
Aku kembali ke warung makan sebelum Dzuhur. Kutuang air putih karena panas dan haus tadi di angkot.
" Gimana Mbak, Mission Imposible nya, hihi? " tanya mbak Sri langsung kepo.
" Sebentar aku minum dulu, haus nih. Mana panas lagi di angkot, untung cuma dekat." Aku duduk sembari meneguk air putih hingga habis satu gelas.
" Memangnya habis dari mana kok pakai naik angkot, perginya nggak sama mas Raka to ? " Mbak Sri nyerocos saja. Aku nggak menjawabnya karena aku keluar lagi mengambil piring-piring kotor di meja depan. Kutaruh di wastafel dan langsung ku cuci.
" Biar nanti aku yang nyuci, Mbak Aira duduk saja dulu pasti capek." Mbak Sri mencegahku.
" Nggak pa pa ini lagi gerah malah seger sambil main air." Aku tetap lanjut mencuci.
" Ya sudah aku bantuin bilas saja, nggak enak juga kalau mbak Aira nyuci aku malah duduk." Ia pun ikut berdiri di sebelahku di depan wastafel.
" Aku tadi habis dari kampung Kp sendiri, mencari alamat seseorang. Ketemu rumahnya tapi nggak ketemu sama orangnya."
Lalu aku pun menceritakan tentang Ita pada mbak Sri. Tentu tidak semua kuceritakan karena ini menyangkut Raka juga.
" Astagfirullah, bener-bener nekat itu si Ita. Nggak punya malu, merendahkan diri sendiri itu namanya. Di depan orang banyak kok nyosor sama laki-laki." Mbak Sri menggeleng-gelengkan kepala.
" Ssstt, tapi jangan cerita sama ibu atau siapa pun ya. Kasihan Raka nanti malu kalau sampai ditanyain sama ibu." Ku peringatkan mbak Sri supaya nggak cerita sama yang lain.
" Enggak lah Mbak, rahasia Mbak Aira aman di tanganku. Lagian aku kan nggak pernah keluar- keluar to, cuma di dapur terus." Mbak Sri meyakinkanku. Nampaknya memang dia bisa dipercaya, makanya aku selalu curhat sama dia, daripada sama mbak Nia.
" Terus rencana Mbak Aira selanjutnya apa ? " tanya Mbak Sri kemudian. Nampaknya ia begitu antusias mendengarkan ceritaku.
" Aku tadi kan sudah minta nomer kontaknya Ita. Nah, aku mau mengirim pesan padanya. Akan kukatakan apa adanya kalau aku pacarnya Raka," jawabku yakin.
Kami pun duduk di bangku setelah selesai mencuci piring. Hanya beberapa menit kami duduk sudah datang para pelanggan untuk makan siang. Obrolan kami pun terpaksa terhenti. Dan seharian ini nggak sempat lagi mengobrol karena kami sibuk masing- masing.
Setelah seharian beraktifitas di warung makan, sore hari waktunya menghirup udara bebas. Sambil berjalan kaki tak terasa sudah sampai depan rumah. Si kecil Arkana lagi berjalan ke sana sini sambil disuapi ibunya.
__ADS_1
" Hai ganteng, lagi mam mam ya ! " seruku menyapanya. Ia seakan tahu kalau dipanggil, langsung menyambut tanganku dan menggenggam jariku. Kucubit pipi tembemnya, dia malah tertawa.
" Tante masuk dulu ya, mau mandi biar wangi," ucapku seraya mencium pipinya. Aku masuk ke kamar dan membaringkan tubuh sejenak menatap langit-langit kamar. Posisi yang enak saat habis bekerja seharian.
Kriik kriik kriik. HP ku berbunyi. Kubaca sambil tetap tiduran. Pesan WA dari Raka.
[ Aira cantik , malam ini aku nggak ke rumah ya. Capek banget, seharian ini pekerjaanku banyak, maklum hari Senin. Pulangnya masih disuruh mengantar nenek ke apotik. . Nggak marah kan ]
Aku tersenyum membacanya, lengkap sekali keterangannya. Mungkin dia mengira aku bakalan marah kalau dia nggak datang.
[ Iya aku nggak marah, udah kamu istirahat saja. Tapi jangan lupa makan dulu terus sholat, baru tidur ]
[ Oke sayang, makasih kamu nggak marah. Udah dulu ya , aku mau nyuruh Winda mijitin pundakku yang pegel nih 😁 ]
[ Kamu tuh ya, kan kasihan Winda. Dia juga capek tadi sekolah. apa aku ke rumahmu aja ya buat mijitin kamu ]
[ Jangan ! Nggak usah.. Aku nanti malah kepikiran kalau kamu ke sini. Winda kusuruh mijit pakai kaki bukan pakai tangan. Dia malah seneng kalau kusuruh, biar dapat upah katanya ]
[ Ya udah ya, tuh Winda manggil nggak sabar. byee 😘 ]
Nggak perlu kubalas lagi. Selama ini kita memang nggak pernah chating berlama-lama seperti umumnya pasangan lain. Raka bukan type cowok romantis yang suka mengobral gombalan. Kirim pesan hanya kalau ada hal penting saja.
Handphone kutaruh di atas bantal. Kemudian aku bangun dan membersihkan diri. Setelah sholat dan makan malam, aku masuk kamar lagi untuk melancarkan aksiku. Kubuka HP lalu kucari nomer kontaknya Ita.
' Maafin aku Raka, aku melakukan ini tanpa sepengetahuan kamu ' gumamku. Kulihat profilnya Ita, wajahnya biasa saja. Nggak cantik, tapi juga ngga jelek.
Dan mulailah aku menulis pesan untuknya.
[ Assalamualaikum , salam kenal. Ini nomer WA nya mbak Ita kan ]
[ Kenalkan namaku Aira, mungkin kamu bertanya-tanya dari mana aku tahu nomer kamu. Supaya nggak bingung aku jelaskan ya, tapi maaf sebelumnya. Aku ini ceweknya Raka anaknya bu Harti yang rumahnya di kampung BT. sebelahan sama rumah sepupu kamu. Tentu kamu kenal dia kan ? Karena aku tahu kamu juga dr Raka. Dia sudah cerita semuanya tentang kamu dan apa yg kamu lakuin tempo hari.
__ADS_1
Oh iya, maksud aku menghubungimu karena ingin menyampaikan sedikit pesan buatmu. Kalau Raka dan aku sudah setahun menjalin hubungan. jadi kumohon kamu mengerti dan nggak usah mengharapkan dia lagi. apalagi sampai memaksakan sesuatu yang menurutku sangat murahan. dan itu mlh merendahkan dirimu sebagai wanita. ]
[ Kurasa cukup sekian kuharap kamu paham dan mengerti. misalkan aku berjodoh dengan Raka suatu saat kita pasti bisa ketemu langsung. wasalam ]
Send.
Entah nanti pesanku dibalas atau tidak yang penting aku sudah memperingatkan dia kalau Raka sudah punya pacar. Dia nggak tahu wajahku karena aku tadi sempat mematikan pengaturan profil ku. Aku tersenyum puas, setelah mematikan HP aku segera tidur.
__________________
" Gimana Mbak, sudah mengirim pesan ke cewek itu ? " Mbak Sri langsung menyambutku dengan pertanyaan begitu aku tiba di warung makan.
" Sudah, tapi entah dibalas atau enggak aku belum membukanya. Tadi malam langsung tidur soalnya," jawabku lirih, karena lagi jam sarapan dan ramai pembeli. " Nanti saja ngobrolnya kalau ibu tahu kita dimarahi." Kukode dia sipaya diam. Aku pun keluar membuat minuman sedangkan mbak Sri meneruskan tugasnya di dapur.
Baru pada saat warung agak lengang kuambil handphone di tas dan kubuka chat WA ku ke Ita semalam. Centang biru, ternyata Ita sudah membaca pesanku, tapi dia tidak membalasnya. Hmm, mengapa dia nggak mau membalas pesanku ? Marah kah, cemburu, kecewa atau kesal.
" Mbak Sri, dia sudah membaca pesanku. Tapi nggak dibalas." Kuberi tahu mbak Sri saat dia masuk setelah membersihkan meja di depan.
" Benarkah, apa dia marah ya Mbak ? " Mbak Sri menerka-nerka.
" Marah sama siapa, sama aku ? Dia kan nggak kenal aku masa langsung marah. Harusnya dia itu minta maaf bukannya marah." Aku menggerutu di depan mbak Sri.
" Tunggu saja 1 atau 2 hari. Kalau dia nggak membalas berarti pengecut. Nggak berani menerima kenyataan." Mbak Sri memberi saran padaku.
" Betul, kalau aku yang jadi dia langsung kubalas pesannya dan terang-terangan minta maaf. Aku juga nggak sepenuhnya menyalahkan Ita, itu hak dia untuk mencintai seseorang. Apalagi dia kan belum tahu kalau Raka sudah punya pacar. Kecuali Raka yang bilang pada saat itu."
" Masalahnya mas Raka waktu itu bilang nggak kalau punya pacar. Kalau iya berarti si Ita memang nggak tahu malu." Mbak Sri mengumpat lagi.
" Yah sudahlah. Yang penting aku sudah mengungkapkan yang sebenarnya. Terserah dia mau menerima atau tidak. Lebih baik sekarang sarapan." Aku beranjak mengambil piring lalu menyendok nasi plus ayam goreng.
___________________
__ADS_1
Bersambung. Please komennya kakak, biar penulis selalu semangat. Eeea eeaa eeaa !