Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 65 Curiga


__ADS_3

Setelah puas mengobrol dan mengenang masa sekolah Raka pun pamit pada teman-temannya.


" Buru-buru amat mau ke mana sih Bro," tanya seorang yang bernama Setyo. Saat berkenalan tadi mereka sempat menyebutkan nama masing-masing.


" Ya pulang lah, Aira belum berlebaran dengan keluargaku. Makanya sekarang mau kuajak ke rumah." Raka memberi alasan. " Yuk , sorry ya aku duluan ! " serunya lagi.


" Oke hati-hati, jangan diapa-apain ceweknya ya ! " teriak yang bernama Mario. " Sialan kamu ! " Raka menaiki motornya dan memintaku naik. Setelah menstater ia pun melajukannya perlahan.


Saat berada di jalan raya barulah Raka menambah kecepatan motornya. Aku tersentak kaget dan spontan memeluknya.


" Hahaha, kaget ya. Makanya jangan ngambek terus, jadi nggak fokus kan." Raka malah girang dan menambah kecepatanya.


" Aaah Raka jangan ngebut aku takuuut ! " teriakku dan makin kupererat pelukanku di punggung Raka.


" Kalau takut ya tinggal peluk kaya gini." Ia menggenggam tanganku yang berada di dadanya. Perlahan ia mengurangi laju motornya.


" Ooh rupanya ini taktik kamu agar aku memelukmu, awas ya ! " ucapku kemudian hendak kuurai pelukanku.


Saat kulepas kedua tanganku Raka tiba-tiba menarik gas sehingga aku tersentak maju dan dadaku langsung menyentuh punggungnya. Sontak aku mundur karena dua gunung kembarku terhimpit punggung Raka.


" Jangan bilang ini juga akal-akalan kamu ya," bisikku di telinganya sembari kujewer.


" Auw ! maaf tuan putri saya sengaja, eeh salah." Raka malah tertawa-tawa. Aku langsung cemberut.


Tak berapa lama kami sampai di rumahnya. Ayah, ibu dan adik perempuannya tengah duduk di teras. Ketika kami berdua datang mereka pun menyambutku ramah.


" Masuk yuk ! " ajak bu Harti lalu masuk dan duduk di ruang tamu. Ayah dan adiknya mengikuti di belakangnya, begitu juga aku dan Raka.


" Ambil minum sendiri Mbak Aira." Bu Harti menawarkan minuman yang sudah tersedia di meja tamu.


" Terima kasih Bu," sahut ku seraya menyalami dan mengucapkan selamat Idul Fitri pada bu Harti dan juga ayah Raka. Selanjutnya kami mengobrol sembari menikmati kue kering yang disajikan di meja.


Beberapa menit kemudian kakek dan neneknya muncul dari ruang tengah.


" Lho ada tamu to, kok Raka nggak memanggil kita sih." Mereka menyapaku lalu duduk di kursi panjang. Aku pun menyalami dan mengucapkan selamat lebaran juga.


Seusai makan siang bersama aku minta ijin untuk sholat Dzuhur. " Sholat di kamarnya Raka saja, nanti pakai mukenanya ibu," ujar bu Harti.

__ADS_1


Sebenarnya aku ingin sholat di kamar Winda, tapi nggak enak juga kalau menolak. Meskipun agak sungkan kalau masuk kamar cowok aku pun menurut saja.


" Kamar Winda berantakan, sudah di sini saja," sahut Raka saat kuutarakan maksudku. Ia baru saja mengambilkan mukena di kamar ibunya.


Setelah sholat kuamati isi kamar Raka, kurapikan sedikit yang agak berantakan. Seperti halnya kamar kostnya, kamar ini juga nampak bersih untuk ukuran kamar cowok kebanyakan.


______________


Lebaran sudah seminggu berlalu. Aku menghabiskan waktu bersama Raka hanya 2 hari saja, yaitu lebaran kedua dan ketiga. Setelahnya dia bilang ada urusan di kampus dengan teman-temannya. Tentu saja aku nggak mau egois, dengan memintanya selalu menemaniku.


" Maaf ya kutinggal dulu, paling aku cuma dia tiga hari di Jogja. Setelah semua tugas beres aku pasti langsung pulang," janjinya waktu itu.


Siang ini aku baru menjenguk ibunya mbak Wiwit yang baru pulang dari Rumah Sakit. Ibu menyuruhku yang mewakilinya, bersama ibu-ibu yang juga berjualan di sekitar kios kami. Kebetulan pulangnya melewati jalan menuju rumah Raka.


" Bu, saya turun di sini saja ya, mau mampir ke rumah teman." Aku berkata pada bu Susi yg berjualan di sebelahnya mbak Wiwit.


" Nanti kalau ibumu nanyain kamu gimana, mau ke mana hayoo? " tanya bu Susi.


" Saya sudah kirim pesan ke mbak Sri kok Bu," sahutku seraya memberitahu pak sopir angkot supaya berhenti.


" Oh ya sudah kalau begitu hati-hati ya ! " serunya. Aku pun berpamitan juga pada yang lain saat hendak turun.


" Hai Winda, mas Raka mana? " sapaku seraya raya tersenyum sama adik perempuan Raka ini.


" Hai juga mbak Aira, silakan masuk. Mas Raka lagi mengantar nenek ke tempat saudaranya, tapi sudah agak tadi kok. Mbak Aira mau minum apa ? " sahut Winda lalu menawariku minum.


" Air putih dingin aja." ucapku. Winda pun masuk. "Rumah kok sepi, bapak belum pulang ya? " lanjut ku bertanya.


" Belum, pulangnya nanti jam 2 siang. Kalau Ibu kan berjualan di pasar, kakek ada di kebun. belakang." Winda menjelaskan seraya menyodorkan segelas air putih untukku. Tanpa disuruh langsung kuteguk karena aku cukup haus tadi berjalan dari gapura ke sini.


" Mbak Aira menunggu di kamar saja ya, sekalian mau numpang sholat Dzuhur," ucapku. Winda mengangguk dan mengajakku masuk.


" Aku ambilkan mukena dulu ya Mbak," cetusnya.


Kutaruh gelas kosong di meja makan dan berlalu ke kamar mandi.


Seperti beberapa hari yang lalu, seusai sholat kubereskan isi kamar Raka. Ketika hendak menaruh mukena di meja, mataku menangkap sebuah handphone yang sedang dicharge. Sepertinya itu punya Raka, tapi masa iya dia pergi nggak membawa HP.

__ADS_1


" Winda, ini handphone siapa yang lagi di charge? " tanyaku pada Winda yang sedang nonton TV. Ia pun beranjak dan masuk ke kamar kakaknya.


" Oh itu punya mas Raka, masa mbak Aira nggak hafal sih. Tadi dia nitip sama aku suruh nyabutin kalau sudah penuh." Winda memberitahuku.


" Ya sudah biar aku cabut, sepertinya ini sudah penuh." Aku berkata seraya mengambil HP itu dari meja. Winda kembali menonton televisi.


Tiba-tiba muncul keinginan untuk membuka HP Raka, kebetulan posisi terahir ulihat chat WA nya, ada satu chat yang agak mengusikku. Dari seseorang yang bernama Ira. Ku ketuk dan kubaca chat lengkapnya.


[ Mas Raka, kupikir tadi pagi kamu akan datang dan mengantarku sampai terminal bus, tapi kutunggu sampai satu jam kamu nggak muncul. Aku nggak bisa menunggu lama jadi aku berangkat saja ]


Pesan ini dikirim kemarin sore, dan di bawahnya ada balasan dari Raka tadi malam.


[ Mbak Ira, maaf aku nggak jadi mengantar kamu ke terminal tadi pagi. Aku harus buru-buru pulang karena ada urusan keluarga. Senang bisa mengenalmu walau hanya 2 hari kita bersama. Semoga kamu kerasan di Jakarta. ]


Oh my God ! Apa maksud ini semua. Raka berkenalan dengan cewek dan mereka sempat bersama. Helloo.. dia bilang ada tugas dari kampus dan ternyata malah jalan sama cewek lain yang jelas bukan teman kampusnya.


" Winda, mas Raka kapan pulang dari Jogja ? " tanyaku pada Winda. Handphone Raka sudah kutaruh di meja lagi dan kuambil tas selempangku yang tadi ku gantung di sandaran kursi.


" Tadi malam , memang kenapa Mbak ? " Dia balik bertanya.


" Nggak apa-apa. Ya sudah mbak Aira pulang dulu ya, nanti dimarahi ibu kalau kelamaan." Aku pamit sama Winda.


" Kok buru-buru sih Mbak, nggak nungguin mas Raka dulu, paling sebentar lagi pulang." Winda mencoba menahanku.


" Nggak usah, sudah siang Mbak Aira sudah dihubungi Mbak Sri suruh balik ke warung lagi." Kucari alasan yang sekiranya Winda percaya. Anak ini sudah SMP pasti akan curiga kalau aku pulang mendadak tanpa alasan yang jelas.


" Perlu diantar nggak Mbak, ini lagi panas panasnya kasihan Mbak Aira jalan kaki. Nanti kulit wajahnya yang putih jadi hitam deh, haha ha ! " Dia malah menggodaku.


" Nggak usah, nggak masalah kena panas sudah biasa," jawabku seraya berjalan keluar. Ku tengok jam di handphone, jam 13.15. Pas matahari lagi terik-teriknya. Panas memang, tapi lebih panas hatiku.


Kenapa Raka tega berbuat itu, apa salahku. Karena hal ini kah sehingga dia nggak pernah mengucapkan kata-kata cinta untukku. Dia nggak serius sama aku, lantas apa arti kebersamaan kita yang sudah 2 bulan lebih ?


*************************


Bersambung.


Penulis mengucapkan Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan 1444 H bagi yang menjalankan.

__ADS_1


Mohon maaf lahir dan batin.


__ADS_2