Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 23 Ternyata Ada Yang Salah Paham


__ADS_3

Seminggu berlalu. Sabtu sore sepulang dari warung aku segera mandi dan bersiap ketemuan sama Niko. Tadi dia sudah mengirim pesan padaku. Meskipun sudah sering ketemu tapi hari ini terasa beda karena kita sudah jadian.


Setelah sholat magrib aku pun keluar.


" Mau ke mana Aira? " tanya ayah yang sedang duduk di teras. Cuaca memang agak panas hingga ayah mengipasi tubuhnya dengan koran.


" Mau jajan dong Yah, biasa ke warung wedang ronde di depan. Kalau ibu nanya tolong Ayah yang jawab ya," pintaku sembari ketawa nyengir. Ayah hanya mengangguk. Selama ini beliau yang selalu membelaku jika sedang dimarahi ibu.


Sampai di tempat ternyata Niko dan Rio sedang asyik mengobrol dengan kak Vicky.


Kok dia ngga ngasih tahu kalau sudah di sini sih ?


" Hallo sayang, mau wedang ronde nggak? aku traktir deh ! " seru kak Vicky. Aku tersentak dan memandang Niko. Dia dan Rio juga memandangku, tapi hanya diam.


Kak Vicky nggak tahu kalau aku sudah jadian sama Niko. Dia memang selalu mengganti namaku dengan kata sayang, cantik, baby dll sesukanya. Nggak ada yang berani komentar karena dia cukup disegani.


Itu karena kak Vicky cakap dalam memimpin Karang Taruna, dan nggak pelit mengeluarkan duit.


" Boleh deh, udah lama juga ngga ditraktir sama Kakak," sahutku asal. Aku duduk bersisian dengan kak Vicky. Bangku panjang ini muat 4 orang. Niko dan Rio sudah lebih dulu duduk, lalu kak Vicky kemudian aku.


" Uhuk.. uhuk.. " Niko pura-pura batuk. Aku menolehnya dan dia mengedipkan mata. Inilah resiko pacaran diam- diam. Aku menghela nafas.


Rio yang tahu gelagat kami akhirnya beranjak keluar.


" Pak Rus kok belum datang ya." Ia pura-pura melihat ke arah gapura. Bisa saja tuh anak.


Mbak Yah meletakkan wedang ronde di meja. " Ini Mbak rondenya," ucapnya padaku.


Kak Vicky berdiri dan mengambilkannya untukku. Kulihat Niko hanya diam sambil makan mendoan.


Segera kunikmati wedang ronde ku. Bu Tiya keluar dari rumahnya. Ia menoleh ke arah kami.


" Mbak Yah hari ini kok panas ya, kalau duduk berdesakan apa nggak makin gerah ! " Ia berseru pada mbak Yah sambil melirikku sinis. Ooh ternyata menyindirku.


" Iya Bu, musim hujan biasanya kalau malam memang panas." Mbak Yah menjawab apa adanya. Dia juga sedang melayani pembeli.


" Vicky ! tuh dipanggil bapak ! " Bu Tiya berteriak memanggil kak Vicky seraya masuk rumah. Kak Vicky beranjak dan berjalan menuju rumahnya. Tinggallah aku dan Niko. Rio entah ke mana.


" Duh, untung dia dipanggil ibunya." Niko bernafas lega dan mengusap dadanya. Ia bergeser mendekatiku. Kemudian ia merogoh sesuatu dari saku celananya. Di tangannya ada seuntai kalung panjang berbandul yang terbuat dari kulit.


Disodorkannya kalung itu padaku.


" Ini buat kamu, biar kamu ingat terus sama aku." ucapnya dengan senyuman. " Aku pakaikan ya," lanjutnya seraya mengalungkannya langsung di leherku. Untung mbak Yah lagi sibuk hingga tak melihat kami.


" Jangan sampai hilang. Kalau hilang berarti hubungan kita juga berakhir. " Niko berpesan. Ia tersenyum menatapku.


" Iya, akan kusimpan baik-baik tenang aja, " jawabku lalu tersenyum juga.


Kami melanjutkan obrolan sambil makan gorengan. Tak berapa lama Rio muncul.


" Mbak Yah, tadi aku belum bayar." Ia menyerahkan uang pecahan 20 ribuan pada mbak Yah. Setelah menerima kembalian ia keluar lagi dan nongkrong di teras rumah kak Vicky.


" Punyaku dibayarin kak Vicky ya Mbak," ucapku juga. Lumayan malam ini ngga keluar uang.


" Iya Mbak Aira, tadi mas Vicky udah nitip uangnya kok," sahut mbak Yah. " Memangnya Mbak Aira sekarang pacarnya mas Vicky ya? " tanyanya kemudian.

__ADS_1


" Haaah , kata siapa?" mataku sampai terbelalak menatap mbak Yah. Niko juga ikut terkejut.


" Bu Tiya yang bilang. Kelihatannya dia ngga suka kalau mas Vicky sama mbak Aira, soalnya ia berharap mas Vicky dapat istri yang dewasa, nggak kekanak-kanakan dan centil kaya mbak Aira. Begitu katanya." Mbak Yah menceritakan apa yang diketahuinya.


" Oalaah... jadi itu masalahnya. Ha ha ha." Aku tertawa seraya menatap ke arah Niko. Dia juga menatapku dan tertawa kecil.


Buru- buru aku jelaskan pada mbak Yah, " Enggak mbak Yah, aku ngga pacaran sama kak Vicky. Dia itu sudah aku anggap seperti kakak, dan dia juga anggap aku layaknya adik."


Pantas saja bu Tiya selalu sinis setiap ketemu aku,bahkan berani menyindir. Padahal dulu baik, apalagi waktu aku masih dekat dengan Widi.


"Terus apa lagi yang dikatakan bu Tiya," tanyaku ingin tahu lebih banyak. Niko sudah bergabung dengan Rio sehingga aku leluasa menanyai mbak Yah.


" Emm.. bu Tiya bilang mbak Aira kecentilan selalu nyariin mas Vicky. Mentang- mentang mas Vicky pegawai kantoran gajinya gede terus sering ditraktir." mbak Tiya diam sebentar.


Kemudian melanjutkan lagi, " Tapi menurutku bu Tiya itu lebay, kayak anaknya itu udah paling ganteng dan kaya. Kalau punya pacar yang berkelas ngga boleh sama tetangga. Kalau ada cewek sini yang dekat sama Vicky mesti ngga suka, padahal belum tentu itu pacarnya.


Pantesan sampai sekarang malah belum punya pacar."


Mbak Yah bercerita sampai berapi-api. Aku jadi tertawa sendiri. Kok malah dia yang sewot sama bu Tiya.


Aku menghela nafas, "Biarin aja lah Mbak, namanya orang tua pasti pingin anaknya bahagia. meskipun kadang caranya keliru. "


" Ya udah aku pulang dulu, " ucapku kemudian. Tak lupa aku juga membeli gorengan untuk kubawa pulang. Kukirimkan pesan WA pada Niko kalau aku mau pulang. Kulihat dia sedang membacanya.


Ia pun melihatku dan keluar dari teras rumah bu Tiya.


Sambil berjalan lambat ia menungguku.


Aku berjalan di belakang Niko. Ketika sampai di belokan gang barulah ia menggandeng tanganku.


" Ya soal bu Tiya itu. Katanya tiap ada cewek kampung kita yang dekat sama kak Vicky dipikirnya itu pacarnya. Terus dia ngga suka karena pinginnya kak Vicky punya pacar yang berkelas, sama-sama pegawai kantoran. Ha ha ha ! "


" Dan kamu salah satu yang dicurigai, ha ha ha." Niko juga tertawa.


" Tapi ada untungnya juga kalau kamu dikira pacarnya kak Vicky. Berarti ngga ada yang tahu kalau kita pacaran. " Niko melanjutkan ucapannya.


" Tapi aku yang nggak mau ! emang kamu rela tiap hari aku dipandang sinis sama bu Tiya? " aku pura-pura cemberut.


Niko merangkulku kemudian berkata, " Makanya kamu jangan suka manja sama kak Vicky, jadi disangka pacaran kan ? Aku juga cemburu tahu. " Niko mulai protes.


" Pokoknya sekarang kamu boleh manja, boleh centil tapi cuma sama aku, ngga boleh di depan cowok lain, " lanjutnya lagi.


" Kok kamu kaya Widi sih, dulu dia juga bilang seperti itu. Aku ngga boleh centil di depan cowok lain. " Aku jadi ingat perkataan Widi waktu itu.


Niko menghentikan langkahnya. Ia diam dan menatap lurus ke depan.


" Ya, aku Widi. Aira, aku kangen sama kamu. " Niko bicara tapi seperti bukan dia. Wajahnya tanpa ekspresi, aku jadi takut.


" Niko ! kamu nggak lucu, jangan buat aku takut ! " teriakku. Untung kita pas sampai di gapura hingga nggak kedengaran ke rumah tetangga. Memang kita tadi sengaja lewat sini biar agak lama sampai rumah. Itu idenya Niko.


Niko masih diam. Aku cubit lengannya, " Aauuw ! aduh sakit ! " teriaknya. Ia pun tertawa terbahak-bahak. Tak ayal kuhujani dia dengan cubitan di lengan dan perutnya.


" Tuh kan, nggak lucu ! kamu ngga lucu ! " Aku mulai kesal dan hampir menangis. Niko menghentikan tawanya.


" Oke-oke, maaf deh ! aku kan cuma bercanda, jangan marah dong ! " bujuknya. " Memangnya kamu ngga suka kalau Widi tiba-tiba muncul ?" tanyanya kemudian.

__ADS_1


" Astaga Niko! Widi itu sudah meninggal, alam kita lain. Masa dia datang ke sini ngaco kamu ! "


" Ha ha bercandaaa ." Ia tertawa lagi dan merengkuh bahuku.


Widi mengantarku sampai depan rumah. Ia masih menunggu sebelum aku masuk. Ketika aku membuka pintu barulah dia berbalik dan pergi.


" Sampai besok ya," ucapnya.


Aku mengangguk kemudian lekas masuk rumah.


_________


Sehabis sholat Subuh ibu masuk ke kamarku.


" Aira, hari ini jangan ke mana-mana. Jam 8.00 nanti mbak Nia mau pergi, ibu repot kalau cuma berdua sama mbak Sri," pesan beliau padaku.


" Memangnya mbak Nia mau ke mana sih Bu," tanyaku. Kulipat mukena dan kutaruh di sandaran kursi.


" Mau nyari kebaya, Sabtu besok mas Joni dan keluarga akan datang melamar mbak mu." Ibu menjawab seraya keluar dari kamarku. Mbak Nia juga keluar dari kamarnya dan hendak ke kamar mandi untuk wudhu.


" Ciyee yang mau dilamar," seruku menggodanya.


" Pingin ya, makanya cari pacar, " balas mbak Nia.


" Siapa yang pingin ? ogah ya buru-buru nikah. Kerja dulu ngumpulin uang banyak. " aku nggak mau kalah.


" Ssst.. sudah jangan ribut, pagi-pagi kok malah berisik. Aira, mulai hari ini sampai hari Jumat mbak Nia akan sibuk persiapan lamaran. Kamu jangan telat- telat kalau ke warung." ibu mengingatkanku.


" Ashiaap Boss ! " jawabku. Aku melangkah ke dapur mengambil sapu untuk membersihkan kamarku sekaligus ruangan lain.


Cuit...cuit...


Handphone di atas meja berbunyi. Nada dering notifikasi pesannya memang kupasang suara ' bird cicada ' . Ada pesan WA dari Niko.


[ Hallo say, mau jalan ke CFD nggak 😊 ]


Aku tersenyum membaca pesannya. Lalu kubalas.


[ Maaf, hari ini aku harus ke warung pagi-pagi 🙏 ]


[ Kan ada Mbak Nia yang biasa berangkat pagi ]


[ Mbak Nia lagi persiapan acara lamaran jadi ngga bisa bantuin di warung. sorry ya ✌😊 ]


[ ok deh ga papa 👌 😍 ]


[ see u ❤ ]


Kuakhiri chat dengan Niko,mudah-mudahan dia nggak kecewa. Ku lanjutkan pekerjaanku membersihkan kamar, mengganti seprai dan sarung bantal serta gorden jendela.


Entah mengapa pagi ini aku bersemangat untuk merubah kamarku menjadi bernuansa baru. Seprai dan gorden kuganti dengan yang berwarna cerah bermotif bunga.


Apakah ini ada hubungan dengan suasana hatiku yang sedang berbunga juga ? Aku jadi senyum-senyum sendiri.


___&&&&_&&&&__

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2