Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 30 Hubungan Tanpa Status


__ADS_3

Beberapa hari ini aku tidak menemui Arya. Masih enggan jika teringat perkataannya waktu itu. Sebenarnya aku kangen banget tapi gengsi aja. Sayangnya ia juga tak menghubungiku lewat handphone.


Saat mau belanja ke pasar aku menengok kantornya dari kejauhan. Dia sedang mengobrol dengan seorang pramuniaga di toko pakaian sebelah kantornya. Muncul rasa cemburu di hatiku. Arya bukannya kerja malah menemani cewek.


Buru-buru kuambil handphone di bilik begitu kembali ke warung. Kukirim pesan WA pada Arya.


[ Seneng ya, berapa hari nggak ketemu sekarang sudah ada gebetan baru ]


Pesan belum dibaca. Beberapa saat kemudian dia online, sedang mengetik.


[ Ngomong apa sih kamu, siapa yang punya gebetan baru ]


[ Kok malah nanya, itu tadi yang ngobrol sama kamu di depan toko ]


[ Ooh... itu kan karyawan toko di situ, tiap hari juga ketemu 😊 ]


[ wow.. jadi tiap hari berduaan seperti itu. ( emoji marah) ]


Aku memang orangnya posesif, nggak bisa melihat cowok yang disuka bersama cewek lain.


[ Hey ! bukan begitu lah, maksudku kita tiap hari ketemu karena tempat kerja saja bersebelahan. Apa aku harus merem kalau ketemu dia 😁 ]


[ Tapi aku nggak suka kalau melihatmu sama cewek lain. aku cemburu 😔 ]


[ Aneh kamu, kan nggak ngapa- ngapain juga.


Oke deh besok aku nggak mengobrol sama dia ]


[ Jangan sama dia saja, sama cewek lain juga nggak boleh ]


[ Iya iya... terus kamu sendiri kenapa nggak pernah ke tempatku ]


[ Lagi males ajah ]


Kututup handphone dan kutaruh lagi di bilik. Selalu kuletakkan di situ supaya aman nggak kena air atau minyak.


_______


Aku nggak bisa lama-lama marah sama Arya. Terlalu bucin sama dia. Aku tahu hubunganku ini nggak jelas, dibilang pacaran tapi dia nggak pernah ngapelin aku apalagi mengajak jalan. Mbak Nia saja sampai ikut menegurku. Ibu yang bercerita padanya soal aku dan Arya.


" Arya itu seperti apa sih Ra, kok kamu sampai sebucin itu sama dia. Terus kamu pernah dikasih apa sampai nggak bisa ninggalin dia? " tanyanya waktu kita lagi pada ngumpul di rumah.


" Ganteng Mbak, dia itu mirip sama Rizky Aditya. Penampilannya cool, kalem, nggak celamitan kaya si Ipul tengil itu." Aku menggambarkan sosok Arya pada mbak Nia.


" Rizky Aditya ? pemain sinetron yang botak pendek itu ya ? " celetuk mbak Nia menerka-nerka.


" Bukaaan ! itu sih Reza Aditya yang main sinetron komedi. Rizky Aditya itu suaminya Citra Kirana." Aku menjelaskan lagi.


" Dan satu hal ya, Arya memang belum pernah memberikan sesuatu buatku, tapi itu nggak masalah karena aku bukan cewek matre seperti mbak Nia, weeekk !" Aku malah meledek kakakku sambil tertawa-tawa.


" Hey ! aku bukannya matre, tapi uang itu penting. Memangnya kamu mau makan cinta ? " teriak mbak Nia sambil melempar bantal kursi ke arahku. Aku masih tergelak sambil memeluk bantal yang dilemparnya.


" Aira, tuh ibu minta dikerokin ! " Ayah yang baru keluar dari kamar memanggilku.

__ADS_1


" Ibu kenapa Yah ? " tanya mbak Nia. Kami berdua berdiri dan masuk ke kamar ayah dan ibu.


" Agak meriang katanya, minta dikerokin saja sama Aira," ucap ayah.


Aku mengambil minyak kayu putih dan uang logam buat ngerokin punggung ibu.


" Aku belikan 'wedang ronde' sama 'bakmi godog ' ya Buk," kata mbak Nia.


Ia pun mengambil dompet dan mengajak mas Joni keluar.


Kalau nggak enak badan ibu sering minta dibelikan yang anget-anget dan segar. Sepertinya dua menu itu cocok, apalagi belinya juga nggak jauh. Ada mbak Yah dan pak Rus nanti kalau lewat.


Aku jadi pingin juga.


Selesai ngerokin ibu kutaruh lagi minyak kayu putih dan uang logam ke tempat semula. Ibu memang menyimpannya supaya kalau mau kerokan nggak perlu mencari-cari. Mbak Nia dan mas Joni sudah kembali membawa beberapa bungkusan.


Tak lama ia pun membawakan wedang ronde dan bakmi godog ke kamar ibu.


Karena lagi meriang keesokan harinya ibu terpaksa libur nggak berjualan. Aku mengirim pesan ke mbak Sri kalau hari ini warung libur.


Jam 2 siang aku harus ke warung memanaskan kembali masakan yang kemarin sudah dimasak untuk hari ini.


Seusai melakukan tugasku aku mampir ke toko sembako milik mas Joni Kebetulan tokonya terletak tak jauh dari area pasar, di kanan kirinya juga ada toko-toko lain. Mbak Nia sedang melayani pembeli dan mas Joni tengah mengecek dagangan yang baru datang.


Mbak Nia menyuruhku duduk dan setelah pembeli pergi ia pun duduk di depanku. Ia menawariku kue yang dibelinya tadi. Kita makan sambil mengobrol, sesekali aku ikut melayani pembeli.


Ketika asyik mengobrol tak sengaja mataku menangkap dua sosok cowok yang tengah berjalan di seberang jalan. Kuperhatikan ternyata Arya dan Saiful.


" Mbak, lihat cowok yang di seberang jalan ! itu dia yang namanya Arya, yang kulitnya putih. Yang satu lagi teman sekantornya." Aku memanggil mbak Nia dan menunjukkan Arya padanya.


" Mungkin dia nggak tahu kalau kamu adikku, " lanjutnya kemudian.


Ucapan mbak Nia terbukti karena Arya dan Saiful menyeberang jalan dan menuju ke sini.


" Eh Aira kok ada di sini ? " Ia menyapaku. Saiful menoleh ke arah lain, mungkin sungkan padaku karena sudah menghilangkan kalungku. Aku sendiri juga enggan menyapanya.


" Iya ini toko kakakku," jawabku. Arya membeli rokok dan permen, kemudian setelah berbasa basi ia pun pergi.


Aku menatapnya sampai dia hilang dari pandangan.


Ia hanya berjalan kaki mungkin sedang ada keperluan di sekitar sini dan berniat membeli rokok.


" Seperti itu yang dibilang pacar? " ucap mbak Nia.


" Maksudnya apa Mbak? " tanyaku seraya menoleh padanya.


" Lah itu ketemu kamu aja reaksinya biasa gitu, kayak ketemu teman biasa. Paling nggak ngobrol- ngobrol dulu, atau mengajak kamu ikut dengannya atau gimana. Ini tadi cuma basa-basi terus pergi. "


Mbak Nia mendengus kesal. Aku sendiri nggak heran karena memang seperti itu sikap Arya padaku. Ia romantis dan lembut jika sedang berdua saja denganku. Di depan orang banyak ia bersikap biasa seolah tak ada yang istimewa.


" Ya mungkin dia malu sama kamu Mbak. " Aku berusaha menutupi.


" Kenapa malu kalau memang beneran pacaran. Harusnya dia memperkenalkan diri sama aku dan mas Joni, secara kita kan kakak kamu. Kakak dari pacarnya ! " sahut mbak Nia dengan mengeraskan suaranya.

__ADS_1


" Jangan-jangan dia nggak serius sama kamu Aira." mas Joni ikut menimpali. Ia masih menata barang dagangannya.


" Nggak tahu lah." aku hanya menjawab pelan.


Aku memang ngga peduli dengan status hubunganku sama Arya. Yang penting bagiku kalau aku pingin ketemu dia juga menyambut baik.


Menjelang sore aku pulang karena ayah mengirim pesan, katanya ibu minta dibelikan bubur kacang ijo. Aku berjalan santai menyusuri sepanjang jalan pedagang kaki lima.


Setelah mendapatkan bubur kacang ijo aku bergegas pulang sebelum keburu magrib.


_________


Beberapa bulan berlalu, kalender di dinding juga sudah berganti. Hubunganku dengan Arya masih tak berubah. Tapi aku sudah mulai jarang main ke rumahnya, hanya sesekali saja. Aku tahu jika yang kulakukan ini suatu hal yang bodoh, meskipun aku belum bisa melupakannya.


Suatu ketika aku sedang mengobrol bersama Eva di rumahnya karena kebetulan dia pulang. Tak berapa lama mas Joni datang dan memanggilku,


" Aira, ada yang mencari kamu tuh ! " teriaknya dari luar.


" Siapa Mas ? " tanyaku penasaran.


" Lihat aja sendiri, " jawabnya seraya melangkah pulang setelah lebih dulu pamit Aku pulang dan betapa terkejutnya aku mendapati Arya sedang duduk di ruang tamu. Ia ditemani Dion.


" Tumben ke sini ! " celetukku. Dalam hati serasa surprise banget. Aku masuk ke dalam dulu membuatkan minuman. Kita pun mengobrol sampai jam 10.00 kurang lebih. Kalau sudah begini mana bisa aku melupakannya. Mungkin setelah ini ia mau memperbaiki hubungan yang nggak jelas ini.


Tapi ternyata harapan tinggal harapan. Arya hanya sekali itu datang ke rumah. Beberapa hari selanjutnya dia cuek lagi.


Ketika aku main ke rumahnya sempat kuungkapkan uneg-unegku. Tentang sikap cueknya, tapi lagi-lagi dia menjawab seenaknya.


" Aku nggak mau terikat oleh siapapun. Kalau mau ya terima aku seperti ini, nggak usah mengharap lebih." Itu pernyataannya yang nggak bisa diubah.


" Memangnya kamu nggak ingin suatu saat kita melanjutkan hubungan yang lebih serius. Menikah misalnya." Aku memberanikan diri mengatakan ini. Ingin tahu reaksinya bagaimana.


" Aku mau menikah 10 tahun lagi. Jika kamu mau menunggu silahkan, kalau nggak mau ya terserah."


Ia berkata seperti itu dengan angkuhnya. Benar-benar stres aku dibuatnya. Jika sudah begini aku buru-buru angkat kaki dari rumahnya.


Ya Tuhan ! bagaimana caranya agar aku bisa melupakannya. Kalau perlu buatlah aku benci padanya sebenci-bencinya. Begitulah doa yang selalu kupanjatkan sehabis sholat.


Pernah ada pelanggan di warung ibu yang bekerja sebagai tukang pijit, tapi juga bisa menyembuhkan penyakit yang kurang masuk akal. Menurut orang- orang yang percaya dengannya. Namanya Mbah Kadir.


Suatu hari aku pun iseng bertanya padanya," Mbah , bagaimana caranya agar bisa melupakan seseorang. Soalnya orang itu hanya menyakiti saya." Aku berkata setengah berbisik supaya ibu dan mbak Sri nggak mendengar.


Mbah Kadir pun memberikan petunjuk. Aku tahu cara ini nggak dibenarkan karena mendekati sirik. Tapi saking suntuknya otakku karena nggak bisa melupakan Arya.


Dan pada akhirnya aku tetap belum bisa melupakannya sekalipun sudah kupraktekkan petunjuk dari mbah Kadir.


Aku juga sudah menghapus nomer kontak Arya dari daftar kontakku. Belakangan dia juga cuek saja meskipun aku jarang nge chat dia.


Tuhan, bantu aku melupakan Arya. Seseorang yang awalnya kuanggap sebagai malaikat penolong, nyatanya membuatku lebih hancur dari sebelumnya.


___&&&_&&&____


To be continue . please vote like n komen.

__ADS_1


See you...


__ADS_2