Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 34 Mundur Teratur


__ADS_3

Semenjak kedatangan bu Sulastri dan Yudha waktu itu, beberapa hari ini Yudha belum pernah muncul lagi. Kalau bu Lastri sendiri memang hanya sebulan atau dua bulan sekali mampir. Itulah makanya ibu masih belum bertanya-tanya.


Hanya aku yang merasa kalau Yudha mungkin tersinggung karena aku menolak ajakannya. Soalnya dia nggak pernah mengirim pesan juga. Padahal sebelumnya dalam 2 hari pasti menghubungiku sekedar menanyakan kabar.


Dan setelah hampir sebulan dia belum kelihatan juga ibu mulai curiga.


"Si Yudha kok nggak pernah ke sini ya Ra ? biasanya paling lama seminggu pasti sudah muncul."


" Uhuk ! " Aku yang tengah sarapan pun hampir tersedak dengan ucapan ibu. Bukannya lebay hanya saja lagi malas berdebat jika nanti ibu bertanya macam-macam.


Buru-buru aku minum air putih kemudian kujawab saja, " Mungkin lagi banyak pesanan Buk, maklum saja pelanggannya kan rumah-rumah makan di kota. Tentu dia harus mengantar ke sana kemari. "


Ibu pun manggut-manggut mendengar jawabanku.


Tapi kemudian ibu bertanya lagi.


" Tapi kamu nggak menyinggung dia kan kemarin ? "


" Ya enggak lah, Bu, " jawabku singkat. Lekas kuselesaikan sarapanku dan masuk ke dapur untuk cuci tangan. Khawatir jika ibu terus bertanya tentang Yudha. Dan benar saja setelah aku masuk ibu tak bertanya lagi.


Namun ternyata aku belum bisa bernafas lega. Siang harinya ketika sedang melipat mukena selesai sholat bu Sulastri datang.Tak seperti hari-hari sebelumnya, kali ini bu Lastri tidak membawa oleh-oleh hasil kebun. Hanya membawa beberapa bungkus cemilan ringan.


" Kok sendirian bu Lastri, nggak diantar nak Yudha? " tanya ibu berbasa-basi.


" Yudha sedang sibuk, sedang banyak pesanan lele sama nila." bu Lastri memberi tahu. Kok bisa sama dengan jawabanku pada ibu tadi. Padahal aku hanya asal menebak. Bu Lastri melirikku sekilas tanpa menyapa ataupun tersenyum.


" Mau minum apa Bu, teh apa kopi ?" Aku menawarinya minum, sekalian mencairkan suasana karena sikapnya agak dingin padaku.


" Kopi saja seperti biasa," sahutnya tanpa menatapku.


Setelah membuatkan kopi panas untuk bu Lastri aku pun masuk ke dapur lalu makan siang. Ibu mulai mengobrol dengan bu Lastri. Sesekali juga melayani pembeli karena masih jam makan siang.


" Kalau memang seperti itu saya benar-benar minta maaf ya, Bu Lastri. " Sempat kudengar ibu berkata seperti itu. Apa yang mereka bicarakan itu aku ?


Selang kira-kira 1 jam kemudian bu Lastri pamit.


" Ya sudah Bu Wahyu, saya pamit dulu. Sudah mau Ashar nanti kesorean, maklum rumah orang desa kan jauh." Bu Lastri berkata seraya tertawa miring. Apakah ini sindiran halus ?


" Saya harap lain waktu Bu Lastri masih sudi mampir kemari, " ucap ibu kemudian.


" Insya Allah jika ada kesempatan, Bu Wahyu." Bu Lastri menjawab lalu menyalami ibuku.


Aku hanya mengintip dari dapur, enggan keluar karena dari tadi bu Lastri tidak menyapaku. Mungkin Yudha mengatakan sesuatu pada ibunya lalu bu Lastri ke sini menyampaikan pada ibuku.


" Kok nggak menyalami bu Lastri, Mbak? " Mbak Sri menegurku. Dari tadi ia sedang mengiris cabe dan membuat bumbu hingga aku tak menghiraukannya.


" Takut, wajahnya nggak ramah sejak awal datang tadi." Aku menjawab lalu menoleh padanya.

__ADS_1


" Jangan-jangan dia marah sama Mbak Aira. Sepertinya mas Yudha sudah lama nggak ke sini mungkin tersinggung sama kamu, Mbak. Terus dia mengadu sama ibunya. " Mbak Sri berbisik padaku. Mungkin khawatir ibu bakal mendengar ucapannya.


" Tersinggung kenapa, aku nggak ngapa-ngapain dia kok, " sahutku.


Aku keluar mengambil gelas dan piring- piring kotor yang masih ada di atas meja. Kubawa masuk dan kutaruh di tempat cucian.


" Halah dikira aku nggak tahu. Kemarin itu mas Yudha mengajak jalan-jalan tapi Mbak Aira nggak mau to ? " Mbak Sri menebak- nebak.


" Masa gitu aja tersinggung sih ? " Aku bergumam.


" Masalahnya bukan itu, Mbak. Mas Yudha itu kan tahunya dia mau dijodohkan sama Mbak Aira, makanya dia ke sini kenalan terus mendekati biar makin akrab. Mbak Aira juga kemarin-kemarin seperti memberi harapan sama dia, tapi ketika diajak keluar malah menolak. Pasti dia kecewa. " Mbak Sri mengungkapkan pendapatnya.


Aku hanya diam, mencoba mencerna kalimat yang diucapkan mbak Sri.


" Intinya, jika kamu menolak ajakannya berarti kamu menolak dijodohkan sama dia. Begitu kan,Mbak Aira ? " lanjutnya lagi.


Aku sendiri bingung, sebenarnya aku menerima atau tidak perjodohan ini. Tapi sikap bu Lastri tadi seperti menunjukkan kalau dia tidak akan meneruskan rencananya bersama ibuku.


Untung ibu lagi bicara sama mbak Wiwit di depan. Aku dan mbak Sri jadi leluasa mengobrol sambil menyelesaikan pekerjaan di dapur.


" Jangan bilang sama ibu ya, Mbak Sri. Kalau ibu bertanya tentang aku jawab saja nggak tahu. " Aku mewanti-wanti mbak Sri.


" Rebeees , eh bereees he he !" sahut mbak Sri bercanda.


Selepas pulangnya bu Sulastri tadi ibu tak menyapaku hingga sore. Pun ketika dalam perjalanan pulang ibu hanya diam. Aku juga enggan mengajak bicara karena sudah paham jika seperti itu berarti ibu sedang marah.


" Nggak makan dulu, Aira ? ini ayah bikin mie instan kuah pakai telor. " Ayah menawariku makan.


" Belum lapar, Yah ! Nanti aja habis sholat Isyak sekalian. " Aku menunda tawaran ayah. Selepas sholat Isyak baru aku menyendok mie kuah yang ayah tawarkan tadi.


Mbak Nia dan mas Joni pulang agak awal malam ini.


Mas Bayu sedang di luar kota mengikuti penataran guru-guru SMP. Mbak Nia membuka bungkusan yang dibawanya, isinya martabak telor.


" Kok tumben pulang cepat ? " tanya ibu yang baru keluar dari kamar.


" Iya, mas Joni kepingin beli martabak jadi sekalian pulang saja. Kalau kemalaman takut kehabisan." Mbak Nia menjawab seraya menyodorkan martabak pada ibu ,juga ayah yang tengah menonton TV.


Sekarang memang baru jam 8 malam, biasanya mereka pulang jam 9 kadang lebih.


Sambil makan martabak mas Joni dan ayah mengobrol di ruang tamu. Aku masih menonton TV sedangkan bu dan mbak Nia duduk di meja makan.


" Oh iya, soal anaknya bu Sulastri itu gimana kelanjutannya, Bu ? katanya mau melamar Aira. " Mbak Nia membuka percakapan, soalnya dari tadi ibu dan aku cuma diam.


" Tadi siang bu Lastri ke warung. Dia bilang nggak jadi besanan sama ibu karena Yudha mengurungkan niatnya. Katanya dia kecewa sama Aira. " Ibu menjelaskan pada mbak Nia.


Aku hanya diam karena takut salah bicara.

__ADS_1


" Kecewa gimana, memangnya kamu ngomong apa sama Yudha, Ra ? " Mbak Nia menanyaiku.


" Aku nggak ngomong apa-apa kok. Kalau dia ngajak ngobrol baru aku jawab." Aku membela diri.


' Lagian aku juga nggak mengatakan pada Yudha kalau aku nggak suka sama dia. Aku hanya menolak ajakannya keluar, karena aku masih canggung sama dia.' kataku dalam hati.


" Si Yudha bilang sama ibunya kalau Aira nggak pernah mau mengirim foto padanya. Aira juga nggak pernah menghubunginya kalau bukan Yudha dulu yang mengirim pesan. Terus terakhir Aira diajak keluar tapi menolak. Yudha jadi berkesimpulan kalau Aira nggak mau berusaha dekat dengannya. Akhirnya dia pilih mundur. Begitu kata bu Lastri tadi siang." Ibu menjelaskan panjang lebar.


Ibu hanya bicara dengan mbak Nia, sama sekali nggak menatap ke arahku.


" Benar begitu Aira, bukannya kamu tempo hari seperti menerima Yudha ? Bahkan dia sempat bawain kamu makanan bikinan bu Lastri." Mbak Nia pun bertanya padaku.


" Awalnya kupikir apa salahnya mencoba, siapa tahu nanti lama-lama aku bisa suka sama Yudha. Tapi aku nggak bisa membohongi hatiku ," jawabku memberi alasan.


" Kalau memang kamu nggak mau harusnya dari awal kamu bilang, jadinya Yudha tidak berharap lebih. Dia merasa seolah kamu itu PHP, pemberi harapan palsu. Terang saja dia kecewa. " Mbak Nia menasehatiku.


" Kalau aku langsung bilang nggak mau pasti ibu marah. Aku kan niatnya juga pingin menyenangkan hati ibu, Mbak. Makanya aku baik sama Yudha. Tapi nggak tahu kenapa makin hari sikapnya bikin aku sebel banget, lebay gitu. Tiba-tiba aku jadi illfeel sama dia.." Aku bicara pelan .


Ibu sedang ke dapur membuat kopi untuk ayah sehingga tak mendengar kalimatku barusan.


" Lagian si Yudha gitu aja sudah tersinggung lalu mundur. Kalau memang serius harusnya dia terus mencoba membujukku. Kita kan baru ketemu berapa kali, aku juga bukan cewek gampangan yang mau diajak keluar. " Aku melanjutkan perkataanku.


Ibu keluar membawa kopi ke depan, kemudian masuk dan duduk lagi di samping mbak Nia di meja makan.


" Dikenalkan sama yang sudah mapan, serius, orang tua juga jelas, malah nggak mau. Memangnya yang disukai itu seperti apa sih ? yang orang kota tapi gajinya pas-pasan, terus nggak pernah perhatian ? jangankan membelikan bedak atau parfum, jajan saja nggak pernah ditraktir. Datang ke rumah baru sekali, itu juga paling cuma mampir. Malah perempuannya yang sering menemui. Laki-laki seperti itu apanya yang diharapkan ? " ujar ibu tegas.


Ibu bicara banyak tapi hanya menatap mbak Nia. Seolah mereka hanya sedang mengobrol berdua nggak ada aku. Padahal yang sedang dibahas yaitu aku, jadi kesannya ibu menyindirku. Selalu seperti itu.


Mana mungkin aku bisa memberi penjelasan atau membela diri jika tidak diajak bicara ? Seolah aku nggak boleh memberi pendapat dan hanya menerima jika disalahkan.


Akhirnya aku masuk ke kamar, percuma mendengarkan ibu kalau nggak dikasih kesempatan bicara.


" Tuh kan, kalau dinasehati mesti malah masuk kamar. Nggak seperti kamu, Nia. Kamu selalu patuh sama ibu." Kudengar ibu masih menggerutu.


Terang saja aku pilih masuk kamar, ibu kan hanya menyindirku dari tadi. Seperti itu kok katanya menasehati. Ujung-ujungnya pasti membandingkan aku dengan kakakku.


Yach, jelas saja mbak Nia selalu patuh karena apa-apa selalu dituruti. Dia juga nggak pernah dimarahi sekalipun berbuat salah.


" Sudahlah Buk , mungkin memang belum berjodoh. Lagian Aira juga baru berapa tahun umurnya, masih terlalu muda jika menikah. Mas Bayu saja belum, memangnya Ibu tega mas Bayu dilangkahin dua kali ? " Mbak Nia pun membujuk ibu.


Ayah sama mas Joni malah nggak kedengaran suaranya , sepertinya mereka pindah ke teras. Ayah memang nggak pernah mau ikut bicara, biasanya hanya mendengarkan lalu memberi pendapat. Tapi semenjak ada mas Joni Ayah lebih memilih menghindar. Aku jadi merasa nggak ada yang membelaku lagi.


_________&&&_______


Sudah dulu yaa.. author lagi banyak kegiatan jadi mohon maaf lambat sekali up datenya.


Mau tahu kan kelanjutannya, makanya tolong vote like dan komennya biar author makin semangat buat menulis.

__ADS_1


ok makaciiiih !


__ADS_2