
Enam hari kemudian. " Mas, tadi aku dichat sama pihak percetakan. Katanya undangannya udah jadi. Besok bisa diambil," kataku pada mas Raka malam ini.
" Oh ya, kalau gitu besok biar aku aja yang mengambil. Agak siangan aja ya, habis dari sana terus aku mampir ke warung." Ia pun menanggapi.
" Nggak sama aku Mas ngambilnya? " ucapku merajuk.
" Nggak usah, kalau sama kamu malah aku bolak balik. Biar aku sendiri, cuma ambil terus bayar kurangannya, sudah beres. Nanti tinggal kutunjukin ke kamu."
" Ya sudah, sebentar aku ambil dulu kwitansinya. Takutnya besok kamu lupa bawa." Aku beringsut lalu masuk ke kamarku.
" Nih Mas, simpan di dompet aja biar nggak hilang. Kamu suka teledor soalnya," ujarku seraya menyodorkan selembar kertas padanya.
Kita duduk di ruang tamu sambil menikmati coklat panas dan martabak yang dibawa mas Raka. Sebelum kemari ia mampir membelinya, satu buat ayah dan satu lagi buat kita berdua.
" Makasih ya Mas, kamu bela-belain mengumpulkan uang gaji demi segera meresmikan hubungan kita. Sekalipun orangtua dalam hal ini bapak, seakan kurang merestui. Sampai-sampai untuk mas kawin saja kamu berusaha sendiri. Aku salut sama kamu." Kuungkapkan pujianku pada mas Raka.
" Sama-sama sayang, justru aku yang terima kasih karena kamu mau menerimaku apa adanya. Dengan segala kekuranganku, keterbatasanku ekonomiku. Sementara cewek-cewek di luar sana berlomba mencari calon suami yang mapan, kaya, ke mana-mana pakai mobil. Kamu malah memilihku yang tidak punya apa-apa." Mas Raka tersenyum miring.
" Mas, kamu bukan tidak punya apa-apa tapi belum. Kita baru akan berjuang bersama. Apalah artinya kekayaan, mobil mewah jika itu hanya fasilitas orangtua. Justru kamu yang berjuang sendiri akan membuat kagum orangtua di luar sana." Aku menyemangatinya.
Mas Raka menghisap dalam rokoknya, kemudian membuang asapnya kasar.
" Kadang aku bertanya sendiri, kenapa dari dulu bapak tak pernah sejalan denganku pola pikirnya. Ada saja yang dia nggak setuju jika aku punya rencana. Sampai soal jodoh juga dia nggak cocok. Meski sekarang setuju, tapi nyatanya aku disuruh biaya sendiri saat mau nikah. Alasannya kemarin baru buat biaya adik-adik. " Mas Raka mengeluh.
" Setahuku juga begitu. Kebanyakan orangtua tentu akan memberi meskipun sedikit.
Dulu ibu juga turut membiayai saat mas Bayu menikah. Di rumah juga ada resepsi meskipun sederhana, yang penting ngumpulin keluarga. Tapi orangtuamu kok tidak ya. Apa mereka tidak suka sama aku ya. Padahal awalnya ibumu baik lho sama aku."
" Kalau ibu justru senang. Tapi kalau masalah duit ibu itu agak perhitungan. Makanya kemarin cuma beliin baju gamis. yang buat maharan. Kalau soal resepsi ibu sebenarnya pingin ngadain, tapi masalahnya bapak bilang tidak punya uang. Jelas ibu nggak mau kalau harus keluar biaya banyak."
" Oalah Mas, orangtuamu kok aneh ya, hehe. Bapaknya nggak mau membiayai karena kurang setuju. Ibunya setuju tapi nggak mengeluarkan duit. Alias sama saja, intinya nggak mau berkorban demi anak, hiih ! " Aku mencebikkan bibir.
" Itu dia yang aku bilang tak habis pikir. Ya sudahlah terima saja, yang bikin aku tetap semangat karena kamu nggak menuntut apa-apa dariku. Meski begitu aku akan terus berusaha untuk membahagiakanmu. Tunggu ya sayang, setelah menikah nanti, semua gajiku buat kamu." Mas Raka mengobral janji.
" Iiish apaan sih kamu Mas, kalau semua gaji buat aku nanti kamu gimana. Motor kamu juga butuh bensin kan," balasku menyanggahnya.
" Ya kalau mau beli bensin aku minta sama kamu lah, makan juga minta sama kamu," ujarnya.
__ADS_1
" Huuu kalau itu sih namanya aku cuma disuruh pegang doang. Kirain beneran buat aku semua, ternyata buat biaya hidup," selorohku.
" Lho kan memang tugas istri mengatur keuangan. Coba kalau dipegang suami semua nanti malah habis buat jajan sama rokok, hayo ! " kelakar mas Raka juga.
Kami pun tertawa bersama, mengandai-andai apa yang akan kami lakukan nanti jika telah jadi suami istri. Sesekali ia juga mengerjaiku. Hingga tak terasa kami habiskan malam minggu dengan hanya duduk mengobrol dan bercengkerama.
" Eh, sudah jam sebelas. Aku pulang ya, takut digerebeg hihihi ! " celetuk mas Raka begitu melihat jam di handphonenya.
" Kalau digerebeg paling juga dinikahin. Sama aja sebentar lagi juga nikah hehe," ucapku terkekeh.
Mas Raka berdiri dan memakai jaketnya, kemudian keluar. Kuikuti sampai depan pagar. Saat hendak menaiki motornya ia berbalik dan memelukku, lalu mencium keningku, pipi kanan dan kiri kemudian bibir. Cup !
" Daah sayang, habis ini langsung tidur ya ! " pesannya dan langsung menaiki motornya. Aku langsung masuk rumah dan mengunci pintu.
______________
[ Sayang, undangannya udah kuambil. Tapi nanti sore aja aku antar ke rumah ya 🙏 ] [ Tadi aku ada teman sekelas waktu SMA terus dia mengajakku menemui teman-teman yang lain ]
Mas Raka memberitahuku lewat WhatsApp siang ini.
[ Setyo, kamu pernah ketemu kan. Dia sekarang di Jakarta, kebetulan lagi berkunjung kemari. Terus tadi nyamperin ke rumah ngajak berkumpul sama teman-teman geng kita dulu ]
[ Emm ya udah, sekalian aja undang mereka ]
[ Oke, makasih sayang. Sampai nanti ya, bye 😍 ]
Kuletakkan kembali handphone di dalam bilik tempat sholat. Aku keluar mengambil cemilan di meja.
" Hai Aira, gimana nih kelanjutannya. Jadi kapan nikahnya? " tanya mbak Wiwit begitu melihatku. Ia sedang mengobrol dengan ibu di depan warung kami. Di tangannya ada gorengan sama kerupuk.
" InsyaAllah tgl 12 Mei besok Mbak. Minta doanya ya," jawabku.
" Oh pasti mbak doakan semoga lancar. Berarti hari Minggu ya Bu Wahyu," lanjutnya.
" Iya hari Minggu. Tapi akad nikahnya hari Kamis tgl 9 Mei. Kakeknya Raka yang menentukan hari sama pasarannya, kita nurut saja." Ibu menambahkan.
" Oh begitu. Ya nggak masalah semua hari baik kok," ucap mbak Wiwit lagi.
__ADS_1
Aku masuk lagi ke dapur membantu mbak Sri yang sedang meracik bumbu buat besok.
" Undangannya sudah jadi belum sih Mbak ? Ini hari Minggu lho, katanya paling lama seminggu." Mbak Sri menanyakan undangan yang kupesan
" Sudah tadi mas Raka yang ngambil. Tapi mau diantar nanti sore soalnya dia lagi kumpul-kumpul sama teman SMA nya." Kuberitahu dia.
" Syukurlah, tinggal dikasih nama yang diundang. Nanti aku bantu bagikan deh. Sudah buat daftarnya belum, siapa-siapa yang mau diundang ?" tanya mbak Sri lagi.
" Belum, nanti deh sama mas Raka," tukasku seraya duduk di depannya.
" Kok belum sih, kurang 3 minggu lagi lho Mbak. Harusnya dari kemarin sudah nulis siapa saja yang diundang, jadi begitu undangan sudah ada tinggal masukkan nama, begitu." Mbak Sri memberi saran.
" Hehehe, kupikir sekalian aja kalau udah ada undangannya baru kutulis. Lagian juga nggak banyak kok yang diundang." Aku jawab santai.
" Eh jangan sepele gitu, bisa lama lho nanti. Buat daftar nama yang diundang, terus ditulis di kertas label, habis itu masih nempelin satu persatu di kertas undangannya. Masih harus mengirim ke sana kemari."
" Iya tahu, dulu kan pernah waktu mbak Nia nikah," sahutku.
" Lah itu tahu, kakaknya sudah pada nikah semua. Mereka juga sibuk to waktu itu. " Mbak Sri masih saja mengingatkanku.
" Tapi kan mbak Nia undangannya banyak, soalnya maunya serba Wah. Kalau aku kan pinginnya yang sederhana jadi hanya ngundang beberapa teman dekat, sama temannya mas Raka juga. Sisanya nanti familinya ayah sama ibu. Kalau mas Bayu malah nggak pakai undangan, ibu cuma ngundang secara lisan. Soalnya kata ibu cuma ' ngunduh mantu ' .Acara resepsinya kan di tempat mbak Risma."
" Terserah kamu deh. Tapi nanti kalau dimarahi ibu jangan ngeluh lho ya, aku sudah ngasih saran pokoknya," kata mbak Sri kemudian.
" Memang kenapa ibu harus marah, aku kan nggak ngelakuin kesalahan, " tukasku.
" Huuu, sudah lupa ya karena lama nggak diomelin ibu, hihihi. Lihat saja besok kalau undangannya keteteran pasti kamu dimarahi." Ia malah menakut-nakuti.
" Jangan sok tahu ! Iya nanti aku langsung buat daftar yang diundang. Sendiko dawuuh ndoro.... puas ! " seruku sambil melotot, pura-pura marah.
" Hahaha, ngambek. Dikasih tahu malah marah, hahaha ! " Mbak Sri tergelak melihatku melotot.
______________
Sekian dulu ya gaes. Jangan lupa vote like dan komennya ya, makaciiih.
Maaf jika ada typo2 sedikit.
__ADS_1