Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 92 Gulai dan Sate


__ADS_3

Baby cowoknya mbak Tika diberi nama Ajishaka, panggilannya Shaka. Gemoy banget, mirip Stella waktu bayi. Sekarang sudah besar juga masih tetap gemuk. Kalau Arkana pipinya saja yang tembem, tapi posturnya tinggi melebihi teman sebayanya.


" Ayah kok nggak ikut kemari, Buk ? " tanya mbak Tika saat kami mengeluarkan barang bawaan dari kardus.


" Nanti sore mau diantar sama Raka, di rumah masih bisa mengerjakan sesuatu. Di sini kan nggak ngapa-ngapain. Ayah nggak bisa kalau cuma duduk-duduk." Ibu menjelaskan alasan ayah tidak ikut serta.


" Iya sih. Mas Toni juga nggak bisa cuti soalnya kerjaan sedang menumpuk. Stella juga nggak mau disuruh bolos sekolah. Katanya kalau bolos nanti nggak naik kelas, hehehe ! " Mbak Tika menceritakan kelucuan Stella.


" Haha haha ! " Kami pun serentak tertawa.


" Terima kasih ya Mbak Sri, sudah menyempatkan waktu buat menengok bayi kami," ucap mbak Tika pada mbak Sri.


" Sama-sama Mbak Tika. Saya juga senang bisa berkesempatan main kemari," balas mbak Sri.


Tak berapa lama datanglah dua orang wanita membawa dua kardus.


" Permisi Bu, ini pesanan snacknya sudah siap." Salah satu dari mereka memberitahu mbak Tika.


" Oh iya, langsung ke dalam saja Mbak. Ini uang pelunasannya ! " kata mbak Tika seraya menyerahkan amplop berisi uang pada mereka.


" Sudah lunas ya Bu, kalau begitu kami permisi. Terima kasih," ucap mereka kemudian berlalu pergi.


" Aira, tolong dikeluarkan kue-kuenya yang di kardus itu, lalu ditata di piring oval. Sekalian itu 'kletikan' nya dimasukkan di toples-toples kecil. Kalau sudah semuanya ditaruh di atas meja makan itu. Nanti tinggal menyuguhkan." Mbak Tika menyuruhku.


Kubuka kardus yang baru diantar tadi. Isinya kue buat suguhan anak-anak yang ikut rebana nanti. Ada sosis solo, kue soes, kue lemper dan tahu bakso. Di tambah dengan macam-macam ' ketikan'.


Mbak Sri juga ikut membantu menata makanan. Sementara ibu membantu menyiapkan minumannya. Di dapur sudah ada ARTnya mbak Tika.


Sekitar jam setengah tiga daging aqiqah sudah diantar ke rumah membawa mobil box. Sudah dikemas dalam kardus bersama nasi dan teman-temannya. Nanti akan dibagikan ke tetangga dan famili, serta anak-anak yang ikut rebana.


" Ditaruh di dekat meja besar itu ya Mas," pinta mbak Tika pada kurir yang mengantarnya, Mas sopir bersama rekannya.


" Baik Bu," sahut mereka berdua. Dengan cekatan mereka memindahkan boks-boks nasi ke dalam rumah.


" Terima kasih ya Mas, ini pelunasannya." Mbak Tika kembali menyerahkan amplop seperti tadi.


" Mbak, kok dari tadi aku nggak melihat saudara-saudaranya mas Toni. Memangnya mereka nggak diundang? " tanyaku pada mbak Tika, setelah mobil box nya berlalu.


Sejak kami datang memang di antara mereka belum ada yang terlihat. Baru sekarang aku sempat menanyakannya ke mbak Tika.

__ADS_1


" Mereka kan lagi kerja. Adiknya juga kuliah belum tentu bisa pulang. Ibunya mas Toni lagi sakit bapaknya harus menemani, jadi nggak bisa ke sini. Nanti yang ke sini paling kakak-kakaknya." Mbak Tika menjelaskan alasannya.


" Ooh begitu," sahutku.


Dalam hati aku malah bersyukur kalau mereka nggak datang. Soalnya ibunya mas Toni suka mengatur ini itu. Kadang aku kasihan sama ibuku yang hanya bisa bilang iya, iya.


Belum lagi saudara perempuannya yang penampilannya sok sosialita. Memang kaya sih, tapi kan disesuaikan dengan tempatnya. Masa cuma acara keluarga tapi penampilan kaya mau kondangan di gedung mewah. Makanya aku jadi enggan ikut jika ada acara dari keluarganya mas Toni.


" Kamu kok nggak bilang sama ibu kalau ibu mertuamu sakit Tika," Ibu langsung menimpali.


" Nggak apa-apa kok Bu, aku nggak mau merepotkan kalian. Mas Toni juga bilang begitu. Sakitnya nggak terlalu serius kok, tinggal pemulihan saja, " ungkap Mbak Tika.


Sehabis Ashar anak- anak yang diundang sudah mulai berdatangan. Aku berkali-kali melongok ke depan karena ayah dan mas Raka belum juga muncul. Meskipun aku tahu mas Raka pulang kerja jam 16.00. Sudah pasti nggak bisa menyaksikan acara rebana. Aku pun menghubunginya.


" Raka belum datang ya," tanya ibu seolah bisa membaca gelagatku.


" Belum Bu, barusan kutelpon dia baru keluar dari tempat kerja. Tadi minta ijin pulang agak cepat katanya. Sekarang lagi menuju ke rumah menjemput ayah," jawabku seraya tersenyum lega.


Bukan apa-apa aku hanya kasihan ayah kalau terlambat datang lalu tidak bisa mengikuti acara rebana. Bisa-bisa mas Raka disalahkan lagi. Kalau dia sih nggak masalah misalkan datang terlambat.


Setengah jam kemudian mereka sudah kelihatan. Aku menyuruh masuk dari pintu samping karena di depan sudah banyak tamu. Anak-anak dan bapak-bapak tetangga dekat, juga keluarganya mas Toni semua duduk di ruang tamu yang digelari karpet.


" Minum dulu." Langsung kuambilkan teh panas buat ayah dan mas Raka.


Acara berjalan lancar, setelah tamu-tamu pada pulang kita sekeluarga juga makan bersama. Semua dapat jatah nasi kotak satu satu. Aku dan mas Raka memilih makan di teras depan. Yang lain di ruang tamu, sedangkan keluarganya mas Toni di ruang tengah.


" Kok gulainya nggak dimakan Mas, cuma satenya doang. Nggak suka ya ! " tanyaku heran.


Dari tadi dia hanya makan sate sama sayur dan sambal serta kerupuk, gulainya masih utuh. Aku saja sudah mau habis, satenya yang akan kumakan terahir buat gong, hehe.


" Sebenarnya aku nggak doyan daging kambing, suka mual kalau makan. Tapi kalau dibikin sate aku doyan," jawabnya seraya menyendok gulainya dan dipindahkan ke kotak nasiku.


" Kalau sate mungkin karena nggak banyak bumbu jadi kamu nggak eneg. Ya sudah sini buat aku aja, hehe." Aku tersenyum senang. Sendokan terahir ia suapkan ke mulutku.


" Eeh tante Aira udah gede kok disuapin sama Oom Raka sih ! " teriak Stella yang muncul tiba-tiba dari dalam rumah. Aku dan mas Raka terkejut dan Stella langsung kuberi isyarat supaya diam.


" Stella, nggak boleh gangguin tante Aira ya ! " seru mas Toni memperingatkan.


Tapi dasar Stella mana mau ditegur. Ia malah tertawa-tawa sambil menunjuk padaku.

__ADS_1


" Haha haha, tante Aira sama Oom Raka lagi pacaran haha haha ! " Ia terus meledek kami. Saudara sepupunya, anak kakaknya mas Toni juga ikut keluar mendekati Stella.


Aku berdiri lalu menangkap Stella, kupeluk lalu kucubiti pipinya dengan gemas.


" Iiih, anak kecil kok tahu pacar-pacaran. Awas lho nanti nggak naik kelas ," ucapku menakutinya.


Aku ingat perkataan mbak Tika tadi siang. Ternyata taktikku berhasil, Stella langsung diam.


" Iya deh, aku minta maaf nggak ngeledeki tante lagi." Ia lalu mengajak sepupunya masuk. Aku tertawa geli melihatnya.


" Kamu gimana sih, anak kecil jangan ditakuti gitu," tegur mas Raka padaku.


" Enggak Mas, aku cuma teringat kata mbak Tika tadi. Stella disuruh bolos sehari aja nggak mau, takut tidak naik kelas. Barusan kuingatkan dia kayak gitu langsung diam. Hehe ! " Aku terkekeh.


" Anak pintar biasanya kalau disinggung masalah sekolah jadi langsung nurut," kata mas Raka.


" Iya, Stella itu makin pintar sekarang. Kalau soal sekolah pasti nomer satu, maunya belajar terus. Tapi kadang kelupaan kalau lagi ada temannya, namanya juga anak-anak naluri bermainnya pasti ada. Kayak tadi itu meledek kita terus."


Aku memang nggak pernah bisa marah sama semua keponakanku. Apalagi mereka yang masih kecil, sama saudara-saudara juga nggak pernah.


Seperti kemarin dengan mbak Nia dan mbak Tika., aku hanya marah sebentar. Setelah itu ya sudah baikan lagi. Ibu juga menasehatiku supaya tidak menyimpan dendam, apalagi sebentar lagi aku mau menikah. Siapa yang mau membantu kalau bukan saudara-saudara kandungku. Itu yang terpenting kata ibu.


" Kok melamun, kekenyangan atau masih lapar." Teguran mas Raka mengagetkanku. Ia mencolek pipiku.


" Eh enggak melamun kok, cuma lagi teringat nasehat ibu.," elakku seraya tersenyum.


" Kirain masih lapar, biar kumintain sama mbak Tika lagi. Adiknya yang kecil mungil masih lapar, hehehe ! " serunya menggodaku.


" Memangnya aku barongan, makannya sebakul," gerutuku. Mas Raka tergelak melihatku cemberut.


" Kamu memang harus makan yang banyak, biar besok saat menikah tubuh kamu agak berisi. Nggak kerempeng kayak sekarang," katanya lagi sembari menahan tawanya.


" Enak saja, ini bukannya kerempeng tapi langsing. Postur yang ideal, tahu. Memangnya kalau mau nikah harus gemuk dulu, aturan dari mana." Aku mencebikkan bibir.


" Aturan dari aku. Biar nanti kalau aku mau peluk kamu nggak keliru sama guling, hehehe ! " Mas Raka menggodaku lagi.


" Iiih mas Raka, pikirannya ke situ melulu deh. Sudah yuk, sholat Magrib dulu," cetusku seraya mengajaknya masuk.


______&&&&_________

__ADS_1


Sekian dulu, masih bersambung ya.


Tetep vote like dan komen. Makaciiiihh !


__ADS_2