
Aku nggak bisa lama-lama berada di kios bu Harti, soalnya mbak Sri pasti menunggu belanjaan yang kubawa. Sayuran, cabe, tahu dan tempe, kelapa parut dll. Itu semua mesti dimasak hari ini, besoknya tinggal dipanaskan. Kalau sayuran cuma dipotong-potong sekalian siapin bumbu besok pagi dimasak dadakan. Kalau aku nggak segera kembali bisa-bisa nanti masaknya kesorean.
" Raka, aku duluan ke warung ya. Ini belanjaannya sudah ditunggu sama mbak Sri," kataku sama Raka yang sedang memijit pundak ibunya.
" Oh ya udah ayo sekalian, Buk aku ke warung dulu ya ! " Raka pamit pada ibunya Begitu juga aku.
" Iya iya, sampaikan maaf ibu sama bu Wahyu. Tadi malam nggak bisa ikut, soalnya kata bapak cukup diwakilkan saja. Ibu sih menurut saja." Bu Harti menjelaskan alasan tadi malam nggak ikut acara lamaran.
Sampai di warung kita langsung ke dapur. Aku mengeluarkan semua belanjaan di meja, mbak Sri langsung mengambilnya lalu duduk di bangku panjang. Aku dan Raka duduk bersebelahan di dalam bilik tempat sholat.
" Sebenarnya tadi malam kita juga saling bertanya, kenapa bapak sama ibu kamu nggak ikut serta. Malah nenekmu yang datang, padahal beliau sudah tua kok disuruh mewakili anaknya. Kebalik tuh."
Aku jadi membahas soal absennya orang tua Raka.
" Itu nenek sendiri yang pingin ikut. Soalnya dari awal dia udah seneng banget. Maklumlah aku kan cucu pertama," kata Raka.
" Tapi bukan berarti orangtuamu lantas nggak hadir, apalagi ini kan pengalaman pertama bagi mereka. Sewajarnya juga menyambut dengan bahagia."
" Kurasa karena ayahmu setengah hati menerimaku, jadi dia juga meminta ibumu supaya nggak ikut serta. Sebenarnya aku juga nggak yakin beliau benar-benar setuju, tapi kamu menyangkalnya. Ternyata terbukti kan keraguanku." Kali ini Raka diam sejenak, mungkin sedang memahami kata-kataku barusan.
" Tapi tadi malam pamanku juga bilang diwakilkan juga nggak apa-apa kok, biasanya memang seperti itu." Ternyata dia masih mencari alasan.
" Ya memang yang menyampaikan lamaran resmi biasanya ada yang mewakili, tapi bukan lantas nggak menghadiri. Pamanmu kan belum pernah menikahkan anaknya. Buktinya waktu lamaran mbak Nia sama mas Bayu, orang tua kedua pihak juga hadir kok." Aku mencontohkan kedua kakakku supaya Raka percaya.
" Kalau itu aku nggak tahu, soalnya alasan bapak seperti itu. Maaf ya kalau orangtuaku mengecewakan kalian." Raka berkata seolah menyesalkan orangtuanya.
Mbak Sri masih berkutat dengan pekerjaannya dan tidak ikut menimpali obrolan kami.
" Ada apa sih kok serius amat ngobrolnya ? " tanya ibu dari depan. Warung lagi nggak ada pembeli jadi ibu ikut menimpali kami.
" Nggak kok Buk, ini Aira kalau dibilangin selalu ngeyel," jawab Raka seraya menyeringai ke arahku. Ia pun menyolek pipiku " Senyum dong jangan cemberut. Tuh bantuin mbak Sri, nggak usah bahas yang nggak penting."
" Memang Aira tukang ngeyel, dicubit saja tuh ! " Ibu malah mengompori, padahal tadi Raka cuma asal menjawab.
" Sini biar kucubit pipimu ! " seru Raka seraya menarikku ke dalam pelukannya. Cup cup ! Ia malah mengecup kedua pipiku bergantian. Aku terperangah kaget sekaligus malu sama mbak Sri.
__ADS_1
" Kamu apaan sih, ada mbak Sri tuh main kecup saja ! " Kudorong Raka lalu aku keluar membantu mbak Sri.
" Mbak Sri juga pernah pacaran, ya kan Mbak? " Raka malah menanyai mbak Sri. Yang ditanya cuma tersenyum dan geleng-geleng kepala.
Dasar Raka ! Mentang-mentang sudah tunangan lantas mulai berani main kecup di depan umum. Untung cuma mbak Sri, kalau sama yang lain mau ditaruh di mana mukaku.
Menjelang Dzuhur Raka pamit padaku. " Aku mau sholat dulu di masjid dekat pasar. Nanti mau dibelikan apa ? " tanya dia menawariku.
" Aku mau bakso jumbo pakai pangsit. Tapi kalau nggak ada beli pempek juga boleh." Aku minta jajanan favoritku.
" Oke sayangku. Mbak Sri mau pesen apa ? " tanya Raka menawari mbak Sri juga.
" Nggak usah Mas, aku sih makan gorengan sendiri saja." Mbak Sri menolak halus.
" Sekali- sekali nggak apa-apa lah. Ya sudah nanti aku belikan bakso saja," ujar Raka kemudian. Mbak Sri hanya mengedikkan bahunya sambil melirikku.
Tak lupa Raka pamit sama ibu di depan.
Sepeninggal Raka, mbak Wiwit masuk hendak minta makan siang. Ia pun memanggilku," Aira, buatkan teh panas ya. Mbak Sri, ada yang senang nih ditunggui Ayang Beb seharian. " Mbak Wiwit mulai menggodaku. Ia berdiri dekat ibu yang mengambilkan makan siangnya.
" Mbak Wiwit kayak nggak pernah muda saja, maklum lah orang lagi bucin. Kerja dibantuin, makan ditungguin. Sebentar lagi makan siang pasti disuapin, hihihi ! " Mbak Sri langsung menimpali.
Kuangsurkan teh panas pada mbak Wiwit. Ia pun menerimanya, lalu mengambil nasinya di meja depan. Saat hendak keluar ia berpapasan dengan Raka yang baru kembali dari masjid. Tapi sepertinya ia jadi mampir ke warung bakso.
" Makan di kios saja aah, takut mengganggu yang lagi bucin, haha !" Mbak Wiwit meledek menyindirku. Raka memperhatikannya dengan heran. Namun ia pun langsung masuk ke dapur dan meletakkan bungkusan yang dibawanya ke atas meja. Mbak Sri beranjak ke depan karena pembeli mulai berdatangan.
Kukeluarkan isi kantong plastik yang isinya 3 bungkus bakso jumbo pesananku tadi dan 2 bungkus pempek kapal selam.
" Kok banyak amat buat siapa aja nih ? " tanyaku.
" Baksonya buat kalian bertiga pempek buat aku sama kamu," sahut Raka sembari menuang air putih dan meneguknya.
" Lho aku kan sudah dibelikan bakso masa masih dibelikan pempek juga." Aku heran sama Raka, apa yang kuinginkan dia selalu mewujudkan.
" Bukannya tadi kamu pingin bakso sama pempek. Ya sudah aku belikan dua-duanya." Raka menjawab dengan mantap.
__ADS_1
" Mana muat perutku ini baksonya aja ukuran jumbo, masih ditambah makan pempek." Aku nggak bisa membayangkannya. Porsi makanku memang sedikit nggak seperti kebanyakan orang. Sesuai dengan tubuhku yang mungil.
" Harus muat, mulai sekarang harus makan yang banyak biar besok kalau nikah tubuhmu seksi." Raka mulai menggodaku lagi. Kutoyor kepalanya karena kesal, tapi dia sempat mengelak sambil terkekeh.
Mbak Sri masuk sembari membawa piring-piring kotor. Aku ikut membantunya.
" Taruh dulu saja Mbak, nih baksonya dimakan dulu keburu dingin nanti." Kusodorkan sebungkus buatnya. Kemudian aku menuangkan bakso ke 2 mangkok. Satu kuberikan pada ibu.
" Dimakan dulu Buk, nanti keburu dingin," saranku. Beruntung suasana warung sudah agak lengang, hanya ada 1-2 pembeli yang tengah menyelesaikan makan siangnya. Ibu langsung menikmatinya baksonya.
Raka membelah bakso jumbo menjadi 4 bagian, lalu memotongnya kecil-kecil. Ia mengambil sesendok lalu menyodorkan ke mulutku.
" Buka mulutnya, nih makan dulu." Aku menurut saja menerima suapan demi suapan darinya. Sesekali Raka juga ikut makan. Mbak Sri mulai melirik-lirik.
" Habisin dulu baksonya Mbak, nggak usah lirak-lirik," tegurku sambil tertawa kecil. Mbak Sri tersedak. " Uhuk uhuk ! "
" Tuh kan keselek, makanya konsentrasi makannya." Aku meledeknya lagi. Mbak Sri mengambil air putih dan meneguknya.
" Kepedesan, huuhh haaah ! " Ia menjulurkan lidahnya. Aku dan Raka tertawa geli melihatnya. Raka melanjutkan menyuapiku.
" Aku makan sendiri saja, kamu makan tuh pempeknya." Kuminta sendok yang dipegang Raka lalu kuhabiskan baksoku. Setelah habis kutuang kan pempek di mangkok yang sama.
" Nih ! " Kusodorkan pempek di hadapan Raka. Ia pun langsung menyantapnya. Sesekali ia menyuapiku.
" Sudah kenyang, nanti saja." Aku menggeleng. Namun dia tetap memaksa," Sedikit saja, tadi aku juga mencicipi baksonya."
" Kamu kan tadi belum makan, kalau aku habis makan ya masih kenyang. Perutku nggak sebesar perutmu tahu ! " Aku tetap menolak.
" Ayolah sedikit saja, ayo buka mulut." Raka merengkuh bahuku dan menyorongkan pempek ke mulutku. Aku menghindar tapi dia terus mendekatkan ke mulutku. Akhirnya ia berhasil membuatku membuka mulut dan memasukkan pempek ke mulutku.
" Yess ! Gitu dooong, haha ! " Ia tertawa-tawa melihatku terpaksa mengunyahnya.
" Aku juga makan nih, aaeemm." Ia pun menyiapkan ke mulutnya. Aku pura- pura cemberut. Mbak Sri gantian menertawakanku. Ia sudah selesai makan dan hendak mencuci piring-piring yang tadi belum dicuci.
" Biar kubantu Mbak ! " ucapku sambil berdiri. Alih-alih aku menghindari Raka agar tak menyuapiku. Benar-benar deh Raka. Kelakuannya bikin aku salah tingkah. Dia mulai terang-terangan menunjukkan kemesraan di depan orang.
__ADS_1
________&&&&&_____
Sekian dulu ya, masih bersambung.