
Siang ini sehabis jam makan siang, kebetulan pengunjung warung satu persatu sudah mulai meninggalkan tempatnya. Aku makan siang dan duduk di meja depan.
" Tumben porsi makannya banyak, harus habis lho nggak boleh sisa. " Ibu menegurku .
"Iya Buk, pasti habis jangan khawatir, " sahutku lalu mengambil kerupuk.
Entah kenapa beberapa hari ini aku merasa bahagia dan bersemangat.
Saat selesai makan aku mendengar suara anak kecil di depan toko mbak Wiwit. Sepertinya itu Cyntia, mungkin dia baru pulang sekolah. Tapi tumben kok berisik. Aku pun keluar melihatnya.
" Kak Airaa, aku baru dibelikan balon boneka sama Oom Rifan ! " teriak Cyntia memamerkan mainannya padaku. Ternyata dia bersama Oom nya, bukan papanya. Mereka duduk di bangku depan toko.
" Oh iya, bagus sekali balonnya," ucapku seraya mendekat dan mengusap pipinya. Balon berbentuk boneka melayang-layang di atasnya.
Mas Rifan melempar senyum padaku. aku membalas senyumnya sekedar basa basi.
" Kok nggak dibawa masuk balonnya, Sayang ?" ucapku kemudian.
Dari tadi mas Rifan tidak mengajak Cyntia masuk padahal biasanya langsung ganti baju. Sedangkan mbak Wiwit lagi melayani pembeli.
" Oom Rifan bilang nanti aja, mau duduk di sini dulu," jawab Cyntia polos.
Rupanya mas Rifan yang mengajari. Mungkin dia juga yang menyuruh Cyntia memanggilku tadi. Lihat saja nanti pasti mbak Wiwit mengomel.
" Kalau gitu kak Aira masuk dulu ya," ucapku lalu masuk ke warung. Kuambil piring bekas makanku tadi dan kubawa ke dapur.
" Siapa sih Mbak kok berisik tadi ? " tanya mbak Sri.
" Itu Cyntia pulang sekolah sama Rifan, terus beli balon boneka, tadi dipamerin ke aku," sahutku.
" Dijemput Rifan lagi ? " tanya mbak Sri lagi.
" Iya tuh, udah gitu Cyntia nggak diajak masuk malah duduk- duduk di depan. Padahal biasanya kan langsung ganti baju." Aku berkomentar.
" Cyntia, ayo ganti baju dulu ! Kok malah duduk di situ nanti seragamnya kotor !" teriak mbak Wiwit.
Tuh kan benar, mbak Wiwit sudah mengomel sampai terdengar dari sini.
" Pasti Rifan yang ngajari tuh, biar ada alasan kalau mau ketemu mbak Aira. Jangan-jangan nanti ponakannya dibujuk supaya minta makan di sini." Mbak Sri menggerutu.
" Biarin aja, nanti kalau dia ke sini terus minta minum Mbak Sri loh yang buatin," pesanku sama mbak Sri.
Dan benar saja, tak lama kemudian Rifan masuk memesan makan siang dan minta es teh. Tapi Cyntia nggak ikut bersamanya. Dia bilang katanya Cyntia ingin makan di toko saja. Lantas ia membawa makanan dan minumannya ke toko.
" Kasihan deh, ternyata ponakannya nggak mau makan di sini. Hihihi... sudah punya istri masih melirik cewek lain." Mbak Sri tertawa kecil sambil mengatai mas Rifan.
" Nggak juga lah, kan dia sudah jarang mampir ke toko kakaknya. Kadang sekalinya mampir juga sama istrinya. Mungkin hari ini memang papahnya Cyntia nggak bisa menjemput. " Aku pun berpikir positif sama adiknya mbak Wiwit itu.
__ADS_1
Memang sudah lama dia nggak mampir ke toko apalagi makan di warung. Andai pun dia ke sini sudah nggak pernah menggodaku lagi, hanya mencuri-curi pandang saat aku membersihkan meja atau menyapu teras warung.
"Aira,ibu mau sholat dulu, kamu tunggui warung," perintah ibu saat masuk ke dapur.
Aku pun menggantikan ibu menunggui warung di depan. Beberapa waktu kemudian aku lihat mas Rifan keluar bersama Cyntia. Ia sempat menengok ke warung, tapi nggak melihatku karena aku hanya mengintip dari dalam.
" Dadah mamaa ! " seru Cyntia sambil melambaikan tangan dan berlalu bersama pamannya.
Sore harinya sebelum pulang mbak Wiwit yang mengembalikan piring dan gelas yang dibawa Rifan tadi. Aku dan ibu juga bersiap-siap untuk pulang.
Kami pulang berjalan kaki seperti biasa. Saat lewat depan pasar kulihat Raka berdiri di pintu gerbang tengah memandang ke arah kami.
" Baru pulang , Buk ? Mbak Aira ? " sapanya sambil mengangguk dan tersenyum
" Iya, kamu menunggu ibumu ya? " ibuku balik bertanya.
" Ibu saya sudah pulang kok, saya lagi menunggu teman." Ia menjawab dengan menunjuk ke arah pintu pasar.
" Kita duluan ya," kataku ketika melewatinya. Ia pun mengangguk mempersilakan.
Tetapi kemudian temannya muncul, aku baru berjalan beberapa langkah di depannya. Sempat kudengar mereka saling menyapa. Aku menoleh dan tampak mereka bicara serius. Temannya melihat ke arahku sambil senyum-senyum.
" Buk, temannya Raka kok senyum-senyum melihatku. Apa ada yang salah ya, jangan-jangan ada kotoran di jilbabku." Aku mengadu pada ibu. Kuamati diriku jika ada sesuatu yang bikin cowok temannya Raka itu senyum-senyum melihatku.
" Nggak ada apa-apa kok, bersih semua jilbab sama bajumu. Sudah biarkan saja, mungkin Raka cerita ke temannya kalau dia sering makan di warung kita. Lalu dia nunjuk kamu." Ibu menenangkanku.
" Eh kok sendiri, temannya tadi mana ? " tanyaku basa-basi.
" Sudah pulang dari tadi," jawabnya. Tanpa kuduga ia meminta keranjang belanjaan yang kubawa.
" Kamu bukannya mau belok ke timur ya. Tempo hari kamu lewat situ." Aku mengingatkannya sebelum dia membawa keranjangku.
" Nggak apa-apa, sesekali aku lewat jalan lurus. Nanti juga ada belokan lagi." Ia menjawab santai lalu meminta kembali keranjangku.
Aku tak bisa menolak lalu kuberikan saja dari pada aku berat membawanya. Sampai depan gapura RW ia menyerahkan kembali keranjangku, dan ia pun pamit berbelok ke arah kanan.
Malam harinya aku bercerita tentang Raka sama mbak Nia yang sedang berada di kamarnya.
" Raka siapa sih, kok kamu baru cerita sekarang ? " tanya mbak Nia.
" Itu lho putranya bu Harti, temannya ibu yang berjualan alat rumah tangga di pasar, " jawabku. Mbak Nia pasti kenal juga sama bu Harti.
" Oooh, yang tempo hari nitip salam buat kamu lewat Gugun itu ? " tebaknya.
" Kok mbak Nia tahu, pasti Eva yang bilang ya ! " sahutku tersipu. Awas ya Eva, ternyata dia cerita-cerita sama mbak Nia.
" Iya waktu kamu pergi, Eva ke sini nanyain Raka itu siapa. Aku bilang nggak tahu. Kalau bu Harti aku tahu, tapi kalau anaknya nggak tahu." Mbak Nia menjawab santai Ia sedang menyusui baby Arkana di tempat tidur.
__ADS_1
" Raka itu beberapa hari ini sering makan di warung kita. Awalnya bertemu tak sengaja di pasar, dia lagi nungguin kios pakaian milik saudaranya. Waktu aku lewat Gugun sedang memilih baju, dia memanggilku lalu aku mendekat. Raka juga melihatku, terus waktu aku kembali ke warung ternyata dia membuntutiku." Aku menceritakannya pada mbak Nia.
" Memang kamu ngapain kok bisa melewati kios-kios pakaian, mau beli baju ? " tanya dia selanjutnya.
" Kan aku lagi belanja terus mau beli emping sama rengginang. Aku biasa melewati kios-kios pakaian karena jalanannya lebih bersih dan nggak berdesakan. Biasanya juga kiosnya selalu tutup, tapi mungkin baru sekitar sebulan ini buka."
" Bu Harti itu anaknya cowok-cowok ganteng-ganteng pula. . Dulu kakaknya Raka juga ada yang sering jemput ke pasar. Aku aja sempat naksir, sayangnya dia sudah punya pacar, hehe.. " kenang mbak Nia.
" Huuuuh, tadi bilangnya nggak kenal sama anaknya bu Harti. Ternyata..... " Aku tak melanjutkan kalimatku, bermaksud ngeledek mbak Nia.
" Bukannya tadi kamu lagi ngebahas Raka, kalau dia memang aku nggak kenal." Mbak Nia mencoba ngeles.
" Tapi tadi kamu bilang anaknya, bukan Raka. Hayo ngaku nggak usah ngeles." Aku mencecar terus sambil kulayangkan cubitan kecil ke pinggang kakakku.
" Huush kalian ini apa-apaan sih, sudah pada dewasa kok seperti anak kecil. Nanti Arkana bangun karena berisiknya kalian berdua." Akhirnya teguran ibu menghentikan perdebatanku dengan mbak Nia.
" Sudah sholat belum Aira ? " tanya ayah dari ruang tamu. Beliau tengah menikmati kopi dan cemilan yang dibawa ibu dari warung.
" Sudah dong, Ayah. Anak Ayah yang solehah ini nggak pernah absen kalau urusan ibadah, hehe.. " jawabku membanggakan diri.
" Huuh, memuji diri sendiri," celetuk mbak Nia meledekku.
" Biarin, emang iya weeekk ! " seruku lalu kujulurkan lidah ke arahnya. Aku pun keluar dari kamar kakakku.
Saat hendak masuk ke kamar aku berasa lapar, ternyata aku belum makan malam saking antusias mengobrol sama mbak Nia.
Aku menuju dapur mau bikin mie instant rebus pakai telur. Setelah jadi segera kusantap sambil nonton sitkom di televisi.
" Bikin apa Ra, nyicip dong ! " seru mbak Nia saat keluar dari kamarnya.
" Bikin sendiri dong ! Kalau diicip yang ada nanti aku ngga jadi makan malah kamu habiskan." Aku menggerutu karena dia menggangguku.
" Arkana terbangun tadi terus menyusu, aku jadi lapar nih." mbak Nia berucap seraya menuju dapur. Paling juga cari-cari makanan.
Selesai makan kutaruh mangkuk di meja lalu aku masuk kamar. Kuambil handphone dan kukirim pesan WA ke nomer Eva. Dia offline, mungkin lagi belajar atau mengerjakan tugas.
[ Bestie , aku pingin curhat nih. 😘 Tapi besok kalau kamu pulang, nggak mau via WA. ]
[ Makanya Sabtu besok pulang ya, jangan enggak 😜 ]
Sudah kukirim , dia belum buka. Biarkan saja mau dibuka nanti atau besok.
____________
Bersambung ya gaes.. mohon maaf jika telat terus up datenya.
Tolong beri komen ya biar penulis tambah semangat nulisnya.
__ADS_1