
" Ini Mas, surat undangan bagian kamu. Yang dekat-dekat sudah kubagikan kemarin sama Eva. Yang jauh besok kita bagikan sepulang kamu kerja ya. Kalau nggak selesai lanjut besoknya lagi." Kusodorkan beberapa lembar surat undangan yang telah kuikat jadi satu pada mas Raka.
" Yang buat keluarganya kakak iparmu, sudah dikasih belum ? " tanya dia sembari memasukkannya ke dalam tas ranselnya.
" Sudah semua, bahkan mbak Nia kemarin juga langsung ke tempat mertuanya. Sekalian silaturahmi, kakek neneknya kangen sama Arkana." Aku memberitahu.
" Baguslah, berarti yang belum dibagi tinggal bagianku sama bagianmu yang rumahnya jauh ya." Mas Raka mengira-ira.
" Begitulah. Oh iya aku lupa, ada teman SMA ku yang rumahnya dekat dengan sekolahnya Ernest. Kenapa nggak kutitipkan sama dia saja ya, rumahnya tepat di samping sekolahnya kok. Dulu aku sering main ke sana." Ingatanku melayang pada teman sebangkuku, Hilda.
Ya, dulu di kelas 3 SMA dia selalu memintaku duduk di sebelahnya. Akhirnya Yana mengalah dan duduk di tempat lain. Hilda jarang bergaul, entah mengapa ia hanya mau berteman denganku. Kadang aku jadi nggak enak sama Yana, dia sahabatku sejak SMP.
Tapi untungnya Yana bisa memaklumi. Meski kadang seharian aku bersama Hilda, tapi dia tetap menganggapku sahabat. Buktinya setelah kelulusan dia masih mau menemaniku. Sedangkan Hilda sudah sibuk dengan kuliahnya, hanya sesekali menghubungiku.
" Tapi apa Ernest mau dititipi. Ya kalau ketemu rumahnya, kalau tidak malah nggak terkirim nanti." Mas Raka kurang yakin.
" Pasti ketemu, rumahnya di pinggir jalan kok. Persis di samping sekolah, tapi pas pertigaan. Jadi menghadapnya ke arah jalan lain." Aku memberi gambaran, meyakinkannya.
" Nanti buat yang lain sekalian saja kutitipkan sama Hilda, biar dia yang membagikan." Aku menambahkan.
" Terserah kamu saja. Tapi kamu sudah ngomong belum sama Ernest? " tanya mas Raka akhirnya.
" Ya belum dong, kan idenya baru muncul sekarang. Besok pagi deh kalau dia mau berangkat sekolah," kataku kemudian.
Keesokan paginya, saat menyapu teras berulang kali kutengok ke rumah bu Dirja, mana tahu Ernest keluar. Namun aku hanya mendengar suaranya yang tengah bernyanyi kecil. Nampaknya ia tengah bersiap-siap. Ya sudah kutunggu saja saat ia mau berangkat, sementara aku mandi dulu.
" Hai Mbak, makin berseri-seri aja wajahnya. Maklum sebentar lagi mau nikah, ciyee ! " celetuknya begitu aku menghadangnya di depan rumah.
" Nggak usah ngeledek. Aku mau minta tolong nih, bisa nggak dek? " tanyaku lebih dulu.
" Minta tolong apa, kalau disuruh nikahin sekarang aku belum siap lho ! " kelakarnya seraya mengedipkan matanya.
" Sembarangan aja nih anak. Mau nitip undangan, tolong berikan ke temanku yang rumahnya di samping sekolah kamu itu. Namanya Hilda, rumahnya cat warna kuning. Mau ya ? " pintaku memohon.
" Tapi aku malu Mbak, teman Mbak Aira kan cewek. Bisa-bisa aku diledekin teman-temanku nanti," ucapnya keberatan.
" Nanti kamu ajak Trias, biar dia yang ngasih ke temanku kalau kamu malu. Sebentar ya aku ambilkan undangannya."
Aku bergegas masuk ke kamar mengambil 3 lembar surat undangan. Temanku yang rumahnya satu komplek dengan Hilda ada 2 lagi.
__ADS_1
" Nih, bilang saja ini undangan dari mbak Aira teman SMA. Sekalian minta tolong sama dia buat berikan yang dua lagi pada temannya. Sudah ada namanya dia pasti paham." Kuserahkan pada Ernest.
" Oke, tapi aku nggak janji lho. Aku juga tidak yakin Trias mau apa enggak," ucap Ernest.
" Pasti mau lah, masa dimintai tolong nggak mau. Please ya, soalnya masih banyak yang harus kukirim nih," bujukku lagi.
Ernest mengangguk dan segera melesat pergi dengan motornya. Sekarang dia nggak naik angkot lagi karena papanya membelikan motor matic sehabis adiknya sunat.
Aku juga bersiap-siap berangkat ke warung makan. Seusai berdandan aku pun keluar berjalan kaki sampai gapura. Kebetulan langsung dapat angkot tanpa menunggu lama.
" Hai Aira, makin berseri saja wajahnya. Maklum calon pengantin ! " celetuk mas Harun begitu aku masuk warung.
" Hmm, sok tahu Mas Harun ! " sahutku melengos sambil berlalu ke dapur. Kuletakkan tas selempang ke dalam bilik sholat lalu segera membikin beberapa gelas minuman untuk pelanggan.
Beberapa pelanggan warung yang kebanyakan pria tak henti menggodaku. Apalagi ibu telah memberitahu jika sebentar lagi aku mau menikah.
" Besok kalau sudah nikah Aira masih datang ke warung nggak Buk ? " tanya mas Harun seraya melirikku. Tatapannya seolah ingin meledekku.
" Kalau ibu sih terserah Aira, masih mau membantu ibu apa diam di rumah. Kalau suaminya melarang dia keluar ya harus nurut sama suaminya." Ibu memberi penjelasan.
Aku hendak menyambung obrolan, tapi urung karena kupikir nanti malah aku diledekin. Mending diam saja.
" Biasanya sih kalau sudah nikah nggak bakal dibolehin keluar tuh sama suaminya, disuruh diam di rumah biar nggak kecapekan. Soalnya malam harinya kan diajak lembur sampai pagi, hahaha ! " seloroh Bang Jojo yang duduk dekat pintu. Yang lain ikut tertawa.
" Tahu nggak Aira, kok malah bengong gitu. Belum pernah diajak lembur ya, hahaha ! " sambung mas Harun sambil tertawa.
" Huuu dasar, suka pada ngawur kalau ngomong ya. Aira ini masih polos nggak tahu guyonan kaya gitu." Ibu akhirnya menimpali gurauan mereka.
" Masih polos tapi sudah kepingin kawin, hehehe ! " celetuk Kang Somat pedagang bakso.
Aku masuk ke dapur karena candaan mereka makin membuatku bingung. Ternyata di dapur mbak Sri juga lagi tersenyum sendiri.
" Ngapain senyum-senyum, kesambet ya," tegurku. Kutuang teh hangat lalu menyomot bakwan yang baru diangkat, kutaruh di piring kecil.
" Kesambet apaan, lucu saja dengerin bapak-bapak yang godain mbak Aira di depan, hehe ! " sahut mbak Sri.
Aku mencebikkan bibir sambil geleng-geleng kepala. Ada-ada saja guyonan orang tua kalau lagi berkumpul dan makan di warung.
Sore harinya, saat aku baru selesai sholat Ashar. "Buk, habis ini aku sama mas Raka mau nganterin undangan. Ibu pulang dulu saja, ayamnya biar aku yang mengurusi," kataku pada ibu sore ini.
__ADS_1
Mas Raka baru pulang kerja langsung ke warung. Rencananya kita mau membagikan undangan setiap sore, karena kalau siang memang kita sibuk dengan tugas masing-masing.
" Minum dulu Mas," ucapku seraya meyorongkan teh hangat di hadapannya.
" Tapi nanti ditunggu sampai benar-benar mendidih lho ya, terus jangan langsung dimatikan. Tunggu sekitar 15 menit, baru matikan kompor. Kalau uapnya sudah berkurang baru ditutup pancinya." Ibu mewanti-wanti agar aku tak lupa.
" Iya Ibu aku sudah tahu," sahutku sembari menata bawaan yang akan dibawa pulang.
Lima menit kemudian ibu dan mas Raka meninggalkanku. Aku melanjutkan beres-beres di warung. Tak berapa lama mas Raka sudah kembali.
" Sudah selesai belum? " tanya dia seraya menghenyakkan pantat di bangku panjang.
" Masih setengah jam lagi," jawabku sembari mengaduk opor perlahan-lahan.
" Aku tiduran dulu deh, kalau masih lama." Mas Raka membaringkan tubuhnya lalu memejamkan mata. Warung sudah kututup sehingga tak terlihat dari luar jika ada yang berbaring di bangku.
Setelah opornya mendidih kutunggu beberapa menit sebelum kumatikan kompornya. Dan sesuai instruksi dari ibu tadi, sesudah uapnya berkurang baru pancinya kututup rapat.
" Mas, udah selesai nih ! " kubangunkan mas Raka yang tertidur di bangku karena kecapekan.
" Humm... sudah dicek semua," gumamnya sambil mengucek mata. Ia pun menghabiskan minumannya kemudian beranjak. Kami segera pergi setelah aku mengunci warung.
_____________
Akhirnya selesai juga membagi undangannya. Jumat sore kemarin hari terakhir kita mengirim ke tempat famili mas Raka.
" Tinggal 5 hari lagi, aku bakalan peluk kamu semalam suntuk sayang. Setelah siangnya kuucapkan janji suci kita berdua" ungkap Mas Raka malam ini.
" Masih seminggu lagi Mas, kan sekarang baru malam minggu. Resepsinya minggu depan kan," tukasku meledeknya.
" Kan akad nikahnya hari Kamis. Itu berarti kita sudah sah jadi suami istri. Masa harus nunggu setelah resepsi sih, kelamaan dong. Yang 3 hari aku cuma menelan ludah, gitu? " protesnya.
" Eeh iya ding, aku lupa hihihi ! " Aku pura-pura baru ingat, padahal tadi sengaja aku bilang begitu.
" Bismillah ya sayang, sebentar lagi kita memasuki kehidupan baru bersama. Aku janji akan selalu membahagiakanmu dengan segenap jiwaku. Semampuku, sekuatku. Jangan pernah berpikir untuk pergi dari sisiku. Jadilah ibu dari anak-anaku. Kamu sudah yakin, mau hidup bersamaku ? " Tak kusangka mas Raka bisa mengucapkan kalimat-kalimat indah.
" Yakin, Mas. Insya Allah kita akan mengarungi bersama bahtera rumah tangga. Jangan pernah berpikir juga untuk meninggalkanku." Aku membalas ucapannya.
Mas Raka memelukku erat, kemudian mencium keningku lama.
__ADS_1
______&&&______
Tunggu hari bahagia Aira dan Raka ya gaes...