sama- sama ya, nih buat kamu ! " Ia mengulurkan sepotong cokelat untukku. " Mau makan sendiri atau aku suapin ? " tanya dia lagi sambil mengedipkan mata.


" Makan sendiri lah, malu kali suap-suapan segala." Aku menghindari tatapan matanya yang mendadak jadi lembut dan penuh harap. Kugigit cokelat di tanganku untuk menentramkan dadaku yang berdegup kencang.


" Buka mulutnya dong, nih aku suapin ! " Ia tetap mau menyuapiku. Kubuka mulutku sedikit lalu kugigit cokelat yang ia sodorkan ke mulutku.


" Sekarang gantian kamu yang suapin aku," pintanya lagi seraya membuka mulutnya. Kumasukkan secuil cokelat ke dalamnya.


Raka menahan tanganku yang baru saja menyuapinya. Digenggamnya erat, dan tanpa kuduga ia mengecup punggung tanganku. Aku terkesiap. Tapi kemudian aki tersenyum. Kecupan itu terasa hangat.


________&_____


Bersambung ya gaees !

__ADS_1


__ADS_2