
" Tapi kamu beneran nggak tahu kalau Muhammad naksir kamu ? " tanya mas Raka seakan menyelidik.
" Kok nggak percaya sih. Beneran waktu itu aku tahunya dia mau mengajakku bergabung di tempat kerjanya. Setelah dia nggak muncul lagi ya sudah aku lupain aja." Aku menyanggah pertanyaannya.
" Kalau misalnya dulu dia sempat pedekate sama kamu, kira-kira kamu mau nggak ? " tanya mas Raka lagi, seolah kurang yakin dengan pengakuanku.
" Mmm.. mungkin bisa juga. Soalnya dulu itu kayaknya aku lagi jomblo deh ! " sahutku. Mas Raka langsung diam, aku menahan senyum.
Dulu ketika bertemu dengan Muhammad aku memang tengah galau karena Arya. Seandainya dulu dia nembak aku ada kemungkinan aku menerimanya. Tapi ternyata Muhammad menghilang begitu saja. Aku pun tak peduli lagi.
Seharusnya ini tak perlu kuceritakan sama mas Raka, tapi karena dia nanya melulu timbul niatku mengerjainya.
" Kenapa Mas kok diam. Ada yang salah dengan ucapanku barusan ? " tanyaku pura-pura tak mengerti.
" Enggak kenapa-napa. Kalau kamu mau jadi pacarnya kenapa tadi kamu cuekin. Harusnya kamu senang dong, yang kamu tunggu sekian lama akhirnya muncul."
" Begitu ya, sayangnya aku nggak tuh. Aku biasa saja, kenapa mesti baik-baikin dia."
" Tapi katamu tadi, seandainya waktu itu dia beneran suka maka kamu bisa menerimanya." Mas Raka mulai terpancing emosi, karena jawabanku tidak jelas, memang kusengaja hehe.
" Itu kan mas Raka yang bilang, bukan aku," jawabku tetap santai.
" Gimana sih, dari tadi kok muter-muter. Jawaban nggak jelas," gerutunya dengan menampakkan wajah masam.
" Haha, kena juga akhirnya. Skor satu sama, hihi !" Aku cekikikan.
" Tuh kan nggak jelas, skor satu sama. Memang aku ngapain," ujar mas Raka.
" Tadi kamu ngerjain aku, sekarang gantian ku kerjain. Huuuh, gitu aja udah sewot. Muhammad itu sama sekali nggak ada dalam pikiranku Mas, kan aku udah punya kamu. Anggap aja dia tamu salah alamat. Dulu aja begitu dia membohongiku aku tetap santai kok. Soalnya nggak jelas juga sebenarnya dia kerja apa." Kuyakinkan lagi Mas Raka biar tidak bertanya terus.
" Bener nih kamu nggak terpengaruh dengan kedatangannya tadi? " cecarnya lagi.
" Yaelah, mesti bilang berapa kali sih. Kamu nggak percaya sama aku ya, huuuh ! " sahutku kesal.
" Hehe iya iya percaya. Aku cuma pingin lihat kamu marah aja, pasti bibirnya monyong tuh sebentar lagi. Tuh.. tuh.. hihihi ! " Ternyata dia menjebakku lagi. Aku pun langsung tertawa.
" Eh malah ketawa, kirain mau cemberut terus bibirnya dicerucutin. Aku udah siap nih ! " ucapnya dengan mengerling nakal.
" Siap apa hayo! Justru aku nggak mau cemberut biar nggak ada yang menyambar bibirku, hehe ! " kuledek dia.
Mas Raka menghembuskan nafas kasar. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Aku tahu gelagatnua seperti itu karena apa. Pasti dia tadi mau menciumku jika aku cemberut, tapi karena aku tertawa maka niatnya urung.
__ADS_1
Meskipun dia bisa saja melakukannya tapi katanya kalau aku lagi marah dia makin gemes melihat bibirku yang menyerucut.
" Aku pulang aja deh, habisnya nggak mau dicium," tukasnya lirih, pura-pura ngambek.
" Memangnya harus cemberut dulu nih," pancing ku.
Kudekatkan wajahku ke wajahnya, kucebikkan bibirku. Yups , mas Raka langsung memegang kedua pipiku dan menyambar bibirku. Cukup lama kami saling pagut, dan ia menyudahinya setelah aku hampir tak bisa bernafas.
____________
[ Pagi Cantik, sudah mandi belum. Kita jalan yuk, sekalian mencari keperluan buat kita nikah nanti ]
Tiba-tiba saja mas Raka mengirim chat padaku. Aku baru selesai melipat mukena seusai sholat Subuh. Langsung saja kubalas.
[ Pagi juga, baru selesai sholat Mas. Beneran nih mau beli perlengkapan maharan ? Aku bilang sama ibu dulu ya, mumpung belum berangkat ke warung 😊 ]
[ Eit tunggu dulu jangan asal ngomong sama ibu. Bilang saja aku mau ajak kamu jalan, bukan beli perlengkapan mahar. Malu aku nanti kalau ternyata kita nggak beli apa-apa ]
[ Lho gimana sih, tadi mas Raka bilang apa coba ]
[ Iya tahu, tapi pamitnya nggak usah sedetail itu juga kali ]
[ Hehe, betul juga sih. Mas Raka mau jemput aku di rumah apa di warung ]
[ Ya udah ,sekarang aku mau bersih-bersih dulu ya ]
[ Aku juga mau nyuci baju dulu kemudian mandi. Sampai nanti sayang ]
Akhirnya, setelah 3 bulan sejak mas Raka melamarku. Hari ini dia mengajakku jalan untuk membeli keperluan menikah. Tentulah yang dimaksud itu barang kebutuhanku, yang akan dijadikan maharan. Aku yang memilih barang apa saja yang kuinginkan, kemudian nanti dikemas dalam berbagai bentuk. Seperti dulu waktu mbak Nia membuatkan maharan Mas Bayu.
Usai mandi dan berganti pakaian aku langsung melesat ke warung. Karena masih pagi aku berjalan kaki saja, kebetulan hari Minggu sehingga jalanan cukup ramai. Banyak orang yang hendak berolahraga di GOR ataupun sekedar joging.
" Buk, nanti Mas Raka mau mengajakku jalan. Boleh kan, soalnya sudah lama kita nggak keluar, " kataku pada ibu sesampai di warung.
" Boleh, asal pulangnya jangan malam-malam, " tukas ibu sambil melayani pelanggan yang tengah sarapan.
Aku pun masuk ke dapur dan membantu pekerjaan pagi ini, sebelum mas Raka menjemput.
" Mau ke mana sih Mbak ? " tanya mbak Sri yang sedang menggoreng bakwan.
" Belum tahu Mas Raka mau ngajak ke mana, " jawabku sambil mencomot bakwan di piring.
__ADS_1
Kebiasaanku jika bakwan baru matang selalu mencicipi satu biji, yang tipis dan kering. Aku juga sarapan lebih awal karena Mas Raka bilang mau menjemput jam 9.00.
Tak lupa sekalian aku mencuci piring dan gelas kotor yang diambil mbak Sri dari meja depan, supaya dia nggak kerepotan nanti. Mas Raka datang sesudah pekerjaanku selesai.
" Sudah siap sayang ? " tanya dia saat masuk ke dapur.
" Aku ambil tas sama handphone dulu, mas Raka minum dulu nih," sahutku seraya menyodorkan teh hangat dan gorengan di piring kecil.
Tak lama berselang kita berdua pamit sama ibu dan mbak Sri.
" Hati-hati jangan ngebut, jangan terlalu malam pulangnya," pesan ibu.
" Baik Bu, pergi dulu ya Mbak Sri," ucapku seraya keluar. Mas Raka mengikuti di belakangku.
Beberapa menit kemudian kita sudah berada di jalan raya.
" Kita mau ke mana sih Mas? " tanyaku ketika merasa sudah cukup lama berjalan tapi belum ada tanda mau berhenti di suatu tempat.
" Terserah kamu mau ke mana, mau ke tempat wisata dulu atau langsung ke Malioboro. Kita lihat-lihat dulu, kalau ada yang cocok baru beli." Mas Raka menawariku.
" Kalau cuma beli keperluanku kan nggak usah sampai Jogja Mas, di tempat kita juga bagus-bagus kok, malah lebih murah."
" Lha ini kan sekalian, sembari jalan ke tempat lain tidak hanya di Malioboro. Lagian di sana justru harganya miring karena saking banyaknya yang jualan. Kalau di mall harganya memang mahal tapi kwalitasnya juga lebih bagus. Kadang ada yang didiskon, pinter-pinternya kita milih aja."
Mas Raka menjelaskan padaku yang memang dari dulu jarang ke mall. Gimana mau main kalau pulang sekolah harus membantu di warung. Setengah jam kemudian ia menghentikan motornya di ujung jalan Malioboro.
" Kalau mau lihat-lihat di kaki lima sekarang sudah pindah, bukan di sini lagi. Nanti aku tunjukkan tempatnya," ucapnya sambil melajukan lagi motornya.
" Aku ngikut kamu aja Mas, kan aku nggak hapal tempat ini," kataku pasrah.
Akhirnya kita tiba di tempat para pedagang kaki lima yang dulu berjualan di sekitar jalan Malioboro. Mas Raka mengajakku turun lalu menggandeng tanganku.
" Tapi ini nanti belum semua ya sayang, nyicil yang ringan-ringan dulu. Insya Allah secepatnya semua perlengkapan mahar aku penuhi. Tapi jangan bilang ibu dulu." Ia menambahkan.
" Iya Mas, aku juga tidak minta yang berlebihan kok. Semampunya kamu dan jangan yang mahal. Aku bukan tipe cewek yang suka mewah-mewahan." Kuyakinkan mas Raka.
" Makasih sayang, kamu memang calon istri yang pengertian. Tahu kalau calon suamimu ini bukan orang kaya, bukan pegawai dengan gaji gede."
" Sama-sama Mas Raka, aku juga makasih kamu udah mengusahakan yang terbaik buat pernikahan kita. "
___________
__ADS_1
Sekian dulu ya. Besok disambung lagi.