
Aku jadi enggan melanjutkan sarapanku yang masih setengahnya. Benar-benar kesal sama mbak Tika, ibu datang ke sana menengok cucu tapi malah diajak membicarakan aku sama Raka.
Mbak Nia juga., maksudnya apa menceritakan ke mbak Tika tentang Raka. Dia juga kan melihat sendiri Raka masuk kamarku mau ngapain.
Pantas tadi malam ibu sama mbak Nia masih berbincang di ruang tengah, lalu saat aku pulang mereka baru masuk kamar. Mungkin ibu menanyai mbak Nia soal yang dikatakan mbak Tika.
" Sudah nggak usah diambil hati. Yang penting kamu nggak berbuat macam-macam. Maklumi saja kakakmu, mungkin mereka memang mengkhawatirkanmu." Ibu menghiburku.
" Beda lah Bu, antara khawatir sama nyinyir. Kalau memang khawatir ya kasih nasehat, mengingatkan supaya hati-hati dalam bertindak. Bukannya malah ngomongin di belakang , di depan bersikap seolah baik." Kuungkapkan kekesalanku.
" Ya barangkali mereka khawatir kamu tersinggung jika dinasehati." Ibu masih saja mengandai-andai, seolah membela keduanya.
Aku akui semenjak bersama Raka, apalagi setelah Raka punya pekerjaan tetap, ibu mulai bersikap baik padaku. Entah karena ibu sudah berubah atau karena hal lain.
Nyatanya ibu sempat membelaku ketika kedua kakakku membicarakan aku dan Raka. Walaupun ujung-ujungnya, tetap saja ingin menitupi kesalahan mereka, terutama mbak Nia.
" Intinya sama saja, mereka ngomongin aku di belakang. Cuma masalah sepele pula, karena Raka masuk kamarku." Aku beranjak ke dapur lalu menaruh piring di wastafel. Nafsu makanku sudah buyar. Kuteguk teh hangat lalu aku kembali ke depan.
" Biar ibu yang bicara sama kakakmu, kamu jangan memarahi mereka. Ibu tidak mau kalian pada ribut," ujar ibu kemudian.
Masih saja ada perbedaan antara aku dan mbak Nia. Misalkan aku yang punya salah sama dia ibu membiarkan aku dimarahi olehnya. Bahkan tak jarang ibu ikut menyalahkanku.
Giliran mbak Nia yang menyinggungku aku nggak boleh marah. Alasannya tidak mau anak-anaknya saling ribut. Itu pun ibu masih sempat membela seakan dia nggak sengaja.
" Nggak ! Aku malas membahas ini sama mereka. Ibu saja yang menjelaskan. Tapi ingat ya, kalau sampai ada lagi yang menyinggung hubunganku sama Raka, dan Raka sampai tahu, akan kuungkit juga kejelekan mereka. Bukan hanya mbak Nia sama mbak Tika, tapi mbak Rina juga. Nggak usah sok suci, kelakuan mereka lebih parah dari aku. " Aku meninggikan suaraku.
Sengaja aku nggak menyebut nama mas Bayu atau mbak Risma. Sebagai laki-laki mas Bayu nggak pernah menggosip apalagi mencampuri urusan orang. Apalagi mbak Risma yang baru mengenalku.
Kemudian aku masuk ke dapur karena ada pembeli yang datang. Kuteguk tehku sampai habis. Astagfirullah !
" Sabar Mbak, jangan emosi." Mbak Sri mendekat dan mengelus pundakku. Dari tadi dia ikut menyimak tapi tak berani berkomentar. Ia menyuruhku duduk.
" Iya Mbak, aku kok malah bicara keras di depan ibu. Kesannya aku sedang memarahinya," ucapku lirih. " Habisnya kesal banget, ada yang nyinyir mencampuri urusanku. Kurang kerjaan saja."
" Santai saja, dicuekin saja. Paling juga mereka capek sendiri kalau yang diomongin nggak peduli. Kalau kamu marah malah tambah runyam." Mbak Sri memberiku semangat.
__ADS_1
Terkadang justru dia yang bisa memahamiku, selalu peduli dan bisa memberi solusi. Beda dengan saudaraku sendiri yang bisanya mencari kesalahanku. Giliran repot saja aku yang dimintai tolong.
" Makasih Mbak Sri, kamu selalu peduli sama aku," balasku.
" Sama-sama Mbak Aira. Aku juga punya adik perempuan seusia kamu, jadi jika bicara sama kamu serasa bicara sama adikku. Aku justru senang Mbak Aira percaya sama aku, menganggap aku sebagai teman. Padahal aku kan karyawan ibumu. "
" Ya ampun Mbak Sri, sedikit pun aku nggak berpikir sampai ke situ. Buktinya selama ini kita selalu kompak kan, bahkan terkadang kita berdua sama-sama dimarahi ibu jika asyik mengobrol sampai lupa kerjaan, hahaha ! " Akhirnya aku bisa tertawa lepas. Mbak Sri juga ikut tertawa.
" Ssstt jangan keras-keras nanti dimarahi ibu lagi, hihihi . " Mbak Sri mengingatkan. Aku menutup mulut menahan tawa.
" Sudah sana belanja dulu, sudah siang lho ini." Ia menambahkan.
" Astaga sampai lupa, ya sudah aku belanja dulu." Aku ke depan mengambil uang belanja. Mungkin ibu juga lupa sehingga dari tadi juga diam saja.
Akhirnya aku bisa melupakan kekesalanku jika sudah menceritakan pada mbak Sri. Sampai di kios mbak Sumi makin lupa lagi, soalnya dia selalu mengajakku bercanda. Suaminya juga sama kocaknya.
" Tahu nggak Mas, pacarnya Aira tinggi besar. Padahal Aira kecil mungil. Apa nggak kewalahan tuh Aira, haha haha ! " kelakarnya. Ia tengah bercerita pada suaminya tentang Raka. Suaminya ikut terbahak-bahak.
" Bukan hanya kewalahan, malah sampai kekenyangan, hahaha ! " serunya juga menimpali candaan istrinya. Aku hanya tersenyum, nggak paham apa yang dibahas mereka berdua.
" Kalian ngomongin apa sih , aku nggak ngerti. Sudah ah aku mau balik, mana catatan belanjanya aku mau bayar ! " seruku.
Mbak Sumi menyerahkan secarik kertas padaku, tapi masih menahan senyum. Airmatanya sampai meleleh saking kerasnya tertawa tadi.
" Makanya buruan nikah biar tahu apa yang kita ketawain tadi, hehehe ! " Ia terkekeh lagi. Suaminya juga masih bergumam, entah bicara apa. Buruan kubayar belanjaanku lalu lekas angkat kaki dari sini.
Sampai di warung kuceritakan pada ibu dan mbak Sri, mereka berdua langsung tertawa. Bahkan mbak Sri sampai ngakak seperti mbak Sumi tadi. Tapi untung warung lagi nggak ada pembeli.
" Oalah Mbak Aira, sudah mau nikah tapi masih belum paham. Hahaha ! " Mbak Sri menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mbak Wiwit tiba-tiba masuk. " Ada apa sih Bu Wahyu , kok pada ketawa sampai kedengaran di tempatku loh." Wah ini dia, tambah ramai nih !
" Itu Aira, katanya barusan digodain sama mbak Sumi tadi waktu belanja ke sana," Lalu ibu menceritakan apa yang kuceritakan tadi. Sontak mbak Wiwit juga ngakak.
" Haduuh Aira, makanya punya pacar jangan yang gede gitu. Sana sini diledekin kamu, hahaha ! " Mbak Wiwit mencomot bakwan lalu keluar. Ia masih tertawa kecil sambil bergumam nggak jelas. Aku jadi makin bingung.
__ADS_1
" Memangnya wanita yang tubuhnya kecil nggak boleh punya suami tinggi besar. Apa bahaya buat kesehatan ya, Mbak ? " tanyaku serius pada mbak Sri, sembari mengeluarkan belanjaan dan mengolah buat dimasak. Mbak Sri langsung menutup mulut menahan tawanya.
" Ya enggak lah, bukan karena itu. Setiap orang bebas mau berjodoh dengan yang bentuknya bagaimana juga. Maksud mbak Sumi itu cuma bercanda." Ia pun menyanggah ucapanku.
" Aku tahu dia bercanda, makanya sampai ketawa-tawa gitu. Waktu kuceritakan di sini kalian juga pada ketawa. Cuma yang aku heran apanya yang lucu ?
Memangnya kalau ceweknya kecil lalu cowoknya gede, itu lucu ya." Aku terus mencecarnya .
" Ya lucu kan, coba kalian jalan bareng. Satu pendek satu tinggi, kayak angka 10 Arab, hehehe !" kelakar mbak Sri. Aku mengingat-ingat, lalu akhirnya ikut tertawa. Iya juga sih, hihi.
" Tapi tadi kan kalian tertawa bukan karena itu. Aku cerita soal mbak Sumi yang ngatain aku kewalahan, lalu suaminya bilang aku kekenyangan. Kenapa hayo kok pada tertawa ? " Aku masih penasaran. Mbak Sri tertawa lagi.
" Emm... gini deh. Ibaratnya Mbak Aira itu anak kecil lalu mas Raka itu boneka yang gede, kan kewalahan membawanya."
" Terus kalau yang kenyang itu ,ibaratnya anak kecil tapi porsi makannya banyak. Kan jadi kekenyangan." Ia pun menjelaskan dengan perumpamaan sehingga aku mulai paham.
" Ada-ada saja, pacar orang dijadikan bahan lelucon." Aku menggerutu.
Tadi pagi sudah kesal, lalu sempat terhibur, namun sekarang malah tambah kesal. Masa semua pada menertawakanku.
" Maksudnya mbak Sumi kan bercanda Mbak Aira. Tadi kita kalau nggak diceritain juga nggak tahu loh. Maaf deh kalau Mbak Aira tersinggung." Mbak Sri merasa nggak enak.
" Tersinggung sih tidak, cuma kesal aja." tukasku..
" Sudahlah nggak perlu dibahas. Cuma candaan nggak bermutu. " Mbak Sri memberi saran.
Tadi dia sudah menjelaskan tapi sekarang kenapa dia bilang candaan nggak bermutu. Aku yakin sebenarnya maksud mbak Sumi tadi bukan tu.
Memang gue pikirin.
_______&&&&________
Sekian dulu saja, besok disambung lagi.
Tolong like nya ya. Jangan lupa komentar juga.
__ADS_1
lope lope buat kalian semua. Thanks !