
Malam Minggu berikutnya Raka mengirim pesan akan datang sehabis tarawih, aku menyetujuinya. Sehabis berbuka dan sholat Magrib aku duduk di teras sejenak bersama mbak Nia dan Eva. Ketika terdengar azan Isya kami berangkat ke masjid.
Saat selesai sholat Isya, anak -anak kecil pada berbisik-bisik. Salah satu memberi tahuku," Mbak Aira, ada mas Raka." Heran saja, dari mana mereka bisa tahu tentang Raka.
Aku menoleh ke barisan jamaah pria. Nampak Raka tengah menyelesaikan sholatnya, mungkin dia tadi terlambat.
" Ciee, yang cowoknya datang, pasti mau buru-buru pulang." Eva berkata seraya menyenggol bahuku.
" Nggak usah menyindir, orang dia aja juga ikut tarawih." Kusanggah ucapan Eva barusan.
Selesai tarawih kutengok Raka, dia tengah keluar dari masjid. Aku pun beranjak hendak pulang. "Nggak ikut tadarus lagi ? " tanya Eva mulai gusar. Ia mendengus kesal.
" Besuk pagi saja habis Subuh, kan sama-sama membaca Al Qur'an. Kasihan Raka kalau menunggu, sudah ikut tarawih juga." Aku membujuknya.
" Sudah tahu lagi puasa masih pacaran juga ! " Eva masih menggerutu. Aku tersenyum geli melihatnya.
" Hei, ini masalah hati. Kalau kangen ya pingin ketemu dong, yang penting kita nggak berbuat macam-macam. Ayolah maklumin, kalau kamu punya cowok aku juga bakal maklum kok." Kucoba memberi pengertian pada Eva.
" Kok jadi nyerempet ke situ. Ya sudah sana temui cowok kamu, tapi besok sholat Subuh di masjid Agung ya. Sekalian jalan-jalan." Ia pun mengajukan syarat. Dasar anak manja.
" Iya oke, aku pulang dulu ya ! " cetusku sembari keluar masjid. Eva bergabung bersama teman-teman lain yang mau ikut tadarusan.
Sampai di rumah Raka tengah mengobrol dengan ayah. Begitu aku masuk ayah pun beranjak hendak masuk ke dalam.
" Bapak masuk dulu ya, Nak Raka." ujar ayah. "Silahkan, Pak." Raka menjawab dan menganggukkan kepala.
" Sebentar ya aku taruh mukena dulu," ucapku pada Raka lalu menaruh peralatan sholat ku di kamar.
" Kamu nggak ikut tadarus ? " tanya Raka saat aku keluar dan duduk di sampingnya. Terdengar suara lantunan Al-Quran dari masjid.
" Biasanya sih ikut, tapi sekarang kan ada kamu. Masa aku biarin kamu menunggu," sahutku.
" Nggak apa-apa sih sebenarnya, kalau kamu mau," ucapnya. Aku cuma melengos mendengar ucapan Raka barusan.
" Telaaat, dari tadi kek ngomongnya. Tahu gitu tadi aku nggak usah pulang. Pakai debat dulu sama Eva, lagi." Aku memasang wajah cemberut.
" Hehehe, ya sudah nggak perlu dibahas. Aku juga nggak mau kayak obat nyamuk duduk sendirian." Raka menimpali.
__ADS_1
" Oh iya, mau minum teh apa kopi ? " tanyaku sembari beringsut hendak ke dapur.
" Kopi juga boleh, tapi jangan terlalu kental " jawabnya seraya menyalakan rokok. Aku ke dapur membikinkan minuman yang dimintanya.
Kami pun mengobrol di ruang tamu sambil sesekali bercanda ditemani secangkir kopi dan keripik kentang. Sebelum ke sini Raka membelinya tadi.
Menjelang jam 10.00 ia pun pamit pulang.
______________
Malam Minggu selanjutnya Raka tetap datang ke rumah. Kadang Minggu siang mampir ke warung sejenak kemudian pamit berjualan. Kuliahnya diperlonggar karena bulan puasa.
Hari-hari pun berlalu, akhirnya sampai juga di hari terahir puasa. Nanti malam sudah takbiran. Suasana pasar sangat ramai, demikian juga warung kami. Banyak anak yang batal puasa, mungkin karena capek berkeliling mencari baju lebaran.
[ Hai Cantik, nanti malam aku ke rumah ya. Sekarang lagi sibuk banget. Sampai nanti, bye .😘 ]
Ada pesan WA dari Raka ketika aku baru selesai sholat Ashar.
[ Oke aku tunggu ] .
Kubalas lalu kututup lagi HP ku sebelum ibu menegur karena banyak pekerjaan hari ini. Raka juga hanya mengirim pesan singkat. Di tengah kesibukannya ia sempatkan menghubungiku. So sweet. Aku tersenyum.
" Beres tenang saja," Kutaruh handphone di meja kecil lalu aku keluar membersihkan meja makan. Menjelang Magrib baru kami selesai.
" Mbak Sri jadi dijemput suami kan ? " tanyaku. Tadi dia menghubungi suaminya agar menjemput, soalnya kalau sudah sore nggak ada angkot lagi.
" Jadi dong, tadi sudah kukirim pesan WA ," jawab mbak Sri sembari menata barang bawaannya. Ibu memberinya THR berupa sembako dan sejumlah uang di dalam amplop.
Tak berapa lama suami mbak Sri datang. " Saya duluan ya Bu, Mbak Aira, terima kasih bingkisannya." Mbak Sri menyalamiku dan juga ibu.
" Jangan lupa besok ke rumah, ajak anak-anak juga," pesan ibu. Mbak Sri mengangguk. Demikian pula suaminya. Mereka pun berlalu.
Kami sampai di rumah pas azan Magrib. Aku dan ibu langsung membatalkan puasa lebih dulu. Kebetulan mbak Nia sudah menyiapkannya di meja makan.
Setelah mandi dan sholat aku duduk di sofa depan TV sambil menunggu Raka. Sekitar jam 19.30 dia datang. Aku mengajaknya masuk.
" Nih buat kamu." Raka memberikan bungkusan padaku. " Apa nih ? " tanyaku penasaran.
__ADS_1
" Buka saja," pintanya Aku pun membukanya. Ternyata isinya kemeja cewek.
" Waah bagus banget ! Kamu tahu aja yang aku suka. Warnanya juga bagus. Makasih banget ya." Secara tak sadar aku peluk Raka. Ia pun membalas pelukanku.
" Eh maaf, reflek ngga sengaja." Kulepas pelukanku. Tapi Raka malah mempererat pelukannya.
" Nggak usah dilepas, gini aja terus," bisiknya. Kudorong dia pelan, ia pun melepasku sembari tertawa.
" Kamu yang keenakan, yuk duduk." Kami berdua pun duduk di sofa panjang. Setelah lama mengobrol ibu memanggilku dan menyuruh menata kue-kue kering ke dalam toples untuk dipajang di meja tamu. Aku beranjak masuk ke ruang tengah.
" Biar aku bantu." Raka menawarkan diri. Ia pun mengikutiku masuk dan membantu menata kue ke dalam toples-toples kecil. Selesai membantuku Raka pamit hendak pulang.
" Aku pulang dulu ya, mau ikut takbiran di masjid barang sebentar. Nggak enak sama teman-teman," ungkapnya.
" Oke, tapi besok habis sholat Ied ke sini lagi ya. Makan di sini bareng-bareng." Aku berpesan pada Raka. " Insya Allah kalau nggak ada acara bersama !keluarga ,"sahutnya lalu berdiri dari duduknya. Ia pun pulang setelah berpamitan pada ibu dan ayah.
Keesokan harinya warga di kampungku hampir semua berbondong-bondong menuju ke masjid untuk mengikuti sholat Ied. Eva juga sudah memanggilku dari tadi. Ibu dan ayah telah berangkat lebih dahulu., begitu pula mbak Nia dan mas Joni bersama baby Arkana.
" Jangan lupa pintunya dikunci Aira ! " pesan mbak Nia tadi sebelum berangkat. Dia ikut ke masjid tapi nggak ikut sholat. karena Arkana masih terlalu kecil jika ditinggal. Bisa-bisa nanti merangkak keluar masjid.
Seusai mengunci pintu aku menghampiri Eva yang masih duduk di teras rumahnya menungguku. Kita pun berangkat bersama ke masjid.
Beruntung masjid kami selain agak luas juga ada halamannya. Sehingga bila ada sholat berjamaah yang diikuti hampir seluruh warga, sebagian bisa sholat di luar.
" Itu ibuku sama mama kamu, yuk kita bergabung ke sana ! " ajakku sama Eva. Ia pun menurut, kami mendekati ibu dan mamanya Eva.
Kurang lebih setengah jam sholat Ied dan khutbah pun selesai. Sampai di rumah kami sekeluarga bermaaf-maafan dan lanjut makan bersama.
" Aira, ayo makan sekalian. Habis ini kita bersilaturahmi ke rumah saudara dan embah-embah." Ibu memanggilku untuk makan. Aku masih enggan untuk makan.
" Nanti saja Bu, aku nungguin Raka. Nanti kuajak makan sekalian." Aku memberi alasan. Semalam Raka memang sudah berjanji akan datang kemari setelah sholat Ied.
Akan tetapi sampai keluargaku sudah selesai makan Raka belum muncul juga. Kucoba mengirim pesan tapi belum dibaca dari tadi. Kutelpon juga nggak diangkat. Apa mungkin HP nya di mode diam.
" Duuh Raka kenapa sih nggak bisa dihubungi ? " Aku bergumam sendiri. Kucoba berpikir positif, mana tahu dia sedang bertemu dengan famili, saudara dan tetangga dekat untuk bermaaf-maafan.
*****************************
__ADS_1
bersambung ya, mohon maaf sebesar-besarnya karena lambat up date.