Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 120 Kedatangan Seseorang


__ADS_3

Sabtu sore mas Raka datang ke rumah. Ia tidak mampir ke warung tadi makanya kelihatan segar dan wangi, karena sudah mandi hehe.


Aku sendiri baru selesai membersihkan tubuh sekalian sholat juga. Kutemani mas Raka di ruang tamu, tentunya dengan dua gelas coklat panas sama biskuit dan beberapa buah kue.


" Kamu ngapain sih sayang, kayak orang tua ada minuman ada makanan. Kita kan mau keluar nggak cuma duduk di rumah." Mas Raka menegurku.


" Keluar ke mana, kamu nggak bilang tadi. Aku udah beli ini tadi waktu jalan pulang dari warung. Huuuh ! " ucapku bersungut.


" Nggak ke mana-mana sih, cuma mau kuajak ke rumah. Nenek nanyain kamu lho," tukasnya.


" Hhhehh, yang selalu nanyain aku cuma nenek, yang lain tidak pernah." Aku melengos.


" Eh, mmm.. ya tidak dong. Kakek juga nanyain kok, Winda sama Rama juga, hehe ! " sahutnya lagi.


Aku tak menjawab, entah lah kalau diajak ke rumahnya aku merasa enggan. Bukannya tidak suka tapi aku sungkan kalau ketemu bapaknya. Meskipun dia bersikap biasa jika kusalami, lalu menawariku minum atau makan. Tapi kelihatan seperti dipaksakan, tidak tulus seperti ibu dan neneknya. Kalau kakek memang jarang bicara, soalnya kalau menonton televisi sambil mengantuk.


" Gimana Sayang, kok malah diam. Kalau nggak mau ya sudah kita di rumah saja Mungkin kamu capek," ujar mas Raka akhirnya.


Aku tidak mungkin mengungkapkan alasan sebenarnya, takut dia tersinggung atau sedih. Toh ini bukan masalah besar yang bisa mengganggu hubungan kami.


" Kalau capek sih tidak Mas, tapi aku suka ngantuk kalau ke rumahmu. Habisnya diajak ke kamar melulu. Udah gitu nanti kalau ngantuk tetap harus pulang, nggak mungkin lah aku tidur di kamarmu."


" Jadi itu alasannya. Ya sudah nanti kalau ngantuk aku nggak akan mengajakmu pulang. Biar kamu tidur aja di kamarku, gimana oke kan ? "


" Bukan begitu, iih Mas Raka suka melenceng kalau bicara soal kaya gini. Sudah ah, aku nggak mau jelasin." Aku menggerutu.


" Kok marah sih, ya udah mau jelasin apa aku dengerin deh," bujuknya seraya mengusap lenganku.


" Nggak mau ! Sudah jelas kan tadi," cetusku. Aku pura-pura ngambek, nggak mau bicara lagi. Mas Raka garuk-garuk kepala, aku tersenyum dalam hati.


" Oke.. oke, sekarang aku nurut kamu aja. Kita duduk santai sambil ngobrol, minum coklat panas sama makan kue. Eh, tapi coklatnya udah nggak panas lagi, hahaha ! " Ia pun mengeluarkan idenya.


" Masih hangat kok, ini pegang gelasnya masih panas," sahutku spontan sambil memegang gelas coklat.


" Kena deh, akhirnya mau ngomong juga, haha ! " serunya. Ternyata dia mengelabuiku. Aku langsung cemberut lagi.


" Sini aku minum coklatnya, mumpung masih hangat. Srluup aah.. nikmatnya, manis seperti yang bikin." Mas Raka melancarkan rayuan. Aku hendak tersenyum tapi kutahan.


" Biskuitnya juga pasti enak nih. Kucicipi aah ! " lanjutnya seraya mengambil biskuit yang kutaruh dalam toples kecil. Tak urung aku pun mengikutinya menikmati coklat hangat dan makanan kecil.


Baru beberapa menit kami minum dan ngobrol, ada yang mengetuk pintu.


" Siapa itu Ra, malam-malam bertamu ? " tanya mas Raka menghentikan kunyahannya.

__ADS_1


" Nggak tahu lah, biar kutengok," kataku seraya berdiri dan membuka pintu.


Sungguh tak kusangka, yang berdiri di depan pintu adalah teman SMP ku, namanya Muhammad. Aku benar-benar terkejut dengan kedatangannya.


" Assalamualaikum Aira, aku nggak mengganggu kan," sapanya dengan menyunggingkan senyum.


" Eh, waalaikum salam. Nggak.. nggak mengganggu kok, ayo masuk! " Kupersilakan dia ke dalam. Ku perkenalkan dengan mas Raka.


" Mas, ini Muhammad teman SMP ku. Muh, ini Raka teman dekatku." Baik mas Raka maupun Muhammad sama-sama terkejut. Mereka pun bersalaman.


" Silakan duduk Muh, aku buatkan minum," ucapku lalu masuk meninggalkan mereka dengan pikiran masing-masing.


" Siapa yang datang Ra ? " tanya ibu yang tengah makan malam bersama ayah. Aku mendekat pada ibu, mbak Nia yang sedang menunggui Arkana pun mengikutiku.


" Itu lho Buk, teman SMP ku yang dulu pernah menawariku pekerjaan. Waktu itu aku sempat diminta datang ke rumahnya, tapi ternyata tidak ada kelanjutannya. Ibu masih ingat nggak ? " Aku mengingatkan ibu tentang Muhammad, tentunya dengan berbisik.


" Oh yang dulu kamu ke rumahnya sampai nanya-nanya ke orang. Terus katanya mau ke sini tapi nggak pernah muncul itu. Ya ampun sudah lama sekali." Ibu juga berbisik menanggapi perkataanku.


" Iya Buk, sekarang tiba-tiba dia muncul di sini. Mana ada mas Raka lagi. Nanti disangkanya aku ada apa-apa sama dia." Aku berkata sambil membuatkan minum untuk Muhammad.


" Terus sekarang mau ngapain dia ke sini ? " tanya mbak Nia.


" Mana kutahu," sahutku dengan mengedikkan bahu.


" Maaf ya Aira, aku baru bisa datang sekarang. Habis sibuk terus, kalau pulang kerja sampai malam, hehehe." Belum sempat aku membuka suara Muhammad sudah bicara lebih dulu.


" Tidak apa-apa, aku malah sudah lupa. Soalnya sudah lama banget kok ya," balasku setengah menyindirnya.


" Sebenarnya waktu itu aku pernah mau ke sini. Aku ke rumah Dinda dulu mau minta dia mengantarku ke tempatmu. Tapi ternyata Dindanya pergi lalu aku malah pulang." Muhammad mengemukakan alasannya waktu itu. Dinda itu tetangga seusiaku, tapi ngga pernah bergaul dengan lingkungan sekitar.


Arkana berlari dari ruang tengah, ia langsung menubrukku. Aku pun langsung memeluk dan memangkunya. Muhammad masih melanjutkan ceritanya.


Sementara mas Raka hanya diam memperhatikan Muhammad. Bisa jadi ia tengah menunggu apa maksud kedatangan Muhammad dan siapa sebenarnya dia. Aku tahu mas Raka cemburuan, tapi dia tidak grasa grusu.


" Aku ke masjid dulu ya Aira," pamitnya hendak sholat Isyak. " Oh iya Mas," sahutku.


" Diminum dulu tehnya Muh, keburu dingin nanti." Aku mempersilakan dia minum.


" Ya terima kasih," ucapnya seraya mengambil teh di meja dan menyeruputnya.


" Kamu tahu nggak Muh, dulu itu aku betul-betul menunggu kamu lho. Kamu kan janji mau main sekaligus menjelaskan jenis pekerjaan apa yang kamu tawarkan padaku. Tapi ternyata kamu tidak pernah datang kemari." Akhirnya kutanyai dia saat tak ada mas Raka.


" Iya Ra, seharusnya waktu itu aku mencari rumahmu tanpa harus mengajak Dinda. Toh kamu juga bilang tak jauh dari rumahnya."

__ADS_1


" Padahal aku saja sudah bela-belain ke rumahmu, karena tawaranmu itu. Tapi kamu cuma mengajakku ngobrol bersama teman-temanmu, dan malah bilang akan menjelaskannya sekalian main ke rumahku."


Muhammad minta maaf padaku sekali lagi. Aku bilang jika telah melupakannya, aku hanya mengingatkan kejadian waktu itu. Ia pun melanjutkan obrolannya. Tapi Arkana juga mengajakku bercanda terus, aku sampai tak begitu memperhatikan yang dibicarakan Muhammad. Tak berapa lama mas Raka kembali dari masjid.


" Ya sudah Aira, aku pulang dulu ya ! " ucap Muhammad kemudian.


" Kok buru-buru Mas, belum juga ngobrol sama saya. Dari tadi cuma ngobrol sama Aira, hehe." Mas Raka menanggapinya.


" Ini mau mampir ke tempat teman, aku permisi ya Ra. Assalamualaikum," ucapnya.


" Waalaikum salam," balasku bareng mas Raka.


Sepeninggal Muhammad, mas Raka memandang lekat padaku, seakan minta penjelasan. Ibu dan mbak Nia juga keluar, pasti mau membicarakan Muhammad. Akhirnya kuceritakan kronologinya.


" Jadi begini, dulu sekitar setahun lulus SMA aku kan diajak sama Mbak Rina ke pasar malam. Sama mas Krisna dan Daffa juga. Tak sengaja ketemu Muhammad, kami saling menyapa sebagai teman SMP. Padahal dulu waktu sekolah malah nggak kenal karena tidak satu kelas.


Setelah saling bertukar kabar dia mengajakku bekerja, bergabung bersama timnya. Aku diminta datang ke tempatnya supaya tahu pekerjaanya apa. Aku bilang sama ibu dan ibu juga mendukung. Tapi sampai sana malah diajak ngobrol dan bercanda. Sama sekali tidak menyinggung soal pekerjaan.


Pada akhirnya Muhammad bilang, kapan-kapan mau main ke sini sekalian menjelaskan pekerjaan. Ya sudah aku pulang, cerita sama ibu. Tapi sekian lama menunggu dia nggak pernah muncul.


Sekarang tiba-tiba dia nongol, mau apa coba. Aku aja sudah ngga kepikiran. " Kuakhiri ceritaku lalu kuhabiskan sisa minumanku yang telah dingin.


" Kamu tahu maksudnya apa, dia itu mau macarin kamu. Memangnya kamu nggak ngerasa." Mas Raka berkomentar setelah menyimak penjelasanku.


" Masa sih, kalau memang maunya seperti itu kenapa nggak dari dulu. Aku mikirnya dia memang mau ngasih pekerjaan, tapi entah pekerjaan apa. Tadi aja dia nggak menyinggungnya." Aku berdalih.


" Itu kan cuma alasannya. Mungkin waktu itu dia udah punya cewek jadi nggak serius mendekatimu. Nah, mungkin sekarang ini dia jomblo lalu teringat sama kamu. Aku sih paham karena aku juga cowok." Mas Raka menerangkan argumennya.


" Aira suka nggak peka sih. Tadi juga malah asyik sama Arkana, padahal lagi diajak ngobrol sama tamu." Mbak Nia menimpali.


" Hehehe, habisnya Arkana juga nggak mau turun dari pangkuanku. Mau gimana lagi," sahutku asal.


" Tapi kan nggak sopan, dia kan bertamu baik-baik," tukas mbak Nia.


" Biarin aja, salah sendiri dulu membohongiku. Sorri sorry aja kalau tersinggung, hehe. Dulu aku juga kecewa kok," terangku.


" Aku sholat dulu ya Mas ! " cetusku. Mas Raka mengangguk.


_____________


Bersambung ya gaes. Jangan lupa vote like dan komennya yang banyak biar tambah semangat lanjut ceritanya.


thanks ! Lope Lope Lope...

__ADS_1


__ADS_2