
" Jadi kapan kamu mau ke Surabaya ?" tanyaku pada Raka saat perjalanan pulang dari warung ibu.
" Rencana besok setelah Subuh, malam ini aku mau packing baju-baju dulu," sahutnya ringan.
" Kok mendadak sih,memangnya sudah pesen tiket ? " tanyaku agak kaget. Terus terang aku sedih dan belum siap kalau harus berpisah.
" Nggak perlu, besok aku nungguin bus jurusan Jogja yang lewat depan gapura. Setelah sampai sana baru naik bus jurusan Surabaya."
" Mau aku bantu packing ? " ucapku menawarkan bantuan.
" Nggak usah, kamu kan capek seharian di warung. Barang bawaanku juga nggak banyak, paling ditambahi oleh-oleh sama nenek." Ia menolak halus.
" Aku langsung pulang aja ya, nggak enak sama ibu." Raka pamit ketika motornya berhenti di depan rumah.
" Nggak enak kenapa, biasanya juga dari warung terus ke rumah kan ? " tanyaku heran.
" Kamu nggak lihat apa dari tadi ibu cuekin aku. Sejak aku wisuda dan sampai sekarang belum dapat kerjaan ibumu jadi berubah. Segitu pentingnya materi ya." Raka berucap sinis.
Ternyata dia juga merasa kalau ibu berubah, padahal sebisa mungkin aku selalu mengalihkan perhatiannya agar dia tak tersinggung.
" Nggak usah diambil hati, mungkin itu bentuk kekhawatiran ibu padaku, sama kamu juga. Kurasa ini juga yang dirasakan orang tua kamu jika Winda dewasa dan punya pacar kelak."
Kucoba menghibur Raka supaya tak salah faham sama ibu. Memang begitulah ibu, selalu khawatir berlebihan. Ujung-ujungnya jadi diam nggak mau menyapa. Sama anaknya juga begitu apalagi sama orang lain. Setiap orang tentu berbeda cara mengekspresikan kasih sayangnya.
" Ya sudah aku pulang dulu, kamu masuk gih nanti diteriakin lagi," ucap Raka kemudian.
" Beneran nggak mau masuk ? " tanyaku lagi.
" Nggak ah, aku besok berangkat Subuh jadi nanti setelah packing mau langsung istirahat. Biar segar di perjalanan," sahutnya.
" Kamu hati-hati ya, besok kabari aku kalau mau berangkat."
" Oke, tolong pamitin sama ayah dan ibu," tukasnya seraya menghidupkan motornya dan melesat pergi. Aku bergegas masuk rumah dan hendak mandi.
" Raka mana, kok nggak ikut masuk? " tanya mbak Nia yang sedang menyuapi makan dede Arkana. Si kecil ini sudah bisa jalan sehingga mbak Nia mulai kerepotan mengikuti ke sana kemari.
" Sudah pulang, besok mau pergi jadi sekarang mau beres-beres lalu istirahat." Aku agak mengeraskan suaraku agar terdengar oleh ibu di kamar. Dan benar saja, beliau langsung keluar.
" Memangnya mau pergi ke mana si Raka ? " tanya ibu menimpali.
" Ke Surabaya, di tempat pakdenya. Yang anaknya pernah diajak kemari sama Raka,"jawabku seraya berlalu ke kamar mandi. Kutinggalkan ibu dan mbak Nia yang sepertinya masih ingin bertanya.
Seusai sholat Magrib kubaringkan tubuh di sofa ruang keluarga. Kubuka HP ku, ada kiriman video dari Raka. Rupanya dia memperlihatkan kegiatannya yang tengah packing buat besok pagi. Nampak Winda yang tengah menyusun beberapa pakaian dan memasukkan ke dalam ranselnya. Juga beberapa oleh-oleh dimasukkan ke dalam kardus mie instant.
__ADS_1
" Kok malah Winda yang menata, Raka malah asyik mengambil gambar," gumamku. Kuketik beberapa kata mengomentari videonya.
[ Tadi mau dibantuin nggak mau, ternyata malah menyuruh adiknya ] Send.. Beberapa saat sudah centang biru. Raka membalas komentarku.
[ Bukan aku yang menyuruh, Winda sendiri yang pingin membantu 😊🙏 ]
[ Tapi kasihan kan, mana baju kamu gede-gede lagi, apalagi celana jeans juga berat. Tangan Winda kekecilan tuh 😁 ]
[ Winda kan gemuk, tangannya gede. Justru tanganmu yang kecil, soalnya kamu kan kecil imut 😝 ]
[ Ngeledek kamu ya, awas besok aku nggak mau nganterin hahaha ]
[ Memang aku nggak minta weekkkk 😄 ] Aku nggak membalas lagi. Kutaruh HP di meja lalu menonton televisi. Ibu keluar dari kamar seusai sholat juga.
" Si Raka ke Surabaya ada urusan apa ? Mau cari kerja atau cuma main." Ibu melanjutkan obrolan yang tadi sempat terputus.
" Katanya sih mau menenangkan diri dulu, sekalian kalau ada lowongan di sana mungkin pakdenya bisa membantu mencarikan, " jawabku sambil tetap menonton TV.
" Baguslah, setidaknya tetap berusaha. Nggak harus di kota ini, kalau di kota besar malah banyak peluang." Ibu menambahkan.
" Sebenarnya kemarin Raka sudah melamar di pabrik air mineral yang baru dibangun itu di pinggir kota. Tapi sembari menunggu hasilnya dia tetap ingin ke Surabaya."
Saat terdengar azan Isya aku beranjak masuk ke kamar, alasan menghindari pembicaraan dengan ibu. Bukan apa-apa, tapi ibu nanti ujung-ujungnya menyudutkan Raka. Lebih baik aku tidur.
[ Aira, aku berangkat ya. Nanti setelah sampai di Surabaya aku kabarin lagi bye.. 😘👋 ]
[ Oke hati-hati, jangan lupa berdoa 😘 ]
Tak ada balasan, mungkin ia sedang masuk ke bus dan meletakkan barang bawaan. Semoga perjalanan lancar dan selamat sampai tujuan.
________________
Satu minggu berlalu. Raka tiap hari selalu mengirim kabar lewat WA. Malam ini dia chat aku.
[ Aira, besok aku mulai kerja di industri kerajinan ukir Jepara. Pabriknya kecil sih, semacam home industri gitu. Dekat dari rumah pakde, sekitar 300m an. Jadi bisa jalan kaki ]
[ Alhamdulilah, dijalani saja dulu buat pengalaman. Memangnya yang lamaran di pabrik air mineral belum ada panggilan ya ]
[ Aku sudah hubungi sepupuku, katanya memang belum ada kabar. Maklum itu pabrik kan baru akan dibuka jadi prosesnya lama. Tapi mbak Evi sudah berjanji tetap akan mengusahakan supaya aku bisa diterima. Makanya sembari menunggu kabar aku kerja dulu di sini ]
[ Tapi aku kangen sama kamu. Nggak puas kalau hanya lewat videocall ]
[ Sabar dulu, yang penting berdoa supaya segera ada panggilan dari kantornya mbak Evi dan aku bisa lekas kembali ke rumah ]
__ADS_1
[ Aamiin.. aku tak henti berdoa siang malam buat keberhasilan kamu. Aku selalu mendukungmu. ]
[ Terima kasih. Sudah dulu ya, aku mau istirahat supaya besok pagi badan segar saat berangkat kerja di hari pertama 🙏 ]
[ Oke. Selamat malam, selamat tidur. Mimpiin aku ya 😊 . bye ]
[ bye, see you next time 😘 ]
Syukurlah Raka sudah dapat pekerjaan di Surabaya, nggak masalah kalau cuma di pabrik. Yang penting aku bisa menjawab jika ibu bertanya tentang kabar Raka.
Hari demi hari kulewati tanpa kehadirannya. Kadang jika mau tidur sehabis chat dengan Raka aku menangis. Aku kangen banget, meskipun kita sering video call tetap saja terasa beda jika tidak bertemu langsung. Apalagi kulihat dia makin kurus, kasihan sekali. Apa dia jarang makan, padahal dia juga memegang uang. Bu Harti juga nggak pernah cerita apa-apa jika ketemu aku.
Sebulan kemudian.
Tanpa diduga neneknya Raka datang ke warung ibu. Entah tahu dari mana kok bisa sampai ke sini.
" Assalamualaikum, Bu ! " ucapnya memberi salam. Beliau masuk dan langsung duduk. Diturunkannya barang bawaan dari dalam tasnya.
" Waalaikum salaaam , eeh nenek tumben mampir ke warung kami. " sahut kami bersamaan. Aku pun membikin teh hangat buat neneknya Raka. Tak lama aku keluar dan mempersilakan beliau minum.
" Aira, nenek ke sini mau ngasih tahu kamu. Si Raka dapat panggilan dari pabrik air mineral. Kamu bisa hubungi dia dan suruh dia pulang untuk ikut test."
Kenapa harus aku yang ngasih tahu Raka, memangnya Winda ngga punya HP ? batinku. Aah, tapi sudahlah. Mungkin nenek punya maksud lain jika aku yang menyampaikannya ke Raka.
" Baiklah Nek, nanti saya kirim pesan pada Raka," kataku kemudian.
" Kenapa nggak ditelpon saja sekarang, waktunya mepet lho. Lusa dia sudah harus test." Nenek minta sekarang juga aku hubungi Raka.
" Tapi dia lagi kerja, kalau ditelpon paling nggak diangkat. Atau gini aja, saya chat sekarang barangkali kalau dia ada celah waktu dia sempat membacanya."
Aku pun memutuskan untuk mengirim pesan ke Raka sekarang. Kalaupun dia nggak sempat membuka HP minimal dia bisa melihat di balon notifikasi jika HP nya ditaruh di dekatnya. Dan dia bisa langsung minta ijin ke bossnya.
[ Raka, nenek kamu datang ke warung. Katanya kamu dapat panggilan dari pabrik air mineral. Mungkin untuk menjalani test dan wawancara. Undangannya lusa, jadi besok pagi kamu sudah harus berangkat dari Surabaya ]
[ Tapi keputusan ada di tanganmu, apakah kamu akan terus bekerja di situ atau di kota sendiri. Aku hanya menyampaikan pesan dari keluargamu ] Send, centang dua. Berarti sudah terkirim. Mudah-mudahan Raka melihat pesan ini di balon notifikasi.
Aku nggak mau memaksa dia pulang, jika dia sudah nyaman bekerja di Surabaya. Antara aku dan dia belum ada ikatan apa-apa, jadi aku nggak berhak mengatur hidupnya. Tapi besar harapanku ia akan memilih bekerja di kota sendiri, karena sejujurnya aku nggak bisa jauh darinya.
*************************
Masih berlanjut ya gaeess.. Kira-kira Aira akan berjodoh dengan Raka nggak ya
Penasaran kaaaaan, makanya ikuti terus kisahnya. Jangan lupa like dan komennya biar penulis bisa meneruskan kisah ini sesuai dengan aspirasi kalian.
__ADS_1
Okey ! Thanks.