Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 50 Semakin Akrab


__ADS_3

Keesokan harinya di warung, aku sedang sarapan dan mbak Sri tengah mencuci piring. Ibu tiba-tiba ikut masuk ke dapur dan bicara dengan mbak Sri.


" Mbak Sri tahu nggak, tadi malam Raka datang ke rumah lho. " Ibu menceritakan soal Raka.


" Apa iya, Bu ? Tuh kan apa kata saya, mas Raka itu beneran suka sama mbak Aira. 100 % suka." Mbak Sri langsung menyambung pembicaraan. Mana keras lagi suaranya.


" Ssst Mbak Sri pelan -pelan dong ngomongnya, nanti kedengaran mbak Wiwit." Kutegur dia supaya mengecilkan suaranya.


" Maaf maaf, soalnya saking senengnya. Akhirnya mbak Aira punya pacar lagi, " selorohnya.


" Yang bilang suka siapa, yang bilang pacar siapa. Orang kita cuma berteman kok." Aku menyangkal ucapan mbak Sri.


" Duh mbak Aira kok nggak peka sih. Sudah jelas tadi malam diapelin," kata mbak Sri lagi.


" Diapelin gimana orang kita nggak jadian kok. Raka itu cuma pingin main ke rumah." Aku pun menjelaskan yang sebenarnya sama mbak Sri dan ibu.


" Masa sih kalian nggak jadian. Lalu tadi malam ke mana saja ? " tanya Mbak Sri masih tak percaya.


" Beneran , tadi malam dia nggak ngomong sesuatu. Kita cuma nonton, makan terus duduk- duduk di taman kota sembari nonton band di alun- alun. Sekitar jam 22.00 kita pulang. Sudah gitu aja."


Kuselesaikan sarapanku lalu tak lupa minum teh hangat. Ibu menyuruhku belanja. Aku pun bergegas menuju pasar yang nampak lengang. Mungkin sebagian orang masih malas keluar rumah karena semalam begadang.


" Mbak Aira ! mau belanja ya. " sapa bu Harti ketika aku sampai depan pintu pasar dan lewat di depan kiosnya. Beliau tersenyum ramah.


" Iya, Bu Harti. Ibu nggak liburan ? " tanyaku sekedar basa basi.


" Nggak, anak-anak pada bangun kesiangan karena tadi malam pada bikin acara bebakaran. Masih malas-malasan di rumah, " jawab bu Harti lalu menceritakan putra-putrinya.


" Waah, kalau saya nggak boleh malas-malasan, Bu Harti. Nanti nggak ada yang membantu di warung, kasihan ibu sama mbak Sri."


" Kamu memang rajin ya, pantas saja Raka suka. Oh iya, katanya tadi malam Raka ke rumahmu ya ? " tanya bu Harti selanjutnya.


" Iya Bu," jawabku tersipu. " Emm.. maaf ya Bu Harti saya mau belanja dulu takut kesiangan." Aku segera pamit dari sini, daripada bu Harti lama-lama obrolannya melebar.


Selama belanja aku teringat perkataan bu Harti tadi. Raka suka sama aku ? Tapi kenapa dia nggak pernah mengatakannya padaku.


Setelah membayar semua belanjaan aku kembali ke warung. Kuceritakan pada mbak Sri apa yg dikatakan bu Harti tadi.


" Kalau bu Harti bilang begitu berart Raka pernah cerita sama ibunya. Mbak Aira sudah tak bilangi berkali-kali juga, mas Raka itu suka sama Mbak Aira." Mbak Sri meyakinkanku.


" Iya aku tahu sekarang. Cuma tadi malam dia nggak bilang apa-apa, ya aku menganggap biasa saja lah. Nanti malah dikira ge er." Aku berkata ragu.


" Mungkin dia nggak mau berkata suka, tapi menunjukkan dengan perbuatan." Mbak Sri mulai menduga-duga.


" Nggak tahu lah," ucapku. Aku masih belum yakin dengan Raka, meskipun dalam hati sudah mulai nyaman bersama dia.


____________

__ADS_1


Seminggu berlalu. Sabtu sore ketika kami bertiga bersiap hendak pulang. Raka muncul dan menunggu kami sampai selesai.


" Bu, saya pulang dulu ya." Mbak Sri pamit .


" Oh ya, hati -hati di jalan." Ibu menjawab seraya memasukkan belanjaan keperluan rumah di keranjang.


Tanpa disuruh Raka langsung masuk dan mengangkat keranjang yang biasa kubawa itu. " Biar saya yang bawa," katanya pada ibu


Aku dan ibu keluar tak lupa mengunci pintu warung. Kami bertiga berjalan beriringan. " Kamu nggak bawa motor ? " tanyaku pada Raka.


" Kalau saya bawa motor kasihan ibu kamu nanti sendirian." jawabnya. " Lho, apa hubungannya ? " tanyaku lagi.


" Karena aku sengaja jemput kamu, kalau pake motor nanti ibu jalan sendirian dong." Ia menjelaskan lagi.


Aku cuma bilang, " Oooh gitu, padahal ibu berjalan di depan. Sama saja sendirian." Aku menunjuk ibu yang sudah jauh berjalan meninggalkan kami.


" Mungkin karena ibu nggak mau mengganggu kita," celetuk Raka sambil nyengir.


" Memangnya kita ngapain, kamu ada-ada saja." Aku pun ikut tertawa.


Tanpa terasa kita sudah sampai rumah. Kuajak Raka masuk setelah menyalami ayah yang sedang menggendong Arkana di teras. Ia menaruh keranjang yang dibawanya di ruang tengah kemudian duduk di ruang tamu.


Aku masuk mengambil minum buat Raka, lalu duduk di seberangnya. Ayah masuk karena sudah terdengar azan Magrib. Lima menit kemudian ayah sudah siap pergi ke masjid.


" Ayo nak Raka, kita sholat Magrib dulu ! " ajak ayah. seraya berjalan keluar. " Oh iya, Pak." Raka pun beranjak dari duduknya.


" Wudhu di masjid apa mau di sini ? " tanyaku.


" Mau ke mana itu si Raka," tanya ibu yang baru selesai mandi. " Ke masjid," sahutku singkat. Aku juga bergegas mandi dan beribadah.


Beberapa menit kemudian Raka sudah kembali dari masjid. Sedangkan ayah masih di masjid sembari menunggu waktu Isya.


" Kita keluar yuk ! " ajaknya lagi. Aku masuk untuk pamit pada ibu dan mengambil jaket.


" Bu, aku mau keluar sama Raka." Ibu yang sedang menonton TV mengangguk.


": Tiap Malam Minggu nonton nih yee, " celetuk mbak Nia yang duduk di sebelah ibu.


" Sama kan kaya kamu dulu," sahutku. Kucium pipi baby Arkana yang sedang dipangku sama neneknya.


Aku keluar dan Raka juga sudah berdiri. Ia masuk ke ruang tengah dan pamit sama ibu juga mbak Nia.


Raka langsung mengarahkan motornya ke gedung bioskop supaya nggak terlambat karena film diputar pukul 19.00. Sebelum masuk Raka membeli minuman dan makanan kecil terlebih dulu.


" Mau jajan apa, kacang apa popcorn ? " ia menawariku.


" Kacang telur aja," sahutku. Raka mengambil sebungkus besar kacang telur serta minuman kaleng.

__ADS_1


Sampai di dalam setelah mendapat tempat duduk Raka membuka bungkusan kacang dan mengulurkan padaku. Di tengah nonton film kami sembari makan kacang.


" Saya disuapin dong, tangan saya kotor soalnya," pintanya berlagak manja. Aku pun makan sambil sesekali menyuapinya.


Saking asyiknya nonton sambil ngemil tahu-tahu kacangnya tinggal sedikit. Timbul niat iseng ku. Kuhabiskan sisa kacang lalu bungkusnya aku remas sampai kecil.


" Ini suapan terakhir," kataku padanya. Raka membuka mulutnya dan plastik yang kuremas tadi kumasukkan ke mulutnya sambil menahan tawa.


" Hahaha... hahaha.. " Aku tak dapat menahan tawa saat melihat Raka yang tanpa curiga langsung mengunyah plastik yang kusuapkan padanya. Dengan santai ia mengambil plastik di mulutnya.


" Awas ya, udah berani ngerjain." Ia hanya tersenyum lalu meminta minuman yang kupegang.


"Maaf ya, lagi pingin iseng aja hehehe." Aku menutup mulutku agar nggak kelepasan tertawa lagi.


Seusai nonton Raka mengajakku makan seperti malam Minggu kemarin. Kali ini dia menawariku.


" Mau makan apa, ayam goreng, nasi goreng, bakso apa sate ? " tanya dia. " Bakso aja." Aku pun memilih makanan yang praktis saja.


Di tengah acara makan Raka tak henti bercerita. Tentang temannya, keluarganya, kuliahnya. Aku hanya mendengarkan saja.


" Aku usah bercerita banyak, gantian kamu dong yang cerita," pintanya. Sekarang dia sudah berani memakai kata 'aku' . Bukan ' saya' lagi.


" Mau cerita apa, kamu kan sudah tahu kalau saya tiap hari juga membantu ibu di warung. Keluarga saya juga kamu udah tahu." Aku masih enggan mengobrol banyak sama Raka.


" Kok masih pakai kata 'saya' sih, nggak usah resmi gitu kali. Kita sudah kenal sebulan lebih lho, hubungan kita juga makin dekat." Rupanya Raka nggak nyaman jika aku memakai kata 'saya'.


Hubungan kita makin dekat, aku mengakuinya sekarang. Hanya ada yang masih mengganjal di pikiranku, dia belum nembak aku. Jadi sedekat apakah hubunganku dengannya.


" Kok malah melamun. Awas nanti keselek bakso lho! " Raka menegurku. Segera kulanjutkan makan baksonya.


" Siapa yang melamun, orang mau nambah sambal. " Aku pura-pura mengambil sambal. Saat dia melihat ke arah lain kusingkirkan mangkuk sambalnya. Gimana mau nambah sambal, aku aja nggak suka pedas.


Kuhabiskan teh manis yang ada di meja. Setelah keluar dari warung bakso Raka melajukan motornya ke taman kota dekat alun-alun. Setiap malam minggu tempat ini selalu ramai dan kebanyakan pengunjungnya remaja. Kalau sore orang tua dan anak-anak.


" Nggak apa-apa kan duduk dulu di sini. Masih jam setengah 10 kok, " ucap Raka. Aku mengangguk sambil menyaksikan beberapa anak remaja yang bermain skateboard.


" Dulu aku juga pernah belajar skateboard, tapi nggak kuteruskan karena hanya sekedar iseng. Skateboardnya juga cuma pinjam punya teman." Rupanya Raka tahu apa yang sedang kuperhatikan.


" Kenapa nggak diterusin, kan bisa ikut tampil kalau ada event," tanyaku sekedar menanggapinya.


" Aku tuh orangnya suka coba-coba. Kegiatan apa pun aku coba karena penasaran apa aku bisa melakukannya atau nggak. Entah itu olah raga ataupun alat musik." Raka pun bercerita tentang hobi dan kegiatannya. Tak terasa taman ini sudah makin sepi.


" Sudah malam, pulang yuk ! " ajakku. Aku bangkit dari bangku yang kami duduki. Demikian juga Raka. Ia menghidupkan motornya dan melaju menembus gemerlapnya lampu hias di sekitar taman dan alun-alun.


" Aku langsung pulang ya, tapi kamu masuk dulu," ucapnya saat kita sudah sampai di depan rumahku.


" Oke , kamu hati-hati ya ! " pesanku. Aku masuk dan tak lama kudengar suara motornya yang semakin menjauh.

__ADS_1


************************


Bersambung ya.. Mohon maaf telat up datenya. Penulis sedang banyak kegiatan hehe...


__ADS_2