
Satu hari sebelum puasa, kebetulan hari Sabtu. Suasana pasar dan jalan sekitar cukup ramai. Karena biasanya warga menyiapkan sayur dan lauk pauk yang agak istimewa buat sahur di hari pertama puasa. Dan tradisi kami sebelum puasa pasti melakukan mandi keramas yang disebut ' padusan '.
" Nggak padusan ke kolam renang Aira ?" tanya mbak Wiwit saat aku tengah sarapan. Dia baru selesai membuka tokonya dan menata dagangannya, dan sekarang hendak minta segelas kopi susu.
..." Sudah mandi di rumah tadi. Lagian aku kan pakai jilbab masa mandi di tempat umum sih. Mbak Wiwit ada-ada saja deh." Aku pun membalas pertanyaan mbak Wiwit. Ia pun tertawa kecil....
..." Yaa kali aja kamu cuma pingin jalan-jalan. Anak muda gitu loh ! " seloroh mbak Wiwit lagi....
" Aku mana bisa keluar kalau warung lagi ramai begini Mbak, kasihan ibu sama mbak Sri. " Aku berkata sambil beranjak hendak membuatkan kopi susunya.
" Selesaikan dulu sarapannya, aku juga nggak buru-buru, " ujar mbak Wiwit seraya mencomot bakwan. Kuurungkan niatku lalu melanjutkan sarapanku. Setelahnya kubuatkan minuman buat mbak Wiwit.
" Aku juga dulu kayak kamu Ra, jarang keluar bersama teman karena harus membantu orang tua," ucapnya lirih sembari tersenyum miring.
Seusai berkata Mbak Wiwit pun keluar. Di tangannya sudah ada segelas kopi susu dan gorengan. Aku mengambil piring-piring kotor yang masih ada di meja lalu kubawa ke dapur.
" Raka nggak ke sini ? " tanya mbak Sri sambil mencuci piring. " Tahu tuh. Sudah biar aku yang meneruskan mencuci, Mbak Sri sarapan aja dulu bareng ibu." Aku mengambil alih pekerjaannya.
Tak berapa lama Raka muncul. " Panjang umur," gumamku. Baru diomongin tiba-tiba orangnya datang. Ia menyapa ibu dan mbak Sri lalu masuk ke dapur.
" Tumben pagi- pagi sudah sampai sini. Memangnya nggak kuliah, terus pulang dari Jogja jam berapa?" tanyaku. Ia berdiri di sebelahku yang tengah mencuci piring di wastafel.
" Yaelah, kemaren sore dong. Aku kan cowok apalagi bawa motor, jadi bisa sewaktu-waktu pulang. Paling cuma satu setengah jam." Raka menjelaskan.
" Tapi Eva kok pulangnya kalau nggak Sabtu sore ya Minggu pagi." Aku menceritakan tentang Eva.
" Beda-beda lah. Mungkin dia hari Sabtu masih ada kuliah jadi pulangnya, Minggu pagi. Kalau pulang Sabtu sore mungkin dia kuliah pagi. Apalagi dia cewek kan nggak berani pulang malam, " ungkap Raka.
" Iya juga sih, dia sering bilang begitu. Kecuali ada teman yang bareng pulang dia berani, tapi nggak terlalu malam juga," balasku.
" Sarapan dulu Raka, biar diambilkan sama Aira." Ibu menaruh piring kotor bekas sarapannya di wastafel.
" Sudah kok Buk terima kasih, ini juga mau ke kios." Raka menolak halus. " Aku mau jualan, biasanya ramai kalau malam puasa," lanjutnya bicara padaku.
" Ya sudah, semoga laris ya," ucapku. Raka mengusap pipiku lalu tersenyum. "Pertemuan terakhir, besok sudah puasa." Ia berkata lirih kemudian berbalik dan keluar. Tak lupa berpamitan sama ibu dan mbak Sri.
Aku melanjutkan pekerjaanku. Hingga sore hari kami sibuk karena memang lebih ramai dari biasanya. Menjelang Magrib baru kami pulang.
Sampai di rumah aku langsung mandi dan sholat Magrib. Beberapa menit kemudian Eva muncul. " Aira, ayo tarawih ! " serunya dari teras. Aku yang lagi duduk di depan TV bersama mbak Nia pun beranjak keluar.
__ADS_1
" Masuk sini nggak usah teriak-teriak, belum azan juga. " Ku suruh dia masuk. Tapi ia hanya duduk di teras dengan alasan gerah. Heran deh sama ini anak, sudah kuliah masih saja kaya anak kecil.
" Nanti nggak dapat tempat kalau nggak berangkat sekarang," ucapnya gusar.
" Kamu tuh ya, kebiasaan apa-apa mesti nggak sabaran. Kamu bilang kita tiap hari harus tarawih di masjid, nggak boleh absen kecuali berhalangan. Memangnya kamu nggak kuliah ? " kuingatkan dia dengan ucapannya tempo hari.
" Maksudku kalau aku lagi libur sih, kayaknya bulan puasa banyak liburnya juga." Dia cuma nyengir kalau kumarahi.
" Tunggu sebentar aku ambil mukena sama sajadah." Aku masuk ke kamar lalu mengambil perlengkapan sholatku. Kita pun berangkat saat azan Isya berkumandang.
" Seusai tarawih aku mau langsung tidur. Capek banget soalnya tadi warung makan ramai." Aku berkata pada Eva saat kita sudah sampai di masjid.
" Nggak ikut tadarus dulu ? " tanya dia. "Nggak, besok malah nggak bisa puasa kalau tubuh diforsir terus," jawabku.
Dan sepulang dari masjid aku langsung membaringkan tubuh sampai lupa menutup pintu kamar. Perlahan mataku terpejam. Dan sepertinya ada yang menutup pintu kamarku, mungkin ayah.
Keesokan harinya.
Tok tok tok ! " Aira bangun, sahur dulu nak ! " Ayah membangunkanku. Kudengar beliau juga memanggil mas Joni.
Kubuka mataku perlahan, kutengok jam dinding. Pukul 03.15 . Aku beringsut dan duduk di tepi ranjang sejenak. Setelah melemaskan otot leher dan bahu aku berniat keluar namun HP ku menyala. Ternyata ada pesan WA dari Raka.
[ Ini baru bangun 🥱 ]
[ Kok masih ngantuk. Semangat dong ]
[ Iyaaa 😊 ]
[ Nah gitu senyum.. selamat berpuasa 😊 ]
[ Hummm ]
Ku taruh HP di kasur kemudian keluar menuju kamar mandi untuk cuci muka. Ibu sedang memanaskan sayur dan menggoreng lauk dibantu ayah. Mas Joni menyiapkan peralatan makan.
" Aira , bikin minum buat semua ! " perintah ibu. Mbak Nia sedang menyusui dedek Arkana karena ia ikut terbangun tatkala kakeknya membangunkan ayahnya tadi.
Seusai sahur Eva menjemputku mengajakku sholat Subuh di masjid. Seperti saat tarawih tadi malam, suasana masjid begitu ramai karena baru hari pertama puasa.
" Baca qur' an dulu yuk , tadi malam kita nggak ikut tadarus kan ! " ajakku sama Eva selepas sholat. Beberapa remaja putri juga belum beranjak pulang.
__ADS_1
" Oke, sebentar aku ambil Al qur'an dulu." Ia beringsut mengambil kitab suci di lemari yang tersedia di masjid.
Pagi ini aku leluasa berada di masjid karena hari pertama puasa ibu menutup warungnya untuk menghormati sesama muslim. Nanti buka lagi hari ke tiga, tapi pintunya ditutup sebagian.
_______________
Tak terasa sudah seminggu puasa berjalan. Ibu sudah berjualan lagi tapi pulangnya lebih awal. Setiap hari Raka tak lupa mengirim pesan WhatsApp sekedar bertukar kabar.Selalu dia yang chat duluan karena aku nggak mau mengganggu kuliahnya.
" Aira, mampir dulu sini ! " teriak mbak Yah saat aku sampai di depan gapura sepulang dari warung makan. Ia berjualan takjil di sini, kemaren sempat melihat tapi aku belum sempat menyapanya.
" Kok pindah Mbak jualannya ? " tanyaku seraya menghampirinya. Ibu memilih pulang lebih dulu.
" Iya, sengaja pindah ke sini yang lebih ramai biar cepat habis. Soalnya habis Magrib sudah nggak ada orang pada siap-siap mau tarawih. Ini sudah kubungkus semua jadi yang mau beli tinggal mengambil " Mbak Yah menerangkan alasannya berjualan di depan gapura.
" Benar juga, kalau di sini pembelinya bukan hanya warga kita tapi bisa dari luar juga kan.," komentarku.
" Iya betul, ini menunya juga ku tambahi, ada yang menitipkan dagangan juga di sini. Biar tambah komplit" Mbak Yah menjelaskan lagi.
Aku memilih beberapa makanan yang kusuka, tak lupa kubeli buat mbak Nia. Daripada nanti dia makan punyaku.
" Kamu kok lama nggak pernah main ke warungku sih ? " tanya Mbak Yah kemudian. " Katanya sekarang sudah punya pacar ya." Ia menambahkan.
" Lagi sibuk Mbak, Mbak Yah tahu dari mana kalau aku sudah punya pacar ? " tanyaku balik.
" Siapa lagi, ya dari bu Tiya dong. Tapi ada juga anak-anak sini yang bilang," jawabnya.
" Waah, sudah seperti selebriti saja aku pada diomongin," celetukku. Mbak Yah tersenyum.
" Ya sudah Mbak aku pulang dulu, nanti ibu nanya-nanya lagi kalau kelamaan." Aku membayar makananku lalu beranjak dari tempat ini. Pembeli lain sudah berdatangan juga.
" Beli apa Ra, kata ibu tadi kamu mampir di takjilan depan gapura." Mbak Nia sudah menghadangku di teras. Benar kan perkiraanku tadi.
" Nih sudah kubelikan. Untung aku baik hati biarpun kamu nggak puasa," ucapku seraya menyodorkan bungkusan plastik putih padanya.
" Nah gitu dong, pengertian kalau kakaknya lagi doyan makan. Maklum Busui," celetuk mbak Nia seraya membuka plastik dan melahapnya.
Aku masuk dan melihat ternyata dede Arkana lagi digendong sama kakeknya. Kutaruh jajan taljilku di meja makan. Sambil menunggu waktu berbuka kubuka HP sambil duduk di sofa depan televisi.
********************
__ADS_1
Bersambung gaes !