
"Aira... bangun nak....Aira... " Serasa ada yang menepuk pipiku. Tercium juga bau minyak kayu putih. Perlahan kubuka mataku. Kulihat ayah dan mbak Nia duduk di samping ranjangku. Ayah yang menepuk pipiku tadi dan mbak Nia mengoleskan minyak kayu putih di hidungku. Ibu sedang mandi karena bersiap akan ke warung makan.
" Ibu nggak libur saja Bu, ngga enak kan sama keluarganya Widi," saran ayah. Aku masih berbaring di ranjang. Kepalaku masih terasa pusing.
" Ibu sudah terlanjur masak kemaren, Yah. Lagi pula kita kan ngga begitu kenal sama mereka. Aira saja baru akrab setelah acara Agustusan." Ibu menyampaikan alasannya untuk tetap membuka warungnya.
"Tapi kan ngga enak sama tetangga yang lain Bu. Kalau masakan bisa dipanaskan nanti sore. Biasanya juga begitu." Ayah masih mencoba membujuk ibu.
" Kan sudah ada Aira. Ayah nanti juga takziah kan.
Bayu malah sejak subuh tadi sudah ke sana." Ibu tetap bersikukuh.
"Ibu juga akan takziah tapi nanti sore saja sepulang dari warung makan. Ibu akan pulang lebih awal," lanjut ibu.
Ayah tak merespon ibu lagi. Seperti itulah ibuku.
Selalu bersikukuh dengan kemauan sendiri. Ayah yang sering mengalah untuk menghindari ribut.
Tapi kupikir ibu ada benarnya. Memang kita ngga begitu kenal dengan keluarga Widi. Selain karena rumah kita berjauhan, ibu juga jarang ketemu karena dari pagi sampai malam berada di warung.
Kecuali dengan tetangga dekat. Sama seperti aku.
" Sudah siap belum Nia? sudah kesiangan nih kita."
Ibu memanggil mbak Nia yang masih di kamar. Biasanya ibu berangkat jam 6.00 pagi. Sekarang sudah jam 6.15. Mbak Nia keluar dari kamar.
" Sudah Buk, ayo," ajaknya. Mereka pun berangkat ke pasar.
Ayah menghampiriku di kamar. Aku mencoba bangun dan duduk bersandar.
"Masih pusing Nak ?" Ayah menyentuh kepalaku.
" Kalau masih sakit ngga usah dipaksakan bangun. Tiduran dulu di kamar," saran ayah.
"Tidak Ayah. Aku harus ke rumah Widi. Pingin melihat dia untuk terahir kali." Aku mulai terisak.
" Ya sudah. Sekarang makan dulu dan minum obat. Baru nanti ke rumah Widi," pintanya seraya mengelus rambutku. Tapi aku ngga ada keinginan untuk makan. Dada dan perut ini rasanya ngga karuan. Tubuh lemas tapi aku harus kuat.
" Ayah berangkat dulu ya Nak, kamu jangan lupa minum obat.Tapi makan dulu,minimal perut harus isi."
Ayah mengingatkan lagi. Beliau pun keluar menuju rumah duka. Aku beranjak ke dapur membuat teh hangat. Kucari obat sakit kepala di kotak obat dan mengambil roti di atas meja makan
Aku makan sedikit untuk mengisi perut. Mau menelan saja rasanya sulit.
Setelah minum obat aku mandi dan bersiap-siap.
HP ku berbunyi, ada telfon dari Eva. Ia masih di Jogja.
[ Bestie, aku dapat kabar dari mama, katanya Widi meninggal. Kamu yang sabar ya]
[ Hiks.. hiks.. iya Va. Tadi pagi papamu yang mengumumkan di musholla, huu.. huu ]
[ Ssstt... sudah jangan nangis terus. kamu harus kuat, harus ikhlas. Do'ain Widi hiks.. ]
[Kamu juga nangis.. huuuu]
[ Aku ketularan kamu huuuu. makanya jangan nangis lagi huuuu]
[Hiks... hiks... ]
[ Udah dulu yaa, pokoknya kamu harus kuat. ]
Eva menutup telfonnya. Aku mengusap airmataku seraya beranjak dari kursi. Belum sempat keluar ada yang mengetok pintu.
Tok tok tok !
__ADS_1
Segera kubuka pintu dan tampaklah Mira dan Dewi.
Mereka berdua pernah ikut pentas seni bersamaku kemaren.
" Airaaa ! " Mereka menghambur ke arahku dan memelukku. Sama seperti ibu dan mbak Nia tadi pagi. Aku kembali menangis. Mereka berdua juga menangis.
" Airaaa , yang tabah ya. Semoga Widi diterima di sisiNya," ucap Mira. " Aamiin."
" Sudah yuk ! kita ke rumah Widi. Sudah ditunggu yang lain." Dewi mengajak untuk segera ke rumah duka.
Sesampainya di tempat sudah banyak tamu yang datang. Para tetangga baik orang tua serta remaja hampir semua datang. Tamu dari luar RW juga banyak. Tak heran jika banyak yang takziah karena yang meninggal masih muda. Apalagi baru kemaren Widi ikut pentas seni.Jadi masih dihafal para tetangga dan juga warga RW lain.
Ketika aku hendak masuk ke dalam banyak orang yang menatapku. Ada yang melempar senyum ada yang bisik-bisik. Malah ada seorang ibu mendekatiku dan berucap, "Aduh kasihan kamu dek. Baru sebulan kamu dekat sama almarhum ya."
Aku mencoba tersenyum. Tapi tak urung aku malah menitikkan air mata. Mira dan Dewi menggandeng tanganku mengajak masuk. Ada ibu dan kakak2 nya Widi duduk di karpet. Aku menuju ke meja besar tempat jenazah Widi disemayamkan. Kubuka kain yang menutupinya. Aku tatap dalam-dalam seraya menitikkan air mata.
Aku mendekati ibunya Widi dan menyalaminya. Beliau langsung memelukku dan menangis.
" Kamu teman dekatnya Widi ya? Maafkan Widi karena nggak bisa menemani kamu lagi. hiks... "
Beliau berkata padaku. Aku menggelengkan kepala.
" Nggak Bu, Widi ngga salah. Saya yang minta maaf karena ngga bisa menemani Widi di saat terahir."
Aku menjawab sambil terus menangis. Mira dan Dewi mengusap-usap pundakku.
" Aira, sudah. Ayo duduk.." Aku duduk agak jauh dari ibunya Widi. Nggak enak karena di situ banyak familinya yang aku ngga kenal.
Selang beberapa jam jenazah Widi siap dimakamkan. Aku ikut mengantarnya sampai peristirahatan terahir.
' Selamat jalan Widi,
walaupun kau pergi, aku tetap mengingatmu.
_________
Sepulang dari pemakaman aku sampai rumah langsung mengambil air wudhu. Kusegarkan pikiranku. Kubawa nama Widi dalam sholatku.
Kupejamkan mataku mengingat kebersamaan kami yang hanya 1 bulan saja.
" Aira, kamu sudah pulang nak?" Ternyata ayah yang baru pulang juga.
" Sudah Ayah, baru saja." Aku melipat mukena.
" Oh iya. Kamu tadi sudah makan belum. Kalau belum sekarang kita makan bareng yuk !" ajak ayah.
Aku menggeleng. " Aira ngga lapar, Yah. Aku mau ke pasar aja." Aku mengambil tas selempang dan bergegas keluar.
Sampai gapura HP ku berbunyi. Ada WA dari mbak Murni. Astaga ! aku baru ingat. Aku belum kasih kabar ke sekolahan. Kubuka WA dari mbak Murni.
[ Aira, tadi pagi kok ga berangkat ke sekolahan.
kok ga kasih kabar ]
[ Iya mbak maaf 🙏. Aku kelupaan tadi aku shock banget ]
[ Shock kenapa. kamu baik2 aja kan ]
[ Widi meninggal mbak 😭😭 ]
[ Innalilahi wainna ilaihi rojiun
turut berduka cita ya.. 🙏 semoga husnul khotimah 🤲 ]
[ aamiin makasih mbak 🙏 ]
__ADS_1
[ Besok ngga usah masuk dulu ga apa-apa. Nanti biar mbak yang mintakan ijin sama bu Diyah ]
[ Ya Mbak..🙏 ]
Aku menyudahi chat dengan mbak Murni. HP aku masukkan dalam tas selempang. Sebagian pelayat yang baru pulang terlihat melewati depan gapura. Ada warga kampung ada juga yang dari luar yang berhenti untuk menunggu angkot. Mbak Tutik juga baru mau masuk ke rumahnya.
" Aira ! Ikut berduka cita ya. Kamu yang tabah, ikhlas, doakan saja Widi semoga husnul khotimah."
Ia memelukku. Kembali mata ini berkaca-kaca.
" Makasih Mbak," jawabku lirih.
" Sekarang kamu ke mana? ngga usah ke pasar dulu istirahat aja di rumah." Mbak Tutik memberi saran.
" Kalau di rumah ngga ada teman nanti aku makin sedih Mbak. Mending ke pasar siapa tahu agak terhibur dengan suasananya."
Mbak Tutik mengangguk. "Ya udah hati-hati ya," pesannya. Aku tersenyum tipis.
Angkot datang, aku lekas naik. Sampai di warung ibu menyambutku dengan senyuman.
" Ibu kira kamu ngga akan ke sini. Kamu baik-baik saja kan," tanya ibu. Aku menganggukkan kepala.
Mbak Sri menyalamiku dan mengucapkan bela sungkawa. "Terima kasih," jawabku lirih.
" Sudah makan belum. Kalau belum sekarang makan dulu. Mau sama paha atau kepala ayam?" ibu mengambilkan nasi dan lauk buatku. Aku menggeleng. "Aira ngga lapar."
Aku masuk ke dapur dan mengambil minum. Lalu ada mbak Wiwit masuk. Ia memelukku dari belakang. "Ikut berduka cita Aira," ucapnya.
Aku menoleh ke dia. " Makasih Mbak Wiwit," sahutku dan berusaha tersenyum. Tak urung airmata ini kembali meleleh.
" Kamu harus tabah, kuat, nggak boleh lemah. Sekarang kamu makan ya. Sedikit aja." Mbak Wiwit meminta sepiring nasi yang masih dipegang ibu.
" Makan Aira, nanti kamu malah sakit. Atau mau mbak suapin? " pintanya. Aku tetap menggelengkan kepala. Mbak Wiwit meletakkan piring di meja.
"Ya udah tapi nanti dimakan ya?" pintanya lagi.
Aku mengangguk,kemudian menyibukkan diri di dapur. Kuputar radio di atas lemari kecil. Tapi lagu-lagunya malah mengingatkanku pada Widi.
Mbak Nia masuk bersama mas Joni. Ibu memanggilnya. Kemudian mereka seperti berbisik membicarakan sesuatu. Aku nggak mau tahu.
Aku menyalakan kran di wastafel padahal semua cucian sudah dikerjakan mbak Sri. Air tetap kunyalakan dan kutadah dengan tangan sampai berapa lama aku ngga tahu. Pikiranku melayang mengingat Widi. Satu bulan aku bersamanya. Ada sebersit penyesalan karena waktu itu aku masih menyangsikan perasaanya.
Setelah dia pergi baru aku sadar aku juga suka sama dia. Tapi aku telah kehilangan dia.
Widi.... kenapa kau tinggalkan aku ?
Katanya kamu pingin terus lihat aku, dengar suaraku...
" Astaga Aira ! apa yang kamu lakukan ? kenapa airnya dibiarkan mengalir terus ?" Tiba-tiba ada suara yang membuyarkan lamunanku.
Mbak Nia segera memutar kran air. Mas Joni dan ibu juga masuk. Ibu memelukku dan menangis.
" Apa yang terjadi sama kamu Nak? " seru ibu.
Aku hanya diam. Aku ngga tahu harus bicara apa. Ibu mengajakku duduk.
" Joni, gimana ini Aira ?" ibu seperti panik dan masih menangis.
" Nanti saya dan Nia akan ke sana Bu." Mas Joni berkata sesuatu. Entah apa yang mereka bahas.
Aku hanya duduk menatap meja
___&&&_&&&&&_____
to be continue gaees.. tetep vote like dan komentar biar penulis semangat
__ADS_1