Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 88 Memilih Diam


__ADS_3

" Raka kok nggak muncul, biasanya hari Minggu pagi-pagi sudah kemari." Ibu menanyakan Raka saat aku selesai sholat Dzuhur.


" Iya juga, tadi lagi ngomongin mbak Tika sampai nggak ingat kalau ternyata Raka nggak kemari. Tapi tumben juga, dari tadi juga nggak menghubungiku. Kenapa ya? " Aku pun bertanya-tanya sendiri.


" Mungkin ada acara mendadak, atau ada pekerjaan yang harus dilembur. " Ibu pun menebak-nebak.


" Tapi kok nggak ngabarin ya, biasanya selalu mengirim pesan kalau nggak bisa menemuiku." Aku merasa cemas.


" Duuh Mbak Aira, baru juga sehari nggak ketemu sudah kangen aja." Mbak Sri menggodaku.


" Bukan begitu Mbak, justru aku malah khawatir Raka kenapa-napa. Tidak biasanya dia nggak ngasih kabar, Mbak Sri tahu sendiri kan." Kujelaskan alasanku padanya..


" Iya juga sih, mas Raka kan takut diomeli sama Mbak Aira. Makanya selalu mengirim kabar kalau nggak bisa ketemu, hihihi ! " Mbak Sri masih saja menggodaku.


" Iiih, Mbak Sri ngeledek terus sih. Aku serius khawatir nih. Apa kutelpon saja ya? " Kuambil handphone yang kutaruh di bilik tempat sholat.


" Mending begitu daripada mikir yang nggak-nggak. Siapa tahu mas Raka memang kelupaan, ada acara mendadak lalu terburu-buru jadi lupa ngasih kabar." Mbak Sri mendukung ideku. Aku mencari kontak Raka dan segera menghubunginya.


Tuut ... tuut.... klik. " Hallo ! " terdengar suara anak perempuan di seberang. Sepertinya suara Winda.


" Hallo, ini Winda ya. Kok kamu yang angkat, mas Raka mana ? " tanyaku tak sabar.


" Mas Raka lagi ikut kerja bakti di lapangan. Tadi buru-buru, baru sarapan sudah ada yang nyamperin. Makanya langsung berangkat sampai nggak bawa HP. "


Winda menceritakan kronologinya. Cess ! Dadaku rasanya plong.


" Ooh begitu, memangnya mau ada acara ya ?Tumben ngadain kerja bakti," tanyaku lagi. Sekedar ingin tahu saja.


" Katanya sih bulan depan ada turnamen sepak bola antar kecamatan. Tempatnya di lapangan desa ini," jawab Winda.


" Ya sudah, nanti tolong bilang sama mas Raka mbak Aira telpon, gitu ya. Daah sayang ! "


" Oke Mbak, daah ! " Tuut. Kumatikan handphone.


Aku menghela nafas, lalu tersenyum miring. Tadi aku sempat berpikir kalau Raka pergi sama cewek lain. Tapi aku nggak bilang sama mbak Sri, karena pasti akan diledek lagi.


Bukannya nggak percaya ,tapi mana tahu tiba-tiba ada yang mengajak Raka.Buktinya waktu itu sempat ada Ira, lalu muncul Ita. Jangan-jangan nanti ada Ina, Ida atau siapa lagi yang namanya pakai huruf I. Asal jangan Igun, wkwkwkk !


Tapi untunglah tadi Winda sudah memberitahu ke mana kakaknya pergi.

__ADS_1


" Gimana Mbak, kok malah senyum-senyum sendiri ? Bener kan mas Raka baik-baik saja ? " tanya mbak Sri begitu aku menaruh handphone di bilik. Ia baru mau sholat.


" Yoi, kata Winda Raka sedang kerja bakti. Tadi buru-buru makanya nggak sempat bawa handphone apalagi ngabarin aku."


" Syukur deh, setidaknya besok nggak ada adegan drama Korea, hehe ! " Mbak Sri terkekeh sembari masuk ke bilik.


Aku pun ke depan ingin makan siang. Kulihat ibu sudah selesai lalu menaruh piringnya di meja karena ada pembeli masuk.


Hingga sore dan saatnya kita pulang Raka juga ngga muncul. Mungkin capek lalu habis Ashar kebablasan tidur. Biasanya seperti itu, doyan tidur.


Malam harinya ketika aku sedang melipat mukena seusai ibadah Isya, kudengar ibu bicara dengan mbak Nia di ruang tengah.


Entah apa yang dibicarakan, aku tak mendengar jelas karena mereka memelankan suaranya. Sepertinya ibu tak ingin aku ataupun ayah mendengarnya.


" Pokoknya tidak usah komentar apapun. Ibu nggak mau kalian pada ribut, sudah pada dewasa semestinya akur." Hanya itu yang sempat kudengar karena sekarang ibu berkata dengan intonasi biasa.


Aku menduga, ibu sedang menasehati mbak Nia supaya jangan mengurusi hubunganku dengan Raka. Bukannya tadi pagi ibu bilang begitu padaku. Lebih tepatnya, jangan nyinyir ! Itu kalau aku yang ngomong.


Mungkin ibu juga menyampaikan apa yang kuutarakan tadi pagi. Kemudian sepertinya ibu keluar menemani ayah di teras.


Ceklek ! Kubuka pintu kamar lalu aku menghampiri Arkana yang masih asyik bermain.


" Aduh ponakan Tante yang ganteng kok belum bobok sih ! " celetukku sembari menciwel pipinya yang tembem dan mengecupnya.


Ia pun membopong Arkana lalu masuk ke kamar. Suasana di ruangan ini mendadak dingin. Biasanya kami berdua bercengkerama meskipun hanya sebentar. Justru ibu dan ayah yang masih mengobrol di teras sambil menikmati kopi dan camilan yang kubawa dari warung tadi.


Usai acara komedi kesukaanku aku beranjak ke kamar. Jam dinding menunjukkan pukul 21.30. Kubuka HP sebagai pengantar tidur. Ternyata ada pesan WhatsApp dari Raka, sejak satu jam yang lalu. Aku tak mendengarnya karena asyik menonton televisi.


[ Hai sayang ! Maaf ya seharian tadi aku nggak bisa menemani kamu πŸ™ . Kata Winda tadi siang kamu menelponku ya, HP ku ketinggalan di rumah jadi nggak tahu ] Jam 20.30


[ Tadi diajak teman-teman kerja bakti di lapangan. Bulan depan akan ada turnamen sepak bola jadi mesti persiapan membersihkan lapangan dll. Sorry banget ya πŸ™πŸ˜ ] Jam 20.35


Aku belum sempat membaca pesan ini tadi, makanya setengah jam kemudian ia mengirim pesan lagi.


[ Aira cantik, kamu marah ya. Kok ngga dibaca chatku. Apa aku harus ke rumahmu sekarang ? Atau kamu udah tidur ? Jawab dong sayang, biar aku tenang πŸ˜” ] jam 21.10


[ Aira, kalau dalam 15 menit kamu ngga balas chatku aku akan ke rumahmu sekarang juga ] jam 21.20


Astaga, sekarang jam 2132 . Aku harus membalas chatnya. Jangan sampai Raka ke sini, kasihan besok dia harus masuk kerja pagi-pagi.

__ADS_1


[ Aku baru buka HP nih ] Send.


Kutulis singkat dulu yang penting dia tahu aku sudah membalas chatnya.


[ Aku nggak marah kok. Tadi aku lagi nonton TV , HP ku di kamar aku nggak mendengar ada WA dari kamu. Maaf ya say , πŸ™β˜ΊπŸ˜˜ ]


Kuberi emoji lengkap biar dia tahu aku nggak marah sama dia.


Tak berapa lama pesanku terbaca. Raka sedang mengetik.


[ Syukurlah ! Kupikir kamu marah karena aku nggak menemui kamu hari ini πŸ˜ŠπŸ‘ ]


[ Aku nggak berhak marah, kita kan belum jadi suami istri. Lagian aku juga nggak mau egois, maunya ditemani terus. Kamu kan juga punya privacy ]


[ Berarti kamu nggak kangen nih, sama aku. Biasanya kalau nggak ketemu sehari aja kamu udah galau, cemas, bingung πŸ˜„ ]


[ Huuuh ge er... kata siapa aku galau. Kamu tuh yang nggak bisa jauh dari aku ]


[ Begitu ya, terus yang tadi telpon itu siapa ya ]


[ Itu aku disuruh sama mbak Sri tahuuu 😝 ]


[ Segala mbak Sri dibawa-bawa. Ya sudah kalau nggak kangen besok aku nggak mampir loh ]


[ Iiiih apaan sih ? Gitu aja terus nggak mau mampir πŸ˜” ]


[ Tuh kan marah, tadi bilangnya nggak galau. Sudah ngaku saja, kamu nggak bisa jauh dari aku. Sudah mau jadi suami istri kok masih gengsi saja. Airaaa Aira. πŸ˜„ ]


[ Biarin. Sudah ah aku mau tidur. Kamu juga besok kan kerja. Tidur gih ! ]


[ Tidur bareng ya πŸ˜˜πŸ˜‰ ]


[ Iya, bareng tapi di rumah masing-masing wkwkwkk ] Kali ini aku nggak mungkin termakan jebakannya.


[ Hehe sudah tahu ternyata, good night baby 😍😘 ]


Aku tak berniat membalas lagi. Mataku sudah lima watt alias redup. Handphone terlepas dari genggamanku.


_____________

__ADS_1


Bersambung lagi.


Please like n komen ya. Lope you pull deh pokoknya.


__ADS_2