Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 55 Mengantar Saudara


__ADS_3

Tak terasa sudah sebulan lebih, hubunganku dengan Raka semakin dekat. Setiap Malam Minggu yang kita lalui hanya diisi dengan nonton, makan lalu duduk di taman kota.


Tapi malam ini ada yang lain. Raka datang bersama seorang cewek. " Hai " sapa Raka saat aku membukakan pintu untuknya.


Aku sempat melirik cewek di sebelah Raka. Dia tersenyum padaku. " Masuk yuk ! " ajakku pada mereka berdua. Dalam hatiku bertanya-tanya, siapa gadis ini.


" Kenalkan ini Santi, kakak sepupuku. Dia baru datang dari Surabaya." Raka mengenalkannya padaku. Ooh ternyata sepupunya.


Dalam hati aku bersorak lega, karena tadi sempat ada rasa cemburu. Kami pun bersalaman. " Santi," cetusnya. " Aira," balasku.


" Silakan duduk , aku buatin minum dulu ya." Aku pun masuk, ibu dan mbak Nia yang ada di ruang tengah sedang menonton TV.


" Itu Raka sama siapa Ra? " tanya ibu seraya beranjak dari duduknya. " Kakak sepupunya," sahutku lalu masuk ke dapur.


Ibu menemui mereka di ruang tamu. Setelah berbasa basi sebentar ibu masuk kembali. Aku membawa 2 gelas teh hangat ke ruang tamu.


" Silahkan diminum, Mbak ! " tawarku. Aku duduk di samping Raka di kursi panjang. Santi duduk di depan kami di kursi tunggal. " Terima kasih," ucapnya tersenyum.


" Mbak Santi mau mengikuti test di sekolah kedinasan di Jakarta. Makanya dari Surabaya mampir dulu ke sini, mau minta doa restu sama kakek dan nenek sekalian silaturahmi dengan saudara-saudara yang lain. " Raka menjelaskan tujuan kedatangan sepupunya.


Aku hanya mendengarkan tanpa menyela. Raka pernah cerita kalau dia tinggal bersama keluarga besarnya. Tanah kakeknya yang luas, dibangun beberapa rumah yang ditempati paman dan bibinya jiga. Sedangkan keluarga Raka tinggal serumah dengan kakek neneknya di rumah yang paling besar.


" Memangnya Mbak Santi baru lulus SMA tahun kemarin ?" tanyaku berbasa basi. Kalau kulihat usia Santi ini tak jauh beda denganku.


" Aku lulusnya bareng sama Raka, tapi aku kemarin sempat bekerja dulu setahun. InsyaAllah tahun ini mau ikut test di sekolah kedinasan." Santi menjawab pertanyaanku.


Kami mengobrol bertiga, tetapi Raka yang lebih dominan bicara. Sesekali aku menimpali, sedangkan Santi hanya mendengarkan dan bicara jika ditanya. Mungkin masih sungkan denganku.


Sekitar jam 21.00 Raka dan Santi berpamitan. " Aku pulang dulu ya, besok aku ke warung deh." kata Raka. Ia hendak berpamitan sama ibu dan ayah, tapi mereka sudah masuk kamar.


Sepulangnya Raka, beberapa menit kemudian mas Joni pulang. Aku yang membukakan pintu karena mbak Nia sedang menyusui di kamarnya.


" Tumben malam Minggu Aira di rumah. Biasanya belum pulang." Mas Joni meledek ku. Mbak Nia yang mendengar suaranya pun keluar dari kamar.


" Cowoknya tadi ke sini sama cewek lain, terus ditinggal deh ! " Mbak Nia malah ikut mengompori.


" Serius ? Masa sih ! " tanya mas Joni heran. Tapi kemudian ia malah tertawa ngakak. " Hahaha ! "


" Berisik banget sih kalian. Arkana bangun tuh ! " kuomeli saja mereka berdua. Anaknya tidur malah bapak emaknya bercanda. Aku pun beranjak ke kamar tidur.


Cuit cuit ! Handphoneku berbunyi, pasti Eva. Kulihat di layar notifikasi, ternyata benar dia.


[ Aira, besok pagi jadi ke CFD lho ya. Awas kalau nggak ]

__ADS_1


[ Iya bawel. Udah ah aku mau tidur ]


[ Hei, baru jam segini udah mau tidur. Ngambek ya gara-gara Raka nggak ngajak keluar. 😜 Malah sama cewek lagi, siapa sih dia ? ]


[ Dasar tukang ngintip. Iya tuh, katanya sih sepupunya. Ngapain juga diajak ke sini sebel deh 😤 ]


[ Cieee ada yang cemburu nih. Ya bagus kan biar kamu bisa kenalan, jadi tahu keluarganya Raka ]


[ Halloow .. sama orang tuanya saja aku belum pernah dikenalin, ini malah sama saudara jauh. Paling juga sepupunya itu nemplok aja sama Raka, suruh menemani ]


[ Ya sudah ga papa. Paling cuma berapa hari ]


[ Jadi illfeel tahu nggak, udah ah tidur aja. Besok kamu ke sini pagi-pagi biar aku diijinin sama ibu ]


[ Oke siaap 👍 ]


____________


Pukul 6.00 pagi ibu hendak berangkat ke warung bersama mas Joni. Saat membuka pintu Eva pun muncul. "Selamat pagi Buk, Aira boleh kuajak ke CFD nggak ? " pintanya pada ibu. Aku hanya mendengarkan dari dalam kamar sembari memakai baju setelah selesai mandi.


" Ya bolehlah, tapi jangan kelamaan soalnya hari Minggu warung selalu ramai ." pesan ibu. " Baik Buk, ' jawab Eva.


Setelah itu tak kudengar lagi suara ibu, mungkin sudah berangkat. Aku juga bergegas keluar setelah semua siap.


" Tahu nggak, tadi malam kan Raka pulang sekitar jam 9. Mungkin dia nggak enak karena cuma sebentar, terus dia bilang kalau nanti mau ke warung. Tapi aku nggak yakin, pasti sepupunya minta diantar ke mana gitu. Buktinya ke rumahku aja ngikut." Aku memberi tahu Eva tentang rencana Raka.


" Bisa jadi, tunggu aja nanti dia datang nggak. Tapi wajar lah kalau sepupunya minta diantar ke mana. Raka kan tuan rumah sudah sepantasnya melayani tamu apalagi masih saudara." Eva mengungkapkan pendapatnya.


" Memang sih, tapi kan bukan hanya Raka. Mereka keluarga besar, ada anak pamannya juga kan. Tinggalnya berdekatan kok," kataku lagi.


" Makanya ngak usah menebak-nebak, lihat saja nanti," cetus Eva. Akhirnya kita sampai di alun-alun. Eva langsung berjalan mendahuluiku berburu jajanan kesukaannua.


Setelah puas berkeliling dan membeli beberapa makanan kita berdua meninggalkan lokasi CFD. Eva memilih naik angkot sampai ke rumah karena aku akan langsung ke warung. Jaraknya ngga terlalu jauh jadi aku bisa jalan kaki.


" Hai Aira, habis dari CFD ya. Ketahuan bawa kantong kresek pasti isinya jajanan. " Mbak Wiwit yang baru mau membuka toko menyapaku serta menebak bawaanku.


" Mbak Wiwit bisa aja. Iya nih temanku maksain buat jalan ke CFD, maklum anak kuliahan jarang pulang kampung hehehe," jawabku seraya masuk ke warung. Pengunjungnya pasti sudah ramai sejak tadi. Kutaruh tas dan jajananku lalu bergegas membantu mbak Sri.


" Mbak tolong angkatin piring-piring di depan biar saya cuci dulu," pintanya. "Oke ! " cetusku lalu kuambil piring-piring kotor di meja dan kubawa ke dapur. Beberapa menit kemudian kita sudah sibuk dengan tugas rutin.


Sekitar jam 10.00 HP ku berbunyi, ada pesan WA dari Raka. Tumben dia ngechat di jam kerjaku.


" Aira, maaf ya aku nggak jadi ke warung siang ini. Mbak Santi minta ditemani ke Candi Borobudur dan candi Prambanan. Dia pingin banget ke sana."

__ADS_1


Tuh kan bener, pasti akhirnya nggak bisa datang. Tahu gitu mending nggak usah janji daripada ngga bisa menepati. Aku juga maklum kalau dia lagi ada saudara yang datang. Aku bersungut jengkel.


" Kenapa Mbak kok wajahnya cemberut gitu ? " tanya mbak Sri. " Tadi terlihat ceria kok habis buka HP jadi nggak semangat, " lanjutnya lagi.


" Itu si Raka, sudah tahu lagi ada sepupunya kok pakai janji mau ke sini. Akhirnya nggak jadi, malah bikin kesal kan. Biasanya juga nggak pernah ke sini selain malam Minggu. " Aku menjelaskan seraya mecerucutkan mulutku.


" Sabar Mbak Aira, mungkin Raka lagi sibuk. Memang ada apa sama sepupunya ? " tanya mbak Sri agak bingung.


" Jadi gini, tadi malam Raka datang mengajak kakak sepupunya cewek. Terus kita mengobrol bertiga. Jam 9 malam mereka pamit pulang, tapi Raka berjanji mau ke warung Minggu paginya.. Nyatanya barusan dia kirim pesan kalau nggak bisa ke sini karena sepupunya minta diantar wisata ke candi Borobudur dan Prambanan. " Aku menceritakan duduk permasalahannya. Mbak Sri mulai paham.


"Mungkin dia sungkan mau menolak permintaan saudaranya. Aku terdiam, malas membahasnya


karena terlanjur kecewa.


Sekitar satu jam emudian Raka mengirim foto situasi di Borobudur. Ternyata mereka pergi beramai-ramai. Ada saudara-saudara yang lain juga. Maklum keluarga besar tinggalnya berdekatan.


Malam harinya saat menjelang tidur Raka mengirim pesan WA.


[ Hai Aira, besok siang aku jemput ya..Aku mau mengajakmu mengantar mbak Santi ke Jogja. Mau kan ]


[ . Memangnya tadi belum puas kok masih mau lanjut ke Jogja ]


[ Enggak, mbak Santi mau berangkat ke Jakarta. Tapi dia mau menemui temannya dulu di Jogja terus sorenya mereka berangkat ke Jakarta ]


[ Oh gitu , oke deh aku temenin kamu ] .


[ Sampai ketemu besok ya.... bye ] Raka mengakhiri chatnya.


___________


Pukul 11.00 siang aku sudah siap nenunggu Raka. Tentu aku juga sudah minta ijin sama ibu jika mau diajak Raka ke Jogja.


" Hati-hati di jalan Aira, jangan minum es soalnya tadi barusan minum obat anti mabuk. " Ibu mewanti-wanti aku. Memang sejak kecil aku sering mabuk kalau naik bus.


Setelah berpamitan kami berdua berangkat naik angkutan kota jurusan terminal. Ketika lewat gapura kampungnya Raka meminta berhenti. Mbak Santi sudah menunggu di situ bersama seorang ibu paruh baya. Raka bilang itu neneknya yang berarti neneknya Santi juga.


" Nanti kalau sudah sampai Jakarta jangan lupa langsung telpon ya, kabari juga ayahmu yang di Surabaya jangan sampai ibumu khawatir.. " bla bla bla. Neneknya berpesan banyak pada Santi.


Raka menaikkan barang bawaan yang berisi oleh-oleh ke atas mobil. Beberapa menit kemudian kita sampai di terminal. Bis yang akan kita tumpangi sudah menunggu penumpang. Raka memasukkan barang2 ke bagasi. Aku juga ikut membantu. Kemudian kita masuk dan duduk di kursi penumpang.


________________


Lanjut besok ya. Penulis minta maaf karena up date nya lama. Selanjutnya mungkin bisa lebih cepat. please vote like dan komen ya !

__ADS_1


__ADS_2