Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 91 Acara Keluarga


__ADS_3

Subuh tadi aku bangun lebih pagi karena semalam tidur lebih awal dari biasa. Tentu saja karena jam 7 malam Raka sudah pamit pulang.


Saat jam makan siang dia mengabari kalau nanti pulang dari kerja akan sekalian menengok bayi di rumah rekan kerjanya. Jadi dia nggak bisa menemuiku karena malamnya ia gunakan untuk istirahat.


" Kamu nggak marah kan sayang," ucapnya hati-hati saat meneleponku.


" Enggak dong. Sudah berapa kali sih aku bilang, kalau soal pekerjaan aku nggak akan marah. Aku nggak mau egois." Kutegaskan lagi padanya sebab dia selalu merasa bersalah bila absen ke rumah.


" Syukur deh kalau gitu. Aku senang kamu sudah mulai dewasa dalam menyikapi hubungan kita." Raka membalas kalimatku.


" Iya dong sayang, kalau nggak dewasa nanti nggak dinikahin, hehehe ! " gurauku.


" Sudah dulu ya, aku mau lanjut makan siang. Waktu istirahat hampir habis soalnya tadi sholat dulu." Ia pun hendak mengakhiri telepon.


Sorenya ketika bersiap hendak pulang mbak Tika menghubungi ibu. Rencananya mereka sekeluarga akan mengadakan syukuran aqiqah babynya. Ibu menyampaikan pada kami malam harinya saat sedang menonton televisi.


" Tadi mbak Tika menelepon ibu, katanya hari Kamis besok mau mengadakan syukuran Aqiqah buat bayinya. Kalian semua diminta datang ke sana."


" Terus kita disuruh bantu-bantu di dapur ya, Buk. Nanti bau prengus dong, hehe ! " selorohku.


" Bantuin menyajikan makanan dan minuman buat tamu. Kata mbak Tika mau sekalian mengundang rebana dari anak-anak tetangga sekitar rumahnya. Katanya sih kambingnya mau dimasak gulai sama sate. Sudah ada yang mengolah sendiri sekalian sama nasinya dikemas dalam boks kardus. Kita terima bersih tinggal membagikan saja." Ibu menjelaskan rencana mbak Tika.


" Kalau gitu acaranya dua hari lagi dong. Sekarang sudah hari Selasa. kalau sehari masak apa cukup waktunya ? " tanya mbak Nia.


" Semua sudah dipesan, kita cuma menyediakan minuman sama menata makanan ringan saja. Daging aqiqahnya kan sudah ada yang masak. Katanya mau diantar ke rumah sebelum jam 3 sore.


Acara rebananya sehabis Ashar lalu setelah selesai pulangnya mereka dikasih nasi boks itu. Sebagian lagi dibagikan ke famili dan tetangga dekat." Ibu menjelaskan rencana mbak Tika.


" Waah asyik dong ! Babynya mbak Tika kan cowok berarti kambingnya 2 ekor. Pantesan menunya gulai sama sate." Aku menimpali.


" Iya, mas Toni juga sengaja memilih kambingnya yang agak besar biar cukup buat tetangga dan famili. Soalnya dia sudah lama pingin punya anak laki-laki dan sekarang kesampaian. Jadi ini syukuran dobel katanya. Hemmh... " kata ibu seraya tersenyum bahagia.


Dari dulu ibu selalu berkata, kebahagiaan orangtua adalah saat melihat anaknya bahagia. Mungkin ini juga yang membuat ibu nampak berseri-seri jika menceritakan mbak Rina dan mbak Tika. Karena mereka sudah hidup mapan, punya rumah dan penghasilan yang lumayan.


Mas Bayu beruntung menikah dengan mbak Risma yang ulet. Sehingga bisa membeli rumah dari hasil berdua. Tinggal aku dan mbak Nia yang belum, namun bukan berarti hidup kita nggak bahagia. Semoga nasib kita juga seperti kakak-kakak.


" Kok acaranya nggak pas malam Minggu aja sih, hari Kamis tanggung tuh ! " Aku berkomentar.


" Kata siapa, kemarin kan bayinya lahir hari Kamis. Terus Aqiqahnya 7 hari kelahiran. Malah bagus bisa pas malam Jumat." Ibu menyanggah ucapanku.


" Oh iya juga, hehe. Aku boleh mengajak mas Raka ya Buk," pintaku. Aku harus membiasakan diri menyebut mas Raka.


" Boleh dong, sekalian bisa kamu kenalkan pada saudara-saudaranya mas Toni." Ibu mengijinkan sekaligus memberi saran.


Yes, kalau boleh sama mas Raka aku mau datang ke sana. Soalnya aku enggan bertemu dengan keluarganya mas Toni yang rada-rada gimana gitu. Meskipun mereka baik tapi gayanya suka lebay. Itu menurutku sih, hehehe !


" Nggak usah dikenalin juga bakal tahu sendiri lah. Nanti mas Raka malah malu kalau di perkenalkan. Dia kan orangnya santai dan cuek, nggak suka yang resmi-resmi gitu." Aku menolak saran ibu.


Jam dinding menunjukkan pukul 21.40 wib. Aku pamit masuk kamar, ingin mengabari mas Raka soal rencana hari Kamis besok. Kubuka aplikasi warna hijau, kebetulan dia sedang online.

__ADS_1


Ting. Ternyata dia ngechat duluan. Kubuka pesan darinya.


[ Hai sayang, belum tidur ya. Lagi chating sama siapa kok masih online 😊 ]


[ Hai juga sayangku, Mas Raka. Nggak lagi chatingan kok, justru ini baru aja buka hape mau hubungi kamu. Ternyata kamu yang chat duluan 🤭 ]


[ Bener nih, memangnya ada kabar apa kok malam-malam hubungi aku. Jadi tersanjung nih 😍 ]


[ Beneran lah. Bukannya kita sempatnya malam kalau mau mengobrol online gini. Lebay deh ! ] [ Kamu sendiri ngapain kok masih online juga ]


[ Iya deeh, gitu aja ngambek. Oke mau ngasih tahu apa ? Kalau aku sih jujur memang kangen sama kamu. Makanya sekarang mau nanya, udah tidur belum. Kalau belum hayuk kita pacaran 😄😝 ]


[ Huuu maunya. Aku mau ngasih tahu, hari Kamis besok ada acara syukuran Aqiqah babynya mbak Tika. Kita semua diminta datang, kamu ikut ya ! ]


[ Oh mbak Tika sudah melahirkan, kok kamu nggak bilang ]


[ Ini juga baru dibilangin. Gimana sih ]


[ Maksudku kenapa nggak bilang dari kemarin, begitu. Kan lahirannya sudah beberapa hari ]


[ Lahirannya juga baru hari Kamis kemarin, terus pulang dari Rumah Sakit hari Sabtu. Kita kan mau nonton waktu itu. Sekarang hari Selasa, baru juga 3 hari ]


[ Oh kirain udah sebulan, setahuku syukuran bayi itu sebulan 😜 ]


[ Iya dulu mbak Nia juga sebulan lebih berapa hari. Tapi ini kan Aqiqah, katanya sih baiknya pas 7 hari kelahiran atau kelipatannya. Kata guru ngajiku dulu seperti itu kayaknya ]


[ Gombal. Keluarin tuh semua emotnya 😅 ]


[ Nggak cuma emot yang aku keluarin, ada lagi nih yang paling kamu tunggu-tunggu 😜 ]


[ Apaan sih, awas ya kalau ngaco ]


[ Siapa yang ngaco, yang ada aku mau keluarin jurus merayu cewek yang lagi ngambek 😄 Kalau yang tadi kan rayuan gombal ]


[ Sama aja kaleee, ujung-ujungnya ngerayu juga ]


[ Sudah malam, tidur yuk ! Besok aku masuk pagi lagi. Kalau hari Kamis nanti aku tanya dulu deh, aku shift sore apa pagi. ]


[ Usahakan pagi aja, biar malamnya bisa ikut ke rumah mbak Tika ]


[ Besok aku lihat jadwalnya, kalau dapat shift sore nanti aku minta gantian sama rekanku ]


[ Makasih sayang , selamat tidur 😍 ]


[ Sama-sama cantik, mimpikan aku ya 😊😍🥰 ]


Mas Raka tak pernah lupa menyematkan emoji yang beragam makna. Mungkin karena ia tak pandai bermain kata romantis. Bisanya cuma menggombal.


Aku tersenyum, lalu menutup layar handphone. Kutaruh di samping bantalku.

__ADS_1


*************


Dua hari kemudian, warung libur sehari. Mbak Sri juga sekalian mau menjenguk babynya mbak Tika. Sejak tadi malam mas Raka sudah menghubungiku. Katanya 3 hari ke depan dia masuk pagi. Soalnya ada rekan kerjanya yang justru minta tukar, karena punya acara di siang hari.


" Kamu nanti pulang jam berapa, ibu sama mbak Nia mau berangkat jam 10.00. Aku nungguin kamu loh." Aku menanyakan kesanggupannya.


" Aku kan pulang jam 4 sore sayang, kamu duluan aja nanti aku menyusul," jawabnya.


" Astaga ! Aku kok bisa lupa sih, hehehe. Ya sudah aku berangkat bareng ibu aja. Nanti aku share lock alamat mbak Tika." Aku berkata sambil tertawa sendiri.


Ibu sedang memasukkan belanjaan kering ke dalam kardus, yang akan dibawa ke tempat mbak Tika nanti. Aku membantunya. Setelah semua tertata kuikat dengan tali rafia.


" Ayah nggak ikut Buk ? " tanyaku seraya mengangkat kardus tadi dan menaruhnya di kursi ruang tamu.


" Ayah nanti sore saja kalau sudah mau mulai acara, biar diantar Joni," ujar ibu.


" Kalau gitu nanti biar bareng mas Raka saja. Kasihan mas Joni mondar mandir ninggalin toko buat mengantar ayah." Aku memberi ide.


" Ya sudah kalau mau sama Raka, nanti aku bilang sama mas Joni" Mbak Nia menimpali.


" Aku juga mau menghubungi mas Raka." Aku menyambung ucapan mbak Nia. Kuambil handphone dan kutulis pesan buat mas Raka.


[ Mas, nanti sore kalau mau menyusulku tolong mampir ke rumah dulu ya. Ayah biar bareng kamu aja ] Send.


Pesan belum terbaca, paling nanti saat jam istirahat baru dia buka handphonenya.


" Kita berangkat sekarang Buk ? " tanya mbak Nia sembari menyiapkan baju ganti buat Arkana. Sekarang baru jam 9.00 wib.


"Iya sebentar. Aira, coba kamu hubungi mbak Sri jadi bareng kita nggak ke rumah mbak Tika !" perintah ibu.


Aku baru ingat kemarin mbak Sri bilang mau ikut menengok babynya mbak Tika. Aku pun menghubunginya, lalu ia menjawab kalau mau bareng kita. Aku menyuruhnya menunggu di gapura saja.


Sembari menunggu mbak Sri aku bermain dengan Arkana. Setengah jam kemudian ada pesan WhatsApp masuk.


" Kita pesan taxi online saja ya Bu, kasihan Arkana kalau naik angkot pasti panas." Aku memberi usul. Mbak Sri barusan mengirim pesan kalau dia sudah sampai di gapura.


Tanpa menunggu jawaban ibu aku langsung memesan taxi lewat aplikasi.


" Ayo Bu, Mbak Nia, nanti taxinya keburu datang. Kita tunggu di depan gapura. Mbak Sri sudah di sana." Aku mengajak mereka berdua.


" Kita berangkat ya Yah, nanti mas Raka ke sini menjemput Ayah," Aku pamit dan memberitahu ayah. Beliau baru selesai sarapan.


" Hati-hati kalian ya," pesan ayah setelah mencium pipi Arkana.


Sampai di gapura kulihat mbak Sri tengah berbincang dengan mbak Tutik. Mbak Nia berbasa basi mengobrol dengan teman lamanya. Setelah kami menunggu sekitar 10 menit barulah taxi yang kupesan datang.


_____________


Bersambung ya.

__ADS_1


__ADS_2