
" Keluar yuk ! " ajak Raka. " Cari camilan yang anget-anget." Ia menambahkan.
" Malas ah, aku sudah memakai baju tidur masa ganti lagi," ucapku.
Tadi memang sengaja aku hanya memakai babydoll panjang biar Raka nggak mengajakku keluar. Sebab pulang dari warung tadi rasanya capek dan ngantuk meskipun sudah dibantuin sama Raka.
" Nggak usah ganti , tinggal pakai jaket saja paling juga ketutup kerudung. Lagian kamu udah tahu aku mau datang kok malah pakai baju tidur. Sengaja ya? " tebak Raka. Kenapa bisa pas tebakannya.
" Eng, enggak sih. Nggak tahu tadi kok bisa mengambil baju tidur, bawaannya pingin rebahan sih. Hehehe ! " ungkapku .
" Jadi nggak pingin jajan nih ? Kalau begitu aku pulang aja deh, kamu kan udah ngantuk." Raka berkata dengan raut kecewa.
" Gitu aja marah. Ya sudah, gimana kalau kita beli wedang ronde sama gorengan di mbak Yah. Itu di sebelah utara gapura." Aku memberi usulan.
Sudah lama aku nggak ke warung mbak Yah, sekalian mau memamerkan calon suami. Terutama sama orang yang suka sirik padaku.
" Ogah aaah, aku malas ketemu anak-anak cowok tetanggamu. Tatapannya seperti nggak suka sama aku." Raka menolak ajakanku.
Aku memang belum pernah mengenalkannya pada teman-teman tetanggaku. Kupikir mereka akan tahu dengan sendirinya. Tapi aku nggak menyangka kalau Raka nggak suka dengan mereka. Atau ini satu bentuk kecemburuan ?
" Jadi maunya ke mana ? Kalau ke taman kota sudah kemalaman, dingin lagi." Aku pun beralasan.
" Sudah dibilang pakai jaket. Kalau nggak ke taman lantas ke mana, di depan pasar banyak pedagang kaki lima tapi kan makanan berat. Kalau di alun-alun jajanan yang ringan buat camilan. Ayolah," bujuk Raka lagi. Aku nggak enak jika menolak.
" Ya deh, sebentar aku ambil jaket." Aku pun beranjak ke kamar memakai jaket dan mengambil handphone di meja. Sesaat kunyalakan ternyata ada pesan WA dari Eva. Namun kuabaikan dulu, nanti saja saat akan tidur.
" Ibu , aku keluar sebentar ya ! " Aku pamit sama ibu yang sedang mengeroki ayah.
" Jangan lama-lama lho, hawanya dingin." Ayah berpesan. Ibu mengangguk mengiyakan.
" Baik Yah, cuma beli camilan kok. Ibu sama Ayah mau pesen apa ? " tanyaku menawari mereka, terutama ayah yang lagi kurang sehat.
" Bakmi godog Jawa saja, ya Yah. Yang anget seger, biar pyaar keluar keringatnya. Beli satu bungkus aja ." Ibu mengusulkan. Ayah pun menyetujui. Aku berbalik dan menghampiri Raka. Kita pun keluar. Jam di dinding menunjukkan pukul 20.15 wib. Belum terlalu malam, hanya karena cuaca dingin sehingga orang malas keluar.
Sampai di taman masih ada beberapa orang yang duduk mengobrol sambil menikmati jajanan. Tapi nggak ada anak-anak kecil. Bisa jadi mereka sudah pada pulang karena besok harus sekolah.
" Mau turun apa menunggu di motor? " Raka menanyaiku. "Di sini aja, tapi jangan lama-lama." Aku enggan turun karena berasa dingin.
" Oke sayang, sebentar ya ! " Raka berlari kecil mendekati penjual jajanan favorit kami.
Setelah mendapatkan jajanan yang diinginkan kita mampir di depan pasar untuk beli bakmi godog pesanan ibu. Godog berarti rebus. Jadi bakmi kuning kering yang sudah direndam air panas, lalu ditiriskan. Kemudian dimasak seperti mie goreng tapi diberi kuah. Dengan campuran ayam serta sayuran.
__ADS_1
Menu ini biasanya yang jualan orang Wonosari Jogjakarta. Makanya dinamakan Bakmi godog Jawa dan Bakmi goreng Jawa.
" Aku ikut masuk ah, biar hangat kena hawa panas kompor." Aku pun turun dari motor mengikuti Raka. Ia menggandeng tanganku.
" Aku pegangi biar nggak jatuh, jalannya nggak rata." Ia memberi alasan sebelum kuprotes. Aku tersenyum dalam hati. Kebetulan tempat ini memang jalannya berlubang-lubang.
Usai membayar bakmi godognya kami segera meluncur kembali ke rumah.
" Harusnya tadi beli bakmi dulu, baru jajan. Ini tadi kelamaan beli bakmi jadi dingin pempek sama bakso bakarnya." Aku menyayangkan, tapi sudah terlanjur.
" Nggak juga, ini masih hangat kok. Kalau mau panas digoreng lagi saja pempeknya. Bakso bakarnya nggak usah." Raka memberi ide. Aku langsung setuju.
Aku ke dapur menuangkan bakmi di mangkuk lalu kutaruh di meja makan. Tak lama ibu dan ayah keluar dari kamar.
" Pempek dan bakso bakar sudah siap disantap." Kutaruh makanan ini di atas meja ruang tamu setelah kugoreng lagi. Kami berdua langsung menghabiskannya.
" Aku ambilkan air putih ya." Aku beranjak ke dapur mengambil dua gelas air putih. Raka meneguknya hingga ludes karena kepedesan.
" Sudah hampir jam sepuluh malam. Aku pulang ya," ucap Raka. Tentu saja aku agak kesal.
" SMP, Sudah Makan Pulang. Tunggu makanannya turun biar nggak sakit perut. Itu kata orang-orang tua yang sudah pengalaman" Aku memberi saran.
" Halah, biasanya juga aku buru-buru diusir. Sekarang pura-pura ngasih saran. Maunya tuh, aku nggak boleh pulang. Hahaha ngaku aja." Raka malah meledekku. Padahal aku serius ngasih tahu.
" Sini aku bisikin sesuatu." Raka menyuruhku mendekat padanya. Aku menggeser dudukku. Kemudian Raka mendekatkan wajahnya ke telingaku. Cup ! Ia mengecup pipiku.
" Raka iiih ! Kebiasaan suka nyuri kesempatan. Awas kamu ! " seruku tertahan. Aku mencerucutkan bibirku.
" Habisnya kalau nggak dicuri nggak dikasih," ujarnya beralasan. Ia memegang kedua tanganku dan meremas jemariku, lalu mengecupnya lembut.
" Astaga aku lupa ! Tadi ada WA dari Eva, belum kubaca. Pasti ngomel-ngomel tuh anak." Kulepaskan tanganku dari genggaman Raka. Kuambil handphoneku di meja lalu membukanya. Ada 2 pesan belum terbaca.
[ Hai bestie, aku nggak bisa pulang nih. Lagi banyak tugas. Kata mama kemarin kamu tunangan ya. Kok nggak ngabarin ]
Pesan terkirim pukul 19.30 . Aku nggak sempat membacanya, lalu ia mengirim lagi.
[ Pasti lagi berduaan terus nih. Mentang-mentang udah tunangan terus nggak sempat buka HP 🙄 ]
Pesan terkirim pukul 20.15 . Berarti pas aku mau keluar sama Raka tadi.
Setelah itu nggak ada pesan lagi. Mungkin dia kesal atau kemudian dia mengerjakan tugas kuliah. Kubalas saja, pasti belum tidur.
__ADS_1
[ Sorry bestie, tadi handphone kutinggal di kamar. Aku lagi keluar sama Raka. Ini baru kubuka 😍🙏 ]
Satu detik, dua detik. Satu menit baru dibaca.
[ Tahu aah ! Aku lagi ngerjain tugas nih. Tadi ditungguin nggak dibaca juga pesanku ]
[ Iya maaf, bener-bener lupa tadi. ✌ 😊 ]
[ Oke, terus kenapa kamu tunangan nggak ngasih kabar ]
[ Astaga nggak ngerti juga nih anak. Kan sudah pernah kukasih tahu. Aku nggak mungkin ngechat kamu kalau bukan kamu duluan ] [ Aku nggak mau mengganggu kuliah kamu. Susah banget dibilangin ]
[ Hahaha iya deh sorry. Udah dulu ya aku masih banyak tugas nih. bye 🥰 ]
[ Oke bye 😍 ] Begitu lah. Sudah mengomel tahu-tahu cuma sebentar ngobrolnya.
" Udah chatingan nya. Tadi aja aku nggak boleh pulang, sekarang malah dianggurin." Raka menggerutu. Ia meletakkan handphone yang tadi dimainkannya.
" Maaf sayang, Eva udah dari tadi kirim WA. Kalau nggak kubalas bisa diteror terus aku sama dia." Kujelaskan padanya alasanku.
" Ya sudah, sekarang aku boleh pulang kan ? Tuh lihat sudah jam setengah sebelas. Aku ngantuk, besok hari Senin mesti datang lebih awal." Raka minta ijin hendak pulang.
" Boleh dong, memang harus pulang kan. Maaf ya tadi kutinggal chating sama Eva." Aku mengusap pundaknya. Ia menoleh padaku, lalu mendekatkan wajahnya. Dikecupnya bibirku dan mengulumnya beberapa saat.
" Selamat tidur," ucapnya kemudian setelah melepasnya.
Ia mengancingkan jaketnya lalu berdiri dan membuka pintu. Motor ia tuntun karena suasana sudah sepi, barangkali tetangga sudah pada memeluk bantal karena cuaca yang dingin.
" Hati-hati, " pesanku. Raka melambaikan tangan. Sampai di belokan gang ia menyalakan motornya.
Aku masuk dan mengunci pintu. Sebelum masuk ke kamar aku buang air dulu sekalian mencuci kaki. Setelahnya baru beranjak ke kamar. Kuraba bibirku, masih terasa hangatnya bibirnya. Ini yang ke berapa ya ?
Aku tersenyum memandangi wajahku di cermin. Kuraba satu persatu. Mata, hidung, pipi ,dagu dan bibir. Raka juga sering mengusap wajahku. Membelainya lembut, bahkan mengecupnya.
Aku menuangkan pembersih wajah di kapas lalu membersihkan wajahku. Sesaat kemudian ku rebahkan tubuhku di ranjang. Entah berapa menit kemudian aku tertidur.
________________
Sekian dulu, masih bersambung.
Mohon maaf author nggak tentu up date nya. Kadang bisa cepat kadang lama.
__ADS_1
Ke depannya mungkin bisa konsisten, tentunya dengan dukungan pembaca yang saya sayangi.
Jangan lupa like dan komen, thanks !