
Saat ini kami sekeluarga sudah mulai sibuk. Malah beberapa hari yang lalu ibu juga sudah menemui bu Bonita, perias pengantin tetangga kami ditemani mbak Nia. Karena aku juga tengah sibuk membagi undangan.
Sekarang sudah mulai menyicil belanjaan yang kering-kering dulu. Beruntung mas Joni punya toko sembako. Jadi setiap pulang dari toko ia membawakan belanjaan pesanan ibu satu persatu, irit tenaga dan irit waktu.
Sementara ayah dan ibu juga menghubungi para tetangga yang biasa dimintai tolong untuk hajatan. Tak ketinggalan ibu pasti mengajak bu Tiya.
Kali ini aku menyarankan ibu agar tak perlu mengadakan rapat panitia, biar nggak banyak acara. Cukup pemberitahuan lewat lisan saja, baik itu ibu-ibu, bapak-bapak maupun remaja dengan tugasnya masing-masing.
" Oh iya Aira, barang-barang yang buat maharan masih ada di kamarmu kan ? " tanya ibu mengingatkanku .
" Masih Buk, tapi kalau cincin sama uangnya mas Raka yang menyimpan," jawabku.
" Kok nggak diantar ke sana. Ini sudah kurang seminggu lho," ujar ibu.
" Besok saja kalau mas Raka ke sini, kalau aku sendiri nggak bisa bawanya, " sahutku.
" Kok nunggu Raka, kamu itu yang punya inisiatif mengantar ke sana. Kamu ajak Raka membawanya berdua sama kamu, bolak balik nggak papa. Jangan nanti -nanti. Sudah tahu keluarganya seperti itu, nanti mereka mikir yang bukan-bukan," gerutu ibu.
" Iya nanti aku bilang sama mas Raka," ucapku kemudian, biar ibu tenang.
" Ya sudah. Nanti sore kita diminta ke tempat bu Bonita untuk memilih baju pengantinnya. Tempo hari ibu hanya menghubunginya tapi urusan baju kan kamu sama Raka yang memilih." Ibu memberitahu.
" Ya Buk, nanti aku sekalian ajak mas Raka. Untung kita punya tetangga perias, kalau tidak mana bisa mendadak begini," ucapku.
" Maka dari itu. Dulu sama bu Mutia saja sebulan sebelumnya ibu sudah pesan, kalau nggak keduluan sama yang lain. Untungnya bu Bonita masih baru, jadi dia belum banyak job." Ibu menambahkan. Padahal ini ideku kan.
Sore harinya kita pulang dari warung lebih awal. Mas Raka juga sudah kuhubungi agar sehabis pulang kerja langsung ke rumahku. Pukul 5 sore ia sudah tiba di rumahku.
" Sudah mandi belum Mas, kalau belum sana mandi di belakang." Aku menanyainya.
" Ya sudah dong, tadi kan pulang ke rumah dulu. Mandi biar wangi, segar, baru meluncur ke sini hehe," sahutnya seraya menaik turunkan alisnya.
" Hmm.. tumben mandi dulu, biasanya juga langsung menyusul ke warung," komentarku.
" Beda dong, hari ini kan mau fitting baju pengantin. Mau ke sana jam berapa ? " Mas Raka mengingatkan.
" Tunggu ibu dulu, lagi ke rumah bu Hasna tadi sama bu Tiya. Kalau kesorean mending habis Magrib saja lah," ucapku lirih.
" Aku sih iyess ! " kelakar mas Raka.
__ADS_1
Dan ternyata memang ibu baru pulang menjelang Magrib. " Kok lama Buk ? " tanyaku begitu ibu tiba di rumah.
" Itu tadi bu Hasnah masih nanya, besok menu yang buat resepsi apa saja. Padahal tempo hari sudah ibu jelaskan tapi dia lupa," kata ibu.
" Kalau gitu habis Magrib saja kita ke tempat bu Bonita ya," usulku kemudian.
" Sebaiknya begitu, kita sholat dulu saja." Ibu menganjurkan.
Seusai sholat kami bertiga menemui bu Bonita di rumahnya. Kaki disambut dengan ramah. Setelah berbasa basi sejenak beliau mengajak kami masuk ke ruangan khusus tempat menyimpan baju-baju pengantin.
" Silahkan mbak Aira, mau memakai yang mana. Pilih saja nggak usah sungkan." Bu Bonita mempersilakan dengan senyuman.
" Mau yang adat Jawa saja Bu, yang sederhana," sahutku sambil menoleh ke mas Raka. Ia mengangguk menyetujui.
Bu Bonita pun mengambil sepasang baju pengantin adat Jawa berwarna hitam dan meminta kami berdua agar mencobanya.
" Nanti yang season kedua kalian akan berganti pakaian ya. Mau pilih yang warna biru atau kuning? " tanya bu Bonita lagi.
Sebenarnya aku suka warna biru, tapi sayang kebayanya agak kebesaran. Soalnya badanku memang kecil, akhirnya warna kuning yang dipilih. Setelah mencoba kedua pasang baju pengantin berikut perlengkapannya, bu Bonita memasukkannya dalam wadah tersendiri. Kemudian ia pun mencatatnya.
" Hari Minggu tgl 12 Mei ya Mbak Aira, ini sudah saya siapkan semua perlengkapannya besok tinggal masukkan koper." Bu Bonita menegaskan lagi. Ia pun memberikan secarik kertas catatan padaku.
" Sama-sama bu Wahyu, terima kasih juga telah mempercayakan pernikahan mbak Aira pada saya." Bu Bonita membalas sembari menyalami kami.
______________
Dua hari kemudian, hari Selasa kami mulai persiapan bersih-bersih warung karena akan libur panjang. Biasanya kalau hendak punya hajat ibu libur 3 hari sebelumnya, namun karena akad nikahku hari Kamis maka hari Rabu warung sudah mulai tutup.
" Mbak Sri, doain pernikahanku lancar ya," pintaku saat kami beristirahat.
" Selalu, doa terbaik buat mbak Aira dan mas Raka," ucap mbak Sri sambil mengelus pundakku.
" Mbak Sri besok ke rumah mulai hari Jumat saja, kita nggak enak sama mas Jarwo kalau ditinggal mbak Sri berhari-hari," kata ibu.
" Tapi saya kan pingin melihat mbak Aira pas akad nikah Bu," ucap mbak Sri memohon.
" Mbak, besok akad nikahnya di KUA kok nggak di rumah. Cuma diantar beberapa orang keluarga dan saksi. Kan resepsinya hari Minggu jadi akadnya dibikin yang simpel, yang penting Sah." Aku menerangkan pada Mbak Sri.
" Oh gitu, berarti yang ikut cuma keluarga saja ya Mbak." Mbak Sri agak kecewa.
__ADS_1
" Iya maaf ya, soalnya di KUA tempatnya juga terbatas. Kalau diadakan di rumah malah jadi repot 2 kali, soalnya resepsinya hari Minggu," ungkapku.
" Seharusnya acara akadnya di tempat mas Raka ya, kan yang nentuin hari dan tanggal mereka, he he ! " seloroh mbak Sri.
" Kata mas Raka, mereka cuma mau kendurian hari Rabu malam, sehari sebelum akad nikah. Istilahnya minta doa restu sama keluarga dan tetangga, gitu katanya." Aku memberitahu.
" Iya sekaligus ngirit juga," celetuknya sambil tertawa.
" Kalau buat ibu, semua anak haknya sama. Memang tugas kita sebagai orang tua menikahkan mereka jika sudah saatnya. Jadi bukan cuma menyekolahkan sama ngasih makan. Kalau sudah menikah baru tugas sebagai orang tua selesai. Gantian nanti suaminya yang mengurusnya.
Kecuali anak laki-laki, itu masih menjadi tanggung jawab ibunya meskipun sudah menikah. Istrinya tidak boleh mengatur suaminya kalau dia masih punya ibu. Apalagi soal uang belanja, anak laki-laki masih wajib memberi pada ibunya. Istrinya nggak boleh iri apalagi melarang.
Ini nasehat buat Aira juga lho, mesti diingat." Ibu memberi wejangan.
" Iya Bu, aku juga sering mengingatkan mas Raka kok. Soalnya kadang dia malah mentingin aku daripada keluarganya. Padahal aku belum jadi istrinya. Kan aku yang nggak enak, dikira mau menguasai mas Raka," kilahku.
" Mungkin mas Raka kesal Mbak, karena pernikahannya nggak dirayakan sama orangtuanya. Makanya dia lebih mentingin kamu, hehe," gurau mbak Sri.
" Ya enggak lah, mas Raka sudah memahami sikap orangtuanya. Mungkin terlalu bucin sama aku jadinya pingin menomor satukan aku terus, hahaha," sambungku bercanda juga.
" Katanya mas Raka itu anak pertama, tapi masa mau nikah kok cuma syukuran biasa. Apalagi orang tuanya kan kerja semua. Kelihatannya bu Harti juga memakai perhiasan lengkap." Mbak Sri berkomentar.
" Setiap orang beda pemikirannya. Seperti yang ibu bilang tadi, kalau buat ibu semua anak haknya sama. Mungkin kalau orangtuanya Raka tidak seperti itu." Ibu menimpali lagi.
" Betul, beda dengan orang kebanyakan alias aneh. Masa baru mau ngunduh mantu pertama kali kok nggak ada gregetnya, nggak ada acara apapun. Padahal sudah jelas bu Harti itu pedagang di pasar, kenalannya banyak. Pasti sudah pada tahu kalau dia mau menikahkan anaknya." Mbak Sri berkata dengan kesal.
" Kalau kata mas Raka, sebenarnya ibunya juga pingin mengadakan resepsi tapi kalau ada yang membiayai. Dalam hal ini maksudnya bapaknya, tapi bapaknya bilang nggak punya duit. Nah, bu Harti nggak mau dong kalau harus keluar duit banyak. Soalnya dia orangnya pelit, perhitungan kata mas Raka. Akhirnya ya cuma syukuran itu, buat syarat saja. Itu juga entah biayanya dari siapa."
" Ooh begitu ceritanya. Wah jangan-jangan besok kalau ada yang bertamu juga diterima. Jadi untung itu, alasannya cuma syukuran tapi mau menerima sumbangan, hahaha ! " Kami pun tertawa membayangkan jika seperti kejadiannya.
" Sudah ah, yuk pulang. Sudah beres semua kan. Nanti malah ada yang masuk lalu kecele karena nggak ada makanan lagi." Ibu pun mengajak kita beranjak. Aku menghela nafas lega.
Tak terasa tinggal dua hari lagi. Tapi semakin mendekati harinya aku justru makin tenang, nggak deg-degan lagi. Beda dengan hari-hari sebelumnya yang selalu panik, khawatir kalau nggak jadi menikah. Tapi sekarang aku sudah yakin, hari itu akan tiba.
____________
Tunggu saatnya Raka mengucap ijab qabul ya gaes !
Makasih sudah setia mengikuti dan menunggu.
__ADS_1
Lope sekebun buat readers .