Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 43 Mengenalnya


__ADS_3

" Aira, nanti jangan lupa beli emping sama rengginang. Itu di stoples tinggal sedikit ! " Ibu menunjuk stoples di meja yang isinya tinggal separo.


" Ya, Bu. Nanti sekalian belanja di tempat mbak Sumi," jawabku yang sedang sarapan.


" Ngga usah terburu-buru ,selesaikan dulu sarapannya. " Ibu memperingatkanku sambil meletakkan uang belanja di meja.


Selesai makan dan minum air putih kuambil uangnya lalu aku keluar untuk belanja. Ketika melewati depan kantor Arya aku sempat melihatnya lagi mengobrol dengan Saiful di teras kantor. Ia melambaikan tangan dan aku membalasnya.


" Mbak Sum, ini catatan belanjanya kutinggal dulu, aku mau beli emping sama rengginang dulu." Aku menitip pesan pada mbak Sumi saat sampai di kiosnya. " Oke ! " Mbak Sumi menerimanya.


Kulangkahkan kaki menuju kios kletikan langganan ku. Seperti biasa aku selalu melewati jalan di beberapa kios pakaian karena jalannya bersih dan tidak terlalu ramai hingga tak perlu berdesakan.


" Hallo Aira ! mau ke mana kok tumben lewat sini ? " sapa seseorang.


Aku terkejut dan setelah kuamati ternyata tetanggaku beda RW, dan kita juga jarang ketemu.


" Eh Gugun, aku biasa lewat sini. Kamu yang tumben kok ada di sini, mau beli apa ?" tanyaku pula.


" Ini mau beli kemeja," jawabnya. Kulihat memang dia sedang mencobanya.


Aku melihat sekeliling, sepertinya kios pakaian ini belum lama buka. Sebab setiap kali lewat sini selalu tertutup. Sempat kuperhatikan si penjaga kiosnya, sepertinya aku pernah melihatnya tapi itu dulu.


" Maaf ya Gun, aku duluan lagi disuruh belanja sama ibu." Aku pamit sama Gugun. Cowok penjaga kios memperhatikanku dari tadi.


" Oya silahkan," sahutnya. Ia masih sibuk memilih kemeja yang disukainya.


Seusai membeli kletikan aku berjalan cepat tanpa menoleh kanan kiri, karena masih harus mengambil belanjaan di tempat mbak Sumi.


Sampai di warung belanjaan langsung kutaruh di dapur karena aku keburu haus. Kutuang air putih dan meneguknya. Glek glek glek !


" Habis mengejar copet ya, sampai kehausan gitu. Hihihi ! " Mbak Sri meledekku.


" Tadi ketemu teman jadi sempat ngobrol dulu.Terus beli emping kan mesti milih yang utuh jadi lama. Udah gitu masih mengambil belanjaan di tempat mbak Sumi. Akhirnya buru- buru jadi haus deh ! " kuceritakan padanya apa yang kualami tadi.


Saat keluar dari dapur aku terkejut. Cowok yang menjaga kios pakaian tadi tiba-tiba masuk sambil senyum-senyum seolah sudah kenal dengan kami. Apakah dia mengikutiku sejak dari pasar tadi ?


" Permisi Buk, masih ingat saya nggak ? " tanya dia pada ibu, lalu dia duduk di depan pintu dapur.


Ah aku baru ingat ! Dia itu Raka putranya bu Harti, teman ibu yang berjualan di sebelah pintu pasar utama. Setiap kali berbelanja aku pasti melewati kiosnya, sesekali juga menyapa.


" Kamu Raka ya, putranya bu Harti ? " tanyaku.


" Iya ," jawabnya singkat masih dengan tersenyum.


" Bu Harti yang berjualan alat rumah tangga, yang kiosnya di sebelah pintu utama itu? " tanya ibu padaku


" Wah ibu pangling, sekarang sudah gagah begini. Dulu sering diajak ke pasar waktu masih kecil." Ibu mengingat masa dulu.

__ADS_1


" Iya Bu, saya memang jarang ke pasar. Lebih sering main sama minta uang, hehehe." ucapnya sembari bercanda.


" Sekarang mau minum apa mau makan ? " tanya ibu kemudian. Raka memesan makanannya dan kubuatkan dia teh manis hangat.


Selesai makan ibu mengajaknya mengobrol, menanyakan kabar bu Harti dan keluarga. Aku ikut duduk di depan mendengarkan dia bercerita. Ternyata dia baru lulus tahun kemarin dan sudah kuliah semester 2. Kios yang dijaganya itu milik pamannya karena saat ini sedang liburan.


Tak berapa lama ia pun pamit. Mbak Sri mulai iseng menggodaku. " Ciee, rupanya tadi buru-buru sampai kehausan karena ada yang membuntuti ya !"


" Ngawur Mbak Sri, aku tadi beneran buru-buru karena takut ibu marah kalau kelamaan belanja. Sama sekali nggak tahu kalau Raka di belakangku." Aku menjelaskan yang sebenarnya pada mbak Sri.


Ibu masuk dan menanyakan tentang Raka.


" Tadi kamu ketemu di mana sama putranya bu Harti, kok begitu kamu masuk tahu-tahu dia sudah muncul di sini. Ibu sampai kaget kok ada orang nyelonong masuk."


" Aku kan biasa melewati kios pakaian. Nah tadi itu ada Gugun anak RW 03 itu loh, Buk. Dia memanggilku, rupanya sedang memilih kemeja di kiosnya Raka itu. Mungkin saat melihatku Raka langsung ingat kalau aku anaknya Ibuk." Aku menceritakan kejadian di pasar tadi.


" Kok Mbak Aira tahu kalau dia anaknya bu Harti, dia kan jarang ke pasar katanya ? " tanya mbak Sri padaku.


" Tahu lah. Jadi dulu aku lagi mengobrol sama mbak Wiwit di depan toko, terus Raka lewat masih pakai seragam SMP. Mbak Wiwit menyapanya, setelah dia pergi mbak Wiwit bilang kalau dia anaknya bu Harti. Waktu itu aku masih kelas 1 SMA." Aku pun menceritakan pada mbak Sri dan ibu.


" Lalu bagaimana ceritanya kok dia bisa mengikutimu kemari ," tanya ibu lagi sambil senyum-senyum.


" Ya nggak tahu lah, ibu kenapa senyum-senyum ? aku benar-benar nggak tahu loh ya, kenal juga di sini barusan." Aku menjelaskan pada ibu dan mbak Sri supaya mereka nggak berpikir macam-macam.


" Kirain tadi sudah mengobrol terus kamu mengajaknya ke sini," kata ibu seraya keluar karena ada pembeli yang mau makan.


" Mungkin tadi pas lihat mbak Aira langsung naksir, kebetulan juga tahu kalau mbak Aira putrinya bu Wahyu. Jadi langsung mengikuti ke sini." Mbak Sri berlagak menganalisa.


" Iih mbak Sri ada-ada saja. Mana mungkin baru melihat langsung naksir." Aku mencibir.


" Dibilangi nggak percaya, masa kalau nggak naksir tiba-tiba dia makan di sini. Kemarin- kemarin juga nggak pernah, hayoo ! " Mbak Sri mulai menggodaku lagi.


" Kemarin kan dia nggak pernah ke pasar. Udah aah, mbak Sri mulai deh ! " Aku cemberut pura-pura marah.


Mbak Sri malah tertawa tergelak. Ibu yang mendengar kami juga ikut senyum-senyum di depan.


____________


Pagi ini aku hendak berbelanja, ketika melewati pintu utama pasar ada yang memanggilku, " Mbaaak, Mbak siapa namanya ya ? " Aku menoleh mencari sumber suara. Ternyata bu Harti ibunya Raka. Beliau melambaikan tangan menyuruhku mendekat.


" Aira, Bu. Ada apa ya Ibu memanggil saya ? " tanyaku bingung.


" Oh iya Mbak Aira. Kemarin Raka makan siang di warung ibumu ya ?" tanya bu Harti balik.


" Oh iya, tumben kok makan di warung kami. Kemarin saya juga sempat ketemu di kios pakaian." Aku memberitahu bu Harti.


" Raka juga bilang sama ibu kalau ketemu kamu, makanya langsung kemari. Dia bertanya apakah bu Wahyu masih berjualan, lalu siapa sekarang yang membantu di warung.

__ADS_1


Ibu jawab saja kalau Aira yang membantu bu Wahyu sekarang. Lantas dia minta uang pada ibu, katanya buat makan siang di tempat Aira." Bu Harti menceritakan yang dilakukan Raka kemarin.


" Oh gitu ya, Bu. Kemarin saya dan ibu sempat kaget loh, soalnya Raka masuk ngga pakai salam langsung duduk. Padahal ibu pangling karena lama nggak ketemu." Aku juga bercerita.


" Itu anak memang suka gitu, semaunya sendiri. Hehehe ! " lanjut bu Harti lalu tertawa terkekeh.


" Ya sudah Bu, saya permisi dulu mau belanja. Maaf ya, Bu. " Aku pun pamit sama beliau.


" Oh gitu ? terima kasih ya sudah mau mampir," kata bu Harti.


" Sama-sama Bu," jawabku serta beranjak dari kiosnya bu Harti.


Sepulang dari belanja aku bilang pada ibu kalau tadi dipanggil sama bu Harti dan diajak mengobrol. Ibu hanya tersenyum mendengar ceritaku.


Besoknya Raka datang lagi ke warung kami. Dan seperti tempo hari ia juga makan siang. Setelah membikinkan teh panas dan berbasa basi sejenak aku masuk ke dalam mau sholat lalu makan siang.


Ketika asyik makan aku merasa ada yang sedang memperhatikanku. Persis ketika ada mas Rifan waktu itu.


" Mbak Sri, tolong lihat ke depan. Raka sudah selesai makan apa belum ." Aku minta tolong sama Mbak Sri yang baru selesai sholat. Terus terang aku malu menengok ke depan.


Mbak Sri keluar berlagak mengambil sesuatu, kemudian masuk lagi.


" Sudah Mbak, Raka tengah menikmati rokok sambil memandangi mbak Aira..Tuh lihat sendiri kalau nggak percaya." Mbak Sri berbisik padaku.


" Enggak ah, malu. Nanti dia malah bertingkah kayak mas Rifan sama mas Sidik." Aku jadi ingat 2 orang aneh itu.


Mbak Sri tertawa ngakak, tapi secepat kilat ia menutup mulutnya. Suka ngga kontrol memang dia.


_______


Hari-hari berikutnya entah mengapa Raka jadi sering muncul begitu saja., walaupun nggak setiap hari. Kadang makan di warung, kadang juga cuma lewat. Padahal jika mau ke tempat ibunya, dari kios pakaian nggak mungkin lewat sini.


" Selamat sore Mbak Aira, kok belum pulang ? " tanya dia sore ini. Dia membawa tas selempang cowok, mungkin habis menutup kiosnya langsung kemari.


" Belum, masih menunggu ayamnya matang. Mau bersih-bersih juga., " sahutku.


Mbak Sri sudah lebih dulu pulang. Raka duduk di bangku depan kios. Saat kita beranjak mau pulang ia pun berdiri dan berjalan di belakangku. Aku dan ibu sempat tertegun, tapi kemudian ibu bertanya padanya, " Kok ngga bareng sama bu Harti, Nak Raka? "


" Ibu sudah pulang dari tadi, Buk. Soalnya agak nggak enak badan katanya," jawabnya.


" Oh gitu, kecapekan mungkin." Ibu menanggapi ucapan Raka.


Sampai di simpang jalan kami berpisah. Raka berbelok ke kanan sedangkan aku dan ibu tetap lurus berjalan ke arah utara.


***********'*******


Bersambung gaees,, penulis minta like dan komen ya ! Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2