Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 97 Lewat Gedung Resepsi


__ADS_3

" Bu Wahyu, ada berita duka. Pak Sunar mantan Kepala pasar meninggal dunia." Mbak Wiwit mengabarkan. Ia baru saja tiba dan hendak membuka tokonya pagi ini.


" Innalilahi wainna ilaihi rojiun, meninggalnya kapan ? mbak Wiwit baru datang kok sudah dapat kabar." Ibu nampak terkejut.


Para pengunjung warung yang tengah sarapan ikut menoleh sekilas kemudian melanjutkan makan lagi. Aku dan mbak Sri hanya saling pandang karena nggak paham dengan orang yang dimaksud.


" Meninggalnya kemarin sore, saya dikasih tahu bu Maryam pedagang sembako itu," sahut mbak Wiwit sembari membuka rolling door tokonya.


" Pak Sunar bukannya sudah pensiun lama ya, Bu." Mas Harun menimpali. Dia mungkin paham karena cukup lama berjualan di pasar.


" Sepertinya belum begitu lama. Kalau tidak salah baru 3-4 tahunan. Dulu sering makan di sini, tapi setahun menjelang pensiun itu sudah jarang." Ibu tengah mengenang sosok pak Sunar.


" Nanti kalau mau takziah kasih tahu ya Mbak Wiwit, biar Aira yang berangkat ! " pesan ibu ke mbak Wiwit.


" Baik Bu Wahyu, nanti saya konfirmasi dulu sama yang lain." Mbak Wiwit mengiyakan. Ia pun masuk ke tokonya setelah selesai menata dagangannya.


" Memangnya ibu- ibu yang berjualan di sepanjang toko ini kenal sama pak Sunar Buk ? " tanyaku, saat kita tengah sarapan berdua. Warung sudah agak lengang.


" Kalau yang pedagang lama tentu kenal. Meskipun pertokoan ini tidak termasuk bagian dari pasar tapi pak Sunar itu sering menyambangi kemari sekalian makan di warung kita. Orangnya ramah sama siapa saja, terutama sama perempuan hehehe." Ibu terkekeh dan langsung minum air putih takut tersedak.


" Maksudnya gimana sih ? " tanyaku agak heran dengan kalimat ibu yang terahir.


" Ya begitu, dia sering cari perhatian sama wanita. Kalau yang masih gadis tentunya nggak mau menanggapi, tapi ibu-ibu muda yang suka meladeni kalau lagi digoda. Soalnya orangnya suka jajanin juga. Malah ada yang sempat jadi pacarnya juga, salah satunya bu Maryam itu. Ssstt. "


Ibu mengodeku dengan menempelkan telunjuk di bibirnya. Beliau melirik ke toko mbak Wiwit, takutnya kedengaran sampai tokonya. Gosip lagi nih, kataku dalam hati.


" Masa sudah tua-tua pada pacaran Buk. Bu Maryam bukannya umurnya lebih tua dari mbak Wiwit ya." Tak urung aku jadi ikutan kepo.


" Dulu ya masih seusia mbak Wiwit itu. Kalau pak Sunar yang sudah agak tua, waktu masih bertugas di kantor pasar. Kadang mereka makan berdua di sini, makanya ibu tahu hmm." Ibu menyebikkan bibirnya.


" Pantas saja tadi mbak Wiwit bilang dapat kabarnya dari bu Maryam, hihihi. Ada-ada saja ya kelakuan orang-orang di pasar." Aku menggelengkan kepala, lalu beranjak masuk ke dapur.


" Kok pindah Mbak duduknya, belum selesai makan juga," tegur mbak Sri ketika menolehku.


" Takut kebablasan ngegosip lagi, apalagi yang diomongin orang yang baru meninggal, hiiii." Aku berlagak merinding sambil nyengir.


Kutengok ke depan ada pengunjung masuk, syukurlah. Jadi ibu nggak menyusulku ke dapur untuk melanjutkan obrolan. Aku nggak berani menegur karena ibu suka tersinggung. Mending aku menghindar saja.


" Dasar ibu-ibu paling doyan ngegosip. Pantesan ibu sering betah kalau lagi mengobrol sama mbak Wiwit," celetukku sambil melanjutkan sarapan.

__ADS_1


" Iya, kadang kalau kita lagi ngobrol takut kedengaran ibu. Tapi ternyata beliau juga asyik bersama mbak Wiwit, hehe ! " Mbak Sri menimpali.


Seusai makan pagi kulanjutkan pekerjaan pagi ini. Mbak Sri kusuruh sarapan dulu. Tak berapa lama mbak Wiwit muncul lagi, kali ini ia hanya berdiri di depan pintu.


" Aira, nanti takziah jam 11.00 wib, bareng ibu-ibu sekitar pertokoan sini. Bu Susi sudah memesan angkot."


" Oke Mbak, kalau gitu sekarang aku mau belanja dulu," sahutku lalu mendekati ibu. Selembar uang kertas warna biru diulurkan padaku, aku pun melesat menuju kios mbak Sumi.


Melewati tempat bu Harti, kiosnya tutup. Baru kuingat, ini hari Minggu. Tentu saja beliau nggak berjualan karena pasti tengah menghadiri resepsi pernikahan sepupunya. Mas Raka tidak menghubungiku, mungkin nggak sempat. Barangkali di rumah mas Karno sudah ada tamu kerabat-kerabat yang dari luar kota.


Pulang dari belanja aku bersiap-siap, begitu pula mbak Wiwit yang hendak takziah. Pukul 10.50 angkot yang dipesan bu Susi sudah tiba dan menunggu di depan tokonya.


" Sudah siap belum Aira, yuk kita ke sana dulu sambil menunggu yang lain ! " teriak mbak Wiwit memanggilku.


" Sudah Mbak. Buk aku berangkat ya," ucapku berpamitan pada ibu.


" Hati-hati, ini buat ongkos naik angkot sama isi kotak." Ibu memberiku uang transport dan tak lupa amplop kecil berisi uang sumbangan.


Aku mengangguk, lalu berjalan di belakang mbak Wiwit yang telah melangkah menuju angkot. Satu persatu ibu-ibu yang akan ikut takziah berdatangan.


" Yuk Pak berangkat, sudah masuk angkot semua nih. Keburu siang nanti ! " teriak mbak Wiwit pada pak sopir.


Rumah duka tidak terlalu jauh, 20 menit sudah sampai. Setelah bersalaman dan mengucap bela sungkawa kami langsung pamit.


Angkot yang kami tumpangi mengambil jalan memutar, tidak bisa lewat jalan yang tadi dilalui. Nantinya akan melewati kantor Camat dan pastinya juga gedung Graha Wiyata Dharma di mana mas Raka tengah berada di sana.


" Wah, ternyata lagi ada resepsi pernikahan. Pantesan ramai, banyak mobil dan motor berjajar rapi," celetuk mbak Wiwit yang duduk di sebelahku.


" Iya, itu kan resepsi pernikahan mas Karno Sekarang mas Raka dan ibunya juga sedang berada di sana." Aku memberitahu mbak Wiwit.


" Oh resepsinya di gedung itu. Eeh tapi kok kamu nggak ikut kondangan sih Ra, nggak diajak ya sama Raka ? " tanya mbak Wiwit agak heran.


" Nggak diundang sih Mbak, mas Raka juga nggak enak kalau ngajak aku. Secara yang punya hajat bukan keluarga dekat." Aku memberikan alasan.


" Iya juga sih, kita-kita juga nggak ada yang diundang. Padahal kenal loh sama bu Irah ibunya mas Karno." Mbak Wiwit menyayangkan hal ini.


" Mungkin yang buat undangan pihak perempuan Mbak. Itu yang memilih gedung juga mereka, rumahnya kan dekat dengan kantor Camat itu," ungkapku.


" Waah bisa juga itu," tukasnya lagi.

__ADS_1


Tak terasa mobil angkot sudah berhenti di depan toko bu Susi.


" Eeh sudah sampai, Alhamdulillah ! " celetuk kami bersahutan. Aku segera turun dan berjalan bersama mbak Wiwit kembali ke warung.


___________


" Mas Raka, kok sudah di sini. Emang kamu nggak capek ? " tanyaku heran saat kudapati dia sudah duduk di bangku dapur. Aku baru selesai sholat Ashar.


" Capek sih, tapi aku pingin cepetan ketemu kamu. Lagian acara yang di gedung juga sudah selesai sebelum jam 2 siang tadi. Aku langsung pulang dan istirahat sebentar, habis itu mandi, sholat Ashar terus ke sini."


" Di rumahnya mas Karno sudah nggak ada acara? " tanyaku lagi.


" Masih ada kerabat-kerabat yang dari luar kota. Tapi biar keluarganya yang mengurusi, aku sudah dari H-3 full di sana. Kalau yang tiga hari sebelumnya hanya sesekali nongol, duduk-duduk, ngobrol." Mas Raka menceritakan kegiatannya seminggu ini.


" Jadi yang hari Senin sampai Rabu belum banyak kesibukan dong. Tapi kenapa kamu bilang tidak bisa menemuiku, kamu bohong ya," selidikku.


" Aku nggak bohong sayang. Memang belum banyak yang dikerjakan., tapi aku kan tetap stay di sana mana tahu sewaktu-waktu ada yang bisa dikerjakan. Apalagi ibu terus menerus mengingatkan karena nggak enak sama paman dan bibinya, orangtua pak Karno." Dia pun menuturkan apa yang dialaminya.


" Ya oke oke. Tapi Mas hehe, bisa nggak sih jangan sebut pak Karno. Kedengarannya tua banget, hihihi ! " Aku terkekeh-kekeh mendengar mas Raka dari tadi menyebut nama pak Karno. Ekspektasinya pak Karno mantan presiden RI pertama.


" Memang sudah tua kan, umurnya juga 30th nan. Dia juga kan adik sepupu ibuku, ya aku nyebutnya pak Karno. Apanya yang salah? " Mas Raka pun menerangkan silsilah keluarganya. Padahal tempo hari dia sudah bercerita.


" Oh iya Mas, tadi aku lewat depan gedung yang buat resepsi, pulang dari takziah tadi," kualihkan pembicaraan, lalu kubuatkan teh untuknya. Saking asyik ngobrol sampai kelupaan.


" Yang bener, takziah ke mana? " tanya dia seraya menyeruput minumannya.


" Di desa sebelah barat Rumah Sakit. Yang meninggal mantan Kepala Pasar," sahutku.


Aku mulai membereskan dapur sementara mbak mbak Sri membersihkan ruangan depan. Mas Raka keluar dan duduk di teras sambil menyalakan rokok. Ibu masuk ke dapur untuk mengecek opor ayam yang tadi sudah dimasak. Masih setengah jam lagi matangnya.


" Buk, saya pulang duluan ya," pamit mbak Sri padanya. Ibu mengangguk mengiyakan. Aku keluar menyusul mas Raka di teras.


____&&&_______


Bersambung ya say, tetap ikuti terus kisah Aira dan Raka.


Jangan lupa kasih vote like dan komentar


Ditunggu loh ya, makasiiih !

__ADS_1


__ADS_2