
" Aku pijitin mau nggak ? " Mas Raka menawarkan diri. Aku memutar bola mataku dan mencebikkan bibir.
" Nggak mau, nanti kamu minta upah lagi," jawabku seraya mengurai pelukannya.
Mas Raka tersenyum simpul, lalu berkata," Upahnya sederhana kok, cuma minta itu." Ia menunjuk bibirku.
" Justru ini yang mahal harganya. Kalau minta upah 50 ribu malah aku kasih, huuuuuh ! " sahutku dengan mencerucutkan bibir.
" Halaah biasanya juga kamu yang minta." Mas Raka meledekku.
" Enggak lah ya, suka ngarang kalau ngomong. " Aku berkilah.
" Buktinya barusan, ngapain bibir kamu dimonyong-monyongin gitu. Mancing nih ! " Ia tertawa menyeringai.
" Emang aku bawa kail, mancing-mancing," sahutku lagi.
" Iih ngegemesin banget sih, sini kugigit kamu ! " Mas Raka menarik tanganku, tapi kusentakkan.
Aku berdiri dan menghindarinya. Jadilah kita kejar kejaran mengitari meja dan kursi ruang tamu. Namun tak ayal akhirnya ia berhasil menarik tanganku lagi dan langsung merengkuh tubuhku.
Ia menggelitik perutku. " Auw geli, hihihi , auw ! " Kubalas kugelitiki mas Raka. Kita berdua jadi tertawa cekikikan. Ibu sampai menghampiri ke ruang tamu.
" Ini anak ngapain sih berdua ramai banget, oalaah kaya anak kecil main geliltikan." Ibu menggeleng-gelengkan kepala lalu kembali masuk.
Mas Raka menghentikan aksinya, begitu juga aku. Ia mengambil minuman di meja lalu meneguknya.
" Duduk di teras yuk, jadi gerah nih habis lari-larian." Mas Raka membuka pintu lalu keluar. Karena memang merasa gerah lantas aku pun mengikutinya sambil menyambar kipas yang ada di sofa depan TV.
" Sini biar aku yang kipasin." Ia meminta kipas yang kupegang. Sedetik kemudian aku merasa terbawa angin, hehe salah. Tertiup angin, karena mas Raka menggerakkan kipas dengan kuat hingga kita berdua nggak kepanasan lagi.
Setengah jam duduk di teras sambil mengobrol dan makan cemilan. Mas Raka menengok jam di handphonenya.
" Aku pulang ya, besok berangkat kerja pagi-pagi. Biasa lah hari Senin."
Aku cemberut," Tuh kan baru sebentar udah mau pulang."
" Hei, jangan ngambek dong. Biar sebentar tapi kan ketemunya hampir tiap hari. Daripada lama tapi seminggu sekali, hayo mau pilih mana ? "
" Iya deh, aku nurut aja. Mas Raka juga pasti capek dan ngantuk kalau di sini sampai malam."
"Nah gitu dong, sekarang aku pulang ya. Cup cup !" Mas Raka mencium keningku, lalu kedua pipiku. Terakhir ia menyentuh bibirku dengan telunjuknya.
" Hati-hati ya," pesanku saat ia menyalakan motornya. Ia pun membunyikan klakson dan berlalu pergi.
Saat hendak menutup pintu pagar kulihat sekilas ternyata Ernest tengah duduk di teras. Sejak kapan dia di situ ? Sedari tadi aku tak tahu karena lampu terasnya temaram, apalagi dia memakai kaos hitam dan duduk di pojok.
Aku pura-pura tak melihat dan ingin segera menutup pagar. Tapi dia memanggilku.
" Mbak, mas Raka sudah pulang ? " tanya dia sembari berjalan ke arahku.
" Baru saja, kamu ngapain di situ, ngintip ya? " ucapku langsung menebak. Ingin tahu reaksi dia mau jawab apa.
__ADS_1
" Yee ge er, siapa yang ngintip. Kaya kurang kerjaan aja ngintip orang pacaran. Lagian nggak perlu diintip juga udah kelihatan, pacarannya aja di depan rumah."
" He eh, nyindir nih. Itu tadi karena di dalam berasa gerah lalu kita duduk di teras. Lagian kita juga nggak ngapa-ngapain kok." Aku berkilah.
" Beneran nggak ngapa-ngapain, terus tadi cipika cipiki itu apa ? " ucapnya lagi.
" Hei, sejak kapan kamu jadi paparazi. Katanya tadi nggak ngintip, kok tahu aku cipika cipiki. Itu tadi ungkapan perpisahan, tahu ? " terangku.
" Ungkapan perpisahan tapi bikin panas hati aja," Ernest bergumam,
Kenapa sih ini anak selalu saja tahu jika mas Raka tengah bersamaku. Terus apa dia bilang barusan, panas hati ? Apa ini ada hubungannya dengan kejadian tadi siang, saat dia meremas jemari tanganku.
" Kamu nggak belajar Dek ? " tanyaku mengalihkan pembicaraan.
" Belajar itu habis Isya. Jam segini waktunya istirahat. Lagian tadi kan libur nggak sekolah, nggak ada tugas ini," sahutnya.
" Eeh,jangan mentang-mentang tadi libur ya. Belajar itu tidak hanya kalau ada tugas. Terus waktunya istirahat kok malah keluar. Harusnya anak sekolah jam segini bobok manis, hihihi ! "
" Di depan bilang anak kecil, di belakang diam-diam mengagumi kegantenganku, hehe ! "
" Maksud kamu apa, siapa yang kagum sama kamu ?" tanyaku agak kaget. Apa dia ngomongin aku ya.
" Mbak Aira lah, dikira aku nggak tahu. Tadi siang diam-diam memperhatikan aku kan, waktu rambutku basah." Ia menyeringai.
Waduuh ! Ternyata dia tahu kalau aku tadi mengamatinya. Padahal aku sudah merasa aman tadi.
" Emm Dek, aku masuk dulu ya udah kebelet nih ! " ucapku lalu bergegas kututup pintu pagar. Aku berlari masuk ke dalam rumah.
" Raka bukannya sudah pulang dari tadi ? " tanya mbak Nia begitu aku masuk.
" Iya," jawabku singkat sembari mengambil minuman di meja makan.
" Lalu barusan kamu ngobrol sama siapa ? " tanya mbak Nia lagi. Wajahnya seperti menyelidik.
"Sama Ernest," tukasku. Mbak Nia melengos.
" Kalau ngobrol jangan malam-malam, nanti dikira yang bukan-bukan kalau ada tetangga yang melihat. Apalagi kamu juga sudah punya pacar." Dia menasehatiku.
" Iya aku tahu, itu tadi Ernest yang mengajakku ngobrol. Aku udah mau masuk tapi dia memanggilku. Kan nggak enak sama bu Dirja, bisa aja dia mengadu kalau kita nggak mengabaikannya." Aku membela diri.
Kenapa sih nggak orang lain nggak saudara semua seolah tidak suka kalau aku mengobrol sama Ernest. Apa karena Ernest masih SMA lalu aku sudah bertunangan lantas nggak boleh dekat.
Lagian dia sendiri yang selalu ingin mengajakku ngobrol, bukan aku yang mulai duluan.
*****************
" Mbak Aira, tunggu dong ! " teriak Ernest saat aku keluar dari rumah pagi ini. Ia setengah berlari mengejarku.
" Makanya cepetan," sahutku seraya memperlambat jalanku. Ernest menyejajari langkahku.
" Mbak Aira jalannya cepet banget, kok buru-buru sih ! " celetuknya.
__ADS_1
" Perasaan biasa saja, kamu tuh yang lelet haha ! "
" Enak aja, mau kutunjukkan kalau aku ini pejantan tangguh? "
" Lagu kali, Pejantan Tangguh, huuuu ! "
Kita pun sampai di gapura. Di situ juga ada beberapa cewek SMA yang tengah menunggu angkot.
" Hai Mbak Aira," sapa mereka ramah.
" Hai," balasku seraya tersenyum.
Cewek-cewek ini melirik Ernest yang nampak cuek. Mereka berbisik-bisik, maklum lah Ernest memang ganteng tentu mereka kagum. Apalagi ia tetangga baru.
" Ernest, tuh ada teman-teman sebaya kamu. Sapa dong jangan cuek gitu," bisikku pada Ernest.
Ia pun menoleh sekilas dan menyapa mereka," Oh hai semua, aku Ernest. Sudah pada tahu kan ? "
" Hai, Hai ! " balas cewek-cewek tadi dengan sumringah.
Tak lama angkot jurusan sekolah mereka datang, mereka semua naik setelah melambaikan tangan pada kami.
" Aku pikir cuma kamu anak SMA yang berangkat siang, ternyata masih ada lagi. Apa nggak takut telat ! "
" Ini masih jam 6.45, Mbak Aira yang kepagian. Tadi aja aku ditinggal." Ernest menggerutu.
" Apa iya, perasaan biasa saja. Apa karena tidurku nyenyak jadi bangun lebih pagi ya ? "
" Terang aja nyenyak, orang tadi malam dikasih vitamin." Ernest mencebikkan bibirnya.
" Mulai lagi deh, sirik aja ! " sungutku. Dia pun terdiam, hanya memandang ke arah jalan raya.
" Eeh ada Aira sama Ernest, kok bisa selalu bareng ya ! " celetuk seseorang tiba-tiba dari arah belakang.
Kami menoleh bersamaan, rupanya mas Hari yang mau berangkat kerja Kantornya hanya beberapa meter dari gapura, dia kan pegawai di kelurahan. Ernest melempar senyum dan menganggukkan kepala padanya.
" Pagi mas Hari. Kita cuma kebetulan bareng kok Mas," ucapku menyanggah kalimatnya, meskipun ini bohong.
Aku nggak mau ada gosip, apalagi kulihat mbak Tutik juga keluar hendak menyapu terasnya. Beruntung ada angkot berhenti, aku pun berpamitan lalu segera naik. Ernest mengikutiku.
" Kamu kok ikutan, nggak enak sama mas Hari kan," ucapku saat dia duduk di sampingku.
" Sudah siang nanti terlambat kalau nunggu yang berikutnya. Biarin aja dia mau ngomong apa," jawabnya santai.
Aku terdiam, dalam hati merasa bangga juga bisa berdampingan dengan cowok seganteng dia. Kalau boleh jujur, mas Raka masih kalah. Ketampanan Ernest di atas rata-rata. Tak heran cewek-cewek di kampung ini pingin kenal. Hanya saja dia sedikit cuek. Entah mengapa kalau sama aku justru dia yang lebih dulu mengenalkan diri. Mungkin karena tetangga paling dekat.
Pantas saja Novi dan Ninik sampai menyindirku. Usia mereka juga di atas Ernest tapi masih di bawahku. Wajar jika Novi ingin dekat dengan Ernest, terlebih lagi dia sedikit kemayu. Kalau Ninik kupikir dia hanya sirik, namun tak berniat dekat.
_______________
Bersambung gaees, besok dilanjut lagi.
__ADS_1