
Sebenarnya aku juga berpikir, waktu Niko memberi kalung itu dia bilang kalau hilang berarti hubungan kita berahir. Dalam arti jika kalung nggak ada berarti cinta juga sudah nggak ada.
Di saat hubunganku dengan Niko sedang terombang ambing kenapa juga kalung itu dipinjam orang, seolah akan lepas dari tanganku.
Besoknya kudatangi Saiful di kantornya ternyata dia nggak ada. Yang ada Arya yang tengah main game di HP.
" Arya, Saiful kok ngga kelihatan ? " tanyaku.
" Lagi sholat sekalian makan siang, Kira-kira 15 menit yang lalu. " Arya menjawab dan mendekatiku.
" Kok malah nyari Saiful, kan aku yang kangen sama kamu." Dia menggodaku. " Duduk dulu dong." kemudian ia mengajakku duduk di teras depan kantornya. Untung ini jam makan siang jadi teman-temannya lagi pada keluar.
Aku pun duduk di samping Arya. Tadi aku disuruh ibu belanja jadi aku punya alasan ke sini.
" Tunggu saja paling bentar lagi Saiful balik," ucap Arya. Dia memandangiku tanpa berkedip. Aku jadi salah tingkah dan akhirnya menunduk, ngga mampu melawan tatapannya.
" Kok menunduk, liatin apa? Sandalnya beda ya kiri sama kanan ? " Ia malah berkelakar, aku nggak bisa menahan tawaku.
" Apaan sih ! ha ha ha. " Aku menutup mulut supaya tawaku nggak terdengar orang sekitar.
" Habisnya diliatin kok malah menunduk, senyum yang manis kek biar yang liatin seneng, " ucap Arya kemudian. "Tadi ucapanku juga belum ditanggapi, " lanjutnya.
" Ucapan yang mana? " tanyaku. Perasaan dia tadi nggak bicara sesuatu yang penting.
" Itu tadi yang aku bilang kangen sama kamu, terus kamu juga kangen nggak sama aku ? " Sontak pipiku terasa panas. Pasti merah kaya udang bakar madu, eeh ! udang rebus.
Aku diam tak menjawab pertanyaannya. Ketika tengah kebingungan harus jawab apa, Saiful pun muncul. Aku langsung berdiri menghampirinya.
" Ipul ! mana kalungku yang kemarin ? katanya cuma pinjam sebentar. " Aku terus menagihnya. Kupanggil Ipul saja dia, habis jengkel sih.
" Aduh lupa, tadi malam kulepas terus kutaruh di meja jadi lupa." Ia menjawab santai. Aku benar-benar kesal. Tanpa bicara apapun aku segera beranjak dari tempat itu.
Aku harus secepatnya belanja agar ibu nggak curiga kalau aku kelamaan. Untuk sementara ku tunda dulu masalah kalung, yang penting ibu nggak curiga. Besok akan kuminta lagi.
_______
Sabtu siang selepas aku sholat dzuhur Handphoneku berbunyi.
Krik krik krik !
Kali ini yang muncul suara jangkrik. Kulihat di notifikasi ada pesan WA dari Eva.
[ Bestie, nanti sore aku pulang kita keluar yuk 😊]
Aku tersenyum senang.
[ yang bener ? aku tunggu lo. kangen ngobrol sama kamu, pingin curhat nih 🤭 ]
[ Aku tahu. Mama udah cerita katanya kamu udah nggak jadi guru TK 🤭 ]
Eva menebak- nebak.
[ Bukan itu, ada lagi. 😔 ]
Aku jadi ingat sikap Niko akhir-akhir ini.
[ Bestie kenapa, kok sedih ]
[ Ngga pa pa, udah nanti aja aku cerita kalo kamu udah sampai rumah ]
__ADS_1
Aku mengalihkan obrolan.
[ Ya udah aku masuk kelas dulu, see you 😘 ]
[ bye.. hati hati nanti pulangnya 😘 ]
Kutaruh kembali handphone di atas meja kecil di dalam bilik. Kemudian kembali ke depan membantu ibu melayani pembeli. Mbak Sri gantian masuk ke dalam untuk sholat dzuhur.
" Halo Aira, kok ngumpet aja di dalam ? bikinkan aku es teh dong, biar adem." pesan mas Harun pedagang kopi bubuk.
Para pelanggan di warung ibu memang kebanyakan laki-laki. Ada pedagang bakso, mie ayam, nasi goreng dll. Mereka belanja kebutuhan untuk berjualan kemudian mampir untuk sarapan. Yang dari pedagang di pasar juga ada karena warung ibu terletak di depan pasar. Seperti mas Harun contohnya.
" Habis sholat Mas, bukan ngumpet," jawabku seraya membuatkan teh pesanannya.
" Aduuuh, sudah cantik, pintar jualan, rajin ibadah juga. Bahagianya yang bisa jadi pacarmu." Mas Harun memujiku lebay. " Sayangnya aku sudah punya istri," lanjutnya lagi.
Aku hanya tersenyum tak menanggapi gurauannya.
Hampir semua anak ibu yang ikut berjualan selalu digodain para pelanggan. Itulah makanya ibu selalu mewanti- wanti anaknya agar jangan sampai menyinggung mereka. Karena mereka nggak sungguh-sungguh hanya bercanda saja.
Setelah melayani beberapa pembeli aku pun makan siang karena tadi sempat tertunda.
********
Selepas melakukan tugas di warung sampai rumah aku segera membersihkan diri dan tiduran di sofa ruang tengah di depan televisi. Entah mengapa jika di rumah aku jadi mikirin Niko. Sedang apa dia saat ini ? Mengapa dia sama sekali nggak menghubungiku.
Aku coba mengirim pesan padanya. Yang kudengar kakak sepupunya sudah pulang ke Semarang.
[ Hai Niko ! gimana kabar kamu, kok nggak pernah keluar sih ? ]
Centang dua, tapi dia belum membacanya.
Satu menit, dua menit, lima menit , belum juga dibaca. Kuputuskan menulis semua uneg-unegku akhir-akhir ini padanya, tanpa menunggu balasan darinya. Entah kapan pasti dia juga akan membacanya.
Aku kirim pesan ini, kemudian kusambung lagi.
[ Aku maklum kamu sedang persiapan mau test kenaikan kelas. Tapi sesibuk itukah hingga mengirim pesan pun kamu ngga sempat? ]
Kutunggu beberapa saat, siapa tahu dia membuka handphonenya. Tapi belum terbaca juga.
Kuteruskan menulis pesan.
[ Kalau kamu menyesal berhubungan denganku, oke aku terima. Aku juga butuh kepastian. Aku nggak mau menunggu- nunggu kabar darimu tapi kamu sendiri ngga memikirkanku ]
Ketika akan kembali mengetik, tiba-tiba pesanku berwarna biru. Dia sudah membacanya.
Kutunggu beberapa saat, dia sedang mengetik.
[ Maafkan aku Aira 🙏 , aku telah membuatmu kecewa. Aku nggak berani membantah ibuku. Entah dari mana ibu tahu kalau kita pacaran. Beliau marah dan aku nggak boleh menemuimu. 😔🙏 ]
Hanya itu yang dia kirim, selanjutnya ngga ada lagi. Aku segera mengirim balasan.
[ Oke jika seperti ini lebih baik kita putus.Aku nggak mau gara-gara aku kamu jadi menentang orang tua ]
Kuakhiri menulis pesan padanya. Niko membaca pesanku tapi tidak membalasnya.
Benar-benar anak berbakti, tapi ngga sadar sudah menyakiti hati seseorang.
Aku benci kamu Niko ! Aku benciiiiii !!
__ADS_1
Aku lempar handphone ke pojok sofa. Untung keadaan rumah sepi. Ibu sedang mandi dan ayah duduk di teras mengobrol dengan tetangga. Aku masuk ke kamar dan menangis. Kututup mukaku pakai bantal hingga tangisku tak terdengar dari luar.
Kamu jahat Niko ! Kenapa waktu itu kamu memaksa aku terima cinta kamu kalau ternyata kamu nggak bisa menjaganya ?
Aku juga bodoh mau-mau saja pacaran sama anak sekolah. Jelas- jelas pikirannya masih seperti anak-anak sekalipun ada sisi kedewasaannya.
Saat terdengar adzan Isya aku bangkit dan mengambil wudhu. Pikiranku sedikit jernih setelah kepalaku terguyur air wudhu.
Selesai sholat kulipat lagi mukena, terdengar suara pintu depan dibuka.
" Assalamualaikum, Airaaa ! " seru Eva setengah berteriak. Itu anak kebiasaan suka teriak- teriak.
" Wa alaikum salam." Aku dan ibu bersamaan menjawab salam Eva. Ayah sudah berangkat ke masjid.
" Buk ini ada bakpia Patok, tadi aku baru beli di Malioboro." Eva menyodorkan kardus kecil berisi bakpia pada ibu. Oleh-oleh khas Jogjakarta.
" Makasih ya , lain kali nggak usah beli oleh-oleh. Kamu di sana kan kuliah bukan bekerja." saran ibu.
" Nggak pa pa Buk, itu tadi mama pesan jadi sekalian beli buat Ibu sama Aira." terang Eva lagi.
Aku mengajak Eva masuk kamar.
" Bestie , kamu mau cerita apa ? mata kamu merah pasti habis nangis ya ! " tebak Eva. Tadi di depan ibu aku nggak memperlihatkan wajahku jadi ibu ngga tahu kalau aku barusan menangis.
Tapi sekarang Eva melihatnya.
" Iya, tahu nggak bestie, aku baru aja mutusin Niko, " ucapku. Aku ceritakan semua yang terjadi akhir-akhir ini pada Eva. Dia pun paham.
" Sudah kuduga, kamu terlalu terlena dengan pesona Niko sampai nggak memikirkan resikonya jika pacaran sama dia. Untung kamu putus, ibunya Niko kan galak dan bawel. Hi hi hi .. " Eva menutup mulutnya menahan tawa.
" Kok kamu malah meledek sih, sahabat lagi sedih malah diketawain," ucapku pada Eva.
" Aku nggak ngetawain kamu, tapi aku keingat ibunya Niko jika sedang mengomel. Bibirnya sampai monyong ha ha ha ! " Eva nggak sempat menutup mulutnya saking nggak bisa menahan tawanya. Padahal aku sama sekali ngga ikut ketawa. Apanya yang lucu sih ? Aku aja belum pernah ketemu ibunya Niko.
" Kenapa nasib baik nggak pernah berpihak padaku ya Va. Dari jaman sekolah aku belum pernah pacaran. Sekalinya pacaran pas sudah lulus, tapi hanya sebulan karena doi meninggal.Terus mencoba pacaran lagi, ternyata nggak bertahan juga. Baru pacaran 3,5 bulan itu pun diam-diam, terus sebulan lebih ngga ada kepastian. Sekarang tiba-tiba putus hiks. " Aku mengungkapkan perasaan hingga terisak.
Eva mengelus pundakku ," Kamu bilang tadi kamu sendiri yang mutusin. Kok sekarang menyesal putus ? "
" Tadinya aku cuma menggertak saja, berharap Niko mau mempertahankan hubungan kita. Tapi ternyata dia malah setuju. Dia bilang nggak mau melawan orang tua terutama ibunya." Aku melanjutkan ceritaku. Aku nggak pernah bisa menyembunyikan masalahku dari Eva, dari dulu.
Kedatangan Eva memang sedikit mengurangi kesedihanku. Sekalipun saat ini hatiku lagi hancur.
" Itu berarti dia lebih memilih orang tuanya dari pada pacarnya. Di balik sikapnya yang kadang terlihat dewasa dia tetap seorang anak kecil di hadapan ibunya. Apalagi dia anak tunggal, pasti ibunya sangat menyayanginya." Eva pun bicara panjang lebar kali tinggi. Sok dewasa, huuh !
" Jangan ngremehin aku ya , gini-gini aku bisa menghibur kamu. Pasti kamu menganggapku sok dewasa kan? " Kok dia tahu apa yang kupikirkan ? Aku mengalihkan pandangan menghindari tatapannya. Dalam hati aku tertawa.
Buk ! Eva malah melempar bantal ke mukaku. Kuambil bantal yang dia lemparkan kemudian kulempar balik ke arahnya. Dia menghindar. Kami pun jadi main pukul- pukulan pakai bantal.
" Eh , ngomong - ngomong ,jadi nggak kita keluar ?" tanyaku dengan terengah- engah sehabis pukul-pukulan bantal.
" Nggak jadi, kita cerita-cerita aja sampai pagi. Kali ini aku yang nginap di sini. Sudah lama kita nggak tidur bareng." Eva mengurungkan niatnya mengajakku keluar rumah.
" Oke deh., besok pagi aja kita jalan-jalan ke Car Free Day , " usul ku kemudian.
Untuk malam ini aku sedikit bisa melupakan kesedihanku. Nggak tahu besok.
____&&&&&&_______
bersambung.
__ADS_1
please vote like n komen !
Bye see you !