
" Maksudnya apa ya, ngapain mau masuk ke kamarku ? " tanyaku heran. Raka pun tertawa kecil. " Memang kamu maunya apa ? " Dia balik bertanya.
Sialan, dia malah menjebak pertanyaanku, aku jadi tersipu malu. Entah mengapa meskipun sudah setahun lebih kita pacaran tapi aku masih malu kalau membahas hal semacam ini.
" Kamu mau pulang jam berapa, ini udah hampir jam sebelas malam." Kualihkan pembicaraan daripada Raka nanti menggodaku lagi. Apalagi keluargaku juga sudah pada tidur karena kecapekan, khawatir mereka terganggu jika kami bergurau.
" Kenapa memangnya kalau jam sebelas, kan kita udah tunangan. Tadi juga ada tetangga yang jadi saksi, nggak mungkin kita diprotes." Raka memberi alasan.
" Hei, kita baru tunangan belum menikah. Masih ada batasan nggak boleh seenaknya. Lagian tetangga juga nggak mungkin protes, paling ngomongin di belakang." Aku mengingatkannya. Jangan sampai Raka menyalah artikan kata lamaran atau tunangan.
" Iya aku tahu, aku juga nggak berniat macam-macam kok. Tapi setidaknya jika sudah tunangan berarti tetangga juga nggak akan berpikiran negatif. Kamu tuh yang ' parno ' hehehe." Raka terkekeh. Aku tersenyum, dia mulai sering menggodaku akhir-akhir ini. Selalu bisa menenangkanku jika ada masalah.
" Jangan keras-keras ketawanya, nanti yang lain terganggu tidurnya." Kuberi kode padanya supaya melirihkan suaranya.
" Oh kamu maunya pelan ya, oke aku turuti." Raka merengkuh bahuku, lalu mendekatkan wajahnya ke wajahku. "Kamu mau apa," tanyaku bingung. Aku suruh memelankan suaranya kok malah memelukku.
" Katanya mau yang pelan, begini kan," ucapnya dengan mengecup bibirku dan mengulumnya. Aku nggak sempat mengelak, apalagi kali ini ia melakukannya dengan kelembutan, seakan tahu pasti aku nggak akan melepasnya.
Aku memang menikmatinya, merasakan hangat bibirnya yang menjalar ke seluruh tubuh. Raka terus memainkan bibirku, sesekali menyelipkan lidahnya untuk membuka mulutku dan aku pun terpancing untuk membalas permainan bibirnya.
Aaaaahh ! Kami melepas ciuman ini dengan nafas tersengal. Raka memelukku erat dan aku pun membalas pelukannya. Baru kali ini aku merasakan ciuman yang begitu lama.
" Aku pulang dulu ya, udah malam." Raka mengurai pelukannya lalu mencium kening dan kedua pipiku. Ia membuka HP dan mengetik sesuatu di WhatsApp.
" Kamu gimana pulangnya, kan nggak bawa motor. Masa mau jalan kaki malam-malam sendirian." Aku mulai bingung menyadari jika Raka tadi ke sini naik mobil dan sudah ditinggal.
" Aku udah WA Doyok supaya dia jemput aku. Tenang saja itu sudah kupikirkan dari awal. Raka gitu loh, selalu berpikir cerdas hehe ! " Aku melengos mendengar kalimatnya yang terakhir.
Limabelas menit kemudian terdengar suara motor yang sudah dimatikan mesinnya. Raka berdiri lalu membuka pintu. Benar saja yang datang Doyok temannya, yang dinaiki juga motornya Raka. Waah , benar- benar rencana yang matang.
__ADS_1
Aku mengantar ke teras, Raka menuntun motornya dan berjalan beriringan dengan temannya. Dia bilang setelah sampai gapura baru akan menyalakannya, supaya tidak mengganggu tetangga yang sudah tidur. Sekarang memang sudah jam 23.30 wib, orang akan kaget jika ada suara motor tiba-tiba, maklum karena di dalam gang. Beda kalau di sekitar rumah kak Vicky yang jalannya lebih lebar.
" Hati-hati ya, langsung pulang aja sudah malam. Jangan nongkrong-nongkrong lagi," pesanku sama Raka. Ia pun mengangguk. Daaah ! Raka melambaikan tangan.
Setelah mereka berbelok di gang depan aku langsung masuk dan mengunci pintu. Di dalam kamar aku menatap wajahku di cermin. Adakah perubahan di sana ? Kuraba bibirku, kok masih terasa tebal ya. Kuamati lagi jikalau bentuknya sedikit berubah karena tadi Raka ********** habis-habisan.
Ternyata masih sama, syukurlah. Kupikir bibirku berubah agak dower hehehe. Aku pun naik ke atas ranjang bersiap tidur. Sengaja nggak cuci muka biar bekas ciuman Raka nggak hilang. Aku tersenyum sendiri mengingatnya , bibir Raka yang hangat bercampur dengan aroma rokok putih favoritnya. Heemmhh ...
____________
" Loh loh, Mbak Aira kok lemes gitu. Masih pagi lho ini, harusnya lebih seger apalagi semalam hari bahagia karena sudah dilamar pujaan hati. Semangat doong ! " Celetuk mbak Sri karena heran melihatku masuk ke warung masih dengan wajah bantal.
" Semangat dan bahagia sudah pasti, tapi masih ngantuk nih. Tadi Subuhnya aja agak kesiangan, untung dibangunin sama ayah, ooaaahhhmmm ! " kututup mulutku ketika tak sadar menguap. Malu lah kalau ketahuan pelanggan yang tengah sarapan.
Kutaruh tas selempangku di bilik tempat sholat lalu lekas mengerjakan rutinitas. Ini hari Minggu biasanya lebih ramai dari hari biasa.
" Bu Wahyu, kok Aira makin hari makin cantik ya ! " celetuk mas Harun saat aku keluar membawa beberapa gelas minuman. Aku menjulurkan lidah ke arahnya, Weeeekk !
" Ibuk iiih, jangan dikasih tahu dong aku kan malu." Aku menyenggol lengan ibu yang tengah menyendok nasi untuk mas Harun. " Nggak papa dong, kabar baik masa nggak boleh diumumkan," ujar ibu lagi.
Mas Harun langsung berbinar menanggapinya. " Oyaa, wah bakalan patah hati dong cowok-cowok pelanggan Bu Wahyu, hahaha !" Mas Harun tertawa keras. Sontak orang-orang yang lagi sarapan langsung menoleh ke arahnya. Dia pun cuek saja dan mulai sarapan.
Untung yang lain nggak pada kepo, maklum bapak-bapak beda sama emak-emak. Mereka pun tak menggubris lagi dan melanjutkan makan. Aku bergegas masuk ke dapur takutnya mas Harun meledekku lagi.
" Assalamualaikum, selamat pagi semuanya," sapa seseorang yang kuhapal suaranya. Aku menoleh ke pintu dapur, benar saja. Raka sudah berdiri di situ dan memandangku sambil tersenyum.
" Kok pagi-pagi udah ke sini, memang nggak ada acara ? " tanyaku lalu mendekatinya. Kusambut tangannya dan kusuruh duduk di dalam bilik saja.
" Aku pingin menemani calon istriku, katanya kalau hari Minggu warung ramai jadi aku ke sini untuk menghiburmu, hehe ! " kelakarnya.
__ADS_1
" Pagi-pagi udah ngegombal, malu tuh sama mbak Sri." Aku menunjuk mbak Sri yang sedang menggoreng tempe sama bakwan.
" Betul mas Raka, mbak Aira perlu dihibur, tadi saja datang-datang mukanya kusut. Katanya masih mengantuk." Ini mbak Sri malah ikut-ikutan menggodaku. Sontak Raka menatapku seolah khawatir.
" Ngobrolnya nanti ya, sekarang lagi banyak kerjaan," cetusku lalu keluar untuk mengambil piring-piring kotor. Raka ikut keluar membantuku. Ia juga yang mengambil alih tugasku mencuci piring meskipun aku melarangnya.
" Sudah pokoknya hari ini aku akan menemanimu seharian. Kamu sarapan aja lalu lanjut tidur juga boleh. Kamu pasti tidurnya kemalaman karena mikirin aku terus, makanya sekarang masih ngantuk." Dengan pedenya Raka menebak apa yang kualami.
" Widiiih, ge er amat. Siapa yang mikirin kamu, orang aku kecapekan makanya ngantuk," sahutku ngeles. Malu kan kalau dia tahu aku nggak bisa tidur karena teringat ciuman waktu itu.
" Nggak masuk akal, masa baru bangun tidur udah capek. Emang kamu tidur sambil footsal ? Yang ada kamu pasti kebayang terus saat kita ciuman, terus nggak bisa tidur. Hayo ngaku ! " Kalimat terakhir Raka bisikkan di telingaku karena ada mbak Sri di sini.
Kucubit pinggang Raka, bisa-bisanya dia menebak tapi benar. Mukaku terasa hangat, pasti kaya kepiting rebus jika dilihat.
" Ehem, ehem, yang di sini dikira nyamuk apa ya. Mentang- mentang tadi malam tunangan." Mbak Sri meledek kami.
" Iya maaf deh, sini aku bantuin. Biar kubawa ke depan gorengannya." Kuambil piring lalu kutuang bakwan yang baru diangkat. Sebagian kusisakan buatku dan Raka, sebagian kubawa keluar.
" Nih bakwannya mumpung masih panas, tempenya sebentar lagi matang. Yang tadi sudah dibawa keluar langsung ludes."
Bakwan kutaruh di piring kecil. Raka mengeringkan tangannya setelah selesai mencuci piring. Ia mencomot bakwan sembari duduk di bangku. Aku membuatkan teh hangat untuknya.
" Sarapan sekalian ya, aku juga mau sarapan," ajakku. Raka menyeruput tehnya. " Aku udah makan di rumah. Kamu kan kusuruh makan dari tadi ." Dia balik menyuruhku makan.
" Aku nungguin kamu biar bisa makan berdua," ucapku manja. " Tapi aku masih kenyang. Udah sekarang kamu makan aku temani di sini. Sama saja kan," tukasnya. Aku pun beranjak untuk mengambil nasi di depan. Selanjutnya aku makan sementara Raka menikmati teh dan gorengan. Kebetulan tempenya juga baru diangkat sama mbak Sri.
Seharian ini Raka benar-benar memanjakanku Hampir semua tugasku digantikan olehnya. Bahkan dia juga menemaniku belanja. Mbak Sumi sampai heboh, tak hentinya memandangi Raka. Sesekali senyum-senyum padaku. Entah apa yang ada di pikirannya.
Dari kios mbak Sumi Raka mengajakku mampir di kios ibunya. Bu Harti terlihat sumringah saat kami datang. Sama halnya dengan ibuku, bu Harti juga cerita pada pedagang di sekitarnya tentang pertunangan kami.
__ADS_1
__________$$$$$_________
Masih bersambung ya. Jangan lupa vote like n komen