
Minggu dini hari , terdengar Adzan subuh berkumandang. Eva dan aku pun bangun untuk sholat. Ibu dan ayah juga sudah bangun terlebih dulu, sebab ayah akan ke masjid. Ibu pun seusai sholat subuh akan menanak nasi untuk di bawa ke warung nanti.
Aku dan Eva sholat jamaah di kamarku, selepas itu Eva pamit pulang untuk melakukan tugas rumah.
" Aku pulang dulu ya, nanti jam setengah tujuh kita berangkat ke Car Free Day ( CFD )," ucapnya.
" Oke aku mau bersih-bersih dulu. Tapi nanti nggak usah lama-lama, bawa motor aja biar cepat. Soalnya aku mesti ke warung kan, kalau hari Minggu ramai."
Eva mengangguk dan melangkah menuju rumahnya.
Aku membereskan tempat tidur lalu membersihkan lantai kamar serta ruangan lain.
Tak berapa lama ibu pun berangkat ke warung diantar mas Bayu. Karena mbak Nia nggak bisa menemani ibu jadi mas Bayu punya tugas mengantar tiap pagi.
Ya iya lah, lagi pula motor juga ibu yang beli.
Jam setengah 7 aku keluar rumah. Eva sudah siap dengan motornya menungguku. Kami pun berangkat ke alun-alun. Sampai di tempat Eva memarkirkan motornya dan kita lanjut berkeliling mencari jajanan.
" Airaa ! " teriak seseorang di belakangku. Aku menoleh, ternyata Dika teman SMA. Ia bersama temannya juga sedang jalan-jalan di sini.
" Eh Dika, apa kabar? " sapaku padanya. Sudah hampir setahun nggak pernah ketemu dan dengar kabarnya, nggak menyangka bisa ketemu di sini.
" Kabarku baik, oh iya kamu kuliah di mana sekarang? " tanya Dika melempar tersenyum. Wajahnya masih manis seperti dulu. Aku juga tersenyum padanya.
" Aku nggak kuliah, soalnya ibu nggak ada yang bantu di warung." Kujawab apa adanya.
" Kamu sendiri kuliah di mana ? " aku balik bertanya.
" Aku di Jogja, kalau Yana sama Ina di mana ya? " Ia menanyakan dua temanku.
" Yana tahun depan baru mau kuliah, sekarang bantu- bantu bisnis ibunya. Kalau Ina di Semarang katanya," jelasku.
Sesaat kemudian aku pamit karena takut kesiangan. Eva juga sudah mencubit lenganku.
" Katanya mau cepat malah asyik ngobrol, mentang- mentang ketemu mantan, " celetuknya.
" Hussh ngawur aja ! mantan dari mana aku nggak pernah jadian sama dia." Aku mempercepat langkah khawatir Dika mendengar ucapan Eva.
" Mantan menurut kamu, menurut dia enggak ha ha ha ! " Eva malah tertawa mengejekku sambil berlari. Jujur aku seneng banget bisa berjumpa dengan Dika. Tadi sewaktu mengobrol dengannya jantungku sempat berdegup kencang.
Benih- benih suka itu ternyata masih ada.
" Nah lo ! jadi melamun kan, yuk buruan beli jajan terus pulang ! aku nggak mau nanti kamu dimarahi ibu gara- gara nemenin aku. " Eva mengingatkanku.
Kita pun meneruskan langkah mengelilingi para pedagang jajanan di CFD ini. Dalam waktu setengah jam tangan kami sudah penuh dengan kantong- kantong plastik jajanan. Kita pun segera meninggalkan tempat ini.
Eva mengantarku sampai depan pasar. Aku turun dan berjalan menuju warung makan.
" Dari mana Aira, kok bawa jajanan banyak banget?" Mbak Wiwit yang sedang membuka tokonya menyapaku .
" Dari CFD," jawabku setengah berbisik. Kutempelkan telunjukku di bibir memberi isyarat pada mbak Wiwit. Ia pun mengangguk dan tersenyum.
" Airaaa Aira, " gumam mbak Wiwit.
Sekarang jam 7.40 , belum terlalu siang untukku. Ibu dan mbak Sri sedang melayani pembeli.
Aku masuk ke warung dan langsung ke bilik menyimpan tas dan handphone,jajanan kutaruh di meja. Kemudian aku keluar ikut melayani pelanggan. Mbak Sri mengambil piring dan gelas kotor untuk dicuci.
" Kok jam segini baru datang dari mana kamu ? " tanya ibu saat pembeli sudah pada keluar. Raut wajah ibu sudah ditekuk dari sejak aku masuk tadi.
" Itu tadi Eva minta diantar ke CFD katanya pingin beli corndog sama tomyam. Terus tante Fina juga minta dibelikan pepes telur asin." Aku memberi alasan yang sekiranya ibu percaya.
" Oh gitu, ibu kira kamu pergi sama siapa." Tuh bener kan, kalau aku pergi sama Eva pasti ibu nggak jadi marah. Dan aku nggak bohong memang Eva tadi beli pepes telur asin buat mamanya dan juga jajanan ala Korea yang pernah kuceritakan padanya.
Kuambil lap di dapur dan kubersihkan meja ruang depan. Tak lama berselang masuklah Arya dan temannya, tapi bukan Saiful. Mereka tidak memakai seragam kerja karena ini hari Minggu. Kemana si Ipul sialan itu ? Alamat kalungku nggak kembali nih.
" Buk, minta nasi gulai 2 porsi. Sama teh manis 2 ya Aira." Arya memesan sarapannya dan menoleh padaku. Aku membuatkan teh untuk mereka berdua.
__ADS_1
Setelah melayani pesanan Arya ibu pun sarapan bersama mbak Sri di dalam. Kesempatan aku bertanya pada Arya.
" Saiful mana kok ngga pernah kelihatan ? " tanyaku pelan biar nggak terdengar ibu.
" Tadi ketemu di jalan lagi boncengan sama ceweknya. Mungkin mau ke CFD." teman Arya tiba-tiba nyeletuk. Arya masih mengunyah makanannya jadi cuma diam.
" Kalungku masih dibawanya. Udah minjamnya maksa sekarang nggak mau mengembalikan. Dasar Ipul sialan ! " Aku mengumpat di depan Arya dan temannya.
" Tolong bilang sama dia suruh kembalikan kalung saya ya Mas, " pintaku pada temannya Arya.
" Ya Mbak besok saya sampaikan," jawabnya.
Sedangkan Arya masih menikmati sarapannya dan terkesan nggak peduli ketika aku membahas Saiful.
Selesai makan Arya memandangku kemudian berkata,
" Kapan- kapan main dong ke rumahku. Nggak jauh kok cuma sekitar 200m dari sini,di belakang pasar."
Tuh kan dia malah menawariku main ke rumahnya. Dari kemarin dia nggak mau ikut campur urusan kalung.
" Besok ya kalau ada waktu," kataku.
Memangnya kapan aku ada waktu, tiap hari juga di warung. Apa aku harus mencuri- curi waktu , ketika disuruh belanja terus mampir ke rumah Arya ?
Tiba-tiba saja timbul keisenganku.
" Kapan-kapan kalau kamu libur aku main deh ke rumahmu," kataku kemudian. Penasaran juga aku sama cowok ini. Dari awal perkenalan sepertinya dia pingin dekat denganku, tapi nggak kutanggapi.
Ya iyalah, waktu itu kan aku masih pacaran sama Niko.
" Lah sekarang aja libur kok, kan hari Minggu ! " temannya nyeletuk lagi.
Belum sempat aku menyahut tiba-tiba mbak Wiwit masuk. Dia minta sarapan dan ibu pun keluar untuk mengambilkan nasi buat mbak Wiwit.
Arya pun membayar makanannya pada ibu dan pamit.
Aku hanya bergumam menjawabnya.
" Cieee, Aira sudah move on rupanya. Bagus deh jadi kan nggak galau-galau lagi, " seru mbak Wiwit meledekku.
" Apaan sih Mbak Wiwit, aku kasih tahu ya. Aku memang udah move on sejak lama tapi bukan karena cowok barusan." Aku menjelaskan pada mbak Wiwit.
Aku memang sudah move on dari Widi, tapi sebenarnya sekarang sedang patah hati lagi. Hanya saja nggak banyak yang tahu. Aku patah hati karena Niko.
" Bener nih, jadi cowok tadi bukan pacar baru kamu? " mbak Wiwit mulai kepo. Aku menggeleng kemudian masuk bikin teh panas, kemudian sarapan.
Cuit cuit ! Handphoneku berbunyi. Kuambil dan kulihat ada pesan WA dari nomer tak dikenal. Kuamati profilnya ternyata Arya.
Aku memang memasang nomer WA di etalase warung tapi aku nggak pernah memasukkan nomer pelanggan ke daftar kontakku.
[ Hai ! kapan mau main ke rumahku. ]
Ternyata dia masih membahas soal penawarannya tadi.
Ku balas saja,
[ Kapan-kapan aja deh 🤭 ]
[ Kok kapan-kapan, sekarang aja yuk ! mumpung aku libur nih, kutunggu di depan kantor ya 👍 ]
Aku tersenyum membaca pesannya.
[ Iih kok maksa sih 😜 ]
[ Biarin , mau lah ya. pliiis 🙏😊 ]
Kututup saja WA nya biar dia penasaran.
__ADS_1
Kulanjutkan sarapanku yang sempat tertunda gara-gara membalas chatnya Arya tadi. Di luar sudah ada pembeli lagi dan mbak Sri yang menemani ibu di luar.
Selesai aku sarapan ibu memanggilku, " Lekaslah belanja Aira, keburu siang ! "
Ibu mengambil uang di laci lalu menyodorkan nya padaku.
Tanpa banyak bicara aku langsung keluar. Tak perlu dicatat karena aku sudah hafal apa yang harus kubeli.
Kulangkahkan kaki menuju pasar dan sampai di kios sayuran langgananku. Terlebih dulu aku memesan sayur dan bahan- bahan lain.
" Mbak, aku tinggal sebentar tolong titip dulu belanjaannya ya." Aku menitip pesan sama mbak Sumi yang jualan sayur.
Aku berjalan cepat menuju kantornya Arya. Dan ternyata dia masih di sana bersama temannya tadi. Dari jauh kulihat Arya berkali- kali menengok ke arah jalan yang kulalui. Ketika melihatku dia tersenyum dan melambaikan tangan.
" Akhirnya datang juga, katanya kapan-kapan." Ia meledekku.
" Sudah nggak usah meledek, yuk kita ke rumahmu ! " ajakku cepat.
Entah mengapa aku mau menuruti keinginan Arya untuk main ke rumahnya. Aku merasa senang aja kalau dia sedang menggombaliku.
Aku juga penasaran ingin mengenalnya lebih dekat, ingin tahu sebenarnya gimana perasaannya padaku.
Arya menyalakan motornya dan aku memboncengnya. Temannya membuntuti kami di belakang. Tak sampai lima menit kita pun sampai.
" Aira, Dion, ayo masuk ! silahkan duduk dulu, aku buatkan minum ya ! " Arya mengajakku dan temannya yang bernama Dion untuk masuk. Aku duduk di dekat pintu, tak berapa lama ia pun keluar membawa 2 gelas teh dan mempersilahkan minum.
Dion langsung minum teh itu, sedangkan aku karena tadi baru saja minum di warung maka kubiarkan dulu tehnya tanpa kubuka. Karena asyik mengobrol tak terasa sudah hampir setengah jam aku di sini.
" Astaga ! aku lupa kalau sedang disuruh belanja. aku pulang dulu ya ! " aku buru-buru pamit dan langsung berlari ke pasar untuk mengambil belanjaan.
Beruntung sampai di warung ternyata sedang agak sepi, hanya ada 2 orang yang sedang makan. Ibu sedang bicara dengan mbak Wiwit hingga tak menyadari ketika aku masuk.
" Mbak Aira kok lama sih belanjanya ? " tanya mbak Sri ketika aku masuk ke dapur.
" Iya tadi antri ," jawabku sekenanya.
Belanjaan kubawa ke dalam. Karena tadi aku lari-lari sehingga aku pun haus. Ya ampun ! Aku baru ingat kalau tadi aku belum minum teh yang disuguhkan Arya.
Krik krik ! Handphoneku berbunyi. Jangan-jangan itu Arya. Kuambil HP yang tadi kutinggal di dalam bilik. Ternyata benar ada WA masuk dari Arya. Nomernya sudah kumasukkan ke daftar kontakku..
[ Sudah disuguhi minuman kok nggak diminum ]
Tuh kan dia tersinggung karena tehnya nggak kuminum tadi.
Aku jawab saja,
[ Sorri tadi aku benar-benar lupa. aku buru-buru takut dimarahi ibuku kalau kelamaan belanja 🙏 ]
[ Aku pikir kamu jijik karena rumahku jelek ]
[ Kok kamu berpikiran begitu sih ! kaya anak kecil ]
[ He he nggak deh, sorry sorry ✌😁 ]
[ Sudah ah .. aku mau kerja ]
Chat kuakhiri begitu saja. Apa sih maunya tuh cowok. Tadi aja minta supaya aku main ke rumahnya, sekarang marah cuma karena aku nggak minum teh yang dia suguhkan. Pakai ngatain aku jijik sama rumahnya.
Sudah dibela-belain aku ke sana sampai nyuri-nyuri waktu malah akhirnya seperti ini.
___________
bersambung aja ya gaess.
. please vote like n komen dong biar penulis tahu kalau ada kekurangan.
makasih !
__ADS_1