Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 99 Tentang Ernest


__ADS_3

Sore ini mas Raka tidak mampir ke warung makan ataupun datang ke rumah. Karena kemarin hari Minggu libur jadi pekerjaan hari Senin menumpuk. Saat istirahat siang tadi ia sudah mengabariku.


" Tante Aila puyang, nenek puyang ! " seru si bocil Arkana ketika kami sampai depan rumah.


Ternyata ada Ernest yang menemaninya sambil main hape. Mungkin mbak Nia lagi mengambil sesuatu di dalam.


" Hallo cayang, ponakan tante yang ganteng udah maem beyum." balasku dengan menirukan suaranya yang cadel. Ia berlari menghampiriku dan memeluk kakiku.


" Kok aku nggak disapa Mbak," protes Ernest sambil nyengir.


" Hallo juga adikku Ernest," ucapku pula pada cowok berondong ini.


" Yang ganteng juga dong ! " celetuknya lagi. Untung ibu sudah masuk sehingga gurauan Ernest tak ada yang mendengar.


" Ya deh, Ernest yang ganteng. Ini kok Arkana sama kak Ernest, mama mana?" tanyaku lalu mengangkat tubuh Arkana.


" Mbak Nia lagi bikin susu," sahut Ernest lalu bangkit dari duduknya. Mbak Nia keluar lalu mengajak Arkana masuk.


" Ngobrol di sini dulu dong Mbak Aira, pasti masih gerah kan habis berjalan jauh. " Ernest memintaku menemaninya ngobrol di teras.


" Tunggu sebentar, aku taruh tas dan keranjang dulu ya.," tukasku sembari masuk rumah.


Setelah kutaruh keranjang dan tas selempang aku kembali ke teras. Entah kenapa aku nggak bisa menolak permintaan Ernest. Kalau mengobrol dengannya pasti nyambung aja, seperti ada chemistry.


" Pasarnya ramai ya, Mbak? " tanya dia lalu duduk di kursi sebelahku.


" Nggak tahu lah kalau pasarnya, kan aku sama ibu di warung depan pasar." Aku memberitahunya.


" Ooh kirain berjualan di pasar. Tapi tahu dong pasarnya rame apa tidak, kan kelihatan dari warung makan." Ia masih ingin tahu


" Memangnya kalau pasarnya rame kamu mau ikut buka lapak di sana? " tanyaku meledek.


" Enggak, hahaha ! " Ia pun tergelak.


Aku hanya tersenyum menyaksikan tingkahnya. Betewe, anaknya memang cakep sih. Sayang masih SMA, uupps ! Hei Aira, kamu sudah tunangan loh, batinku berbicara. Hihihi !


" Ernest, katanya mau mandi kok malah di situ dari tadi. Sudah sore nanti keburu dingin ! " seru bu Dirja memanggil cucunya dari balik pagar.


" Oh belum mandi ya, pantesan dari tadi kaya bau apaaa gitu." Aku menggodanya lagi.


" Iih, apa nggak sama tu ! Yang baru pulang dari pasar seharian siapa yaa ? " Ernest memutar bola matanya sambil menahan senyum.


" Tapi aku kalau pulang langsung mandi lah ya. Kamu yang seharian di rumah masa belum mandi."

__ADS_1


" Iya tuh Mbak Aira, tadi bilangnya mau mandi malah main sama dede Arkana. Sekarang godain Mbak Aira." Bu Dirja mengomelinya lagi. Beliau sembari menyiram tanaman.


" Iya nenekku yang cantik, sebentar biar keringatku kering dulu. Ini masih gerah, katanya nggak boleh mandi kalau lagi keringetan." Ernest masih berkilah dari teguran neneknya.


" Aah banyak alasan saja kamu ! " tukas bu Dirja lalu masuk membawa ember dan gayungnya.


" Mandi bareng yuk Mbak ! " celetuk Ernest asal saja. Aku melotot padanya.


" Aku di situ, Mbak Aira di situ. Wkwkwkk ! " Ia menunjuk rumah neneknya dan rumahku bergantian.


" Huuuh dasar anak bandel, sudah ah aku mau mandi." Aku hendak beranjak, namun Ernest kembali berseru.


" Balapan ya Mbak, siapa mandi duluan. Kalau aku menang Mbak Aira harus kasih aku hadiah. "


" Oke, kalau aku menang kamu juga harus kasih hadiah. Deal ! " cetusku.


Aku beranjak masuk, ia pun bergegas keluar dan membuka pagar rumahnya.


Di dalam kamar aku tersenyum sendiri. Asyik juga bercanda dengan Ernest. Awalnya kukira anaknya pendiam, tapi ternyata kocak abis.


" Ernest kok bisa bercanda gitu ya sama kamu. Padahal selama ini ia nggak pernah mau keluar rumah." Mbak Nia mengomentarinya.


" Mungkin waktu itu masih malu, atau singkan dengan kita," tukasku seraya berlalu ke kamar mandi.


Kupercepat aksi membersihkan tubuhku, biar bisa menang dari tantangan Ernest tadi. Meskipun sebenarnya tadi hanya sekedar bercanda namun aku iseng saja pingin tahu reaksinya nanti.


Ibu dan mbak Nia masih membicarakan Ernest saat aku selesai mandi.


" Tadi aku tanyain waktu main kemari. Dia punya adik satu katanya, tapi masih SMP kelas X. Jadi sekolahnya pindah mengikuti orangtuanya ke Jakarta," terang mbak Nia.


" Tapi herannya sama tetangga yang lain dia masih enggan menyapa. Seperti tadi pagi waktu aku ngobrol sama mbak Tutik." Aku langsung menimpali begitu keluar dari kamar. Waktu mandi tadi aku kedatangan tamu bulanan jadi nggak sholat Magrib.


" Iya betul , tadi juga gitu. Waktu bu Fina lewat aku menyapanya dan bu Fina juga menegur Arkana yang lagi dibopong sama Ernest. Eh Ernest nya diam saja bahkan nggak menoleh ke bu Fina. Malah aku yang nggak enak sama bu Fina," tutur mbak Nia.


" Mungkin karena kebetulan rumah kita yang paling dekat dengan rumah bu Dirja. Kalau sama tetangga lain dia mungkin masih malu." Ibu menambahkan.


" Tadi pagi waktu aku mengobrol sama mbak Tutik, dia nggak melihat sama sekali. Lalu kuingatkan dia supaya bersikap ramah karena kakek neneknya disegani di kampung kita. Tapi dia nggak peduli. Aku curiganya dia itu sebenarnya sedikit angkuh." Ku kemukakan pendapatku.


Meskipun anak itu menyenangkan dan baik padaku tapi aku agak risih dengan sikapnya tadi pagi. Namun itu semua juga bukan urusanku.


" Benar, biasanya orang seperti itu suka pilih-pilih. Kebetulan saja rumah kita berhadapan, coba kalau tidak belum tentu dia mau kenal sama kita." Mbak Nia menyambung ucapanku.


" Mirip kakeknya berarti, pak Dirja kan orangnya jarang ngomong sama tetangga. Mungkin sifatnya itu nurun ke cucunya, hehe." Ibu memelankan suaranya, lalu terkekeh.

__ADS_1


Makin asyik saja kita bertiga mengobrol, kesempatan yang jarang terjadi. Ini karena kebetulan aku sedang nggak sholat, lalu Arkana juga sedang bermain sendiri. Biasanya dia tidur dan aku juga di kamar, dan akhirnya ibu sendirian menonton tivi.


Sampai azan Isya barulah obrolan kami berakhir. Ibu masuk kamar bersiap sholat, mbak Nia mengajak Arkana ke kamar. Nanti setelah anaknya tidur baru mbak Nia sholat.


Aku menonton televisi, acara sinetron yang digemari ibu. Acara komedi favoritku jam tayangnya nanti malam.


Cuit cuit ! Handphoneku berbunyi. Ada pesan dari mas Raka.


[ Assalamualaikum Airaku yang cantik, sedang apakah gerangan ? ] Aku tersenyum membaca kalimatnya yang terlalu formal. Pasti dia sengaja biar aku tertawa.


[ Wa' alaikum salam mas Raka yang baik hati dan tidak sombong. Bahasanya resmi banget 😛Aku lagi nonton tivi, mas Raka lagi apa ]


[ Sengaja biar kamu tertawa, soalnya kalau aku nggak datang biasanya kamu lagi cemberut 😄 . Aku lagi chating sama kamu di kamar. Sudah sholat belum nih ]


[ Tuh kan bener, pasti sengaja mau bikin aku tertawa. Tapi sayangnya aku nggak lagi cemberut, kalau ketawa iya 🤣🤣 ] [ Aku lagi nggak sholat, tadi kedatangan tamu pas mau mandi ]


[ Syukur deh kalau nggak cemberut lagi ] [ Memangnya ada tamu siapa kok jadi nggak sholat, jangan pernah tinggalin sholat ya sayang. Itu wajib hukumnya ]


[ Mas Raka ini ..beneran nggak tahu apa pura-pura nggak tahu sih. Tamu bulanan Mas, bukan tamu sungguhan 🤭 ]


[ Oh kalau itu aku tahu hehe. Habisnya selama kita pacaran kamu belum pernah bilang kalau lagi datang bulan. Tumben sekarang ngasih tahu ]


[ Kan tadi Mas Raka nanya aku udah sholat belum. Kalau tidak ya ngapain aku bilang-bilang kalau lagi dapet, malu kali ]


[ Syukur deh kalau punya malu wkwkwkk ]


[ Apaan sih mas Raka, godain terus. Aku marah ni ]


[ Hahaha ya deh, maaf 🙏 ] [ oh iya sudah makan belum , kalau belum lekas makan gih. Aku juga mau makan lalu istirahat. Penat banget hari ini, pekerjaan dobel ]


[ Ya udah mas Raka istirahat saja, jangan merokok terus lho. Kalau ngantuk tidur saja nggak usah begadang ]


[ Baik Tuan Putri , sudah dulu ya bye 😍😘 ]


[ bye 😍😘 ]


WhatsApp kututup lalu aku beranjak hendak makan malam. Kulihat ayah sudah kembali dari masjid, namun sedang berbincang dengan seseorang. Aku berjalan keluar ingin tahu dengan siapa ayah mengobrol, karena tidak biasanya.


" Ayah, kok nggak masuk sih." Kutegur ayah karena khawatir dengan kesehatannya bila kelamaan di luar rumah.


" Ini ayah lagi nanyain nak Ernest, kok duduk di teras sendirian. Katanya lagi ngadem." Ayah memberitahu alasannya.


" Ya sudah sekarang Ayah masuk." saranku. Ayah pun segera masuk rumah setelah kutegur.

__ADS_1


____________


Bersambung say,


__ADS_2