
" Oleh-olehnya apaan sih Mas, aku jadi penasaran nih ! " Aku bertanya di tengah perjalanan.
" Cuma makanan ringan kesukaan kamu. Teman-teman yang mengajak mampir beli jajan buat anaknya. Aku ikutan saja beliin buat kamu, daripada nggak beli apa-apa hehe ! " cerita mas Raka.
" Ooh, kirain belikan aku kerudung atau sendal atau apa, hihi ! " gurauku.
" Kan duitnya ditabung sebagian, katanya mau cepetan menikah. Nanti mas kawinnya aku kasih komplit deh," ucapnya.
" Bercanda Mas, dibelikan jajan aja aku sudah senang kok." Kuralat omonganku.
" Maaf ya, untuk sekarang aku memang belum bisa memberimu sesuatu yang berharga. InsyaAllah setelah menikah nanti kalau kamu pingin sesuatu pasti aku belikan."
" Mas Raka apaan sih, sudah kubilang aku cuma bercanda. Buat aku kamu yang paling berharga dibandingkan apapun. Yang penting kamu selalu sayang dan selalu ada buat aku." Aku menepis kalimatnya.
" Hehehe, aku juga bercanda," katanya lagi. Aku hanya menggumam, " Hemmh."
Beberapa menit kemudian " Sudah sampai, ayo turun ! " seru mas Raka tatkala motornya berhenti di depan rumah.
Aku turun mengikuti langkahnya.
" Assalamualaikum," ucapku dan mas Raka bersamaan saat masuk pintu pagar.
Kebetulan keluarganya tengah berkumpul di teras.
" Waalaikum salam," balas mereka bersahutan.
" Eeh Aira, kok lama nggak ke sini. Nenek sudah kangen banget," sapa nenek dengan wajahnya yang sumringah.
" Mas Rakanya sibuk Nek, kasihan tiap hari capek," sahutku lalu mendekati beliau.
Aku menyalami satu persatu. Pertama nenek yang tadi menyapaku, lalu ibu, ayah, kakek dan seorang laki-laki yang aku belum pernah melihatnya. Saat hendak mengulurkan tangan aku agak sedikit canggung.
" Aira, ini pamanku adiknya bapak. Namanya Oom Sono." Mas Raka mengenalkannya padaku.
Aku pun menyalaminya dan melempar senyum. Ekspresinya datar, seolah tak menghiraukanku. Begitu juga saat menyalami ayahnya mas Raka, beliau biasa saja menanggapiku.
" Aira kamu duduk dulu, aku mau mandi sekalian sholat. Sebentar lagi azan Magrib soalnya." Mas Raka hendak beranjak ke belakang.
" Aku ke dalam saja Mas, sambil nonton TV, " pintaku.
Terus terang aku agak segan duduk bersama lima orang dewasa yang masih terasa asing menurutku. Apalagi dua di antaranya nampak tak acuh terhadapku.
" Ya sudah ayo masuk ! " ajak mas Raka lalu menarik pelan tanganku. Di ruang keluarga ada Winda, adiknya Winda dan seorang anak perempuan lagi seusia adiknya Winda. Mas Raka menyuruh mereka salim sama aku.
" Hai Mbak Aira, kenalkan ini Erin anaknya Oom Sono," Winda menyalamiku seraya mengenalkan saudara sepupunya.
" Oya, Erin kelas berapa? " tanyaku.
" Kelas 3 Kak," jawab gadis kecil ini sambil menjabat tanganku dan menciumnya.
" Anaknya ramah dan sopan begini, tapi ayahnya pasang muka sangar." Aku berkata dalam hati.
Kemudian adiknya Winda pun ikut menyalamiku. Selanjutnya mereka kembali menonton televisi.
__ADS_1
Tak berapa lama terdengar azan Magrib berkumandang. Mereka yang tengah duduk mrngobrol di teras pun masuk ke dalam rumah.
" Mbak Aira mau pinjam mukena ibu ? " Winda menawariku.
" Nggak usah, aku lagi nggak sholat." Kutolak tawarannya. Kira-kira lima belas menit menit mas Raka telah selesai mandi dan sepertinya sudah sholat juga. Ia menghampiriku.
" Ke kamarku yuk," ajaknya.
" Di sini aja kenapa sih, nggak enak sama bapak dan ibu. Apalagi sama pamanmu itu, tadi waktu kusalami wajahnya sinis gitu. Gimana kalau tahu aku malah masuk ke kamar kamu." bisikku.
" Halaah ngga usah peduliin dia, cuek saja. Yuk masuk, katanya mau minta oleh-oleh."
Mas Raka terus membujukku. Aku terpaksa menuruti sekalipun agak sungkan. Untung yang lain lagi pada sholat. Di sini hanya ada anak-anak dan kakek.
" Nih, buat kamu semua. " Ia menyodorkan dua bungkusan plastik putih besar. Aku langsung mengeluarkan isinya. Ada bakpia patok, yangko, brem kuning, kripik belut,kripik kentang dan masih ada kripik lainnya.
" Ini beneran buatku semua Mas ? " tanyaku tak yakin.
" Beneran, masa aku main-main sih," sahut mas Raka.
" Nggak yakin saja, masa sebanyak ini buatku semua. Memangnya yang lain nggak dikasih ? " tanyaku.
" Kalau semua aku kasih nanti kamu malah nggak kebagian. Orang di sini keluarga besar. Mending buat kita berdua saja." Mas Raka berkata sembari membuka kotak bakpia patok lalu mencomotnya.
" Tapi kasihan dong Mas, paling tidak adik-adik dikasih lah. Ini aku ambil sebagian buat mereka ya," usulku.
" Terserah kamu saja, yang penting aku sudah kasih buat kamu," sahutnya sambil mengunyah.
Aku mengambil botol air mineral dan kusodorkan padanya. " Minum nih, nanti seret ! " ujarku.
" Adik-adik ini Mbak Aira punya jajanan buat kalian," kataku.
Kutaruh makanannya di hadapan mereka yang duduk di atas karpet. Hanya ada mereka bertiga di sini, para orang tua meneruskan obrolan mereka di ruang tamu. Aku kembali ke kamar.
" Untung di ruang tengah hanya ada anak-anak. Jadi sasaranku tepat, niatku memang cuma ngasih ke mereka, hehehe." Aku terkekeh.
" Makanya tadi nggak usah dikasih sekalian. Mending dibawa pulang , itu kan makanan favorit kamu semua." Mas Raka menggerutu, mulutnya tengah mengunyah keripik belut.
" Jangan gitu dong Mas, sama anak kecil lho. Lagian aku juga nggak enak nanti kalau pulang. Pasti keluargamu bertanya-tanya itu Aira bawa bungkusan apa. Kamu sendiri juga doyan kan, ini buktinya ngremes terus, hihi."
" Soalnya dari kemarin pingin nyicipi tapi kan nungguin kamu dulu. Biar kamu terima dulu baru aku minta," lanjutnya.
" Astaga Mas Raka, lebay banget sih. Ini kan kamu yang beli kok mau makan aja nungguin aku. Hadeeh ! " selorohku sembari geleng-geleng kepala.
Mas Raka tak menggubris, ia masih saja mencicipi tiap jenis jajanan yang ia, beli kemarin. Dalam hati aku kagum, dia bela-belain menahan keinginannya makan hanya karena supaya aku menerimanya dulu. Dia sangat menghargaiku, niatnya memang membeli jajanan itu buatku.
" Mas, sebenarnya aku ada sedikit ganjalan nih," kataku sembari mencomot bakpia.
" Ganjalan apa lagi, sudah dapat jajanan kesukaan loh," sahut mas Raka menggodaku.
" Serius nih, tadi waktu aku salaman sama bapak kok ekspresinya datar gitu. Kayak ngga suka aku datang ke sini. Belum lagi pamanmu itu, ia menatapku dengan wajah sinis," ungkapku pada mas Raka.
" Nggak usah diambil hati, memang raut wajahnya seperti itu." Mas Raka menepis ucapanku.
__ADS_1
" Beda lah Mas, orang tadi waktu kita datang mereka masih pada tertawa. Setelah kita masuk lalu aku mengajak salaman raut wajah pamanmu itu langsung beda. Bapak malah tidak menatapku waktu kusalami."
" Sudah nggak usah dipikirin. Yang penting kakek sama nenek baik sama kamu. Aku juga tetap sayang sama kamu, kalau mereka cuekin aja."
" Tapi tetap saja aku merasa nggak enak," tukasku lirih.
" Sayaaang , percaya sama aku. Jangan dipikirin, oke. Nih makan aja ! " bujuk mas Raka lagi. Ia membuka jajanan kembali dan mengambilnya sepotong.
" Buka mulut, haaa....., " ucapnya berniat menyuapi ku. Aku pun membuka mulut dan menerima suapannya.
" Gitu dong, sambil senyum jangan cemberut, hihi." Ia pun menggodaku. Aku tersipu.
Aku terlarut dalam canda dan gurauan mas Raka. Perasaanku sudah tenang lagi tidak seperti tadi. Sambil menikmati jajanan yang dibeli mas Raka kita berdua bercengkerama.
" Mau suapin lagi nggak ? " tanya dia saat aku diam karena kekenyangan.
" Sudah kenyang, semua sudah kucicipi," sahutku seraya meneguk air mineral.
" Bohong kalau bilang kenyang, padahal ada yang belum aku suapin ke kamu." Mas Raka mengerling nakal.
" Yang mana, memangnya kamu masih menyimpan makanan lagi. Bawa sini biar kumakan sekalian ! " pintaku dengan mengulurkan tangan.
" Yang ini ngga bisa dimakan dengan tangan, harus kusuapin," cetusnya sambil tertawa menyeringai.
" Apa sih Mas, bikin penasaran aja deh ! " ucapku manja.
" Makanya sini mendekat," bisiknya lalu merengkuh bahuku. Aku menurut karena masih tak mengerti.
" Ini lho yang bikin kenyang, mmmmuaach! " Mas Raka menyambar bibirku dan mengecupnya lama.
Aku memejamkan mata. Ia terus memainkannya, sampai akhirnya aku mendorongnya baru dia melepaskan. Nafas kami memburu.
" Kok kamu dorong aku, nggak suka ya? " tanya mas Raka.
" Nanti kebablasan, sedikit saja," ujarku memperingatkannya.
Mas Raka tersenyum lalu mengusap kepalaku. Dikecupnya keningku dalam-dalam.
" Mau pulang sekarang apa nanti," ucapnya lembut.
Aku menengok jam dinding di kamarnya. Pukul 21.30 . " Sebentar ya Mas, aku rapikan bajuku dulu. Nanti dikiranya kita habis ngapain kalau bajuku berantakan." Aku berdiri lalu membenahi jilbabku yang sempat berubah posisi.
" Memang kita habis ngapa-ngapain kan tadi," celetuknya sambil nyengir.
" Bukan itu maksudku. Huuuuh dasar." Aku mengumpatnya lirih.
" Tapi enak kan, buktinya kamu sampai merem-merem tadi," ledeknya.
" Apaan sih, kamu yaa iiih.. iiih ! " kucubiti pinggangnya. Mas Raka berjingkat menghindar. Aku mengejarnya terus , akhirnya kita malah berkejaran dalam kamar.
_____________
Sudah dulu aah !
__ADS_1
Jangan lupa vote like dan komennya ya. Makasih say !