Bungsu Yang Tak Dianggap

Bungsu Yang Tak Dianggap
BAB 128 Undangan


__ADS_3

" Mbak Aira, tuh mas Raka sudah datang ! " celetuk mbak Sri saat aku tengah sarapan. Ia baru selesai mencuci piring.


Aku menengok ke depan, " Kok nggak ada ? " tanyaku heran.


" Lagi duduk di luar, ngobrol sama siapa tuh yang baru sarapan di sini, " sahut mbak Sri.


" Berarti sudah dari tadi dong," ucapku menerka.


" Nggak juga, pas aku lagi cuci piring tadi. Waktu mas Raka mau masuk berpapasan sama mas siapa tuh tadi. Lalu salaman dan ngobrol di luar." Ia memberitahu.


Kulanjutkan sarapanku tanpa menghiraukan mas Raka. Nanti kalau sudah selesai ngobrol juga pasti masuk.


" Nggak dibikinin minum Mbak," saran mbak Sri.


" Nanti saja, kalau lagi asyik ngobrol suka lupa dia. Tahu-tahu haus baru minta minum, hehe ! " selorohku.


Seusai makan baru aku keluar menengok mas Raka di depan. Ia menoleh ke arahku dan tersenyum. Mas-mas yang mengobrol sama dia juga menoleh.


" Wah sudah disamperin mbak Aira. Aku juga mau buka kios ah." Ia pun langsung pergi.


" Siapa sih dia Mas? " tanyaku. Dia memang sering sarapan di sini tapi aku nggak tahu namanya.


" Tetanggaku yang jualan di pasar, sering makan di sini kan ," kata mas Raka.


" Iya tapi nggak tahu siapa, soalnya belum lama juga dia makan di sini. Kayaknya habis lebaran kemarin," terangku.


" Tadinya bekerja di Jakarta cari modal, sekitar lima tahunan kayaknya. Terus kemarin sebelum puasa itu dia balik lalu buka usaha sendiri jualan pakaian cowok." Cerita mas Raka.


" Mas Raka mau sarapan dulu atau kita langsung pergi aja ? " tawarku. Hari ini kami mau pesan undangan, semalam dia bilang mau menjemput di warung.


" Sudah sarapan nasi goreng di rumah, minum teh anget aja," tukasnya. Aku ke dapur menuangkan teh hangat buatnya.


" Menu andalan nasi goreng ya, kok setiap kali libur kerja sarapannya nasi goreng, haha ! " Aku menggodanya.


" Bapak yang bikin tadi, soalnya kalau malam Minggu Oom Sono suka bawain makanan. Entah martabak ,sate,bakso. Nasinya jadi sisa karena udah pada makan yang dari Oom Sono, hehehe ! " sahut mas Raka terkekeh.


" Yuk berangkat, nanti keburu siang," ajaknya usai minum teh dan makan bakwan. Ia keluar lebih dulu setelah pamit sama ibu, sementara aku mengambil tas selempangku dan juga handphone.


" Pergi dulu ya Mbak," pamitku sama mbak Sri yang sedang sarapan. Ia hanya mengangguk karena tengah mengunyah makanannya.


Aku keluar dan tak lupa juga pamit sama ibu. " Yuk Mas," seruku dan langsung membonceng di motornya karena mas Raka telah siap sejak tadi.

__ADS_1


Setelah berkeliling di alun-alun sampailah kita di percetakan. Tempatnya memang di sebelah barat alun-alun. Dulu mbak Nia juga pesan undangan di sini, kebetulan ada karyawannya yang kakak kelasku di SMA.


Kami langsung disambut oleh pemiliknya, seorang bapak muda yang duduk di lobby.


" Selamat datang Mas, Mbak. Mau pesan undangan atau kartu nama, atau buku yassin," sapanya seraya tersenyum ramah.


" Mau pesan undangan pernikahan Pak," balasku dengan senyum tak kalah ramah.


Ia pun mempersilahkan kami duduk lalu memanggil salah satu karyawannya. Kakak kelasku tak terlihat, mungkin sedang melayani yang lain atau bahkan sudah pindah kerja. Tak berapa lama salah seorang karyawan wanita menemui kami.


" Ini Mbak, Mas, silahkan dilihat dulu contohnya nanti mau pilih yang seperti apa." Ia menyodorkan sebuah buku berukuran map yang di dalamnya berisi macam-macam surat undangan dengan berbagai model dan tulisan yang berbeda.


" Terima kasih. Oh iya, mbah Hera apa masih kerja di sini ? " tanyaku berbasa basi, sambil melihat-lihat contoh undangannya.


" Sudah keluar Mbak, karena baru melahirkan," jawabnya. " Kok tahu sama mbak Hera ? " tanyanya balik.


" Dia kakak kelas saya waktu SMA. Saya pernah bikin undangan di sini sama kakak dan ketemu dia. Sudah 3 th lebih Mbak." Mbak karyawan manggut-manggut mendengar ceritaku.


Kira-kira setengah jam kemudian kami telah menemukan model undangan yang cocok. Yang simpel dan tentu saja harganya terjangkau.


" Minimal pesan 100 lembar ya Mbak," ujar mbak karyawan.


Aku memang berniat pesan 100 lembar saja, toh temanku hanya beberapa yang kuundang. Aku kan tidak kuliah jadi hanya ada beberapa teman baru di pasar dan juga teman akrab selama sekolah. Sisanya nanti buat saudara-saudara dari ayah dan ibu, rekan kerja mas Raka, serta kenalannya kakak-kakakku.


" Paling lambat seminggu ya, nanti saya kabari. Silahkan menulis nama dan nomer hape di sini."


Setelah mencatat semuanya, aku diberi kwitansi yang telah kubayar separo. Kami pun segera meninggalkan tempat ini.


" Mau balik ke warung apa jalan-jalan dulu ? " Mas Raka menawariku saat melewati alun-alun lagi.


" Langsung ke warung aja. Mas Raka kalau mau pulang tidak apa-apa misal ada urusan lain." Aku memilih kembali ke warung.


" Tumben menyuruhku pulang. Jadi aku diusir nih ceritanya, hehehe ! " ucapnya bergurau. Tak terasa kami sudah sampai depan warung makan.


" Iya, sana pulang, hahaha ! " gurauku pula.


Aku segera turun dari motor dan masuk ke warung. Mas Raka mengikuti di belakangku.


" Oh, nggak jadi pulang ternyata," celetukku seraya menoleh ke arahnya.


" Astaga sayang, kamu beneran mengusirku ? Aku mau di sini loh menemani kamu." Mas Raka berkata dengan wajah memelas.

__ADS_1


" Hahaha, iya iya. Gitu aja ngambek. Yuk makan dulu ! " ajakku kemudian.


" Aku mau sholat dulu di masjid pasar. Kamu kalau udah lapar makan duluan nggak pa pa." Dia urung masuk ke warung dan malah berbalik hendak ke masjid.


" Ya sudah aku juga mau sholat. Nanti kita makan bareng," tukasku. Mas Raka bergegas ke masjid.


Beberapa menit berlalu. Usai melipat mukena dan membenahi jilbab yang kupakai, handphoneku terlihat menyala. Ada pesan whatsApp dari mas Raka.


[ Sayang, ini aku lagi di warung bakso dan mie ayam . Kamu mau pesan apa ] Pantas saja dari tadi mas Raka nggak balik-balik, ternyata mampir ke warung bakso.


[ Aku minta bakso aja Mas. Sambalnya dipisah aja, terus pake acar juga. Jangan lupa kasih pangsit kalau ada ]


[ Waduh requestnya banyak banget. Sekalian tanya ibu sama mbak Sri, mau pesan mie ayam apa bakso ]


[ Sebentar aku tanya dulu ] Kubiarkan layar handphone menyala.


" Buk, mbak Sri, mau mie ayam apa bakso. Soalnya mas Raka lagi pesan di sana." Kutanyai ibu dan mbak Sri.


" Ibu sudah kenyang , mbak Sri saja tuh yang belum makan." Ibu menolak tawaranku.


" Aku malah sudah bikin sambel bawang Mbak, sayang kalau nggak dimakan." Mbak Sri juga nggak mau, ia baru hendak mengambil nasi di depan.


" Ya udah kalau pada nggak mau," cetusku lalu masuk lagi ke bilik tempat sholat. Kubalas chat dari mas Raka.


[ Mas, ibu sama mbak Sri pada nggak mau. ditawari bakso. Sudah kenyang katanya ]


[ O gitu. Berarti aku tinggal pesan bakso sama mie ayam aja. ]


Sambil menunggu mas Raka aku tiduran di bilik tempat sholat. Beberapa menit kemudian ia kembali.


" Nih sayang, baksonya. Aku tuangkan ke mangkuk ya," Mas Raka mengambil dua buah mangkuk lalu menuangkan bakso dan mie ayam.


" Makasih," ucapku lalu segera menyantapnya karena sudah lapar dari tadi.


" Undangannya pesan berapa lembar Aira ? " tanya ibu di saat aku tengah kepedasan.


" Huuh haah, pesan 100 lembar Buk, haah haah ! " sahutku sambil menjulurkan lidahku.


" Nanti aku bantuin mengirim undangannya Mbak," celetuk mbak Sri dengan yakin.


" Tentu dong, tapi besok kalau udah dekat harinya."

__ADS_1


____&&&___&&_____


Sekian dulu ya gaes..


__ADS_2