
Tatkala melewati depan rumah bu Dirja nampak Ernest dan Trias masih asyik mengobrol di ruang tamu. Mereka duduk di dekat pintu jadi bisa terlihat dari luar, namun tidak melihatku. Kupercepat langkahku biar tak ada yang tahu kalau aku pergi. Hihihi !
" Hai Aira, mau ke mana ? katanya lagi bantuin mbak Tatik," sapa mbak Tutik dari teras rumahnya.
" Mau ke warung Mbak, tadi masih di sana tapi sudah tidak ada tamu lagi ya mending aku bantuin ibu. Lagian mbak Yuni juga masih di situ kok, sama ARTnya juga. Ada temannya Ernest juga."
" Oh gitu. Ya betul mending kamu ke warung, ngapain juga di sana kalau nggak ada tamu. Misalkan ada juga 1-2 orang, biar keluarganya yang melayani." Mbak Tutik membenarkanku.
" Iya Mbak, aku pergi dulu ya itu ada angkot mau ke sini," kataku seraya menghentikan angkot yang baru lewat. Mbak Tutik pun melambaikan tangan.
Di dalam angkot aku bertanya-tanya, sepertinya sebagian tetangga pada nggak respek sama mbak Tatik. Kemarin tante Fina kepo soal tamu yang datang, terus mbak Nia juga selalu mempengaruhiku supaya jangan berlebihan membantunya. Sekarang mbak Tutik setuju dengan ' aksi melarikan diri ' yang kulakukan. Padahal aku merasa tindakanku ini nekat dan nggak pantas sebenarnya.
Tak terasa angkot telah berhenti di depan pasar. Aku berjalan menuju warung, melewati kantornya Arya yang tutup karena ini hari Minggu. Banyak toko yang libur, jalan juga agak sepi. Mungkin karena liburan sekolah sehingga sebagian orang berwisata ke luar kota.
" Assalamualaikum ! " ucapku saat masuk warung. Ibu dan mbak Sri lagi di dapur.
" Waalaikum salam," balas mereka bersamaan, belum tahu kalau aku yang masuk. Ibu langsung keluar.
" Ooo Aira, kirain siapa kok tumben mengucap salam. Katanya masih ada tamunya mbak Tatik, kok malah ditinggal? " tanya ibu heran.
Lalu aku bercerita seperti yang kukatakan pada mbak Nia tadi. Ibu hanya menghela nafas, kemudian berkata," Berarti kamu tadi nggak pamit, pasti nanti pada mencarl-cari."
Mbak Sri hanya mendengarkan tanpa berkomentar, soalnya tak tahu menahu apa yang tengah kubicarakan dengan ibu.
" Terus kamu sudah makan belum, kalau belum lekas makan sebelum pelanggan berdatangan. Sebentar lagi jam makan siang lho"
" Sudah dong tadi. Masa belum makan udah pergi, rugi lah haha ! Tadi pagi aja mbak Tatik sudah ngasih lauk buat sarapan aku sama mbak Nia."
" Apa memang orangnya sombong ya, kok banyak yang nggak suka ? " tanya mbak Sri tentang mbak Tatik.
" Entah lah, aku sendiri kurang tahu. Orang waktu dia menikah saja mbak Nia masih sekolah TK katanya, tapi umurnya sudah 6 th lebih soalnya mbak Nia telat sekolah. Ya kan Buk ! "
" Iya, waktu itu ibu lagi sibuk-sibuknya ngurusin kamu jadi nggak sempat mendaftarkan sekolah Nia. Setahun kemudian baru bisa masuk TK kecil." Ibu menceritakan masa kecil kami.
" Tapi kok cuma mbak Nia yang telat sekolah. Mbak Rina, mbak Tika dan mas Bayu enggak," ucapku menyela cerita ibu.
" Dulu yang mendaftarkan ayah, sekolah TK nya kan sebelahan sama SD tempat ayah mengajar. Jadi ibu masih bisa mengurus si kecil saat kakaknya sekolah.
__ADS_1
Tapi saat Nia umur 5th ayah malah pindah di SD lain yang jauh dari sekolah TK. Padahal tiap hari ayah mengantar jemput tiga kakakmu. Sementara Ibu harus mengurusi kamu yang masih balita.
Ya begitulah kalau punya banyak anak, hehehe." Cerita ibu yang akhirnya malah terkekeh.
" Waduh, tadi lagi nyeritain tetangga malah jadi nostalgia," celetuk mbak Sri.
Ibu tak meneruskan lagi karena ada pelanggan datang lalu keluar untuk melayani.
" Sekali-sekali mengenang jaman dulu, apalagi waktu hidup susah. Supaya bisa bersyukur kalau sekarang hidupnya sudah enak, tidak lupa diri, gitu." Aku berkomentar.
" Huuh gayanya kayak orang tua," gumam mbak Sri.
" Ngomong apa aku dengar loh ! " tegurku. Tapi mbak Sri langsung berjingkat ke ruang depan membantu ibu. Pengunjung warung mulai bertambah karena sudah jam makan siang.
Aku baru ingat kalau belum menghubungi mas Raka.. Pasti dia mengira aku masih di tempat mbak Tatik. Sebaiknya kukirim WA saja, kebetulan dia lagi online.
[ Mas Raka, kamu lagi di mana. Kalau lagi di rumah ke sini aja dong, aku di warung ] Send.
Belum lima menit dia membalas pesanku.
[ Aku lagi di rumah Doyok. Katanya kamu masih di rumah Ernest, kok sekarang di warung. Memangnya kamu nggak jadi ke sana ]
[ Ada apa sih, jadi penasaran. Oke deh aku ke situ ya ]
[ Oke aku tunggu. Hati-hati jangan ngebut ]
[ Iya sayang ]
Kuakhiri chat dengan mas Raka. Mbak Sri masuk membawa beberapa piring dan gelas kotor.Tak perlu menunggu langsung kubantu mencucinya.
Lima belas menit kemudian mas Raka tiba. Aku baru saja selesai sholat, namun enggan keluar dari bilik. Biar dia nyamperin aku ke dalam.
" Hei, habis sholat ya. Kok nggak keluar," tegur mas Raka yang sedang mendekatiku.
" Iya, nggak tahu nih kok rasanya pegel banget kakiku. Kemarin kan mondar mandir keluar masuk jadinya kaki yang manjer." Aku mengeluh sama dia.
"Sini aku pijitin, " tanpa menunggu jawabanku mas Raka masuk ke dalam bilik dan langsung memijit kakiku. Untung aku memakai kulot tadi.
__ADS_1
Mbak Sri yang hendak masuk ke dapur langsung berbalik mengurungkan niatnya. Ia malah berbisik dengan ibu sambil cekikikan. Ibu menengok kami dari pintu dapur lalu tersenyum.
" Yang lagi dipijitin, pasti merem melek tuh keenakan," celetuk mbak Sri yang akhirnya masuk lagi membawa cucian piring dan gelas.
" Berisik aja dari tadi. Awas nanti kubilangin sama mas Jarwo ! " omelku padanya.
Mas Raka tetap santai memijitku tanpa mempedulikan ejekan mbak Sri. Padahal mbak Sri terus saja meledekku. Ia mencuci piring sambil cekikian dan seperti terburu-buru. Aku jadi curiga.
Dan benar saja, usai mencuci ia pun keluar entah ke mana.
" Mau ke mana tuh orang ," gumamku .
Beberapa saat berlalu mbak Sri muncul bersama mbak Wiwit.
" Ciyee ciyee... ada tukang pijat baru nih. Boleh dong ngantri giliran berikutnya, hahaha ! " ledek mbak Wiwit. Mereka berdua tertawa ngakak. Entah masih ada orang yang makan di warung atau tidak.
" Mbak Sriiiii ..! awas ya nanti aku balas ! " teriakku lalu kulempar handuk kecil milikku ke arahnya. Ia mengelak tapi tetap saja mengenai wajahnya.
" Aah sudah ah. Kalau di sini terus bisa sakit perutku tak henti tertawa, hihi." Mbak Wiwit menyerah lalu keluar, tapi sepertinya masih menahan tawa.
" Udah Mas, agak mendingan sekarang. Pada sirik aja tuh," gerutuku. Aku beringsut keluar dari bilik. Mas Raka juga berdiri dan duduk di kursi dapur.
" Kuambilkan minum dulu ya Mas," ucapku.
Mas Raka menyeruput teh hangatnya. Aku duduk di sebelahnya setelah meletakkan cemilan di depannya.
" Tadi mau cerita apa ? " Mas Raka menanyakan ucapanku di WA tadi.
" Oh iya, hampir lupa. Habisnya tadi ada yang mengganggu jadi lupa mau cerita," kataku.
Aku pun menceritakan apa yang kulakukan sebelum aku berangkat ke sini. Mas Raka hanya menanggapi biasa saja, tidak tertawa atau pun marah.
" Tapi tindakanmu tadi sebenarnya nggak bener lho. Harusnya kamu pamit lah, bilang baik-baik. Sekalipun tidak ada tamu tapi kan kamu memang diminta stand by di sana. Bisa jadi sekarang mereka lagi mencarimu. Paling juga bertanya-tanya kenapa kamu meninggalkan tempat tanpa pamit." Mas Raka menasehatiku.
Sebenarnya aku juga tak ada niat pergi tadi. Tapi ketika melihat Ernest berduaan sama Trias aku merasa sebel banget. Sedari kemarin malah nempel terus. Tak tahu kenapa aku merasa dicuekin sama Ernest. Nggak mungkin juga kubilang pada mas Raka alasanku yang sebenarnya. Memangnya pingin hubungan kita jadi kacau.
" Iya Mas, nanti aku minta maaf deh sama mbak Tatik dan keluarganya. Tadinya sih cuma pingin pulang sebentar, nggak tahu kenapa kok jadi enggan kembali ke depan lagi." Terpaksa kucari alasan yang kira-kira masuk akal.
__ADS_1
____________
Sekian dulu ya gaes. Tolong kasih like dan komentar yang bagus tentunya, thanks !