Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 14 Dia Nembak Aku


__ADS_3

Seusai acara Pentas Seni RW tempo hari,aku dan Widi jadi sering bertemu. Entah kebetulan atau memang dia sengaja aku ngga tahu. Tapi setiap kali aku lagi menunggu angkot saat berangkat kerja dia pasti ada di situ. Setelah gajian pertama aku memang sering naik angkot karena nggak enak nebeng terus sama mbak Murni.


"Pagi Aira ! Mau berangkat ya ?" Pagi ini Widi menyapaku. Ia sudah nongkrong di atas motornya.


"Sudah tau masih nanya," jawabku sambil ketawa.


"Pingin dengar suara kamu aja. Boleh kan ?" dia memberi alasan.


"Memangnya aku burung pagi-pagi mau didengerin suaranya," kataku seraya mencerucutkan bibir.


Widi tertawa menyaksikan tingkahku.


"Aku antar aja yuk ! Sekalian berangkat kerja. Kebetulan kita searah." Ia menawarkan diri. Aku ragu untuk menerima tawarannya. Tapi kalau kutolak nanti aku bisa kesiangan karena dari tadi belum ada angkot lewat.


"Ayolah ! Ngga usah takut aku nggak gigit kok," bujuknya lagi seraya bercanda. Aku jadi tersipu. Akhirnya aku pun menerima tawarannya.


Tak lama motornya pun melaju membelah ramainya jalan raya di waktu pagi.


Sampai di sekolahan aku turun dan Widi berlalu menuju tempat kerjanya. Ia memang sudah bekerja setahun yang lalu. Usianya 2 thn di atasku. Lulus SMA dia kursus 1 th dan langsung bekerja.


"Assalamualaikum Bu Aira." Adit dan Riski berlari menyambutku. Mereka menyalami dan mencium tanganku. Anak-anak yang lain juga tak ketinggalan ingin menyalamiku.


"Bu Aira, dapat salam dari Oom Raffi," seru Adit tiba-tiba. Aku pun kaget seketika. Aku memberi kode pada Adit dengan menempelkan jari di bibir.


Adit langsung terdiam tapi seperti menahan tawa.


Untung belum banyak yang datang.


" Ciyeee... yang tadi diantar cowok sekarang dapat salam juga. Pasti bingung nih mau pilih yang mana."


Waduuh ! Ternyata Bu Riris mendengar seruan Adit. Beliau berdiri di depan pintu sehingga bisa mendengar Adit yang bicara keras tadi.


"Itu tadi tetangga saya Bu Riris. Kebetulan kita searah jadi dia nawarin tumpangan" jelasku. Aku melangkah masuk untuk menaruh tas kerjaku. Kemudian bersama bu Heni menemani murid-murid bermain di dalam kelas. Mbak Murni dan bu Diyah sedang berbincang di kantor Kepsek.


Beberapa saat kemudian mereka berdua keluar dan mengajak murid-murid masuk kelas. Pelajaran pun dimulai.

__ADS_1


Sausai semua tugas kukerjakan saatnya aku pulang. Baru saja keluar dari gerbang tiba-tiba berhenti sebuah motor yang sudah kuhafal tepat di depanku. Widi membuka helmnya. Ia mengangguk dan tersenyum pada mbak Murni dan yang lain.


Ehem.. ehem. Mulai deh bu Riris dan bu Heni menggodaku.


"Sudah mau pulang Aira? ayo naik !" Ia meminta aku untuk naik motornya.


"Kok kamu repot-repot jemput sih, aku kan bisa naik angkot." Aku mengungkapkan alasan.


"Aku nggak repot kok. Ini sekalian istirahat makan siang," jelasnya. Lagi -lagi alasannya memang tepat.


Aku nggak boleh berfikiran macam-macam karena sekali lagi ini hanya kebetulan. Begitu juga ketika ia mengantarku tadi pagi. Aku pun berpamitan pada rekan guru dan motor pun meluncur menuju rumah.


Sampai rumah aku berganti pakaian dan sholat dzuhur. Guyuran air wudhu menyegarkan wajahku.


Seusai sholat aku melanjutkan tugasku membantu di warung makan.


Ketika sedang makan siang, ibu yang baru selesai sholat dzuhur menegurku.


"Aira, kata kakakmu kamu sering ketemuan sama Widi ya?" Ibu menanyaiku.


" Nggak kok Bu. Hanya kebetulan ketemu kalau aku lagi nunggu angkot. Dia mau berangkat kerja juga,"


"Tapi kata temanku Tutik kamu tiap hari ketemu. Dia sering melihat kalian ngobrol jika dia sedang menyapu teras rumah." Mbak Nia ikut bicara.


Rumah mbak Tutik di samping gapura. Aku memang sering melihatnya menyapu kalau pagi.


"Ya nggak tahu namanya juga kebetulan. Lagi pula yang nunggu angkot di situ nggak cuma aku. Itu kan tempat umum." Aku membela diri. Memang cuma kebetulan kok. Menurutku begitu.


"Itu menurutmu. Tapi siapa tahu si Widi itu sengaja nungguin kamu. Alasannya saja mau berangkat kerja." Mbak Nia mencoba menerka.


"Nia benar. Mungkin anak itu ingin mendekatimu. Bukannya ibu tidak mengijinkan kamu pacaran. Tapi alangkah baiknya dia datang bertamu kemari. Bukan ketemu di jalan. Kamu itu masih punya orang tua, bukan anak jalanan." Ibu menasehatiku.


"Tapi aku nggak pacaran sama dia Bu," sanggahku.


"Pacaran atau tidak pokoknya ibu tidak suka kamu berduaan sama laki-laki di tengah jalan. Kamu bilang sama dia kalau ingin mengobrol main ke rumah. Kalau dia memang suka sama kamu pasti dia mau datang ke rumah." Ibu menambahkan panjang lebar kali tinggi.

__ADS_1


"Contoh kakakmu Nia. Joni nggak pernah menemui di tengah jalan.Pasti kemari menemui ayah dan ibu."


Tuh kan pasti ibu membandingkan aku dengan mbak Nia. Padahal belum tentu juga Widi ingin mendekatiku. Mungkin memang kebetulan seperti yang dikatakannya.


______


Keesokan harinya saat aku menunggu angkot di gapura. Dari jauh aku melihat Widi sedang menuju kemari dengan motornya. Aku mengarahkan pandanganku ke arah lain, pura-pura nggak tahu.


"Pagi Aira. Seperti namamu pasti selalu segar." Ia mulai melancarkan gombalan. Mbak Tutik melihat ke arah kami sambil menyapu. Seketika aku bicara pada Widi.


"Emm... maaf sebelumnya. Sebaiknya kamu jangan sering-sering menemui aku dong, nggak enak kalau ada yang melihat. Dikiranya kita pacaran. Soalnya tiap hari ketemu bahkan kemarin kamu malah mengantar aku ke sekolah," ungkapku.


"Memangnya kenapa kalau kita dikira pacaran ?" tanya Widi.


"Ya malu lah. Orang kita memang nggak pacaran kok. Ada yang bilang sama kakakku kalau kita sering berduaan di sini. Ibuku juga tahu dan kemaren aku ditegur sama ibu. Padahal kan kita hanya mengobrol biasa. Eh pada salah paham." Aku memceritakan pada Widi apa yang kualami.


"Gitu ya. Oke, kalau gitu biar nggak ada salah faham gimana kalau kita benarin aja pendapat mereka?" kata Widi sambil menatapku lekat.


" Mm... mm.. maksud kamu gimana?" Kok aku jadi gugup begini.


"Maksudku, kita pacaran beneran.Jadi mereka ngga akan salah faham lagi. Gimana?" tanyanya lagi.


"Jangan bercanda aah ! Masih pagi juga." Aku jadi salah tingkah.


"Aku serius." Ia mengangkat dua jarinya. Aku masih bingung mendengar ucapannya.


"Hei ! Kok malah bengong. Jadi gimana, mau kan jadi pacar aku? " Widi mengulang pertanyaannya.


"Kata ibu, kalau kamu memang ingin mendekatiku kamu harus datang ke rumah.Ngga boleh ketemuan di jalan seperti ini." Hanya kalimat ini yang bisa aku utarakan. Aku belum bisa menjawab pernyataan Widi yang terlalu tiba-tiba. Dan ternyata aku sudah kesiangan.


"Astaga! Ini sudah hampir jam 7.00. Nanti aku ditegur bu Diyah kalau terlambat ! " kataku panik.


"Ya udah ayo naik ! jangan lupa pegangan karena kita akan ngebut biar cepat sampai," pintanya.


Aku pun segera membonceng di belakang. Tak lama Widi segera menancap gas motornya. Aku kaget karena dia betul-betul ngebut. Tanpa sadar aku memegang pinggangnya karena takut jatuh.

__ADS_1


________&&&_______


Masih berlanjut gaess. vote like dan komentar ya!


__ADS_2