
Aku masuk kamar dengan kesal. Kurang kerjaan banget tuh ibunya kak Vicky, pakai ngaduin aku sama ibu. Urusannya apa coba ?
Meskipun belum terbukti aku yakin pasti dia.
Siapa yang tadi memandang sinis sama aku ketika aku ngobrol sama Niko dan Rio ?
Dasar emak-emak nyinyir. Tuh ibu masih saja mengomel di ruang tengah.
" Sudah lah Bu, ngga usah mengekang Aira terus..Dia kan butuh hiburan, namanya juga anak muda. Ini sudah malam nanti terdengar tetangga kalau ibu marah-marah." Ayah menegur ibu.
" Yuk kita tidur aja, besok kan ibu ke pasar," ajak ayah kemudian. Sepertinya mereka masuk ke kamar. Kudengar samar-samar ibu masih menggerutu.
"Ibu nggak mengekang, hanya mengingatkan Aira supaya ngga jadi omongan tetangga."
" Iya.. iya.. Ayah ngerti maksud Ibu."
Tak terdengar lagi suara mereka.
Aku tersenyum sendiri mengingat saat bersama Niko tadi. Kuabaikan statusnya yang masih sekolah. Tutur kata dan perangainya benar-benar kharismatik, terlihat dewasa. Meskipun dari segi wajah tetap terlihat kalau masih remaja.
Tak terasa mataku pun terpejam.
_______
Sabtu sore sepulang dari warung aku mampir ke rumah Eva, barangkali dia sudah di rumah.
Seperti biasa aku langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Di ruang tengah hanya ada mama dan budenya Eva.
" Assalamu'alaikum Tante, Eva udah pulang belum ?" tanyaku langsung.
"Waalaikum salam, Eva belum pulang Aira. Katanya tadi ada kuliah tambahan. Minggu pagi baru pulang." Tante Fina menjawab dan menoleh ku sekilas. Kemudian kembali menatap ke televisi. Bude Fara juga menoleh sebentar dan balik lagi menonton TV.
Aku melirik ke arah benda kotak hitam yang sedang mereka pelototi itu, ternyata acaranya sinetron yang pemeran utamanya Arya Saloka. Waah ! mereka benar-benar korban sinetron.
" Ya udah Tante, Bude, aku pulang dulu. Nanti aku kirim WA saja ke Eva." Lalu aku berbalik badan dan melangkah keluar.
" Iya.. ya." Mereka menjawab tanpa mengalihkan perhatian dari kotak ajaib itu. Ha ha ! ada-ada saja.
Sampai rumah aku duduk di teras. Kuambil HP dari tas dan langsung kubuka aplikasi warna hijau.
Aku kirim WA ke nomer Eva, kebetulan dia lagi online.
[ Bestie , kok ngga balik sih ? ]
[ Iya nih.. tadi ada kuliah tambahan. mana dadakan lagi ]
[ Padahal rencana aku mau ajak kamu besuk pagi jalan-jalan ke Car Free Day 😊 ]
[ Aku nggak janji. Kalau nanti udah kemaleman ya aku pulangnya besok pagi.. jadi mungkin ngga bisa nuruti ajakan kamu 😌]
[ Ok deh ngga pa pa... kita bisa pergi lain kali ]
[ Sorry ya bestie .. sekarang memang lagi banyak tugas... aku ngga mau ngecewain ortu ✌ ]
[ Iya aku ngerti.. ya udah aku mandi dulu ]
[ Pantesan dari tadi aku nyium sesuatu... ternyata ada yang belum mandi 😄 ]
[ Sialan lo 😀 ]
Kuakhiri chat ku dengan Eva. Ternyata dia lagi sibuk, aku nggak bisa memaksa dia pulang. Bagaimana pun sekolah nomer satu.
Aku merasa makin ke sini hubunganku dengan Eva sudah makin ada jarak. Nasib kita jelas berbeda.
Aku bergegas masuk ke rumah dan membersihkan tubuh. Seperti biasa aku mau ke warung mbak Yah sekalian pingin beli nasi goreng pak Rus.
Dan tentunya berharap ketemu Niko.
" Mau ke mana kamu, kok udah rapi aja ?" tanya mbak Nia. Ia sedang menunggu mas Joni di teras.
" Biasa lah cari angin. Mbak Nia juga udah rapi mau ke mana ? " tanyaku sambil nyengir menggodanya.
" Huu... ditanya malah balik nanya." Mbak Nia menggerutu. Tak lama kemudian mas Joni datang. Ia menyapaku " Hai Aira ! mau ke mana? "
__ADS_1
" Mau keluar Mas," jawabku asal. Mereka berdua lalu pindah ke dalam di ruang tamu.
Kulihat ayah baru pulang dari masjid.
" Ayah, Aira mau ke warung mbak Yah sekalian nanti mau beli nasi goreng pak Rus. Tolong bilang ke ibu, soalnya tadi di warung nasinya habis jadi ngga bawa pulang. Itu di meja masih ada sedikit buat makan Ayah sama Ibu." Aku bilang pada ayah sebelum pergi.
Untung nasi di rumah tinggal sedikit jadi aku punya alasan untuk beli nasi goreng. Hi hi hi.
Mbak Nia sudah pasti makan di luar atau di rumah mas Joni. Mas Bayu apalagi, lebih sering jajan daripada makan di rumah.
Ayah mengangguk lalu menatapku.
"Jangan sampai malam nanti ibumu marah lagi. Anak perempuan nggak baik di luar rumah malam hari kecuali ada yang menemani." ayah berpesan dan mengelus rambutku.
Beginilah cara ayah menasehati, halus dan gampang dicerna. Bukan seperti ibu yang diawali dengan amarah, aku jadi kesal duluan dan ujung-ujungnya nangis. Aku juga tahu batasan -batasan dalam pergaulan. Yang penting aku bisa jaga diri.
" Iya Ayah, Aira ngerti kok." Aku pun berlalu pergi.
Ketika baru beberapa langkah ternyata Niko muncul di hadapanku.
" Eh kamu, mau ke mana ? " tanyaku basa basi.
Dalam hati sudah menduga pasti dia mau ke rumahku. Iih pede amat sih.
" Ya mau ke rumahmu lah, memang ke mana lagi? "
Niko tersenyum memandangku. Tuh kan bener !
" Aku mau ke warung mbak Yah sekalian nunggu pak Rus lewat," ucapku.
" Ngapain nungguin pak Rus ?" Ia bertanya sambil nyengir. Pasti mau godain aku.
" Ya mau beli nasi goreng lah, memangnya mau ikut jualan !" seruku pura-pura kesal.
"Kirain mau bantuin cuci piring, aww sakit !" Niko berteriak karena kucubit pinggangnya. Siapa suruh godain aku, sakit kan aku cubit ? Hi hi hi .
Rio tengah menikmati mendoan dan tahu isi, ketika aku dan Niko sampai di warung mbak Yah. Di depannya sudah tersaji semangkuk wedang ronde.
"Siapa yang berduaan, tadi kita ketemu di pertigaan depan masjid terus bareng ke sini." Aku mengarang cerita biar Rio ngga melanjutkan celotehannya.
Niko cuma menyunggingkan senyum saja saat diledeki sama Rio. Dia memang type yang ngga terlalu sering bercanda. Dengan santai ia duduk di dekatku yang masih berdiri.
" Wedang ronde 1 ya Mbak, seperti biasa," pintaku pada mbak Yah. Setelah memesan minuman baru aku duduk di samping Niko.
" Kok cuma pesan 1,aku kan juga pingin minum wedang rondenya." Niko protes padaku.
" Yee... pesen aja sendiri, memangnya aku ibumu ha ha ha." Aku mengajaknya bercanda. Soalnya kalau bukan sama aku dia ngga mau bergurau. Bukan sombong tapi memang dia orangnya cool.
Dan hasilnya dia pun tertawa meskipun hanya sebentar.
" Gimana Ra, kamu udah bilang sama Eva belum kalau mau jalan-jalan ke Car Free Day ?" tanya Rio seraya menyeruput minumannya.
" Sudah, tapi dia belum pulang tadi sore. Ada kuliah tambahan dan baru saja selesai. Jika langsung pulang ke sini dia masih capek karena naik motor. Sebenarnya bisa malam ini, tapi dia nggak janji. Tergantung ada teman yang mau pulang bareng atau enggak." Aku menjelaskan pada Rio tentang Eva. Sepertinya dia kecewa.
"Ya sudah lain kali kan bisa ajak Eva lagi. Yang penting besok pagi tetap berangkat. Ngga harus ada dia kan, oke bro ! " Niko ikut membuka suara membujuk Rio.Tampaknya Rio pun nggak terlalu larut dalam kecewa. Besuk pagi rencana tetap berjalan.
Kita bertiga melanjutkan minum wedang ronde.
Tok tok tok tik tok tik tok
Terdengar suara khas penjual nasi goreng menjajakan dagangannya. Ternyata pak Rus sudah datang. Ia menghentikan gerobaknya di sebelah warung mbak Yah, tepatnya di depan rumah kak Vicky atau bu Tiya. Aku langsung berdiri dan mendekat.
" Pak, aku pesan nasi goreng pedesnya sedeng, kecapnya ditambahin ya." Segera kupesan nasi goreng sebelum keduluan yang lain.Tak lupa kubayar dulu wedang ronde pada mbak Yah.
" Aira buru-buru amat, pak Rus juga baru datang." Niko menegurku, lalu ikut mendekati gerobak pak Rus.
" Biarin, udah lapar dari tadi," sahutku lalu duduk di bangku yang disiapkan pak Rus.
" Dibungkus saja ya Pak," pintaku kemudian. Aku nggak mau nanti ibu marah kalau kumakan di sini.
" Ya Mbak, tunggu sebentar saya buatkan untuk mas Vicky dulu.Tadi dia sudah kirim pesan soalnya," sahut pak Rus kemudian.
Ternyata kak Vicky sudah pesan duluan. Ia keluar dari rumahnya dan tertawa mengejekku. Bu Tiya muncul di belakang kak Vicky.
__ADS_1
" Kenapa Ra kok cemberut, keduluan ya." Kak Vicky mengedipkan matanya.
Aku mencerucutkan bibir pura-pura marah.
" Kak Vicky curang ya, main belakang," seruku.
Kulihat bu Tiya mendekati mbak Yah dan bicara berbisik. Mbak Yah hanya tersenyum menanggapi bu Tiya. Aku sih cuek saja.
Sembari menunggu nasi goreng aku bercanda dengan Niko dan Rio juga kak Vicky. Kita duduk di bangku panjang. Tanpa diduga bu Tiya berbicara keras hingga sampai ke telingaku.
" Saya heran ya mbak Yah, kok pada seneng duduk berdesakan daripada duduk di bangku kosong."
Deg ! maksudnya apa dia berucap seperti itu , apa dia menyindirku ?
Tapi masa bodoh. Aku pura-pura nggak mendengar dan tetap bercanda. Yang penting aku nggak buat masalah sama bu Tiya. Aku diam saja karena masih menghargai kak Vicky. Heran deh, anaknya baik dan disegani tapi ibunya suka ngurusi orang lain.
Mbak Yah dari tadi hanya tersenyum. Mungkin dia nggak enak kalo ikut menanggapi karena kami ini pelanggannya. Bisa-bisa besok kita ngga jajan lagi di warungnya.
" Mbak Aira, ini nasi gorengnya sudah jadi." pak Rus Memanggilku. Aku bangkit dan mendekatinya.
Kuambil bungkusan dari tangan pak Rus lalu membayarnya. Kemudian melangkah pulang.
" Yuk semuanya, aku duluan ya ! " Aku berpamitan dengan teman-teman. Kulirik bu Tiya yang masih di warung mbak Yah. Wajahnya sinis kaya kemaren.
" Yuk Mbak Yah ! " Sengaja aku menyapa mbak Yah tanpa menghiraukan bu Tiya. Biar kerasa dia.
" Tolong buatkan pesananku , aku tinggal dulu mengantar Aira pulang ya Pak. "
Pak Rus mengangguk. Niko menyusulku dan mensejajarkan langkahnya di sampingku.
"Tungguin dong, kok cepat amat jalannya." Niko berseru. Aku menolehnya. " Aku kan ngga minta diantar, " kataku.
" Tapi aku ingin mengantar," dia membalikkan ucapanku. Aku diam dan terus melangkah.
Niko menggandeng tanganku. Aku tersentak sesaat. Untung kita sudah sampai di belokan gang sehingga ngga ada yang melihat.
" Kamu kenapa sih ngelakuin ini?" tanyaku seraya memperlambat langkahku.
" Aku kan cuma menggandeng tanganmu. Nggak boleh ya ? " Ia tetap menggenggam tanganku.
": Bukan... maksudku kenapa akhir-akhir ini kamu baik sama aku, memberi perhatian khusus padaku."
" Yaa .. karena aku senang melihatmu yang centil, periang dan kekanakan. Itu yang bikin aku selalu ingin di dekatmu." Niko mengungkapkan perasaannya. Dia bilang aku kekanakan ? masa sih.
Kuhentikan langkahku saat sudah sampai di depan rumah. Niko langsung berbalik bersiap pergi.
" Besok jangan lupa ya ! aku jemput jam 7.00 pagi."
Ia mengingatkanku. " Aku juga menunggu jawabanmu, " katanya lagi setengah berbisik. Dan terdengar lembut di telingaku. Ia pun tersenyum dan segera berlalu.
Aku masuk ke dalam rumah. Ayah duduk di ruang tengah sambil menonton TV. Sepertinya sengaja menungguku karena biasanya sudah masuk ke kamar. Ibu juga sudah tidur. Mbak Nia dan mas Bayu belum pulang.
" Ayah belum tidur, mau mencicipi nasi goreng nggak? " Aku menawari ayah seraya mengambil piring di dapur. Kubuka nasi goreng dan duduk di samping ayah di sofa. Kusodorkan ke ayah supaya menyendoknya lebih dulu.
" Ayah sudah makan tadi," tolaknya. " Nanti kamu nggak kenyang," lanjutnya lagi.
" Ini banyak kok Yah, aku aja sering ngga habis." aku masih membujuk ayah.
Memang sudah kebiasaan kami jika aku atau mbak Nia beli makanan pasti ibu atau ayah mencicipi dulu. Kadang mas Bayu juga.
" Sudah kamu habiskan saja biar gemuk." Ayah tersenyum. Ia bangkit dan berjalan ke ruang tamu untuk mengecek pintu dan jendela.
Mbak Nia dan mas Bayu sudah membawa kunci cadangan.
Kuhabiskan nasi gorengku dan beranjak tidur.
Ayah juga masuk ke kamarnya.
_______$$$$________
Bersambung lagi. Tolong vote like dan komennya dong. Biar penulis tahu kalau ada kekurangan.
Tetap semangaaat !
__ADS_1