Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 119 Bete


__ADS_3

Ketika tiba di rumah sepulang dari warung, kebetulan mas Basuki lagi mencuci mobil. Ia melihatku lalu berseru memanggil istrinya.


" Eh, Mbak Aira. Maaaahh... ini mbak Aira ternyata baru pulang ! "


Mbak Tatik muncul dari balik pintu. " Ooh Dik Aira, tadi kita nyari-nyari lho. Kirain baru pulang sebentar mengambil hape atau apa, tapi kok nggak nongol-nongol. Padahal tadi ada tamu lagi. Untung Trias masih di sini."


" Iya maaf Mbak Tatik, tadi aku sakit perut terus buru-buru pulang. Mau balik lagi malah ibu menelpon katanya suruh menyusul ke warung soalnya lagi rame," kataku sambil menyenggol lengan ibu, kode supaya ibu mengiyakan alasanku.


" Bener Mbak, kalau hari Minggu warungnya selalu ramai. Repot kalau cuma berdua, jadi Aira saya suruh menyusul." Ibu menimpali. Biarlah sesekali berbohong, daripada berkata sejujurnya malah jadi malu.


" Tadi juga nggak sempat pamit, soalnya lagi pada di kamar tadi. Ernest sama Trias lagi asyik ngobrol. Bude Ratmi juga sibuk di dapur. " Aku menambahkan seraya tersenyum.


" Ooooh ya sudah kalau nggak kenapa-napa," tukas mbak Tatik lagi.


Aku dan ibu masuk rumah, mas Raka mengikuti di belakang


" Mari Mbak, Mas," sapanya pada mbak Tatik dan mas Basuki yang masih mencuci mobilnya.


" Mas Raka mau mandi dulu kah ? " tanyaku menawarinya.


" Nanti saja lah, tadi juga mandinya udah siang, hehe." Ternyata dia nggak pingin mandi.


" Ya udah aku aja yang mandi. Mas Raka ku buatkan minum dulu."


" Tidak usah sayang, aku belum haus. Kamu mandi aja sana, aku mau rebahan di sofa." Mas Raka menolak tawaranku. Kutinggal masuk saja ke kamar.


Tapi baru hendak melangkah mbak Tatik memanggilku. Aku menoleh keluar, dia melambaikan tangan memintaku keluar rumah.


" Dik Aira, sini dong ! Itu masih ada makanan kecil sama lauk pauk. Yuk diambil , buat kamu sama yang lain."


" Tidak usah Mbak," sahutku pura-pura menolak.


" Eh nggak apa apa, itu masih banyak kok, ayo! " ajaknya. Aku pun mengikutinya masuk.


Mbak Tatik memberiku beberapa makanan kecil yang masih tersisa banyak. Juga lauk pauk yang ada di meja prasmanan.


" Makasih ya Mbak, kubawa ke dalam dulu." Aku membawanya masuk lalu kuletakkan di meja makan.


Usai membersihkan diri kutemani mas Raka di ruang tamu. Tapi rupanya dia tertidur. Timbul niat iseng ku. Kuambil kemoceng bulu ayam di kamar, lalu aku mencabut sehelai yang paling panjang.


Hidung mas Raka kugelitiki dengan bulu tadi. Dengan mata masih terpejam ia menyungirkan hidungnya karena geli. Aku hendak tertawa tapi kutahan. Aku hanya cekikikan sendiri menyaksikan ekspresi mas Raka saat bulu ayam menyentuh wajahnya.


" Uh uh,.. ih, apa sih ini ! " Akhirnya mas Raka terbangun. Ia menoleh kanan kiri seperti mencari sesuatu.


" Hahaha, . kenapa Mas. Hihihi ! " Aku sampai mengeluarkan airmata karena terpingkal-pingkal.


" Kamu kan yang ngerjain aku, hayo tadi aku diapain ? " tanya mas Raka seraya mengusap-usap wajahnya.

__ADS_1


" Nih, kugelitikin pakai bulu ayam, hihihi. Habisnya mau Magrib kok tidur, katanya cuma rebahan." Kutunjukkan bulu ayam yang kupegang tadi.


" Hmm, iya nih kalau udah berbaring bawaannya merem. Buatin minum yang panas dong biar ngantuknya hilang," pintanya.


" Mas Raka ke masjid aja dulu, tuh udah azan," saranku.


Mas Raka bangkit hendak wudhu. Kebetulan ayah juga sudah siap ke masjid.


" Bapak duluan ya nak Raka, kamu nanti menyusul. Jangan sholat di rumah, biar pahalanya banyak hehehe." Ayah menegurnya sebelum membuka pintu keluar.


" Iya Pak, ini juga mau wudhu dulu." Mas Raka menyahut lalu bergegas ke kamar mandi.


Sementara dia ke masjid aku juga sholat di kamar. Setelah itu kubuatkan dia coklat panas. Saat kubawa keluar mas Raka sudah kembali.


" Nih Mas, coklat panas biar nggak ngantuk. Jangan minum kopi melulu," kataku dengan menaruhnya di meja.


_______________


Beberapa hari berlalu. Mbak Tatik dan keluarganya sudah kembali ke Surabaya, kecuali Ernest. Mungkin dia masih ada yang harus diselesaikan di sekolah sebelum acara kelulusan dilaksanakan. Aku enggan bertanya karena ia terlihat sibuk dan jarang bisa mengobrol.


" Sepi ya, nggak ada mbak Tatik lagi," kata mbak Nia. Kita lagi nonton televisi sehabis sholat Isyak.


" Iya, mas Basuki udah habis cutinya ya harus balik lagi." Aku menimpali.


" Sebenarnya dinasnya di mana sih, dulu kata bu Dirja di Jakarta kok kemarin mbak Tatik bilang di Surabaya." Mbak Nia bertanya-tanya sendiri.


" Yach, namanya orang tua bisa saja keliru. Asal tempatnya jauh dibilangnya Jakarta, hehe." Aku asal menyahut.


" Tapi kalau lupa ya lupa. Nggak ada hubungannya pernah ke sana apa belum. Tahunya anaknya ke Jakarta tapi ternyata di Surabaya," sahutku lagi.


" Kan kamu tadi yang bilang, orang tua tahunya cuma Jakarta. Hayo ! " ucapnya ngotot.


" Stop stop, ada apa sih ini kok pada ngotot ? Ngomongin apa coba, nggak penting kan," tegur ibu yang baru selesai sholat di kamarnya.


" Tahu tuh mbak Nia," sahutku lalu beranjak ke kamar.


Mas Raka lagi apa ya ? Tadi sore dia mengirim pesan kalau nggak bisa menemuiku, katanya mau mengantar nenek ke tempat famili.


Neneknya memang masih aktif ke sana kemari, ikut arisan keluarga. Kalau ibunya malah jarang katanya, soalnya lebih mementingkan berjualan. Jadilah nenek yang sering datang mewakili keluarga.


[ Selamat malam Mas Raka, lagi ngapain. Aku bete nih nggak ada teman ngobrol ] Send.


Pesan belum dibaca, mungkin mas Raka sedang makan atau nonton televisi. Huuh, aku bingung mau chat sama siapa. Makin ke sini teman-teman sudah mulai sibuk kuliah, jarang menghubungiku. Eva mulai jarang ngechat, Yana apalagi.


Sepuluh menit baru lah ada pesan WA masuk dari mas Raka.


[ Maaf sayang, aku baru saja sampai rumah 🙏 Tadi nggak boleh pulang disuruh nunggu di sana. Banyak saudara-saudara dari nenek yang lagi kumpul-kumpul soalnya ]

__ADS_1


[ Tuh kan, kamu seneng-seneng di sana. Aku di sini bengong sendirian 😒 ]


[ Kok sendirian, kan ada mbak Nia, ada ibu sama bapak ]


[ Nggak se frekwensi dong Mas, mereka juga paling ngobrol sebentar terus pindah. Ibu sama ayah ngopi di teras, mbak Nia masuk kamar ngelonin Arkana. Huuuuh ]


[ Haha haha, terus sekarang maunya apa sayang. Apa aku ke situ sekarang, tapi ini jam berapa. Sudah jam setengah sembilan. Besok aku juga bekerja. Gimana dong ]


[ Ya udah temani aku chating ya. Tapi nanti kalau aku udah mengantuk aku nggak lanjut lagi 😊 ]


[ Iya sayang, pokoknya kita chating sampai kamu ngantuk, sampai kamu tidur aku temani ]


[ Makasih ya Mas. Oh iya, tadi ada acara apa sih di tempat saudara nenek ]


[ Arisan keluarga lah. Kan aku pernah cerita sama kamu. Adik-adiknya nenek kan banyak, nenek itu anak pertama. Sebenarnya yang ngadain arisan itu anak-anaknya, yang tua cuma ikut berkumpul sekalian silaturahmi.


Tapi ibuku malah jarang ikut alasannya dari pasar pulang udah capek. Sementara bapak juga malas kalau disuruh kumpul sama saudara. Jadi nenek berangkat sendiri. Ujung-ujungnya malah aku yang mewakili bapak sama ibu. Aneh memang orangtuaku ]


[ Oh gitu ya. Tapi kan nenek bisa datang sama kakek, kenapa malah sama kamu ]


[ Ya nggak bisa lah, kakek udah terlalu tua ikut acara kayak begini. Nenek juga sebenarnya tidak perlu datang. Tapi karena dasarnya nenek itu suka bepergian, ditambah lagi dari pihak keluargaku tidak ada yang mau hadir. Maka nenek punya alasan buat pergi ke sana hehe ]


[ Wooooh, pantesan cucunya juga kaya gitu. Ternyata nurun dari neneknya 😜 ]


[ Hei, maksudnya apa nih. Kok cucunya kaya gitu. Kamu nyindir aku ya ]


[ Hahaha ngerasa ya. 😄 ]


[ Awas kamu ya. Besok kalau ketemu bakalan habis sama aku huh ]


[ Memang bener kan. Kamu kan nggak bisa diam maunya keluar rumah terus. Bilangnya mau istirahat di rumah, eh malah nongkrong di rumah Doyok. Kalau libur kerja bukannya istirahat juga malah menemaniku di warung ]


[ Oh kalau itu beda. Cowok itu sekali-kali mesti ketemu sama teman, biar gaul nggak kuper. Kalau soal nemenin kamu di warung kamu sendiri suka kan , hayoo ]


[ Iya sih, tapi kalau sampai kejadian nenek nyusulin kamu waktu itu. aku malu kan, dikira aku yang nyuruh kamu ]


[ Cuma sekali doang, sekarang nggak pernah kan ]


[ Itu juga aku yang ngingetin. Kalau enggak pasti lupa mau nyuci baju ]


[ Iya iya makasih ya Cantik. Kamu memang calon istri yang baik ]


[ 🥱 Mas aku udah ngantuk nih. Aku tidur ya ]


[ Sudah ngantuk ya, oke deh. Kamu bobok manis jangan lupa berdoa. Mimpiin kita ya sayang 😘😍 ]


[ Good night 😘 ]

__ADS_1


Aku sudah mengantuk berat. Kutaruh handphone di atas bantal di sisi kepalaku. Kubaca doa lalu memejamkan mata.


_____________


__ADS_2