
Selama lima hari menjelang acara lamaran kami sekeluarga mempersiapkan sebaik mungkin. Semuanya sudah diatur oleh mbak Nia dan mas Joni. Ayah, ibu, aku dan mas Bayu hanya membantu seperlunya.
" Mbak Rina dan Mbak Tika sudah diberitahu belum Mbak? " tanyaku ketika mbak Nia mencoba kebayanya di hari Kamis malam.
" Sudah, kemaren ibu yang menelfon. Mereka akan datang hari Sabtu." mbak Nia menjawab sambil mematut diri di cermin.
Niko juga sudah ku beritahu sehingga hari Sabtu besok aku nggak bisa menemuinya.
Jumat malam kak Vicky, kak Agus serta Niko datang untuk mendekorasi ruang tamu. Mas Bayu yang minta tolong pada mereka atas permintaan mbak Nia. Tapi kok ada Niko, setahuku hanya kak Vicky dan kak Agus. Niko juga ngga ngasih tahu kalau mau ikut mendekorasi.
" Setelah Nia giliran siapa nih yang menyusul, Aira atau Bayu ? " kak Vicky tiba-tiba nyeletuk.
" Aku sih cowok nggak buru-buru nikah. Tahu tuh Aira, " sahut mas Bayu.
" Yee, aku juga enggak lah, baru juga lulus kemaren. Mau ngumpulin uang dulu yang banyak, mau seneng- seneng dulu. " Aku langsung menimpali. Kulirik Niko, dia cuma tersenyum kecil.
Kudekati Niko, " Kok ngga bilang kalau mau ikut ke sini ? " tanyaku berbisik.
" Kak Vicky ngajaknya mendadak, sekalian aja nggak usah bilang ke kamu. Biar surprise. " dia juga menjawab berbisik.
" Huuu , bisa aja kamu." Aku pun beranjak ke dapur menyiapkan minuman dan cemilan untuk mereka.
______
Keesokan hari ibu tidak berangkat ke warung. Mbak Rina beserta suami dan anaknya tiba sekitar jam 10 pagi. Hari Sabtu mas Krisna libur jadi mereka bisa berangkat pagi.
" Tante Airaaa ! " teriak Daffa memanggilku dan langsung menghambur ke pelukanku.
" Hallo ganteng, makin tinggi aja kamu." kuciumi ponakanku yang baru kelas 2 SD ini. Kuajak dia masuk rumah.
Mbak Tika datang beberapa jam kemudian setelah pulang dari bekerja. Tempat kerjanya di Supermarket sehingga hari Sabtu tetap masuk. Tinggalnya masih di kota ini, jadi dia hanya bawa motor maticnya karena suaminya sedang dinas luar kota.
" Tante Airaaa, Neneek , Kakeeek !" si kecil Stella berlari kecil setelah turun dari motor. Ayah langsung menggendongnya.
" Cucu kakek makin gendut ya," puji ayah saat bocah imut itu ada di pelukannya.
Kami pun masuk dan saling bercengkerama melepas kangen.
Malamnya setelah sholat Isya kami sekeluarga sudah berkumpul di ruang tengah dan ruang tamu. Mbak Nia sudah cantik dengan kebaya indahnya, dibantu mbak Rina yang merias wajah dan memasangkan jilbabnya.
" Aduuuh cantiknya putriku ! baru lamaran saja sudah kelihatan aura cantiknya, apalagi besok pas nikah pasti lebih cantik lagi. " Ibu memuji mbak Nia sampai berbinar-binar wajahnya. Kelihatan sekali ibu sangat bahagia.
" Siapa dulu dong ibunyaa , " sahut mbak Rina dan mbak Tika bersamaan. Mereka pun tertawa.
Akhirnya yang ditunggu pun tiba. Keluarga mas Joni datang sekitar jam 8 malam. Ayah juga mengundang pak RT dan papanya Eva sebagai saksi.
Prosesi lamaran berjalan dengan lancar. Kedua keluarga juga sudah sepakat menentukan hari baik untuk pelaksanaan akad nikah dan resepsi.
Pernikahan akan digelar di bulan April, kira-kira 3 bulan lagi.
" Kok buru-buru sih Mbak, 3 bulan itu terlalu cepat untuk persiapan pernikahan. Belum lagi bolak-balik mengurus persyaratan ." Aku mengemukakan pendapatku.
" Mas Joni yang menginginkan untuk dipercepat. Ia sudah mempersiapkan segala sesuatu jauh -jauh hari sehingga nggak mau menunggu lama lagi." Mbak Nia pun menjelaskan alasannya.
" Halaaah ngga usah dibuat sulit. Ibu ini sudah pernah menikahkan dua anak, jadi sudah pengalaman. Untuk urusan resepsi biar ibu yang atur nanti dibantu mbak Rina sama mbak Tika. Biar Nia fokus mengurusi persyaratan. " Ibu meyakinkan kami agar tak perlu khawatir.
" Tapi aku ingin baju pengantinnya yang bagus ya Buk, jangan seperti waktu Mbak Rina dan mbak Tika nikah. Terus menu hidangan juga yang enak .Pokoknya semuanya lebih bagus dari yang sudah-sudah., " pinta mbak Nia.
" Iya tenang saja, kamu kan anak ibu yang paling cantik. Besok nikahnya juga harus lebih meriah dari kakakmu. " Ibu tersenyum bangga.
"Memangnya ibu punya duit,mau bikin pesta besar dan meriah. Terus mas Joni ngasih uang berapa ratus juta? " Aku berkata dalam hati.
Kalau mbak Nia yang minta ibu pasti mengabulkan sekalipun biayanya mahal.
________
Tak terasa sudah bulan April. Tinggal menghitung hari pesta pernikahan akan dilaksanakan.
Mbak Nia dan mas Joni sudah fiting baju pengantin di sanggar rias teman ibu. Dulu mbak Rina dan mbak Tika juga di situ. Hanya saja sekarang bajunya lebih bagus dan lebih mahal.
Ibu sudah libur jualan karena waktu tinggal seminggu lagi. Mbak Sri diminta ke sini untuk ikut membantu. Nanti malam ada rapat panitia pelaksanaan resepsi. Mas Bayu sudah menghubungi kak Vicky untuk mengkoordinir rekan-rekan remaja.
__ADS_1
Aku mengirim pesan ke Niko,
[ Nanti malam jangan lupa datang 😊 ]
Beberapa saat kemudian dia membalas,
[ Siap sayang , kamu dandan yang cantik ya 😍 ]
Kubalas lagi ,
[ gombal 🙄 ]
[ 😆😜 ] Ia hanya membalas emot tertawa ngakak.
Malam harinya Niko dan Rio datang paling awal. Eva sudah ada di sini sejak sore. Kebetulan dia pulang sehingga bisa ikut bergabung.
Aku menemui mereka, " Hai Ra, aku kangen nih ! kamu sibuk terus ngga pernah muncul di warung mbak Yah, " sapa Niko serta menyalamiku.
" Hai juga, maaf ya kamu tahu sendiri waktunya hanya 3 bulan. Kita sekeluarga dibikin sibuk berhari-hari. " aku menjelaskan padanya. Tanganku masih digenggamnya. Eva melirikku dan berbisik, " Kamu hutang penjelasan padaku."
Aku hanya berdehem.
Satu persatu teman-teman mulai berdatangan. Niko pun melepaskan tanganku. Aku berdiri menyalami mereka yang baru datang.
Kemudian aku masuk ke dalam membantu menyiapkan hidangan.
Setelah rapat panitia selesai Niko nggak langsung pulang. Ia ditemani Rio masih mengobrol di teras bersama kak Vicky, kak Agus dan mas Bayu juga ayah.
" Aira , buatkan kopi dong buat mereka ! " Mas Bayu masuk dan menyuruhku membuat kopi. " Sekalian itu camilan yang masih ada dibawa ke teras. "
Tak berapa lama aku keluar membawa 6 gelas kopi hitam dan beberapa camilan. Kemudian aku masuk kamar untuk tidur karena letih seharian mengerjakan ini itu.
Aku ambil handphone di atas meja, kukirim pesan pada Niko,
[ maaf ya aku tidur dulu.... capek banget niih 🙏]
Beberapa saat kemudian dia membalas,
[ iya ngga pa pa tidur aja ]
Aku tertawa kecil , lalu kubalas ,
[ gombalnya kelewatan .. eeh besok temani aku ngasih undangan buat teman SMA. bisa kan ]
Ia sedang mengetik, tak lama terkirim balasan,
[ Bisa dong , apa sih yang enggak buat kamu ]
[ ok besok aku kabari 👍]
Niko nggak membalas lagi. Sempat-sempatnya dia menggombal padahal lagi mengobrol sama orang-orang dewasa. Tak terasa aku pun tertidur.
Esoknya sekitar jam 10 pagi Niko sudah menungguku di teras. Aku segera keluar dan kami pun meluncur ke jalan raya menuju rumah Yana dan Ina. Aku mengundang dua bestie ku untuk ikut menghadiri pernikahan kakakku.
" Makasih ya ,kamu udah mau mengantarku. Tadinya kupikir kamu ngga bisa karena sibuk sekolah ," ucapku ketika perjalanan pulang.
" Sekolah kan ada liburnya, " jawabnya. Betul juga, ini kan hari Minggu.
Ia pun mengantarku sampai rumah
________
Dua hari sebelum hari H, di rumahku sudah mulai dipersiapkan tenda dan panggung untuk tempat duduk pengantin beserta orang tuanya. Memang kami tidak menyewa gedung karena rumah kita sudah cukup besar dan halaman juga luas.
Mbak Rina sudah datang bersama suami dan anaknya.. Mas Krisna pulang lebih cepat karena ini hari Jumat sehingga bisa langsung ke sini. Mereka akan menginap karena tinggalnya di luar kota.
Sedangkan mbak Tika seperti biasa bawa motor maticnya bersama Stella yang berdiri di depan.
" Kok ngga sama mas Toni sih Mbak, " tanyaku heran. Ini mau ada acara penting kok suaminya ngga ikut ke sini.
" Masih di luar kota belum selesai pekerjaannya. Mungkin nanti malam atau besok pagi dia pulang. " Mbak Tika menjelaskan padaku.
__ADS_1
" Ooh kirain kenapa, " sahutku seraya masuk ke dalam menggandeng Stella.
Setelah bercengkerama sebentar dengan dua ponakan, kulanjutkan tugasku menyiapkan minuman dan makanan kecil untuk para tetangga yang sedang memasang tenda dan panggung.
" Nah gitu dong Aira, dari tadi udah haus nih ! " celetuk kak Vicky berkelakar. Aku menyahut,
" Iya maaf deh, tadi ada ponakan datang jadi lupa kalau sudah bercanda sama mereka. "
Aku pun masuk kembali untuk menyiapkan makan siang. Kusempatkan membuka handphone ku.
Ada pesan dari Niko,
[ Sorry ya aku ngga ikut bantuin hari ini, ada ekskul jadi pulangnya sore ✌]
Aku membacanya lalu kubalas,
[ It's oke, udah banyak yang bantuin 👍 ]
[ Ya udah , see you 😍 ] Balasnya kemudian.
Kulanjutkan pekerjaanku sebelum ketahuan ibu atau kakakku. Biasa lah mereka selalu menegur jika aku pegang HP disaat yang lain sibuk.
________
Sabtu pagi aku selesai membersihkan tubuh dan berganti pakaian. Teman-teman yang bertugas melayani tamu akan datang jam 10 an nanti. Sedangkan Eva katanya mau ke sini sore hari karena siang ada tugas kuliah yang harus dikerjakan.
Sebenarnya Niko bertugas siang karena dia masih junior, tetapi kemarin dia minta pada kak Vicky untuk bertugas sore sampai malam.
Alasannya supaya bisa di sini lebih lama, karena kalau siang hari waktunya terbatas. Tentu saja alasan itu hanya ia utarakan padaku.
Jam 5 sore Niko bersama Rio sudah tiba dengan pakaian rapi. Ganteng juga dia kalau berpakaian resmi, ngga terlihat kalau masih sekolah.
Hei Aira kok ngelantur sih ! Aku tertawa dalam hati.
Tamu-tamu berdatangan dari tetangga dan teman-teman ibu di pasar. Teman-teman mbak Nia juga teman ayah dan yang lain akan hadir besok saat resepsi.
_______
Dan tiba lah saatnya, di mana resepsi pernikahan mbak Nia dan mas Joni dilangsungkan. Acara berjalan dengan lancar dan sangat meriah. Kerja sama tim panitia sangat bagus sehingga semua hidangan nggak ada yang kurang ataupun terlambat dalam penyajiannya.
Ketika selesai acara dan pengantin juga sudah masuk ke dalam, mas Bayu mengajak tim panitia yang terdiri para remaja untuk mencicipi makanan yang tersaji di meja prasmanan.
Aku pun ikut bergabung dengan mereka.
" Silahkan rekan- rekan menikmati hidangan sepuasnya karena masih banyak persediaan. Kalau mau dibawa pulang juga boleh, he he... " mas Bayu berkelakar.
" Biasanya cewek-cewk tuh yang suka kirmah , alias mikir rumah ha ha ha " seru Rio seraya melirik ke arah Dewi dandan Mira.
" Sorri ya, kamu tuh yang suka bawain nenek kamu." Mira pun tak terima dengan tuduhan Rio.
" Yeee ngerasa tuh, emang siapa yang nuduh kamu? " Ha ha ha yang lain ikut tertawa. Mira melempar kerupuk ke arah Rio.
" Hei, buang-buang makanan nanti Aira marah lho, "
" Biarin ! kamu tuh yang nyari gara-gara, weeekk." Mira menjulurkan lidahnya ke arah Rio.
Aku senang sekali melihat kelucuan mereka. Sudah lama juga kita ngga kumpul seperti ini. Terahir saat kakaknya kak Vicky menikah.
Kulirik Niko yang duduk di sampingku. Ia masih menikmati makanan yang kuambilkan tadi.
Dan entah kenapa tiba-tiba ada yang nyeletuk,
" Wah, ada yang jadi mempelai juga nih selain pengantin berdua tadi." Ternyata si Bram, teman SD ku. Dia kuliah di Jogja sama seperti Eva tapi beda kampus.
Bram berkata seraya tertawa melihat ke arahku dan Niko.
Sontak semua yang duduk di sekitar Bram menatap ke arah kami. Aku berbisik pada Niko, " Kenapa dia tahu? " tanyaku.
" Mana aku tahu, mungkin dia cuma bercanda. Hanya kebetulan ngelihat kita duduk berdampingan." Niko menebak- nebak perkataan Bram. Ia meyakinkanku kalau pun mereka ada yang tahu tentang hubungan kita dia nggak akan berubah pikiran. Sekali pun nanti akan sampai ke telinga orang tuanya.
___&&_______
__ADS_1
Bersambung ya gaees.. tolong vote like dan komentar.
see you !