
Kulepaskan tanganku dari genggaman Raka. Perasaanku campur aduk. Marah, sedih, kecewa, pingin nangis. Perlahan aku menggeser posisi duduk menjauh darinya. Saat menyadari Raka langsung mendekatiku.
" Aira, kamu jangan marah dong. Aku kan sudah minta maaf, lagi pula itu bukan kemauanku. Ita yang mencariku ke rumah dan minta menginap." Raka masih membela diri.
" Kalau soal dia menemui kamu lalu di depan keluargamu dia nempel terus itu oke, aku masih bisa terima. Tapi kalau tidur di kamarmu, apalagi sama kamu, aku nggak ikhlas Raka. Kamu kan bisa menolaknya ! " suaraku mulai meninggi.
" Tolong pelan kan suaramu nanti keluargaku dengar. Aku nggak enak sama nenek juga karena Ita yang paling sering main ke rumah dibanding saudara-saudaranya." Raka mengingatkan lagi.
" Kamu itu apa-apa nggak enak. Lihat situasinya dong, kalian bukan anak kecil lagi, apalagi dia itu nggak sedarah sama kamu. Cuma famili jauh, beda dengan sepupu-sepupu kamu." Kupelankan suaraku tapi penuh tekanan. Kali ini Raka diam dan menunduk.
" Kamu beneran tadi malam nggak ngapa-ngapain sama si Ita ? Jangan-jangan kamu menikmati lagi." tanyaku menyelidik.
" Terus terang aku belum bisa percaya, secara cowok sama cewek satu kamar. Yang ceweknya agresif, setan di sekeliling kalian pada nyorakin tahu nggak." lanjutku lagi. Raka mendoangakkan kepala ke arahku.
" Astaga Aira ! Aku nggak bohong sama kamu. Mana mungkin aku mengkhianatimu. Lagian di kamar ada sepupuku mana mungkin dia berani. Aku nggak ada rasa sedikitpun sama dia." Raka berusaha terus meyakinkan aku. Tapi masih sulit buatku percaya.
" Kalau aku ngapa-ngapain sama Ita mana mungkin aku ceritakan sama kamu, pakai logika saja. Aku udah jujur sama kamu, kalau nggak percaya tanya sama temanku Doyok. Rumahnya dekat dari rumahku, makanya tadi malam aku lari ke sana dan tidur di kamarnya."
" Siapa tuh Doyok, temannya Kadir ? " tanyaku dengan kesal. Sudah tahu lagi marah Raka malah bercanda.
" Bukan lah, itu temanku yang pernah kuajak makan di warung. Dia tinggi kurus makanya kupanggil Doyok he he, " sahutnya terkekeh.
Gantian aku yang diam. Raka menghentikan tawanya. Aku akui Raka sudah berani menceritakan padaku, mungkin dia memang jujur. Tapi membayangkan apa yang terjadi waktu itu, rasanya aku nggak rela. Seenaknya saja tuh cewek memeluk dan menciumi Raka, aku aja nggak pernah. Mentang-mentang akrab sejak kecil, bukan berarti dia bebas melakukannya.
" Kok diam ? Pasti lagi mikir kenapa bukan kamu yang tidur di kamarku, iya kan ? " Raka menyeringai sambil menaik turunkan alisnya.
" Nggak lucu. Pikiranmu itu yang ngeres." Sialan, tebakan Raka agak tepat juga.
" Oh salah ya, atau kamu lagi mikirin Doyok sama Kadir." Raka mencoba mencairkan suasana. " Iiiiihh , bercanda melulu deh. Nggak usah mengalihkan pembicaraan ya ! " seruku lalu kucubiti pingangnya. Ia pun tertawa sambil berusaha menghindar dengan menangkis cubitan ku. Tapi aku terus menyerangnya, lalu ditangkapnya kedua tanganku.
Aku nggak bisa menarik tanganku karena Raka menggenggamnya erat. Ia menggeser tubuhnya mendekat padaku lalu menatapku lekat. Aku juga menatapnya. Perlahan Raka mendekatkan wajahnya ke wajahku lalu ia mengecup keningku lama. Kupejamkan mataku merasakan hangat bibirnya. Setelah itu direngkuhnya bahuku lalu memelukku erat.
" Kamu tahu nggak, hal yang paling membuatku nyaman adalah berada di dekatmu. Ijinkan aku untuk selalu menjagamu, melindungimu. Selama ini aku selalu jujur sama kamu, nggak ada niat untuk menyakitimu." Raka berkata lembut di telingaku. Aku tak menjawab, kubalas pelukannya dan kubenamkan kepalaku di dadanya yang bidang.
__ADS_1
Entah berapa lama kami dalam posisi ini. Begitu sadar aku langsung melepas tanganku dan menjauh darinya. Kutengok ke dalam lewat kaca jendela, kalau-kalau ada yang melihat kami. Ternyata nggak ada orang di ruang tamu, Winda dan adiknya sudah selesai belajar.
" Kok dilepas kenapa, takut ada yang ngintip ? " tanya Raka menggodaku.
" Bukan ngintip, tapi kalau ada yang melihat kan malu, " ucapku tersipu.
" Berarti kalau nggak ada yang melihat nggak malu kan. Kalau gitu kita masuk yuk," ajaknya lalu menarik tanganku.
" Eeh, mau apa ke dalam, jangan macam- macam ya ! " Aku memperingatkan Raka.
" Memang kamu pikir aku mau apa, di luar makin dingin lebih baik kita masuk." Raka menuntunku masuk ke ruang tamu, lalu menutup pintunya. Aku duduk di sofa panjang.
" Dari tadi belum minum kan, sebentar aku buatkan teh hangat." Raka menawariku minum lalu berlalu masuk ke dalam. Lima menit kemudian ia keluar membawa segelas teh hangat.
" Minum dulu mumpung masih hangat, " pintanya. Kuteguk teh buatannya, plong rasanya. Kutaruh lagi gelasnya di meja. Kita pun melanjutkan obrolan, Raka terus meyakinkanku jika malam itu tidak berbuat terlalu jauh.
Raka mengambil minumanku di meja, gantian dia yang minum. Lho ! Dia minum tehku, padahal kan ada bekas bibirku. Raka meletakkan gelas lalu melihat HP.
" Sudah jam 22.00 , kamu mau pulang apa tidur di sini. " Ia mengedipkan matanya. Aku melotot.
Aku masuk ke ruang tengah, hanya ada kakek dan ayahnya Raka. Aku pun pamit pada mereka, lalu kembali ke ruang tamu.
Sebelum pulang aku iseng menanyakan alamat rumah Ita. Raka bilang dia tinggal di kampung Kp.
Sampai di rumah, sebelum tidur aku menemukan ide. Aku tersenyum miring, lihat saja besok.
_________________
Besoknya, setelah sarapan dan belanja aku bilang pada ibu kalau ada urusan penting. Tanpa bertanya apapun ibu langsung mengijinkan. Mungkin mengira urusannya sama Raka. Sejak Raka punya pekerjaan tetap ibu selalu percaya padaku.
" Mau ke mana sih Mbak ? " tanya mbak Sri. " Nanti kuceritain, ini lagi ada Mission Imposible." Aku mengedipkan mata. Mbak Sri melengos.
Oke Aira, saatnya beraksi. Aku akan mencari alamat rumah Ita, dan menemui cewek gatel itu. Aku cuma ingin tahu seperti apa cewek yang dengan pedenya ingin memiliki Raka. Untung kampung Kp nggak jauh dari pasar, aku bisa naik angkot dari situ.
__ADS_1
Setelah bertanya sana sini akhirnya kutemukan juga. Rumahnya kecil, letaknya di gang sempit. Aku sempat ragu apa benar ini rumahnya. Secara dia bekerja di Malaysia masa rumahnya kecil.
Tok tok tok ! Kuketok pintu rumahnya. Kudengar suara seseorang berjalan ke arah pintu. Kreeek ! Muncul seorang perempuan yang kira-kira sebaya dengan mbak Nia.
" Assalamualaikum ! " sapaku. " Mbak, apa benar ini rumahnya mbak Ita. Yang bekerja di Malaysia." Aku langsung to the point bertanya.
" Wa alaikum salam. Iya benar, adik ini siapa ya ? " Mbaknya balik bertanya padaku. " Silakan masuk,"Ia mempersilakan.
Aku pun masuk dan duduk di ruang tamu yang langsung berhadapan dengan televisi.
" Saya teman sekolahnya, saya dengar Ita lagi pulang kampung jadi saya pingin ketemu. Sudah lama nggak ketemu kangen juga, nomer kontaknya hilang karena saya sempat ganti hp." Aku pun bersandiwara sesuai rencana.
" Waah, maaf dik. Ita sudah berangkat tadi pagi soalnya cutinya hanya 2 minggu. Kemarin dia keliling menemui keluarga dan teman-temannya. Terahir dia menemui paman dan bibi di kampung BT hari Sabtu malam. Sehari di rumah lalu tadi pagi Subuh dia berangkat ke bandara Jogja.." Lengkap banget si mbaknya menerangkan, padahal nggak penting juga buatku.
" Oh gitu. Mbak ini kakaknya Ita ya," tanyaku lagi. Terpaksa kujalankan rencana kedua.
" Iya, saya kakaknya persis. Nama saya Ika, saya anak pertama dan Ita nomer dua. Masih ada 2 lagi adik saya yang masih sekolah. Masa kerja Ita tinggal setahun kok, habis itu dia mau kerja di sini saja." Mbak Ika melanjutkan ceritanya. Aku pura-pura mendengarkan untuk meyakinkan aktingku.
" Iya Mbak di sini aja, anak gadis kerja di luar negeri nanti sulit dapat jodoh hehe." Aku asal komentar biar disangka peduli.
" Oya Mbak, saya boleh minta nomer kontaknya Ita ? Saya kangen banget pingin ngobrol sama dia." Aku memohon dengan wajah memelas.
" Sebentar saya ambil HP, kalau boleh tahu nama adik siapa, teman SMP apa SMA ? " tanya mbak Ika seraya mngambil HP nya.
" Nama saya Tuti, saya teman SMA ," jawabku asal. Kukeluarkan HP ku dari tas kecil yang kubawa. Mbak Ika menyebutkan beberapa angka dan ku masukkan ke daftar kontakku. Yess !
" Kalau begitu saya permisi ya Mbak, terima kasih atas bantuannya." Aku langsung pamit dan keluar.
" Nggak minum dulu, maaf nih dari tadi saya anggurin hehehe," ucapnya sambil terkekeh.
" Nggak apa-apa Mbak. Permisi, assalamualaikum," ucapku. " Waalaikum salam," jawabnya.
Bergegas kutinggalkan tempat itu. Sampai di gapura kampungnya aku menunggu angkot jurusan pasar. Lihat saja Ita, ku perkenalkan diriku sama kamu.
__ADS_1
*********************
Masih bersambung.