
Aku memang sempat marah sama Arya. Tapi entah mengapa aku selalu ingin bertemu dengannya. Setiap hari aku berharap dia datang ke warung untuk sarapan atau makan siang.
Jika tidak aku yang mencari ke kantornya. Tak kupedulikan tatapan heran orang yang ada di sekitar kantor
Pagi ini aku tengah sarapan, ibu juga baru selesai makan.
" Kalau sudah selesai terus belanja ya Ra, mumpung lagi nggak ada orang. " Ibu menyuruhku seperti biasa. Sekarang jam 10 pagi
" Ya Buk," sahutku.
Kuselesaikan sarapanku dan mengambil uang di laci. Jam segini memang kita baru bisa sarapan karena ramainya antara jam 7 pagi hingga jam 9.00 lebih. Kuteguk teh hangatku dan segera keluar.
Ini hari Sabtu, pantas Arya ngga sarapan di sini. Terlintas ide untuk main ke rumahnya. Kupercepat langkahku ke pasar menuju kios mbak Sumi.
" Titip dulu ya Mbak nanti aku ke sini lagi," pesanku.
" Mau ke mana sih kok buru-buru ? biasanya juga ngobrol dulu." Mbak Sumi menegurku.
" Ada Mbaaak ! " kukedipkan mataku ke arahnya.
" Awas ya aku bilangin ibu ! " Mbak Sumi tertawa menggodaku. Aku berjalan cepat meninggalkannya.
Tiba di rumah Arya pintunya tertutup.
Tok tok tok ! Kuketuk pintunya. Tak berapa lama muncullah Arya dengan wajah kusut dan rambut berantakan. Pasti baru bangun tidur.
Ia nampak terkejut melihatku ada di depannya.
" Aira ? yuk masuk ! " Arya membuka lebar pintunya dan aku pun masuk.
" Aku ganggu nggak ? kayaknya kamu masih ngantuk, " tanyaku sebelum duduk
" Masih ngantuk sih, tapi karena yang datang bidadari ngantuknya jadi hilang he he. " Ia malah menggodaku.
" Huuu.... mandi aja belum udah ngegombal," sahutku.
" Ya udah kamu duduk dulu aku mau mandi."
Aku pun duduk dan dia berbalik masuk ke dalam. Kuperhatikan sekeliling ruangan, nampak foto-foto keluarga terpajang di meja di sudut ruangan. Ada juga lukisan-lukisan abstrak dipasang di dinding. Ruang tamu ini hampir mirip galeri.
10 menit kemudian Arya muncul dengan wajah segar. Tercium bau sabun mandi dari tubuhnya.
" Kamu tumben ke sini, memang warung lagi libur ya? " tanyanya kemudian.
" Buka kok, ini aku lagi belanja terus mampir ke sini. Kebetulan jam segini sudah agak sepi, nanti ramai lagi saat menjelang makan siang ," jelasku.
" Kamu suka melukis ya ? kok banyak lukisan dipajang." Aku menyambung percakapan lagi.
" Bukan aku tapi abangku. Dia suka melukis abstrak dan juga melukis foto-foto wajah. Kamu boleh kok kalau pingin dilukis, tinggal kasih aja foto close up ke abangku. "
" Lain kali deh, kalau pingin pasti aku hubungin kamu," sahutku. " Terus di mana sekarang kakakmu ? " lanjutku.
" Dia tinggal bersama istrinya, masih di kota ini juga." Arya menceritakan tentang keluarganya Dia masih punya abang satu lagi yang bekerja di luar kota. Sedangkan ibunya tiap hari berjualan sembako di pasar pedesaan.
" Kalau ayah kerja di mana? " tanyaku lagi. Arya bilang ayahnya sudah meninggal. Aku pun minta maaf karena menanyakan hal ini.
Tak terasa sudah hampir setengah jam kami mengobrol. Kali ini aku pamit baik- baik nggak langsung lari seperti waktu itu.
" Sudah siang nih, aku harus ambil belanjaan di pasar. Bisa- bisa ibu marah kalau aku kelamaan, " kataku seraya berdiri.
__ADS_1
" Kok buru-buru sih ? baru ngobrol sebentar sudah pamit aja. " Arya berkata lalu mendekatiku. Digenggamnya tanganku. Sadar jika kami hanya berdua aku lepaskan tangannya dan segera meninggalkan rumahnya. Saking tergesa-gesa aku sampai nggak melihat ada kucing lewat.
Meoong ! kucing itu mengeong karena kutabrak.
Kupercepat langkahku hendak mengambil belanjaan di kios mbak Sumi.
" Kok ngos-ngosan gitu Aira ? perasaan tadi waktu pergi ketawa-ketawa, " tegur mbak Sumi heran.
" Ngga pa pa Mbak, tadi ketemu orang gila jadi aku takut dan lari." Aku menjawab seraya menyodorkan lembaran lima puluhan. Kuatur nafas sebentar supaya stabil lagi. Bisa- bisa ibu curiga jika aku kembali ke warung dengan ngos-ngosan. Mbak Sumi menyerahkan kembaliannya dan aku langsung kembali ke warung.
Sampai di warung aku minum air putih untuk memulihkan tenagaku. Ibu dan mbak Sri nggak curiga karena aku memang sering ngobrol di kios mbak Sumi jika sedang belanja.
Krik krik ! Handphone yang kutaruh di bilik berbunyi. Arya mengirim pesan.
[ Makasih ya sudah mampir ke rumahku 😊. Besok ke sini lagi dong tapi jangan buru-buru pergi 😉✌]
[ Makasih juga sudah jadi tuan rumah yang baik 😊🙏 ]
Hanya itu balasan chatku. Aku enggan melanjutkannya khawatir ibu menegurku.
_______
Waktu terus berjalan, aku sudah tidak pernah bertemu dengan Niko. Dia sudah naik kelas 3 SMA.
Sedangkan Rio terakhir kudengar kabar dia ikut pamannya kerja di Jakarta. Eva juga makin sibuk kuliah, tapi aku masih sering kontak via WhatApp.
Kehilangan teman-teman dekat membuatku merasa jadi orang yang paling menderita. Apalagi sebelumnya telah kecewa karena nggak bisa melanjutkan kuliah. Aku jadi cuek dengan sekelilingku. Apa yang kulakukan asal membuatku bahagia aku jalani. Tak peduli omongan orang lain.
Dan saat ini seseorang yang membuatku bahagia adalah Arya.
[ Besok ke rumahku ya ]
" Arya ada Buk? " tanyaku ketika tiba di rumah Arya dan yang membuka pintu ternyata ibunya.
" Aryaaa ! ada yang nyari nih ! " teriak ibunya Arya. Tanpa menjawab pertanyaanku dia langsung memanggil anaknya lalu masuk kembali.
Arya pun keluar sambil mengucek matanya. Aku masuk dan duduk tanpa disuruh. Arya duduk di sampingku, digenggamnya tanganku.
" Kok Saiful nggak pernah kelihatan sih? Kalungku benar-benar dibawa lari sama dia." Aku membuka percakapan.
" Sudah biarin aja, memang kebiasaan dia pinjam barang tapi nggak dikembalikan ,tapi barangnya entah ke mana." Arya pun menceritakan kebiasaan Ipul s*al*n itu.
Huuh ! gara-gara dia menghilangkan kalung itu aku juga kehilangan orang yang memberi,yaitu Niko. Sakit jika teringat itu.
Ah sudahlah ! Yang penting sekarang sudah ada Arya yang mau menemaniku. Meskipun aku yang harus menemuinya.
Setelah puas mengobrol dengannya aku kembali ke warung.
" Dari mana kamu ? " tanya ibu begitu aku sampai di warung.
" Dari belanja dong Buk," jawabku hati-hati.
" Nggak usah bohong , tadi mbak Sri keluar mau beli pulsa dan melihatmu berjalan ke arah belakang pasar. Mau apa kamu ke sana ? " tanya ibu beruntun.
Yach ! Akhirnya ketahuan juga. Tapi aku tidak menyalahkan mbak Sri yang sudah mengadu pada ibu.
" Kamu pacaran sama Arya itu kan ? setiap dia makan di sini kamu pasti mendekatinya terus bicara bisik-bisik. Jangan dikira ibu nggak tahu, ibu juga pernah muda. " Aku nggak bisa menyangkal perkataan ibu.
Beruntung ada pembeli masuk sehingga ibu berhenti menceramahiku. Paling nggak untuk sementara karena biasanya akan berlanjut nanti. Aku menyusul keluar untuk melayani pembeli.
__ADS_1
Dan benar saja, ketika pembeli sudah pada keluar ibu kembali bicara.
" Pacaran kok yang nyamperi malah perempuannya. Kalau memang serius suruh dia ke rumah, seperti dulu kamu sama Widi. " Ibu jadi mengingatkan Widi.
" Lagi pula dia kan masih pegawai honorer, nanti kamu nggak bisa beli bedak, lipstik, baju."
" Ibu tahu dari mana kalau dia masih honorer? Lagian aku juga nggak mau minta apapun dari dia. Kita baru berteman kok." Aku memberikan alasan pada ibu.
" Tentu ibu tahu karena ibu kenal dengan para pegawai kantor pasar ini. Mana yang honorer mana yang ASN ibu tahu." ibu bicara dengan yakin.
Aku hanya diam karena percuma menjawabnya.Ibu selalu merasa benar.
Aku sendiri juga tidak tahu status kepegawaian Arya karena pikiranku nggak sejauh itu. Aku bukan cewek matre.
_______
Meskipun ibu telah menegurku tapi aku tetap sering main ke tempat Arya. Entah mengapa aku nggak bisa tak bertemu dengannya sehari saja. Aku juga heran dengan diriku, kenapa aku bisa suka sama dia. Suka berarti cinta.
Benarkah aku cinta pada Arya ? Atau ini hanya pelampiasanku karena berpisah dengan Niko ?
Tapi makin ke sini aku berpikir,kok kesannya aku yang ngejar-ngejar dia. Sekarang dia jarang menemuiku di warung hingga aku mesti nyamperin dia di kantornya. Kalau hari libur juga aku mesti ke rumahnya.
Seperti pagi ini, aku sudah berada di ruang tamu rumah Arya.
" Tumben udah mandi, " celetukku melihatnya yang sudah kelihatan segar.
" Iya mau keluar, Saiful minta ditemani beli sepatu," sahutnya. Ia pun duduk di sebelahku. Digenggamnya tanganku dan ia tempelkan di pipinya. Sesaat kemudian ia mendekatkan wajahnya ke wajahku.
" Mau apa sih kamu ? " Kupalingkan wajah ke samping agar jauh dari wajahnya
" Kenapa, nggak boleh ya ? kan cuma pipi aja. " Ia membujukku.
" Enggak ! belum saatnya, " jawabku tegas seraya menggelengkan kepala. " Hari ini pipi, besok kamu minta yang lain, " lanjutku lagi.
Arya tertegun dengan ucapanku.
" Kalau kamu serius, sekali- sekali main dong ke rumahku, bukan aku aja yang menemui kamu," pintaku kemudian.
" Aku belum siap." Ia berkata pelan. Apa maksudnya belum siap ?
" Kenapa belum siap ? aku kan nggak menyuruhmu melamarku." tanyaku.
" Pokoknya belum siap aja. Sudahlah, kita seperti ini saja. Kalau kamu kangen sama aku datang aja ke sini atau ke kantor. Aku juga nggak mungkin tiap hari jajan di warung ibumu, pemborosan namanya. " Ia bicara dengan santai.
" Kamu nggak harus jajan kalau memang berniat menemuiku. " Arya tak bergeming. Ia tetap bersikukuh belum siap bertandang ke rumahku . Tapi kemudian ia menjawab, " Kapan- kapan kalau sempat. "
Mendengar pernyataan Arya membuatku enggan melanjutkan obrolan. Aku beranjak dari kursi lalu melangkah pergi tanpa berkata apapun.
Aku kecewa dengan sikapnya ini. Dan ooh ! Dia tidak memanggil apalagi mengejarku. Kupercepat langkahku.
Aku nggak habis pikir. Sejak mula jelas -jelas dia yang mendekatiku Dengan bujuk rayunya aku mau main ke rumahnya meskioun diam-diam.
Tapi ternyata dia nggak serius suka sama aku Padahal aku terlanjur suka sama dia.
____&&&&&_______
Bersambung aja deh !
Vote like dan komen ya gaess..
__ADS_1
Aku seperti terjebak.