
[ Assalamualaikum Mas Raka, nanti sore sepulang kerja jemput aku diwarung ya. Makasiih 😘 ]
Menjelang jam makan siang kukirim pesan buat mas Raka. Aku pingin pulang sama dia daripada bersama ibu tapi diam-diaman. Yang ada juga ibu pasti ninggalin aku, lalu kita berjalan kaki sendiri-sendiri. Lebih baik ambil jalan tengah saja.
Kutaruh dulu handphone di meja. Mas Raka belum membaca pesanku mungkin belum waktu istirahat. Aku juga hendak makan siang.
" Mbak Sri sholat dulu aja, nanti habis makan aku bantuin cuci piring," kataku saat dia membawa masuk peralatan makan yang kotor.
Cuit cuit ! Baru beberapa suapan hapeku berbunyi. Pasti pesan balasan dari mas Raka. Kubuka chat WhatsApp sembari melanjutkan makan siangku.
[ Waalaikum salam Aira sayang, nanti aku pasti langsung ke warung. Lagian kenapa mesti dikasih tahu, ini malam Minggu kan. Biasanya aku selalu jemput kamu ]
[ Iya sih, tapi kan kadang mas Raka pulang dulu baru malamnya ke rumah. Makanya sekarang kubilangi biar nanti pulang langsung ke sini ]
[ Hehe tahu saja kalau aku memang mau pulang dulu ]
[ Tuh kan bener, untung aku bilang sekarang ]
[ Oke deh, sekarang aku makan siang dulu ya. Daah sayang 😍 ]
Handphone kuletakkan di meja kecil. Mbak Sri telah selesai sholat dan hendak mencuci piring.
" Makan siang sekalian Mbak, aku udah hampir selesai kok," saranku padanya.
Mbak Sri hanya menurut. Sementara aku sudah selesai makan dan hendak mencuci piring. Beberapa menit kemudian mbak Sri selesai dan membantuku.
" Mau cerita apa Mbak? " tanya dia, seakan tahu aku mau mengatakan sesuatu.
" Sebenarnya aku malu mengatakan ini sama kamu Mbak, tapi kurasa hanya kamu yang bisa mengerti. Kalau Mbak Nia pasti bakalan marah seperti ibu juga." Aku masih ragu untuk bicara.
" Memangnya kamu punya kesalahan ya Mbak, kalau boleh tahu kamu berbuat apa sampai ibu marah begitu." Mbak Sri ingin tahu.
Kutengok di luar ibu tengah mengobrol dengan bu Harjo, pelanggan sekaligus teman akrab ibu sejak dulu.
" Tapi Mbak Sri jangan marah atau menertawakan ya. Jadi begini, bu Dirja tetangga depan rumahku itu punya cucu yang sudah SMA. Orangtuanya lagi tugas di luar kota jadi dia tinggal sama kakek neneknya soalnya nanggung sudah kelas 12 juga.
Anaknya ganteng Mbak, namanya Ernest. Tapi sayang dia kurang peduli dengan lingkungan sekitar. Sama tetangga jarang bergaul, paling sama keluargaku. Herannya lagi, banyak cewek sebayanya pingin kenal tapi dia selalu cuek. Justru kalau sama aku dia ingin selalu dekat."
" Waduh jangan-jangan dia suka sama Mbak Aira. Tapi dia kan masih SMA, kamu juga sudah punya pacar." Mbak Sri langsung berkomentar.
" Maka dari itu, masalahnya di sini." Lalu kuceritakan apa yang telah kulalui bersama Ernest, juga sikap cowok berondong itu padaku. Semuanya tanpa ada yang kututupi, termasuk perasaanku yang sempat goyah.
" Tapi kamu masih mencintai mas Raka bukan ? " tanya mbak Sri.
" Ya ampun Mbak Sri sampai segitunya, masih dong. Kita udah tunangan bukan main-main lagi," tukasku.
__ADS_1
Obrolan kami terhenti sejenak karena mbak Sri diminta ibu membawa piring bersih keluar. Ia lalu mengambil yang sudah kering dari rak piring.
" Tapi kenapa kamu masih tergoda sama cowok SMA, kalau sampai mas Raka tahu bahaya lho. Mending nggak usah ditanggapi." Mbak Sri berkata lagi dan meneruskan pekerjaannya
" Justru itu Mbak. Aku cinta sama mas Raka, sangaaat cinta. Tapi aku juga tidak bisa menolak jika Ernest mendekatiku. Secara dia itu gantengnya di atas rata-rata. Aku dekat sama dia saja bikin iri cewek-cewek tetangga."
" Aduh, kalau begini caranya aku angkat tangan deh. Jadi maksudnya mau mendua nih? " tanya mbak Sri sambil melengos.
" Bukan begitu Mbak, duuh gimana menjelaskannya sih. Aku tuh tidak ada perasaan apa-apa sama Ernest, hanya saja tak bisa menolak jika dia meminta sesuatu, emm ..maksudku minta tolong lah. Misal waktu dia mengajak ngobrol atau nonton. Itu saja."
" Tapi takutnya, ketika kalian berdua mengobrol terus mas Raka datang. Bagaimana nanti reaksinya coba ? " Ia nampak khawatir.
" Itu juga yang ibu khawatirkan dan bikin jadi marah besar, terlebih tadi malam waktu aku pulang nonton. Kupikir saat ibu nanya lalu kubilang habis nonton sama Ernest, ibu tak akan marah. Tapi perkiraanku salah."
" Kalau boleh aku sarankan, lebih baik jangan terlalu dekat dengan si Ernest itu, Mbak Aira. Takutnya mas Raka akhirnya tahu. Hubungan kalian tinggal selangkah lagi lho." Mbak Sri menasehatiku.
" Aku tahu, tapi coba kalau mbak Sri jadi aku. Terus tetangga dekat mengajak ngobrol masa kita mengabaikan. Apalagi ada neneknya juga, apa nggak sungkan tuh? " kuminta pendapatnya.
" Paling tidak menghindar lah, kalau dia lagi ada di luar kamu jangan memperlihatkan diri. Kalaupun mau keluar tunggu sampai dia masuk rumah."
" Hmm, Mbak Sri belum tahu sih. Ernest itu hafal kapan kira-kira aku keluar. Misal pagi mau ke sini, pas aku keluar dia pas mau berangkat sekolah. Lalu sorenya pulang dari warung, dia pasti sudah duduk di teras, kadang main sama Arkana.
Parahnya lagi jika aku lagi sama mas Raka, diam-diam dia memperhatikan kita. Terus setelah mas Raka pulang, tiba-tiba dia nongol usai aku mengantar sampai teras. Bagaimana mau menghindar coba? "
" Nggak bakalan. Mesti berpikir seribu kali kalau aku suka sama dia. Kalau terpesona boleh dong !" ucapku sambil nyengir. Mbak Sri hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
____________
Pukul 16.15 mas Raka sudah nongol. Ia langsung melempar senyum saat berdiri di pintu warung makan. Aku menuangkan air putih dingin dan kubawa keluar.
" Nih Mas minum dulu ! "
" Makasih sayang," ucapnya dan langsung meneguk nya hingga tak bersisa.
Mas Raka duduk di bangku depan warung sambil menyelonjorkan kaki dan mengipas wajahnya dengan topinya.
" Mau makan Mas? " tanyaku menawarinya.
" Nanti saja, melihat kamu aku sudah merasa kenyang, hehehe ! " sahutnya sambil terkekeh.
" Huuu gombal ! " Kutimpuk dia pakai lap yang tengah kupegang.
" Oh iya, kemarin aku beli oleh-oleh buat kamu. Nanti diambil ya di rumah," kata mas Raka seraya menarikku agar duduk di sampingnya.
" Kok nggak dibawain sekalian sih Mas, masa oleh-oleh mengambil sendiri," tukasku.
__ADS_1
" Tadi kan rencananya habis kerja aku pulang dulu, mandi sholat baru ke rumah kamu sekalian ngasih oleh-olehnya. Tapi kamu menyuruhku langsung ke sini." Ia mengungkapkan alasannya.
Aku terdiam, sebenarnya enggan kalau diajak ke rumahnya. Yang ada mesti berbasa-basi terus, senyum sana senyum sini.
" Kok diam, mau kan nanti ke rumah. Lagian sudah lama juga, nenek nanyain kamu lho." Mas Raka terus membujukku.
" Lihat nanti deh. Aku masuk dulu ya." Aku masuk lalu menyelesaikan pekerjaan.
Setelah semua selesai mas Raka kuminta mengantarkan ibu terlebih dulu. Aku menunggu sambil berjalan kaki. Tak lama dia sudah berbalik.
" Mau langsung pulang apa muter dulu ? " tanya mas Raka.
" Langsung pulang saja, nanti habis mandi terus ke rumah kamu." Aku segera membonceng dan ia melajukan motornya.
Tiba di rumah kulihat Ernest tengah menyiram tanaman bersama neneknya.
" Baru pulang Aira ! " sapa bu Dirja. Ernest ikut tersenyum seraya melirik mas Raka.
" Iya Bu Dirja, mari Bu saya masuk dulu." Aku menganggukkan kepala lalu tersenyum pada Ernest.
Mas Raka mengikutiku lalu duduk di ruang tamu. Sempat kulihat dia juga menatap Ernest.
"Aku mandi dulu ya, Mas Raka mau minum nggak ? " tawarku.
" Nggak usah, habis ini kita langsung pergi kan," jawabnya seraya mengeluarkan rokok dari dalam tas ranselnya.
Aku masuk ke kamar lalu melepas jilbabku. Kusambar handuk dan bergegas ke kamar mandi. Tanpa menunggu lama kuguyur tubuhku dengan air kran yang terasa hangat.
Seusai berdandan dan mematut diri kuhampiri mas Raka di depan yang tengah mengobrol dengan ayah.
" Ayah, aku mau ke rumah mas Raka ya. Tolong panitia sama ibu, " pamitku pada ayah.
Mas Raka menyalami ayah. Arkana langsung berlari keluar dan menubrukku dari belakang.
" Tante pergi dulu ya ! " kuciumi ponakan kecilku sambil kubopong sebentar. Ia mencubit pipiku dengan lucunya.
" Gemes ya sama tante Aira yang cantik, hihihi ! " Kuturunkan dia. Ayah tersenyum melihat tingkah cucunya.
" Pergi dulu ya Yah, " ucapku sembari menyalami dan mencium tangan ayah.
Mas Raka menghidupkan motornya dan aku segera naik di belakang. Tak lama kami berdua telah berada di jalan raya menuju rumahnya.
____________
Bersambung ya..
__ADS_1