Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 71 Famili Misterius


__ADS_3

Setelah mengunci pintu rumah aku ke kamar mandi membasuh tangan dan kaki. Begitu masuk kamar tidur langsung ku hempaskan tubuhku tanpa mengganti baju. Aku sudah ngantuk berat.


Bangun tidur baru sadar kalau semalam belum ganti baju. Usai ibadah pagi dan membersihkan diri aku sempatkan menyapu lantai rumah dan teras.


"Tumben masih pagi udah nyapu ! " teriak Eva yang tengah menyapu halaman rumahnya.


" Sudah biasa kaleee, tumben kamu pulang. Masih ingat rumah juga hahaha ! " Gantian kuledek dia. Memang sudah berapa bulan aku ngga ketemu karena dia jarang pulang. Sekalinya pulang aku pas nggak di rumah. Sibuk sendiri-sendiri.


" Hei aku bukan tarzan yang tinggal di hutan." Ia nampak mencebikkan bibirnya karena kesal. Kutaruh sapu yang kupegang, kudekati Eva.


" Katanya kamu mau nikah ya, kok ngga bilang-bilang sama aku.. Nggak pernah chat juga. " Eva menanyaiku.


" Kata siapa, ngawur itu. Kalau soal aku nggak pernah chat itu karena aku nggak mau mengganggu kuliahmu. Kamu yang harusnya chat aku kalau pas ada waktu luang," ungkapku.


" Iya deh sorry, aku lagi banyak tugas soalnya," tukasnya lagi.


" Makanya itu, sudah ah aku mau siap-siap berangkat ke warung makan, daah ! " Aku pun kembali ke rumah."Daah ! " balas Eva yang kemudian juga masuk ke dalam.


Seusai merapikan diri dan memakai jilbab aku keluar rumah dan berjalan kaki sampai gapura. Sambil menunggu angkot kuedarkan pandangan ke sekeliling gapura. Dari jauh kulihat mas Hari sedang berjalan ke arahku.


" Hei Aira, tumben sendirian," sapanya. Aku tersenyum dan menjawab, " Biasanya juga sendirian, Mas."


" Bukannya biasanya sama Mas nya yang tinggi besar itu ya, ngomong-ngomong kapan nih mau diresmikan ? " tanya mas Hari tiba-tiba. Aku tahu dia hanya bercanda.


" Kapan-kapan deh Mas, lagi nabung dulu." Aku pun asal menjawab. Beruntung ada angkot lewat yang langsung kuberhentikan. Akhirnya aku bisa menghindar. "Yuk duluan ya, Mas ! " . Ia pun melambaikan tangannya.


Tiba di warung aku menggerutu. Namun karena banyak pelanggan yang sedang sarapan aku pun tetap memasang wajah ceria. Baru pada saat warung sudah agak lengang mbak Sri menegurku.


" Mbak Aira tadi kenapa, kok datang-datang sambil menggerutu ?" tanya dia. Aku yang sedang sarapan langsung menjawab, " Kesel banget, dapat info dari mana pada nanyain aku kapan nikah."


" Memangnya siapa yang nanya begitu ?" tanya ibu menimpali.


" Tadi pagi waktu lagi nyapu teras, Eva yang nanya. Terus waktu nunggu angkot, mas Hari yang nanya. Udah gitu nanyanya keras-keras lagi. Aku kan malu." Aku menggerutu lagi.

__ADS_1


" Mas Hari yang kerja di kantor depan gapura itu, dia sendiri kan belum nikah. Besok kalau dia nanya-nanya lagi jawab saja ' kamu itu yang nikah duluan , kamu kan lebih tua dari aku ' gitu ! " Ibu ikut kesal juga sama mas Hari.


" Iya juga ya, tadi aku nggak kepikiran mau menjawab seperti itu. Keburu ada angkot langsung naik saja tadi."


" Maaf nih Mbak Aira, memang sudah umum kalau ada gadis yang pacaran sudah lama pasti di tanya-tanya kapan nikahnya. Maksudnya sih bercanda, tapi bisa juga diartikan sebagai peringatan. Daripada pacaran lama-lama mending nikah, takutnya kebablasan." Mbak Sri ikut berkomentar.


Tapi masuk akal juga, mungkin karena hampir setiap hari aku kesana kemari berdua dengan Raka tetangga mengira kalau kita akan segera menikah. Kenapa aku mesti kesal, padahal semalam aku juga membahas soal ini sama Raka. Aku jadi ingat kalau Raka belum memberi jawaban. Sebaiknya nanti malam kubahas lagi.


Sorenya saat hendak pulang Raka mengirim pesan WA.


[ Aira cantik, maaf ya nanti malam aku nggak ke rumah. Kata nenek ada familiku yang kerja di Malaysia lagi pulang kampung, terus mau mampir ke sini. Dia kangen sama aku karena lama nggak ketemu. Nggak apa-apa kan ? ]


Famili, kerja di Malaysia. Perasaan Raka belum pernah bercerita. Ya ampun ! Banyak bener sih familinya Raka. Yang tinggal satu kota berapa, belum yang luar kota.


Ayah sama ibuku yang punya saudara banyak saja yang masih berhubungan hanya beberapa orang. Yang lain entah di mana.


[ Aira kamu marah ya, kok cuma dibaca nggak dibalas ] . Raka mengirim pesan lagi, ternyata dia masih menunggu balasan ku.


[ Beneran kamu nggak marah, oke makasih ya. Besok aku ceritain siapa dia, see you 😘 ]


Aku menghela nafas. Malam ini Raka nggak datang, kebetulan Eva lagi ada di rumah. Bagus deh, aku bisa menghabiskan waktu bersama bestie ku.


Dan ketika aku dan ibu sampai di rumah, rupanya Eva tengah bersama mbak Nia dan Arkana yang berlarian di teras.


" Va, nanti ke warung mbak Yah yuk. Sudah lama nggak ngeronde nih ! " seruku langsung mengajak Eva. Dia mengerutkan wajahnya


" Memangnya kamu nggak ada acara sama Raka ? " tanyanya heran.


" Nggak ada. Lagian tadi malam juga sudah ketemu, nggak harus tiap malam minggu kan." sahutku seraya masuk rumah. " Aku mandi dulu, nanti habis sholat Isya aja kita keluar," cetusku kemudian.


" Ashiaaap hehe ! " seru Eva sambil tertawa kecil. Sudah lama juga aku nggak jalan sama dia karena sama-sama sibuk. Walaupun dia masih suka chat aku, kadang curhat soal papanya yang menuntut dia supaya begini begitu. Melarang ini itu. Dan dia nggak bisa menolak, Eva terlalu penurut sebagai seorang anak. Tapi bawel sebagai teman.


" Aira ayuuk ! " Tuh benar kan. Baru juga aku melipat mukena dia sudah teriak-teriak. Padahal baru tadi pagi bilang dia bukan tarzan. Untung Arkana belum tidur.

__ADS_1


" Sebentar kenapa sih, aku aja baru selesai sholat." Tahu -tahu dia udah nyelonong ke kamarku. Setelah kupakai jilbab kuajak dia keluar. Sudah lama nggak jajan wedang ronde di warung mbak Yah.


" Tumben kalian bisa barengan ke sini," sapa mbak Yah begitu kita sampai.


" Iya nih, lagi sama-sama punya waktu," sahutku. Tak lama kita pun bisa menikmati wedang ronde sama gorengan khas mbak Yah sambil mengobrol. Ada teman-teman juga yang kebetulan jajan di sini. Maklum malam minggu.


__________________


Minggu malam, Raka mengajakku ke rumahnya lagi. Setelah berbasa basi dengan keluarganya, aku hendak duduk di teras depan. Winda dan adiknya yang masih SD lagi belajar di ruang tengah. Bu Harti menyuruhnya membuatkan teh untukku.


" Nggak usah Winda, biar nanti mbak Aira ambil sendiri." Winda kembali ke meja belajarnya. Aku pun keluar dan mendekati Raka yang bermain gitar.


" Tadi malam bisa tidur awal ya kalau nggak ada aku," celetuknya. Ditaruhnya gitar di kursi sampingnya.


" Nggak juga, aku keluar sama Eva jajan di warungnya mbak Yah," sahutku. Raka nampak terkejut. " Kok nggak bilang sama aku." Ia menatap wajahku menyelidik.


" Kamu kan lagi ada tamu jauh, kupikir nggak usah ngasih tahu lah. Lagian aku juga nggak pergi jauh cuma di warung tetangga." Aku berkilah. Raka menghela nafasnya.


" Ya sudah, tapi lain kali kasih kabar kalau pergi ke mana-mana. Biar nggak salah paham jika ada temanku yang melihatmu lantas dia bilang ke aku."


" Iya ya, kamu sendiri tadi malam ngapain aja. Katanya mau cerita soal famili kamu itu. Dia cowok apa cewek ? " tanyaku menagih janjinya kemarin. Raka menempelkan telunjuk di bibirnya.


" Ssst..jangan keras-keras. Itu dia yang mau aku omongin. Jadi dia itu cewek, namanya Ita seumuran denganku. Sebenarnya dia famili jauh, pamannya menikah sama bibiku adiknya bapak. Bibiku kan rumahnya sebelah rumahku. Waktu kecil kita sering main bareng, makan bareng, bahkan tidur juga rame-rame sama anaknya bibi di ruang tamu." Raka berhenti sejenak.


" Setelah masuk SMA kita jarang ketemu. Paling sesekali jika ada acara keluarga. Lalu lulus SMA kudengar dia kerja di Malaysia, pulang setahun sekali tapi nggak pernah main ke rumah. Lalu kemarin dia dapat cuti terus main ke rumah pingin nostalgia kaya dulu. Bahkan dia rela nunggu aku pulang kerja, tapi... " Raka tak melanjutkan kalimatnya. " Tapi apa ? " tanyaku heran.


" Kamu jangan marah ya, ternyata selama ini Ita suka padaku. Semalam dia terus nempel sama aku, padahal ada keluargaku. Mereka nggak curiga karena kami akrab sejak kecil. Lalu dia minta tidur bareng di kamarku, tentu saja aku keberatan. Dia memaksaku, aku nggak enak sama paman dan bibi, akhirnya aku mau tapi sama sepupuku juga.


Ketika sepupuku sudah terlelap, tiba-tiba Ita memelukku dan menciumiku. Aku sudah menghindar tapi dia nggak mau melepasku. Dia bilang sudah lama menunggu saat seperti ini. Aku sampai nggak bisa tidur, akhirnya terpaksa aku pura-pura ke toilet dan tidur di rumah temanku. Maafkan aku Aira, maafkan aku." Raka menggenggam tanganku dan menciumnya. Aku tertegun tak bisa berkata apapun. Jadi semalam...


*****************************


Bersambung ya. Penasaran kaaan, makanya vote like n komen nya.

__ADS_1


__ADS_2