Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 41 Siapa Lagi ?


__ADS_3

Sebagai rasa syukur atas kelahiran putra pertamanya, mbak Nia dan mas Joni menggelar acara syukuran Aqiqah. Rencananya akan diisi dengan pengajian oleh ustadz setempat. Kami juga mengundang saudara, teman serta tetangga sekitar.


Hari Sabtu malam pengajian dilaksanakan. Mamanya Eva dan budenya juga datang untuk ikut membantu menyiapkan makanan dan minuman.


" Aira, nanti seusai pengajian tolong bagikan bingkisan dan souvenir untuk para tamu yang hadir," pesan Mbak Nia.


" Oke siap Boss ! " sahutku.


" Nanti Daffa bantuin deh, Tante Aira ! " seru Daffa ponakanku. Sejak sore tadi 2 ponakanku sudah datang bersama ayah dan bundanya.


" Stella juga ya, Tante ! " teriak si kecil Stella tak mau ketinggalan.


" Iya.. iya.. semua boleh membantu Tante Aira." Aku mengiyakan saja permintaan bocil-bocil ini. Mereka pun duduk bersama yang lain mendengarkan ceramah pak ustadz.


Acara pengajian berjalan lancar. Sebelum para tamu pulang aku membagikan bingkisan makanan dan souvenir untuk dibawa pulang. Tentunya dengan dibantu 2 ponakan kecilku.


" Mbak, souvenirnya kok masih banyak? " tanyaku pada mbak Nia setelah semua tamu pulang.


"Kan masih ada yang belum diberi. Jadi besok tolong kamu bagikan souvenirnya, ini daftarnya sudah aku tulis," kata mbak Nia seraya memberikan secarik kertas padaku.


Kubaca sekilas, kok ada nama mas Sidik.


" Mas Sidik juga dikasih, Mbak? " tanyaku heran.


" Iya dong, kemarin kan dia juga memberi kado buat babyku ," jawab mbak Nia.


" Kenapa bukan mas Joni aja yang memberikan,besok pas dia memasok kopinya ke toko." Aku memberikan alternatif lain.


" Mas Sidik kan baru seminggu yang lalu terakhir memasok barang, sudah di full stoknya. Dia kan mau setor ke pasar lain juga." Mbak Nia menjelaskan padaku.


" Berarti dia sudah nggak ke pasar sini lagi ya Mbak, syukurlah jadi dia nggak akan mampir ke warung lagi."


" Ya masih lah, mungkin masih menagih uang di beberapa tempat. Kalau mas Joni kan sudah bayar lunas jadi mas Sidik nggak ke toko kita lagi.


Yang penting besok souvenirnya dibawa dulu simpan di warung. Kalau dia datang ya kasihkan saja." Mbak Nia berkata kemudian memasukkan souvenir-souvenirnya ke dalam kardus besar.


" Memangnya besok ibu sudah mulai buka warungnya ? " tanyaku.


" Sudah, tadi ibu bilang begitu. Cukup sehari saja liburnya lagi pula acaranya juga sudah selesai." Mbak Nia menjawab


Karena sudah terlalu malam dan lelah kami pun beranjak tidur. Hanya ayah dan mas Joni yang masih mengecek ini itu. Mbak Rina sekeluarga menginap di sini, sedangkan mas Bayu dan mbak Tika pulang ke rumah karena dekat.


Esok harinya ibu tetap berjualan karena acara syukuran sudah selesai. diantar mas Joni karena membawa kardus besar. Sampai depan warung mas Joni juga yang membawanya ke dalam, kemudian ia langsung ke toko.


" Mbak Sri, ini ada souvenir dari mbak Nia. Syukuran Aqiqahan putranya." Aku mengambil satu bungkusan dan kuberikan pada mbak Sri.


" Aduh, terima kasih. Semoga putranya menjadi anak yang sholeh dan pintar. Maaf ya tadi malam nggak bisa datang." Mbak Sri menerimanya dan tak lupa mendoakan.


"Aamiin, nggak apa- apa, Mbak," sahutku. Kardusnya kumasukkan dalam bilik tempat sholat.


" Nanti aku bantu membagikan, Mbak Aira. Yang sekitar sini saja, kalau yang jauh aku nggak tahu." Mbak Sri menawarkan jasanya.

__ADS_1


" Oke, nanti saja kalau pekerjaan yang pagi sudah selesai," kataku. Lalu aku mengambil 1 bungkusan lagi akan kuberikan pada mbak Wiwit.


" Mbak Wiwit, ini ada souvenir dari mbak Nia. Acara syukuran Aqiqahan putranya." Aku mengulurkan bungkusan pada mbak Wiwit.


" Wow apa ini ? terima kasih lho ya, sampaikan sama mbak Nia," kata mbak Wiwit.


" Iya Mbak sama-sama," sahutku. Sempat kulihat di dalam ada cowok yang sedang duduk sambil memainkan handphone. Siapa lagi tuh !


Tanpa kuduga cowok itu menoleh, ia tertegun sejenak lalu melempar senyum. Dengan ragu aku membalas senyummya.


" Aku masuk dulu ya, Mbak." Aku pamit sama mbak Wiwit.


Di warung sudah banyak pelanggan yang datang untuk sarapan. Aku membikin teh beberapa gelas dan kutaruh di nampan, lalu kuletakkan di meja depan. Para pelanggan akan mengambil sendiri jika mereka ingin.


" Mbak Sri, itu kok ada cowok di dalam tokonya mbak Wiwit." Aku memberitahu mbak Sri.


" Mungkin mas Heri,suaminya mbak Wiwit ," katanya tanpa menoleh. Ia sedang menggoreng tempe balur tepung.


" Kalau mas Heri aku juga kenal, ini wajahnya mirip sama mbak Wiwit tapi versi cowok." Aku pun memberi gambaran wajahnya.


" Oh itu mungkin adiknya, mas Rifan namanya. Dulu memang sering ke sini ke toko kakaknya, tapi setelah menikah sudah jarang sih," kata mbak Sri lagi.


Ia mengambil serokan lalu mengangkat tempe dari penggorengan. Didiamkan sebentar supaya minyaknya sedikit mengering.


" Sudah menikah ya, tapi kok dia sendiri. Nggak ada perempuan lain di situ. Anak kecil juga nggak ada." Aku melanjutkan obrolan.


Kupindahkan tempe tepung yang masih panas di piring lalu kubawa keluar. Sebelumnya aku mencomot satu buatku sendiri.


Aku nggak lagi menanggapi ceritanya karena masih mengunyah tempe. Terdengar suara mbak Wiwit di depan, ia minta 2 piring nasi plus ayam goreng.


" Aira, tolong bawakan tehnya dong. Ini tanganku membawa piring soalnya," pintanya padaku.


" Siap, Mbak ! " Aku mengambil 2 gelas teh yang kutata di meja tadi, lalu kubawa ke tempat mbak Wiwit. Kutaruh di atas meja tulisnya.


Mbak! Wiwit mengulurkan satu piring yang dibawanya pada adiknya. Selanjutnya ia pun mulai makan tanpa menoleh lagi.


" Terima kasih ya, Dik Aira," ucap mas Rifan. Ia pun mulai menyendok nasinya. " Oh iya, kenalkan nama saya Rifan," lanjutnya meneruskan kalimatnya.


Aku hanya tersenyum dan mengangguk, nggak enak sama mbak Wiwit kalau aku menanggapi obrolan adiknya. Secara mas Rifan sudah beristri.


" Maaf saya permisi dulu ! " ucapku seraya berjalan masuk ke warung. Aku buru-buru masuk ke dapur ingin menyampaikan pada mbak Sri tentang Rifan.


" Mbak Sri, ternyata benar cowok itu Rifan adiknya mbak Wiwit. Tadi dia malah mengenalkan dirinya padaku..Aku nggak menanggapi karena nggak enak sama mbak Wiwit. Dia kan sudah punya istri." Aku memberi tahu mbak Sri.


" Berarti benar kataku," kata mbak Sri. "Tapi kenapa dia pakai mengenalkan diri sama mbak Aira, padahal kalau ke sini nggak pernah menyapa kita. Mau makan aja kakaknya yang mengambilkan ke sini , iya kan ? "


" Nggak tahu tuh." aku berkata seraya keluar hendak mengambil piring dan gelas kotor. Tiba-tiba mas Rifan muncul.


" Dik Aira, ini piringnya saya kembalikan. Gelasnya nanti saja karena tehnya belum habis." Ia meletakkan piring di meja terus menatapku tak berkedip.


Ibu sedang sarapan hingga tak memperhatikan kami.

__ADS_1


" Oya, Mas. Ngga apa-apa nanti gelasnya biar kuambil," sahutku. Dia masih belum keluar juga.


" Masih ada yang kurang, Mas? " tanyaku. Mungkin dia mau minta gorengan atau kletikan.


" Eh enggak, nanti saja masih kenyang." Ia pun tersenyum lalu permisi keluar.


Kubawa sekalian piring yang dibawa mas Rifan tadi ke dapur. Mbak Sri yang akan mencucinya. Aku mengambil sarapan.


" Mbak, kalau sudah selesai mencuci langsung sarapan saja. Habis itu kita bagi souvenirnya." Aku mengingatkan mbak Sri. Ia pun mengangguk.


Seusai mencuci piring mbak Sri sarapan. Dan setelah pembeli mulai berkurang kami berdua keluar untuk membagikan souvenirnya.


Sekitar setengah jam kami selesai membagikannya. Di kamar masih tersisa satu buah.


" Itu kok masih sisa satu, Mbak Aira. Punya siapa? "


" Oh itu jatahnya mas Sidik. Tapi kok dia belum muncul ya ? " aku bertanya-tanya sendiri.


" Lebih baik disimpan saja dulu, mungkin besok kalau nggak besoknya lagi. Masih banyak yang panen kopi dia pasti masih memasok barangnya ke pasar." Ibu memberi usulan. Ya sudah kubiarkan saja souvenirnya di kamar.


Menjelang dzuhur ketika aku sedang mengelap meja ruang depan, kulihat mas Rifan keluar dari toko. Di sampingnya seorang wanita seumuran dia membawa kantong belanjaan. Mungkin itu istrinya. Mas Rifan mencuri pandang ke arahku dan melempar senyum.


Aku terkejut, khawatir saja jika istrinya menoleh dan melihat suaminya sedang mencuri pandang kepadaku. Mas Rifan masih saja senyum-senyum, terpaksa aku juga melempar senyum sesaat lalu kubuang pandangan ke arah lain.


___________


Dua hari kemudian mas Sidik baru muncul.


" Selamat pagi, Dik Aira ! " sapanya seperti biasa.


" Selamat pagi, tumben baru muncul ! " Ibu yang menjawab sapaan mas Sidik. Aku tengah minum di dapur.


" Iya Buk, sudah nggak punya barang. Semua sudah saya setorkan ke pelanggan, tinggal menagih uangnya saja." Mas Sidik beralasan.


Aku keluar membawa souvenir dari mbak Nia kemarin.


" Mas Sidik, ini ada souvenir dari mas Joni yang punya toko sembako di pertokoan sebelah pasar. Kemarin syukuran Aqiqah putranya." Aku memberikan bungkusan yang kubawa padanya.


"Aduh kok repot-repot pakai dikasih souvenir segala. Oya memangnya Dik Aira kenal sama mas Joni ? " tanya dia kemudian.


" Kenal. Mas Joni kan kakak ipar saya, " jawabku menjelaskan status mas Joni..


"Ooh begitu, baru tahu saya. Ternyata dunia ini sempit ya, saya dekat dengan Dik Aira yang ternyata adik ipar mas Joni, pelanggan saya. Hehehe..! " Ia tertawa terkekeh - kekeh.


Apa katanya tadi, d e k a t ? Cuih ! Sejak kapan aku dekat sama dia? Ternyata dia belum kapok meskipun tempo hari aku ketusi dia.


Tuhan please... semoga panen kopi segera berakhir, sehingga manusia satu itu nggak mampir ke sini lagi.


************************


Sudah dulu ya gaees... masih ada kelanjutannya loh. Sebentar lagi Aira bakal ketemu seseorang.

__ADS_1


Ikuti terus dan beri komentar ya !


__ADS_2