
Malam hari aku sedang nonton TV sambil rebahan di sofa. HPku berbunyi, ada pesan WA dari kak Vicky. Ia mengajakku menjenguk Widi di Rumah Sakit besok sore jam 03.00.Aku pun setuju.
Aku beranjak dan masuk ke kamar ibu. Tadi siang di warung makan aku sudah bilang kalau Widi sakit.
" Buk, besok aku nggak ke pasar ya. Kak Vicky mau ngajak aku ke Rumah Sakit jenguk Widi."
Ibu yang sudah bersiap tidur pun hanya bilang,
" Iya." Mungkin karena sudah mengantuk.
Aku keluar dari kamar ibu dan masuk ke kamarku.
Kubuka WA dan chating dengan bestie2ku.
Eva sudah diterima di PTN di Jogja. Yana sibuk membantu bisnis ibunya. Tahun depan baru dia mau daftar kuliah. Mereka berdua sudah tahu aku jalan sama Widi.
________
Siang ini sepulang dari kerja aku tiduran di sofa ruang tengah. Masih ada waktu sekitar 2 jam sebelum nanti ke Rumah Sakit. Sambil nonton TV aku memejamkan mata.
" Aira, bangun Nak." Ada yang mengguncang bahuku. Aku membuka mata. Ternyata ayah yang membangunkanku.
"Sudah hampir jam 3.00 katanya mau jenguk temanmu itu, " lanjut ayah lagi. "Iya Yah," jawabku.
Aku beranjak masuk ke kamar dan bersiap-siap.
Selesai memakai jilbab aku mengambil tas selempangku dan menunggu kak Vicky di teras.
Tak lama dia datang dan kami pun berangkat.
Di ruangan serba putih, Widi terbaring . Ia ditunggui ibunya.
"Selamat sore Buk, " sapaku pada beliau. Aku dan kak Vicky masuk dan mendekati Widi.
" Selamat sore," jawab ibunya Widi.
Beliau duduk di sisi kanan ranjang dan tengah mengupas apel lalu menyuapkan ke putranya. Kak Vicky duduk di sisi kiri ranjang dekat dengan kepala Widi. Aku duduk di samping kak Vicky.
" Gimana keadaanmu Wid, udah agak mendingan apa masih sakit ?" tanyanya. Widi tidak menjawab hanya menatap dan berusaha tersenyum. Ia mengunyah apelnya pelan-pelan. Tapi kemudian Widi nggak mau melanjutkan makannya. Ia mengeluh pusing. Ibunya buru-buru meletakkan apel dan mengelus kepala Widi.
" Ibuuuuu.... sakiiiiiit..... Buuuu." Widi mengaduh dan menangis. Aku ngga tega melihatnya. Kak Vicky mengelus bahunya.
" Sabar Wid, kamu yang kuat ya," hiburnya. Aku sendiri ngga bisa bicara apa-apa. Terus terang aku belum kenal dengan ibunya Widi jadi masih malu. Meskipun tetangga tapi rumah kami berjauhan dan jarang ketemu.Sama Widi juga baru kenal kemaren.
Aku hanya memperhatikan saja. Tubuhnya kelihatan lemah.Tatapannya sayu. Widi menatapku tanpa berkata apapun. Mungkin ia ingin menyampaikan sesuatu tapi ngga bisa karena
menahan sakit.
Aku juga nggak tahu harus bagaimana. Aku hanya diam dan membalas tatapannya.
Tak berapa lama kami pun pamit karena ada lagi saudaranya yang datang.
" Aira, kita makan dulu yuk ! Di depan ada warung soto, kita mampir ke situ aja," ajak kak Vicky.
Aku menurut saja. Kak Vicky memesan 2 porsi soto daging dan 2 gelas teh manis hangat.
" Kak, memangnya Widi sakit apa sih ? katanya kena bola tapi kok dia sampai kesakitan gitu ? "
Aku menanyakan kondisi Widi pada kak Vicky. Aku pikir dia lebih tahu karena rumahnya di sebelah rumah Widi. Kak Vicky teman sekolah kakak Widi.
__ADS_1
" Justru karena kena bola itu penyakit lamanya jadi kambuh," jawab kak Vicky. " Sebenarnya bukan penyakit sih. Lebih tepatnya Widi pernah mengalami kecelakaan motor sekitar 2 th lalu. Dan dia mengalami gegar otak.Tapi untungnya masih bisa diselamatkan." Ia menjelaskan lagi.
"Terus maksudnya kambuh itu apa Kak?" tanyaku lagi. "Apa karena kena bola itu sehingga gegar otaknya yang dulu jadi kambuh, begitu ya? "
" Bisa jadi seperti itu. Aku sendiri ngga begitu paham. Hanya diberitahu seperti itu sama kakak Widi kemaren," lanjut kak Vicky.
" Kasihan Widi," gumamku. "Mudah-mudahan dia kuat ya Kak," kataku lagi.
" Iya, kita doakan yang terbaik buat Widi," sahut kak Vicky.
Kami pun melanjutkan perjalanan pulang.
______
Selesai sholat Isya tak lupa aku sisipkan doa untuk kesembuhan Widi. Setelah itu aku keluar dari kamar hendak makan malam.
" Widi sakit apa, Ra? " tanya mbak Nia. "Katanya kena bola waktu main futsal ya. Aku dapat kabar dari Tutik tadi sore," lanjutnya lagi.
"Kata kak Vicky juga gitu Mbak." Aku menjawab lirih sambil menyemdok nasi. Masih teringat ketika dia menatapku tadi.
" Terus gimana tadi keadaannya. Kamu tadi sudah jenguk dia kan ? " Mbak Nia bertanya lagi.
" Kasihan banget. Dia seperti kesakitan sekali. Ia mengeluh pusing pada ibunya sampai nangis Mbak."
Aku menceritakan yang kulihat di Rumah Sakit tadi. Ibu yang berada di kamar pun keluar.
"Terus gimana kelanjutan hubunganmu sama Widi ?
Misalkan kalian menikah, padahal dia punya penyakit. Terus ketika anak kalian masih kecil tiba-tiba ayahnya kambuh. Ibu nggak bisa bayangkan gimana nasibmu kelak."
Tiba-tiba saja ibu berkata seperti itu. Ya Allah !
Aku hanya diam saja.
" Ibu kok bicara seperti itu. Aira kan baru berteman saja dengan si Widi itu, belum serius."
Ayah yang dari tadi diam ikut mengomentari perkataan ibu.
" Andaikan sudah serius pun kita doakan semoga Widi segera sembuh. Dan ke depannya ia sehat-sehat saja ngga kambuh lagi.
Jangan berpikir macam-macam dulu."
Perkataan ayah sedikit menghiburku. Tidak seperti ibu tadi yang malah membuatku bingung dan takut.
_____
Dua hari kemudian hari Minggu seperti biasa aku ke warung makan lebih awal. Apalagi mbak Nia juga mau pergi sama mas Joni. Kalau mas Bayu malah jarang di rumah. Pagi mengajar kemudian sorenya mengajar les privat sampai malam. Terus entah ke mana lagi.
Sampai di warung makan ternyata ibu dan mbak Sri sudah sibuk melayani pembeli. Biasanya kalau hari Minggu memang ramai. Apalagi nanti ada acara di alun-alun kota pasti lebih ramai lagi.
" Cepat ambil piring2 kotor di meja itu Ra, dari tadi mbak Sri belum sempat membereskan," perintah ibu ketika aku baru masuk.
" Ya Buk, sebentar aku taruh tas dulu."
Aku menaruh tas di meja dapur dan segera keluar untuk membersihkan meja depan. Selanjutnya aku cuci semuanya dan setelah beres aku sarapan.
Tiba-tiba HP ku berbunyi panjang. Ada telfon dari ayah. Tumben ayah menelfon.
[ Assalamualaikum Yah, ada apa ]
__ADS_1
[Waalaikum salam. Ini ada anak-anak remaja sini. Katanya mau pada ke Rumah Sakit jenguk Widi. Kamu sekalian diajak kalau mau ikut]
[ Aduh aku ngga bisa Yah, warung ramai banget. Pasti ngga boleh sama ibu]
[ Ya sudah, biar Ayah bilang sama mereka kalau kamu ngga bisa ikut]
[ Ya makasih Yah. Tolong sampaikan maaf juga ya]
Ayah menutup telfonnya. Aku melanjutkan pekerjaanku.
Untung kemaren aku sudah jenguk Widi. Ya iyalah masa aku yang selalu dekat dia kok jenguknya belakangan. Tapi mungkin anak-anak lain bisanya hari Minggu. Mereka mengajakku barangkali saja aku pingin jenguk lagi.
" Barusan ada telfon ya Mbak?" Mbak Sri masuk dan bertanya padaku.
" Dari ayah. Katanya anak2 remaja mau ngajak aku ke Rumah Sakit," jawabku. "Tapi aku ngga bisa ikut kan warung ramai. Semoga keadaan Widi makin baik." Aku meneruskan omonganku.
"Iya Mbak, pasti ibu nggak mengijinkan. he.. he.. " ucap mbak Sri seraya tersenyum. Ia sudah hafal dengan sifat ibu.
Aku dan mbak Sri meneruskan aktifitas lagi.
Sorenya aku dan ibu pulang ke rumah. Letih sekali hari ini karena ramainya ngga seperti biasanya.
Sampai rumah tumben ada mas Bayu.
" Aku tadi baru jenguk Widi. Keadaannya makin parah. Ia terus menerus mengeluh sakit di kepalanya." Mas Bayu menceritakan padaku keadaan Widi. Astagfirullah hal adziim.
" Terus ibunya gimana Mas, pasti sedih sekali," tanyaku. Widi itu anak laki-laki satu-satunya. Ia pernah cerita sama aku kalau ibunya sangat sayang padanya. Mungkin seperti ibuku yang sangat menyayangi mas Bayu.
"Ibunya nggak pernah beranjak dari kamar. Beliau menangis terus. Nggak mau jauh dari Widi," terang mas Bayu.
_______
Pagi selesai sholat subuh aku berdoa untuk kesembuhan Widi. Aku menangis membayangkan apa yang diceritakan mas Bayu tadi malam.
Terdengar ada pengumuman dari musholla.
[ Assalamualaikum wr. wb. Innalilahi wainna ilaihi rojiun. Telah meninggal dunia teman kita Widi Hariyanto pada hari ini Senin..... dst.. dst ]
Seketika hatiku hancur. Aku merasa lemas tak bertenaga. Ibu dan mbak Nia masuk ke kamarku dan menghambur memelukku.
Kami semua menangis. Ayah berdiri di depan pintu.
Mas Bayu keluar menuju rumah Widi untuk ikut membantu.
"Yang sabar Aira. Kita doakan semoga Widi diterima di sisi Allah SWT. Diampuni dosa-dosanya."
Mbak Nia menghiburku.
Aku hanya bisa menangis. Namun tetap kubisikkan doa buat Widi.
' Ya Allah ! Secepat ini kau panggil dia. Padahal baru sebulan kebersamaan kami. Aku yang semula ragu dengan hubungan ini. Setelah dia pergi baru aku merasa kalau aku punya perasaan sama dia.
Dan aku benar-benar kehilangan dia selamanya.'
Seketika aku merasa sekelilingku gelap. Kepalaku berputar dan aku nggak ingat apa -apa lagi.
_________$$$_______
Bersambung ya gaees. ikuti terus ceritanya yg makin seru tetap vote like dan komen agar penulis bisa lebih baik.
__ADS_1
.