
" Ini kok ada buah rambutan sama kelengkeng, siapa yang bawa ? Joni apa Aira." Kudengar suara ibu bertanya-tanya dari ruang tengah.
" Aira yang bawa, katanya oleh-oleh dari neneknya Raka yang di Jogja Sleman. Kalau Joni tadi malam pulang cuma bawa kantong plastik kecil. Itu juga di bawa ke kamar." Ayah menerangkan ke ibu. Tadi malam saat aku pulang ibu memang sudah tidur.
Aku yang baru membuka mata melirik ke arah jam dinding, pukul 4.55 . Sudah siang, tapi kenapa ayah nggak bangunin aku ? Bergegas aku bangkit dan keluar kamar.
" Ayah kok nggak bangunin Aira ?" Kutanya pada ayah yang tengah membuka jendela. Ayah menolehku lalu tersenyum.
" Tadi Ayah sudah buka kamarmu tapi kamu sepertinya capek banget. Makanya Ayah nggak bangunkan, Ayah pikir nanti kamu pasti bangun sendiri." Ayah memberi alasan. Aku ikut tersenyum.
" Iya dong, anak Ayah nggak mungkin ninggalin sholat," sahutku seraya berjalan ke kamar mandi, bergegas wudhu lanjut sholat Subuh.
Seusai sholat aku mengambil sapu di dapur untuk membersihkan semua ruangan. " Tadi malam pulang jam berapa, ibu kan sudah berpesan jangan malam-malam ? " Ibu yang sedang memasak nasi buat jualan langsung menanyaiku.
" Enggak Buk. Sebenarnya jam 7 malam sudah pulang, tapi langsung ke rumah Raka soalnya bawaan oleh-olehnya sekarung. Makanya ditaruh dulu di rumah. Eh malah aku diajak ngobrol sama bu Harti, menceritakan familinya yang ngasih oleh-oleh itu." Ku jelaskan pada ibu mengapa aku pulang agak malam.
" Oleh-oleh buah rambutan sama kelengkeng itu, apa lagi panen ? Memangnya kalian ke mana kemarin ? " tanya ibu lagi sembari melanjutkan pekerjaannya.
" Raka mengajakku main ke tempat neneknya di Sleman, dia bibinya bu Harti. Tanahnya luas banyak pohon buah-buahan. Kemarin itu nggak lagi panen tapi kakeknya sengaja memetiknya untuk oleh-oleh. Itu aja masih ditambahin makanan kecil. Banyak pokoknya, sampai susah bawanya. Untung motor Raka gede."
Ibu nampak senang mendengarkan ceritaku. Lalu aku ke depan untuk membersihkan rumah. Sementara mbak Nia dan mas Joni juga lagi sholat.
Pukul 6.00 pagi ibu berangkat ke warung sekalian bareng sama mas Joni. Aku sendiri menyelesaikan tugasku dulu baru kemudian membersihkan diri dan bersiap menyusul ke warung makan.
" Mbak Sri, ada berita bagus nih ! " celetukku begitu aku sampai di warung dan masuk ke dapur. Tak lupa aku membawa sedikit rambutan dan kelengkeng buat Mbak Sri. Ia yang tengah menggoreng pisang langsung menoleh.
" Tumben kasih tahu duluan, biasanya kalau bukan aku yang nanya nggak mau cerita." Mbak Sri malah menyindirku.
" Hehehe sorry, kalau yang ini memang benar-benar kabar bagus. Harus diceritakan ke orang lain biar pada tahu kalau aku tengah bahaaaaa giaaa." Kata bahagia kuucapkan dengan tekanan.
__ADS_1
" Oke yang lagi bahagia, tapi bantuin ibu dulu di depan. Tuh pelanggan sudah pada datang." Mbak Sri memintaku keluar melayani pembeli.
" Waduuh, ini tumben juga mau diceritain malah ngusir," celetukku seraya keluar dari dapur. Kami pun nggak mengobrol lagi sampai warung mulai agak sepi pengunjung.
Sembari mencuci piring mbak Sri membuka percakapan. " Berita bagusnya apa nih ? " tanya dia menoleh padaku. Aku sedang menikmati sarapanku.
" Berita bagusnya, kemarin aku dilamar," kataku berbisik sembari tertawa kecil. Mbak Sri menghentikan kegiatannya. Ia nampak terkejut sampai membelalakkan matanya.
" Apaaa ? Yang benar Mbak Aira.," serunya tertahan. Aku mengangguk," Iya, melamarnya di taman.. Romantis banget, kaya di sinetron-sinetron." Aku bercerita sambil mengingat kembali kejadian kemarin.
" Terus cincinnya mana." Mbak Sri menarik tanganku dan mencari-cari barangkali ada cincin baru yang kupakai. Tapi tetap saja aku hanya memakai satu cincin pemberian ibuku.
" Nggak ada Mbak Sri, Raka bilang dia lagi nabung buat nikah. Makanya belum bisa ngasih cincin. Lagian kemarin kan belum lamaran resmi. Aku sendiri nggak mengharuskan itu, yang penting dia tulus mau melamarku." Aku menerangkan pada Mbak Sri supaya paham.
" Iya betul, aku dulu juga nggak pakai cincin waktu dilamar mas Jarwo. Yang penting itu setelah menikah dia bertanggung jawab mencari nafkah." Ia pun menceritakan pengalamannya waktu menikah dulu.
" Raka sih bilang cincinnya besok aja kalau pas nikahan. Tapi kalaupun nggak ada juga nggak masalah. Betul katamu Mbak, yang penting dia bekerja," kataku membenarkan pernyataan Mbak Sri barusan.
" Belum tahu juga, kurasa Raka perlu berembug dulu dengan keluarganya. Ada nenek dan kakeknya juga. Aku sendiri belum bilang sama ibu dan ayah." Kuhabiskan sarapanku lalu piringnya sekalian kucuci di wastafel.
" Itu mumpung ibu lagi sarapan, bilang sekarang saja," usul mbak Sri. Aku melongok ke depan, memang ibu sedang sarapan.
Mbak Sri mengambil lap lalu keluar hendak membersihkan meja. Tak berselang lama ibu selesai makan dan beranjak masuk ke dapur ingin mencuci tangan.
" Buk, kemarin Raka melamarku waktu kita main ke Jogja." Aku memberanikan diri bicara pada ibu. Beliau menoleh ke arahku. " Oya, kok bisa tiba-tiba begitu. Terus kamu terima ?" tanya ibu ingin tahu. Beliau duduk di bangku dapur, aku ikut duduk di sebelahnya. Wajah ibu datar, aku takut ibu keberatan.
" Enggak tiba-tiba kok, Raka sudah merencanakan beberapa hari sebelumnya. Aku pikir ngapain juga lama-lama pacaran. Soalnya hubungan kita kan sudah setahun lebih, takutnya nanti jadi gunjingan tetangga .Jadi ya aku terima."Aku pun berterus terang.
Ibu diam sejenak, kemudian melanjutkan pertanyaannya," Lantas lamaran resmi nya kapan ? " Aku sedikit lega karena ekspresinya agak berubah lebih cerah.
__ADS_1
" Belum tahu Buk, tapi secepatnya dia akan minta ijin pada orangtuanya, juga kakek dan neneknya," jawabku penuh semangat.
" Kalau begitu kita tinggal menunggu kabar dari Raka. Nanti ibu juga mau menyampaikannya sama ayahmu," ujar ibu seraya bangkit dari duduknya.
" Jadi ibu setuju jika aku menikah dengan Raka ? " tanyaku lagi. Kulihat di depan mbak Sri tengah melayani pembeli. Dia nggak mau mengganggu pembicaraan ku dengan ibu.
" Kalau kamu sudah menerimanya ya ibu setuju saja. Yang penting dia benar-benar bertanggung jawab mau menafkahimu dan bisa memenuhi kebutuhanmu." Pesan ibu tak lepas dari urusan materi. Tapi biarlah, tiap orang tua berbeda pemikiran. Ibu pun keluar lalu mbak Sri masuk membawa peralatan makan yang kotor.
" Gimana mbak Aira, tanggapan ibu soal lamaran mas Raka ? " tanya dia langsung menodongku sambil mencuci piring di wastafel. Aku hendak membantunya namun ibu menyuruhku belanja.
Astaga ! Aku sampai lupa belum belanja. Saking bahagianya dan semangat membahas soal lamaran. Bergegas aku menerima uang yang disodorkan ibu lalu berjalan ke pasar. Langsung menuju kios mbak Sumi.
" Tumben sudah siang baru ke sini, kirain tadi nggak jualan." seru mbak Sumi saat aku hampir sampai di kiosnya. Kebetulan dia lagi duduk santai nggak melayani pembeli.
" Iya nih, maklum lagi berbunga-bunga jadi lupa segalanya," jawabku berpuisi.
" Ciyeee yang hatinya lagi berbunga, memang ada pa sih ? " tanya mbak Sumi kepo. Aku pernah beberapa kali mengajak Raka ke sini, jadi dia sedikit tahu kisah kasihku.
" Adaaa ajaaa , besok juga pasti tahu." Aku menggoda mbak Sumi biar penasaran.
" Aah paling juga mau nikah, iya kan ? Bisa ku tebak, aku dulu juga pernah muda dan pernah pacaran hehehe." Dia tertawa terkekeh. Ternyata dia bisa menebak, padahal maksudku bikin dia beetanya-tanya.
" Yeee sok tahu mbak Sumi, udah ah ! Ini catetannya terus lekas siapkan belanjaannya. Sudah siang nanti masaknya jadi kesorean." Aku mengalihkan pembicaraan.
" Huuuh, kamu sendiri yang kesiangan kok aku yang disuruh buru-buru. Besok kalau sudah nikah makin kesiangan lagi pasti haha ! " Aku malah jadi bahan olokan mbak Sumi Untung suaminya lagi keluar, kalau ada kan malu aku.
_______&&&&&___________
Segini dulu nanti lanjut lagi ya !
__ADS_1
Tetep vote like and komen. Thanks.