Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 97 Cowok Berondong


__ADS_3

" Kita nggak usah keluar ya Mas, kamu kan capek tadi baru istirahat sebentar," pintaku sama mas Raka setibanya kita di rumah.


" Siap Tuan Putri, tahu aja kalau aku lelah." Ia pun menyetujuinya dan langsung menghenyakkan pantatnya di kursi.


" Kalau nggak tahu ya kebangetan. Sudah jelas seminggu ini aku dianggurin, heheheh !." celetukku.


" Ehemm, ada yang kangen nih ! " Mas Raka mengerling nakal ke arahku.


" Huuu sok tahu. Aku mau mandi dulu," ujarku seraya masuk ke dalam.


Kutaruh keranjang berisi makanan dan lauk pauk buat makan malam. Mbak Nia lagi malas masak jadi dia memintaku mengambil dari warung.


Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian aku keluar kamar. Kuajak mas Raka duduk di teras sambil menunggu waktu Magrib.


" Di dalam saja, kalau di teras nanti kelihatan sama tetangga. Kan kita mau kangen-kangenan," bisik mas Raka sambil tersenyum memandangku. Ia menaik turunkan alisnya.


" Apaan sih, memangnya kita mau ngapain. Yuk kita duduk sebentar di teras, mumpung belum Magrib." Kubujuk lagi mas Raka. Ia pun berdiri dan mengikutiku ke teras.


Di saat asyik mengobrol aku merasa ada sepasang mata yang memperhatikan kami. Kulongok rumah yang berada tepat di depan rumahku, ternyata Ernest, cucunya bu Dirja yang baru pindah kemari sekitar 6 bulan yang lalu. Aku memandangnya sekilas, ia pun melambaikan tangan. Kubalas dengan senyuman.


" Ngelihatin apa sih, kok senyum-senyum ? " tanya mas Raka.


" Itu Ernest tetangga baru depan rumah. Dia melihat ke sini lalu melambaikan tangan. Ya aku senyumin aja." Kujawab apa adanya pertanyaan mas Raka.


" Oh ada tetangga baru, kok aku nggak pernah ngeh ya. Memangnya rumah depan itu kosong, sepertinya kamu nggak pernah cerita," lanjutnya nampak agak terkejut.


" Tidak, itu kan rumahnya pak Dirja. Ernest itu cucunya yang tinggal di kampung Tugu Selatan. Kata bu Dirja, ayahnya mutasi kerja di luar daerah, ibunya ikut menemani. Karena Ernest sekolahnya tinggal setahun jadi nggak ikut pindah, lalu tinggal di sini sama kakek neneknya."


" Ooh, jadi dia masih sekolah," gumam mas Raka.


" Iya, waktu pindah kemari pas naik kelas XII. Anaknya ramah kok, sama kita juga langsung kenal."


Mas Raka terlihat tak begitu menanggapi ceritaku. Ia mengamati Ernest yang sedang berolah raga kecil, lalu mengajakku masuk rumah.


" Masuk yuk," cetusnya dengan wajah agak cemberut. Mas Raka kenapa sih, apa ada yang salah dengan omonganku ?


Saat terdengar azan mas Raka tidak segera beranjak, padahal biasanya langsung ke masjid tanpa menunggu ayah. Kali ini sampai ayah hendak keluar dia masih duduk dengan wajah ditekuk.


" Ayo nak Raka, kita ke masjid ! " ajak ayah sambil berjalan keluar. Mas Raka bangkit dengan tak bersemangat, ia sempat melirik ke arah rumah bu Dirja sebelum berjalan ke masjid.


Aku jadi bingung, kenapa mas Raka mendadak berubah setelah aku menceritakan tentang Ernest. Anak itu tadi hanya melambaikan tangan dan aku juga hanya tersenyum padanya, nggak lebih.


" Raka kenapa itu Ra, kok mukanya nggak enak dilihat gitu." Mbak Nia yang baru pulang dari warung bertanya padaku.


" Nggak tahu tuh, nggak ada masalah apa-apa kok." Sengaja tidak kubahas tentang Ernest, takutnya mbak Nia bicara macam-macam dan ibu mendengarnya. Arkana kuambil dari gendongannya, lalu kami masuk ke ruang tengah.

__ADS_1


" Duduk sini, tante Aira mau sholat ya," ucapku sambil mendudukkannya di sofa depan televisi.


Mbak Nia menunggui di sebelahnya, nanti dia sholat setelah ayah pulang dari masjid. Bergantian menunggui Arkana, sebab si bocil itu sudah mulai aktif, apa-apa dipegangnya.


Seusai beribadah aku membuatkan kopi susu buat mas Raka. Tak berapa lama ia kembali dari masjid, senyumnya mengembang saat melihatku membawa minuman dari ruang tengah.


" Minum dulu Mas, ini kubuatkan kopi susu biar tenaganya pulih lagi, heheeh ! " gurauku. Kutaruh minuman di meja lalu duduk di kursi panjang.


" Makasih sayang, habis ini aku langsung pulang ya. Mau istirahat, besok masuk pagi lagi," ucapnya dan langsung duduk di sampingku.


" Ya Mas, tapi beneran istirahat lho ya. Jangan keluar lagi, jangan nongkrong," pesanku.


Mas Raka mengangguk, lalu menyeruput kopi susunya setelah menunggu panasnya berkurang.


" Sini dong, katanya kangen." Ia memintaku mendekat. Aku menyebikkan bibir.


Mas Raka langsung memelukku dari samping. " Iiih, ngegemesin banget. Bibirnya jangan dimanyunin gitu dong," bisiknya.


Perlahan ia mengusap pipiku, kemudian bibirku. Wajahku dihadapkan ke wajahnya., dan milikku yang berwarna merah muda ini langsung dikulumnya. Kupejamkan mataku merasakan kelembutannya.


" Aku pulang ya," ucap mas Raka seusai melepas c***anya , lalu menghabiskan kopi susunya.


Aku mengikutinya di belakang saat dia keluar. Sebelum menaiki motornya ia masih sempat melirik ke arah rumah bu Dirja yang tertutup rapat.


" Hati-hati ya Mas," ucapku seraya melambaikan tangan.


" Hai Mbak Aira ! " teriak Ernest dari depan pintu. Ia lalu melangkah ke pagar rumahnya.


" Hai juga, kok nggak belajar ? " tanyaku basa basi.


" Nanti habis Isya, ini mau ngadem dulu," sahutnya tersenyum.


" Ooh, kalau gitu aku masuk dulu ya," ucapku seraya berbalik ke arah pintu.


" Buru-buru amat sih Mbak, temani aku dulu kek sebentar hehehe ! " celetuknya bercanda.


Aku hanya mengedipkan mata lalu melambaikan tangan. Bergegas aku masuk rumah dan menaruh cangkir bekas minumnya mas Raka tadi di dapur.


" Ngobrol sama siapa barusan? " tanya ibu begitu aku muncul dari dapur.


" Ernest, lagi mau ngadem katanya." Aku menyahut sekejap lalu masuk kamar.


Aku agak heran aja, kenapa Ernest bisa kebetulan membuka pintu saat mas Raka sudah pulang. Apa dia sengaja menunggu ?


Memang sih, aku merasa tingkah Ernest agak lain. Awal mula dia tinggal dengan kakek neneknya, mas Raka tengah berada di Surabaya. Aku hanya sesekali melihatnya sekilas jika dia mau berangkat sekolah. Beberapa hari kemudian jika aku pulang dari warung hanya berdua dengan ibu dia menyapa dari balik pagar rumah.

__ADS_1


Hari-hari berikutnya ia selalu mengajak bareng jika mau berangkat sekolah dan aku ke warung makan. Kadang diam-diam memandangiku jika aku menyapu halaman.


*****************


" Pagi Mbak, mau berangkat ke pasar kan ? Bareng yuk ! " sapa Ernest pagi ini.


" Pagi juga, kok belum berangkat sih. Ini kan hari Senin, upacara bendera kan. " Aku membalas sapaannya.


" Kan aku nungguin Mbak Aira, biar dibayarin naik angkot hehehe ! " Ia berkelakar.


" Yeee maunya, kalau aku lagi pingin berjalan kaki gimana hayo !" sahutku dengan menjulurkan lidah meledeknya.


Ernest pun tertawa. Kami berjalan beriringan menuju gapura. Mbak Tutik yang sedang menyapu halaman melihat ke arah kami.


" Aira, mau berangkat ya ! " sapanya. Tatapannya seakan menyelidik.


" Iya Mbak," balasku dengan melempar senyum.


Mbak Tutik membalas senyumku, namun dia melirik ke arah Ernest yang agak cuek dan hanya memandang ke jalan raya.


" Yuk Ra, aku masuk dulu," katanya lalu masuk ke rumahnya.


Dari arah barat nampak ada angkot jurusan ke sekolahnya Ernest, berhenti di depan kami. Ia menarik tanganku supaya naik. Untuk sampai di warung aku bisa naik angkot jurusan apa saja, semua angkot pasti melewati pasar.


Aku tertegun sejenak, tapi kemudian kucoba bersikap biasa. Di dalam angkot Ernest terus bercerita tentang sekolahnya, teman-temannya juga gurunya.


" Dik, tadi kok diam saja sih waktu aku ngobrol sama Mbak Tutik di depan gapura tadi." Kuperingatkan dia perihal sikapnya sama mbak Tutik. tadi.


" Loh memang aku kenapa, kan yang diajak mengobrol Mbak Aira. Aku ya diam saja dong." Dia berkilah.


" Paling tidak kamu tersenyum apa gimana. Kamu kan baru tinggal di sini, kakek dan nenek kamu cukup disegani loh." Kembali kuingatkan dia.


" Itu kan nenek dan kakek, aku bukan mereka lah." Ernest masih saja mengabaikan saranku.


" Huuh dasar, " umpatku dalam hati. Aku bersiap turun karena angkot telah berhenti di depan pasar.


" Aku turun ya Dek ! " ucapku pada Ernest.


" Oke Mbak, sampai nanti ya! " balasnya. Aku berjalan beberapa meter baru lah sampai di warung.


______________


Sekian dulu gaees. Author menunggu saran kalian ya biar kisah ini makin berkembangan dan makin asyiik.


Jangan lupa juga vote like dan komentar.

__ADS_1


Makasiih.. lope-lope buat kalian semua.


__ADS_2