Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 35 Mas Bayu Duluan


__ADS_3

Kurebahkan tubuhku di ranjang menatap langit- langit kamarku. Sudah 1 jam aku belum bisa memejamkan mata, masih merenungi kisah hidupku yang rumit. Ketika teman-teman sekolahku sudah pada pacaran, aku belum kepingin. Setelah lulus baru berani menjalin hubungan dengan cowok, tapi selalu saja berakhir singkat.


Di saat ada yang ingin serius denganku malah aku tolak. Kelihatan bodoh sebenarnya, tapi mau gimana lagi memang aku nggak suka. Bukannya aku lebih memilih Arya karena aku tahu itu juga hal yang bodoh. Tapi nggak harus dengan Yudha kan ?


Sekitar jam 1 dini hari baru aku bisa memejamkan mata. Dan esok paginya pasti aku jadi kesiangan.


" Aira, bangun sholat Subuh, nak ! " Ayah berseru membangunkanku.


" Iya, ini lagi melipat selimut, Yah ! " seruku juga.


Setelah merapikan tempat tidur aku membuka pintu kamarku. Hawa segar masuk dari jendela ruang tamu dan samping dapur yang baru dibuka oleh ayah.


" Aira, jendela kamarnya dibuka dong , biar udara segar masuk ke kamar," perintah ayah.


Aku memang masih enggan membuka jendela kamar. Biasanya jika sudah mau berangkat ke warung baru kubuka.


" Nanti saja, Yah. Masih dingin he he he!" Aku terkekeh mencandai ayah.


Beliau pun hanya geleng-geleng kepala lantas berkata,


" Lekas ambil wudhu, sudah jam 5 tuh ! "


Bergegas aku ke kamar mandi, melewati ibu yang tengah memasak nasi di dapur. Ibu masih belum mau menegurku, aku juga diam. Selesai wudhu segera sholat karena sudah kesiangan.


Sekalipun ibu belum mau menegurku aku tetap membantu di warung. Berada dalam satu ruangan dengan ibu dan tidak bertegur sapa sudah menjadi hal yang biasa.


__________


Seminggu berlalu. Ketika sedang rebahan di sofa depan televisi, telingaku mendengar suara motor mas Bayu. Ia pun masuk dengan buru-buru.


" Tumben jam segini sudah pulang ! " tegurku. Sekarang baru jam setengah delapan. Aku aja baru selesai sholat, ayah juga belum pulang dari masjid.


" Ada sesuatu pokoknya," sahut mas Bayu sembari mengedipkan mata. " Aku sholat dulu ," lanjutnya.


Ada apa sih, aku jadi penasaran. Tak berapa lama ayah pulang , ibu juga keluar dari kamar setelah sembahyang.


" Kok tumben sudah pulang , Bay ? " Ayah dan ibu hampir bersamaan bertanya.


Mas Bayu baru keluar dari kamar. Saking sibuknya abangku ini sampai jarang di rumah. Begitu muncul malah bikin heran seisi rumah. Ada ada saja.


" Ada yang ingin kubicarakan sama Ibu dan Ayah," ucap Mas Bayu.


Ia pun duduk di sofa yang berhadapan dengan ayah dan ibu. Aku memilih duduk menghadap TV .


" Ayah, Ibu, aku mau minta ijin pada kalian. Emm... aku... aku mau nikah." Mas Bayu bicara terbata-bata, mungkin gugup atau malu.


What ? Mas Bayu mau nikah. Selama ini kita tahunya dia itu paling anti sama cewek. Di saat teman-temannya memamerkan pacarnya dia nggak pernah tertarik. Ia lebih fokus dengan pekerjaannya.


" Apa, Bay ? kamu mau nikah, dengan siapa ? terus, rumahnya mana ? emm....orang tuanya, baik nggak sama kamu , Bay ? " Ibu langsung memberondong dengan pertanyaan pada mas Bayu.


" Buk.. buk.. sabaar, satu satu dong nanyanya. Bayu kan jadi bingung mau jawab." Ayah menimpali.


" Eeh iya maaf, ibu saking senangnya Bayu pingin nikah. Baru kemarin ibu mengobrol sama Nia soal ini, he he he ! " Ibu berkata hingga matanya berkaca -kaca.

__ADS_1


" Ada deh, Bu. Besok aku kenalkan pada kalian," sahut mas Bayu. " Oh iya, 2 hari yang lalu aku sudah melamarnya. Dan rencananya bulan depan aku mau melamar dia secara resmi bersama Ayah dan Ibu." Mas Bayu melanjutkan kalimatnya.


" Ayah dan ibu pasti setuju. Tapi Bay, apa kamu sudah menyiapkan semuanya ? " tanya ayah pelan. Beliau selalu hati-hati jika bicara hal yang serius.


" Sudah, Yah. Pokoknya tenang saja, aku sudah punya tabungan kok." Mas Bayu menjawab meyakinkan ayah dan ibu.


" Syukurlah kalau begitu. Jadi sebulan ke depan kita mulai mempersiapkan seserahan yang akan kita bawa ya, Yah !" kata ibu.


" Iya, besok biar Aira sama Nia yang mengurus segala sesuatunya." Ayah berkata lalu berlalu menuju teras.


Kebiasaan ayah jika hendak merokok selalu di luar rumah. Ibu selalu mengingatkan tapi rupanya ayah belum bisa berhenti merokok, hanya mengurangi porsinya.


Mas Bayu masuk ke kamarnya. Tinggal aku sendiri di depan TV, karena ibu juga beranjak ke dapur membikin kopi buat ayah. Kuambil handphone di meja kamar, lalu kembali menonton serial komedi di televisi. Jika sedang jeda iklan aku membaca novel dari HP.


Sekitar jam 9 malam mbak Nia dan mas Joni pulang.


" Ayah sama Ibu kok tumben jam segini masih di teras ?" tegur mbak Nia.


Suaranya terdengar dari tempatku duduk.


" Iya nih tadi keenakan mengobrol, sekalian nunggu kamu." jawab ibu.


Aku bangkit dan berjalan ke ruang tamu.


Ibu dan ayah yang masih duduk diteras pun masuk ke dalam. Tak lupa ayah sekalian mengunci pintu depan dan menutup gorden jendela.


" Nungguin aku, memang ada apa ? Itu kok ada motornya mas Bayu , tumben sudah pulang." Mbak Nia bertanya-tanya.


Ia pun duduk di sofa ruang tengah depan televisi. Sedangkan mas Joni langsung masuk kamar.


" Bayu pingin menikah, bulan depan dia mauh- melamar kekasihnya." Ibu berkata dengan wajah berbinar.


" Apa ? mas Bayu mau menikah, yang bener ? " Mbak Nia tersenyum. Ia berjalan cepat menuju kamar mas Bayu.


Tok tok tok !


" Maaas ! Mas Bayuu ! sudah tidur belum ? " Mbak Nia berteriak memanggil mas Bayu.


Mas Joni yang berada di kamar pun keluar.


" Ada apa sih, Nia ? sudah malam kok teriak-teriak. Nanti dikira tetangga aku KDRT lagi, " ujarnya berkelakar. Mbak Nia memukul lengannya.


Sesaat kemudian mas Bayu membuka pintu kamarnya, " Ngapain sih, Nia ? mengganggu orang istirahat saja." Mas Bayu pura-pura menggerutu.


" Halah biasanya juga masih di luar. Eh Mas, beneran kamu mau lamaran ? Memang siapa sih pacarmu, aku kenal dia nggak ? " Mbak Nia mencecar mas Bayu.


" Idih mau tahu aja. Besok juga aku kenalkan pada kalian, sabar dong." Mas Bayu tersenyum nyengir dengan menaikkan alis matanya.


" Huuuu... pelit ! " Mbak Nia cemberut kemudian masuk kamar.


__________


Tiga hari kemudian mas Bayu membawa pacarnya ke rumah. Namanya mbak Risma. Wajahnya hitam manis dan orangnya juga supel. Mbak Risma cepat sekali akrab dengan kami.

__ADS_1


" Nak Risma ini teman sesama guru ya, sama Bayu ?" tanya ibu seraya mengajak mbak Risma duduk.


Aku masuk untuk membuatkan minuman dan menyuguhkan kue. Mbak Nia menyiapkan makan malam.


" Bukan, Buk. Saya wirausaha, ada cafe sederhana yang saya kelola bersama kakak saya," jawab mbak Risma malu- malu.


" Ooh.. punya cafe, lalu kenal sama Bayu di mana ? " tanya ibu lagi.


" Mas Bayu sering mampir di cafe saya bersama rekan-rekannya.. Ada teman lama saya yang mengenalkan kami." Mbak Risma pun bercerita. Ibu hanya mengangguk -angguk.


Selanjutnya mas Bayu dan mbak Risma terlihat mengobrol serius dengan ibu dan ayah di ruang tamu. Aku dan mbak Nia lebih memilih duduk di dalam.


Mbak Nia tadi pulang lebih dulu karena tahu mas Bayu akan mengenalkan mbak Risma. Mas Joni yang masih di toko.


" Alhamdulillah ya Allah... akhirnya mas Bayu menemukan jodohnya. Berarti ibu akan fokus mengurusi mas Bayu dan nggak akan mengungkit masalahku dengan Yudha." Aku berucap syukur dan tersenyum lega.


" Iya, kasihan juga kalau mas Bayu dilangkahi lagi. Walaupun kemarin2 dia bilang belum mau menikah dan minta kamu duluan yang nikah. ternyata sekarang dia sudah kebelet he he he ! " Mbak Nia menimpali ucapanku dan berkelakar.


" Akhirnya mas Bayu yang duluan menikah, " sambungku.


" tapi saranku, sebaiknya kamu nggak usah lagi berhubungan dengan Arya. Cowok kaya gitu nggak bisa diharapkan. Modal tampang keren doang." Mbak Nia memberi saran buatku.


" Ini juga lagi berusaha, Mbak. Meskipun sulit tapi aku tetap harus melupakannya. Aku juga menahan diri untuk nggak menemuinya," jelasku.


Mbak Nia menyimak curhatanku.


" Tapi kalau aku sudah mulai jauh dari Arya, dia seperti baik-baikin aku, Mbak. Itu yang bikin aku sulit melupakannya," ungkapku lagi.


" Ya jangan sampai tergoda, itu memang tak tik cowok buat menaklukkan cewek. Nanti kalau kamu luluh lagi dia cuekin kamu lagi."


Sedang asyik mengobrol ibu masuk mengajak mbak Risma makan malam. Ayah dan mas Bayu mengikuti di belakangnya. Untung tadi mbak Nia sudah menyiapkan semuanya.


_________


Mendekati hari lamaran mbak Nia dan aku mulai sibuk menyiapkan segala sesuatu yang akan dibawa sebagai seserahan nanti. Sedangkan mas Bayu menyiapkan maharan, seperti perlengkapan sholat, busana untuk mbak Risma, sepatu dan sendal, kosmetik dll. Tentunya mbak Risma juga diajak berdiskusi.


Aku dan mbak Nia yang akan mengemas barang-barangnya agar terlihat cantik dan indah. Nggak perlu menyewa orang karena mbak Nia pernah diajari juga saat kursus merias.


" Maharannya sudah jadi belum, Ra? " tanya ibu ketika aku sedang sarapan di warung.


" Sudah, tinggal uang sama perhiasan yang belum, soalnya kemarin lupa beli kotaknya. Nanti siang deh, aku beli," jawabku.


" Jangan sampai lupa lho, tinggal seminggu lagi." Ibu mengingatkanku.


" Iya, Bu. Nanti aku beli kotak uang dan perhiasannya. Tinggal masukin aja kok nggak perlu dibungkus lagi." Kujelaskan pada ibu supaya nggak cemas lagi.


Siang sehabis dzuhur aku segera membeli tempat uang dan perhiasan yang sudah siap pakai. Tak lupa beli pita, sekalian untuk mempercantik kotak-kotak mahar yang sudah dibuat mbak Nia tempo hari. Aku ingin acara lamaran mas Bayu dan mbak Risma besok bisa lancar dan memuaskan.


_____&&&&_________


Lanjut besok lagi ya gaess. author sudah ngantuk.


Dijamin ceritanya makin seru deh !

__ADS_1


Jangan lupa vote like dan komen.


See you !


__ADS_2