
Acara melamar ala-ala sinetron telah usai. Kami juga sudah puas berkeliling mengitari taman wisata ini. Selanjutnya mencari masjid terdekat untuk beribadah siang. Setelahnya Raka mengajakku mampir ke tempat famili yang tadi dijanjikan nya.
" Masih jauh kah tempatnya ? " tanyaku ketika kami melewati jalan pedesaan. Di kanan kiri terbentang sawah dan perkebunan. Kata Raka rumah familinya terletak di pedesaan di satu kecamatan yang ada di kabupaten Sleman.
" Agak jauh , tapi perjalanan nggak akan terasa karena di kanan kiri banyak pepohonan dan sawah- sawah yang menghijau. Pasti kamu suka melihat pemandangannya," ujarnya sambil menunjuk di kejauhan. Nampak deretan pohon rambutan dan kelengkeng yang sudah berbuah Ada juga pohon-pohon lainnya. Perjalanan terasa adem, berbeda kalau melewati jalan perkotaan yang panas dan polusi.
" Nah, sampai deh. Yuk turun," ajak Raka ketika kita sampai di depan rumah yang halamannya luas Di kanan kiri ada beberapa pohon buah juga.
Seorang ibu paruh baya keluar dari rumah dan tersenyum saat melihat kedatangan kami.
" Assalamualaikum Nenek Sarti " Raka mengucapkan salam sambil mengulurkan tangan menyalaminya.
" Waalaikum salam, ini Raka ya ! Ya ampun sudah lama nggak pernah mampir ke sini kamu." Perempuan yang dipanggil nenek Sarti tersebut menyambut uluran tangan Raka dan juga aku. Lalu menyuruh kami masuk.
Tak lama berselang muncul seorang laki-laki paruh baya juga, kata Raka namanya kakek Marto.
" Tumben mampir kemari, keluarga di rumah sehat kan ? " tanya beliau langsung pada Raka. Kami berdua pun menyalaminya.
" Alhamdulilah sehat Kek," jawab Raka Kami pun duduk di kursi kayu jati kuno. Model rumah ini juga masih model lama, namun bangunannya masih kokoh. Sepertinya kalau jaman dulu sudah paling bagus.
Nenek Sarti masuk ke dalam, lima menit kemudian dia keluar membawa beberapa makanan kecil. Di belakangnya ada perempuan seusia mbak Rina atau mbak Tika membawa minuman dan menaruh di meja.
" Ayo minum dulu, pasti haus dan capek kan naik motor. Ini juga ada jajanan bikinan mbak Siti ayo dicicipi. " Nenek menawarkannya pada kami. Yang disebut mbak Siti ikut duduk bersama kami. Dia anaknya nenek Sarti.
Kata Raka, nenek Sarti itu adik dari ibunya bu Harti. Atau bibinya bu Harti. Pantas saja dia belum begitu tua tapi Raka memanggilnya nenek.
" Kalau mau sholat di belakang ada kamar kosong. Nanti sholat di situ saja sekalian istirahat dulu jangan buru-buru pulang." Kakek berkata sambil beranjak. " Kakek juga mau sholat Ashar dulu," lanjutnya lagi. Nenek dan mbak Siti juga beranjak masuk.
" Terima kasih Kek," sahut Raka lalu mengajakku keluar. " Lewat sini aja," cetusnya seraya menggandeng tanganku. Rupanya dia hendak menunjukkan kamar yang dimaksud kakek tadi. Letaknya memang di belakang rumah tapi bangunan sendiri. Kami ke sana lewat samping rumah, karena tanah dan kebun di sekitar rumah ini juga masih milik kakek Marto.
__ADS_1
" Masuk yuk !" ajak Raka saat kami tiba di bangunan kecil belakang rumah. Di depan bangunan ada pohon rambutan yang nggak terlalu tinggi tapi buahnya banyak.
Kreek ! Kebetulan kamarnya nggak dikunci. Begitu masuk udaranya terasa adem. Raka menaruh ransel di samping ranjang.
" Tuh kalau mau ke kamar mandi sekalian wudhu, biar aku bersihkan dulu kamarnya," kata Raka sambil menunjuk ke satu pintu di bagian ujung ruangan ini. Aku meletakkan tas selempang dan handphone lalu masuk ke kamar mandi.
Keluar dari kamar mandi ternyata kamarnya sudah rapi dan bersih. Raka juga sudah menyiapkan mukena sekalian menggelar dua sajadah di lantai.
" Kita jamaah ya, tunggu sebentar aku wudhu dulu. " Raka mengajakku sholat bareng. Aku mengangguk dan menunggunya selesai wudhu.
Seusai sholat kurapikan kembali mukena dan sajadahnya. Raka membaringkan tubuhnya di lantai. " Aah nyaman banget tiduran di lantai, " celetuknya. Ia meletakkan kedua tangan di bawah kepala. sambil menatap langit kamar.
" Kok malah tidur di lantai, ini kan ada springbed." Aku pun menegurnya.
" Kamu saja yang tidur di situ, atau kamu mau aku tidur di situ juga, hmm ?" Raka menyeringai nakal sambil mengedipkan mata. Ku lempar bantal ke mukanya. Hup ! Langsung ditangkap sama Raka.
" Kamu lagi ngapain, memangnya kamu nggak tidur dari tadi ?" tanyaku heran.
" Aku juga tidur, tapi barusan saat bangun aku lihat wajah kamu lucu banget pas tidur, apalagi tadi kamu juga ngiler. Jadi aku abadikan saja kesempatan langka ini." Raka menjelaskan sambil senyum-senyum melihat ke handphonenya.
" Iiih kamu curang, masa aku lagi tidur difoto. Awas ya besok kalau kamu tidur aku balas." Aku pun langsung cemberut.
" Bukan cuma difoto, tapi aku rekam hahaha ! " Raka tertawa penuh kemenangan.
Aku langsung menubruknya dan memukuli tubuhnya. Tapi tanganku yang kecil malah ditangkapnya, dan aku pun tak berkutik. Ditariknya tanganku dan mengecupnya lembut. Aku memejamkan mata menikmati hangat bibirnya yang menyentuh jemariku.
Tak kusangka Raka merengkuh tubuhku dan mendaratkan kecupan di kedua pipiku. Aku membuka mata karena terkejut tapi juga nggak marah. Raka tersenyum. Ia mengelus pipiku perlahan, kemudian menyentuh bibirku. Raka mendekatkan wajahnya, sangat dekat. Aku malu menatapnya, lalu kupejamkan mataku.
Cup ! ada sesuatu yang hangat menempel di bibirku. Apakah dia mengerjaiku seperti waktu itu. Kubuka sedikit mataku, ternyata bibirnya yang mengecup bibirku. Oh em ji, seperti ini rasanya dicium. Ini adalah ciuman pertama bagiku.
__ADS_1
Selanjutnya bibirku sudah dikulum oleh Raka dan aku menikmatinya. Namun ini tak berlangsung lama karena ia segera mengakhirinya.
" Maaf, aku terbawa suasana." Raka minta maaf laku mengecup keningku. " Sudah hampir jam 17.00 , kita pulang supaya nggak kemalaman." Ia berdiri dan mengemasi tasnya dan juga tas selempang milikku. Aku sendiri membenahi penampilanku. Memakai bedak sedikit lalu merapikan jilbabku. Setelah semua beres kita pun keluar dari kamar.
" Sudah istirahatnya ? Kalau gitu sekarang makan dulu ya, sudah disiapkan dari tadi tapi kalian nggak keluar- keluar." Mbak Siti menyambut kami di pintu dapur.
" Maaf Mbak kita ketiduran tadi. Habisnya udaranya sejuk jadi keenakan." Aku memberikan alasannya supaya dia nggak berpikiran macam-macam.
" Ya sudah ayo masuk," ajaknya. Kami pun masuk lewat pintu dapur lalu ke ruang makan. Tanpa menunggu lagi Raka menyendokkan nasi untukku dan dia sendiri.
Selesai makan kami ke ruang tamu berniat pamit tapi kakek dan nenek tidak kelihatan dari tadi.
" Kakek sama nenek ke mana Mbak?" tanya Raka pada Mbak Siti.
" Tadi sih di halaman depan," sahut mbak Siti. Pantas saja kita nggak tahu, karena dari kamar belakang tadi kita masuk lewat dapur jadi nggak melihat kakek dan nenek di depan.
Bruk ! Kakek Marto masuk dan meletakkan karung berisi rambutan dan kelengkeng di dekat meja tamu. Nenek Sarti menyusul di belakangnya.
" Ini nanti dibawa ya, buat oleh-oleh yang di rumah. tapi kelengkengnya baru sedikit yang keluar." Beliau meminta kami membawanya sebagai oleh-oleh.
" Nggak pa pa Kek, terima kasih banyak. Oya, kami mau pamit sekalian, sudah sore." Raka menggandeng tanganku. Kami menyalami mereka berdua. Mbak Siti keluar dari dapur membawa kantong plastik. Ia memasukkan makanan kecil di atas meja ke dalam plastik dan menyerahkan padaku.
" Ini buat cemilan di jalan," ucapnya. Aku mengucapkan terima kasih lalu bersalaman.
" Salam buat ibumu ya, sama yang lain juga ! " pesan nenek Sarti. Raka menganggukkan kepala lalu menyalakan motornya. Aku melambaikan tangan pada mereka.
Healing kita kali ini begitu berkesan. Aku pasti merindukan mereka.
__________&&&__________
__ADS_1